Share

Designer

Author: Weena Young
last update publish date: 2026-08-20 21:54:55
"Melody, awas kau mempermalukan aku sebagai tunanganmu!" ancam Arthur dengan nada berbisik penuh penekanan sebelum kembali ke tempat duduk sesuai yang sudah diinstruksikan oleh panitia. Pria itu menyisir rambutnya kasar, lalu menarik kursi di samping Gwen dengan napas yang masih memburu tinggi.

"Arthur, sudah. Jangan bahas pribadi di sini, jangan sampai nanti investor yang sudah aku usahakan untuk memenangkan kita, jadinya gagal gara-gara tingkahmu. Abaikan saja dia. Dia memang begitu, selalu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (27)
goodnovel comment avatar
fatmawati
cih Gwen kamu jangan kepedean dulu ya
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Dominic. tersenyum pada Melody....ada apa? Jangan jangan ada hubungannya dengan Casey, nih
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Arthur.....urus saja. dirimu sendiri, jangan kau ganggu. Melody lagi Melody. punya designnya. sendiri
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Hamil?

    "Ayo masuk, Bi," sapa Melody lembut, membuka pintu kamar lebih lebar dan membiarkan aroma gurih bubur ayam serta keharuman teh hangat menguar memenuhi ruangan.Bi Ani melangkah masuk dengan nampan kayu di tangannya. Matanya melirik sekeliling kamar yang begitu luas dan serba mewah itu dengan binar takjub bercampur canggung. Ia perlahan meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil dekat sofa."Non, ini sebenarnya rumah siapa?" Tanya Bi Ani menatap ke arah Melody."Ini rumahnya Casey, Bi. Inget, kan? Sepupu nya Melody yang papa mama nya kecelakaan?" Tanya Melody."Loh! Iyakah?""Iya, Bi.""Soalnya bibi kira orangnya sombong, soalnya kan di bilang katanya monster kejam atau apalah. Tapi buktinya dia yang bawa non Melody kesini.""Iya, Bi. Dia yang bantuin Melody.""Syukurlah, Non. Bibi jadi tenang dengerinnya. Pantes orang-orangnya ramah banget, bibi ngerasa nyaman tinggal di sini..."Melody melangkah mendekati sofa, mengulas senyum tipis untuk menenangkan pengasuhnya. "Udah ngobrol tad

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Pindah

    "Mbok Nah, kamar Non Melody di sebelah mana ya?" tanya Bi Ani seraya memegangi lengan Melody yang masih terasa dingin dan agak gemetaran.Mbok Nah tersenyum amat sopan, memiringkan tubuhnya untuk memberi jalan. "Kamar utama ada di lantai dua, Bi. Mari saya antarkan. Seluruh fasilitas sudah disiapkan langsung atas instruksi pribadi Tuan."Langkah kaki mereka bergema halus di atas lantai marmer impor yang mengilap. Rumah dua lantai itu terasa sangat luas, megah, namun sunyi mencekam. Tidak ada pajangan foto keluarga atau ornamen hangat khas rumah tinggal. Setiap sudutnya dirancang dengan estetika modern minimalis bernuansa hitam, abu-abu, dan putih, mencerminkan selera Casey yang dingin, rapi, dan tak terjangkau.Saat pintu kayu berukuran besar di lantai dua dibuka, mata Melody disambut oleh kamar tidur super luas yang langsung menghadap ke balkon pribadi. Cahaya matahari pagi menerobos masuk dari balik tirai tipis, menerangi ranjang berukuran besar dengan merk ternama Amerika yang tert

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Pulang

    "Jangan menyamakan posisiku denganmu, Melody. Apa yang kulakukan adalah urusan penting, sementara kau sibuk bermain api dengan pria lain di belakangku."Pipi Melody memerah padam. Emosi yang tertahan di dadanya meluap, membakar seluruh rasa takut yang sempat menghantuinya sepanjang malam. Jemarinya yang gemetar mengetik balasan dengan penuh amarah."Bermain api? Maksud mu aku?" Ketik Melody cepat, lalu dia kembali mengetik dengan cepat. "Kamu yang sama cewe lain, bisa-bisanya kamu tuduh aku! Aku bukan barang yang bisa diperlakukan sesukamu!" Hening sejenak di seberang sana. Luapan emosi di kepala Melody belum juga mereda ketika ponselnya tiba-tiba bergetar panjang. Sebuah panggilan suara masuk dari nomor pribadi.Melody menelan ludah dia tahu pasti itu Casey. Ia melirik Bi Ani di sampingnya yang sedang memandang keluar jendela dengan raut cemas. Melody menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa bersuara."Kau berani menaikkan nadamu padaku, Melody?" suara b

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Pulang

    Melody mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat, menatap pendar layar ponsel di tangannya dengan binar mata yang redup. Perhatian manis dari Harvey membenturkan dua rasa yang saling bertolak belakang di dalam dadanya. Di satu sisi, ketulusan pria itu terasa bagai oase sejuk yang menyiram jiwanya yang dahaga akan kasih sayang. Namun di sisi lain, kenyataan pahit terus menampar kesadarannya. Mengizinkan Harvey makin dalam masuk ke dalam hidupnya sama saja menyodorkan publik figure itu ke dalam mulut serigala.Casey tidak akan pernah tinggal diam. Bayangan ancaman pria itu di telepon tadi sore kembali terngiang, begitu dingin dan mengarahkan belenggu tak terlihat ke lehernya.Dengan jemari yang bergetar pelan, Melody mengetikkan balasan untuk Harvey.“Vey, terima kasih banyak untuk perhatian kamu. Tapi besok kamu nggak usah jemput, ya? Keluargaku jemput udahan. Kamu fokus aja sama jadwal syuting dan latihan film baru kamu. Please, demi aku.”Pesan itu terkirim. Melody menatap

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Manis

    Tok! Tok! Tok!“Permisi, Nona Melody…kami mau visit, ya?” Sapanya ramah"Bibi, boleh tolong belikan air mineral sama snake kesukaanku di minimarket bawah sebentar?" pinta Melody pelan saat pintu kamar mandi terbuka dan sesosok dokter berkacamata melangkah masuk untuk jadwal visit malam.Bi Ani menatap dokter, lalu mengangguk mengerti. "Oh, iya Non. Bibi turun sebentar, ya. Dok, titip Non Melody."Begitu pintu kamar president suite tertutup rapat dan hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan, raut tenang Melody runtuh seketika. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap dokter perempuan di hadapannya dengan tatapan memohon yang amat dalam."Dokter, saya mohon..." bisik Melody dengan suara yang bergetar hebat. "Tolong hapus atau sembunyikan catatan kehamilan saya dari rekam medis."Dokter itu tertegun, menghentikan goresan pulpennya di atas papan dokumen. Ia mengernyitkan dahi dengan raut wajah serius. "Nona Melody, Anda tahu rekam medis adalah dokumen hukum yang sah. Saya tidak bisa me

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Bi Ani

    "Kondisi Nona Melody sudah sangat stabil, Tuan Casey," ucap Dominic dengan suara rendah, berdiri kaku di sudut ruangan saat panggilan video terhubung. "Aset pengawalan ketat sudah dipasang di seluruh koridor lantai VIP ini."Di seberang sana, latar belakang kamar hotel mewah di Sumba menyajikan pendar redup lampu malam. Casey berdiri di dekat jendela raksasa, menggenggam segelas wiski tanpa ekspresi. Tatapannya dingin, namun ada riak ketegangan samar yang enggan ia tunjukkan saat mendengar laporan itu."Bagaimana dengan pria itu?" tanya Casey datar, merujuk pada Harvey."Aktor itu sudah meninggalkan rumah sakit lima belas menit yang lalu setelah Nona Melody memintanya pergi," jawab Dominic sigap. "Tidak ada kontak lebih lanjut di antara mereka malam ini."Casey menyesap minumannya pelan. Kehadiran Harvey di Jakarta di saat yang tidak tepat hanya makin menyulut sisi posesif dalam dirinya. Namun, keberhasilan melunasi lima belas miliar rupiah itu telah memastikan satu hal, Melody tetap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status