Beranda / Romansa / GELORA HASRAT SANG MAFIA / 6 | Tenggelam dalam sedih

Share

6 | Tenggelam dalam sedih

Penulis: Vieneze
last update Tanggal publikasi: 2023-09-14 21:14:46

Bibi Joyce mati!

Bibi Joyce mati!

Kata-kata itu bergaung dalam benak Sunny.

Selanjutnya mungkin dirinya akan menyusul bibi Joyce.

Bibi Joyce terlentang di lantai, tidak ada luka yang berarti, hanya ada bekas jerat di leher bibi Joyce. Rambut ikal gonjesnya terlihat berantakan, bibir membaranya tidak lagi semerah yang Sunny ingat, dan sarung tangan renda hitam sudah terkoyak, seakan itu menunjukkan perlawanan bibi Joyce dari maut. Sunny masih ingat rambut kebanggaan bibinya itu masih tersisir rapi ketika meninggalkan rumah Marco. Sekarang yang kembali hanyalah tubuh dingin dan kaku.

Sunny tersungkur. Dia meratapi kematian bibinya. Dia telah berusaha sangat keras untuk tidak menyalahkan perlakuan bibi Joyce selama ini padanya, tapi situasi yang dia hadapi kini jauh lebih serius dan membuatnya marah. Dia marah karena bibi Joyce menjebaknya dan meninggalkannya. Dia juga marah karena kematiannya ini membuat dirinya berada dalam situasi sulit. Dia marah karena Marco mengambil salah satu keluarganya. Setidaknya, bibi Joyce masih berhubungan darah dengan ayahnya.

“Kau pembunuh!” tuding Sunny dengan suara keras.

“Aku hanya melakukan hal yang perlu.”

Sunny menggigit bibir, mencoba menahan diri untuk tidak menangisi kematian bibi Joyce. Tetapi dia kehilangan kendali atas dirinya. “Dasar iblis! Dia bibiku ... Dia keluarga ayahku ... Dia ....”

“Hoi sadarlah! Tidak perlu menangisi perempuan picik ini. Dia mengkhianatimu dan kau masih berempati padanya? Tsskk ... gadis aneh. Dia menipuku. Dia pantas mendapatkannya.”

Marco memasukkan tangan ke dalam saku berjalan melewati mayat bibi Joyce, kemudian dia berputar dengan elegan. Posisi Marco kini berhadapan dengan Sunny, dia bisa melihat mata Sunny yang menangis. Jantung Marco berdebar puas, pada akhirnya dia bisa membuat Sunny merasakan kengerian yang sesungguhnya. Marco menunjuk Sunny dan membuat ekspresi serius.

“Untuk itulah kau harus takut padaku. Karena dia sudah mati dan uangku tidak kembali— maka kau yang akan menggantikan semua kerugian yang dibuat bibimu. Kau harus membayar uang yang banyak dengan bekerja padaku. Apapun itu—harus kau lakukan.”

Sunny menggeleng marah. “Aku tidak berkewajiban untuk melakukan semua itu. Bukan aku yang berutang. Mengapa harus aku? Aku benci kalian semua!”

Marco terkekeh. “Kau harus.”

“Kau psyco!” Sunny frustasi.

Marco tidak menghiraukan Sunny.

“Bersihkan sampahnya!” perintah Marco kepada salah satu pengikutnya yang berdiri rapi di salah satu sisi ruangan.

Lantas, mereka segera membawa tubuh bibi Joyce dan menghilang di lorong yang menuju dapur. Seolah di lorong itu ada banyak rahasia kotor Marco.

Sunny tidak bisa melakukan apapun selain mengutuki bibi Joyce. Semua karena bibi Joyce. Jika saja bibi Joyce tidak membawanya kemari, mungkin Sunny masih bisa tersenyum melihat ibu dan adiknya. Mungkin Sunny saat ini terbangun di malam dingin dan memberikan obat pada ibunya atau mungkin dia terjaga karena suara-suara angin laut yang mengetuk-ngetuk jendela kamarnya. Seketika Sunny merindukan semua hal itu, dia merindukan rumahnya yang sederhana, seakan semua rasa itu telah menyiksanya bertahun-tahun.

“Bawa dia ke kamarnya. Pastikan pintunya terkunci.” Marco berujar pada Don dengan segala pesona otoriternya.

Don mengangguk seketika. Tangan Sunny yang gemetar, terasa semakin tidak berdaya ketika Don menarik tangan Sunny untuk ikut bersamanya.

Sunny dikurung kembali, tidak ada benda apapun di kamar itu, bersih dan melompong. Hanya ada jendela yang cukup besar tanpa tirai, menampakkan malam yang kelam tiada bintang.

Pemandangan yang suram itu menarik perhatian Sunny. Dia berdiri di depan jendela, menatap malam dengan hampa.

“Mama ...” ujarnya lirih. “Aku ingin pulang ...”

Dan malam pun berakhir lambat bagi Sunny. Dia yakin bahwa matanya tidak tertidur, dia cukup sadar bahwa semalaman dia menangis, akan tetapi dia mendapati dirinya yang terbaring ketika membuka mata. Oh, Sunny yang malang. Rasa lelahnya telah menghipnotis matanya untuk tertidur, tentu Sunny tidak menyadari itu.

Suara ketukan ringan terdengar dari balik pintu, disusul suara wanita yang lebih terdengar seperti suara pria. Suaranya terdengar lembut, ceria dan menenangkan.

“Sayang ... apa aku boleh masuk?” lalu pintu terbuka, menampakkan sesosok pria gemulai.

Dia Gani, salah satu pekerja Marco di klub. Gani terlahir sebagai laki-laki, tapi dia sangat yakin bahwa jiwanya adalah perempuan. Dia memiliki wajah yang lembut, cantik dan bibirnya sangat suka menyunggingkan senyum. Penampilan Gani menarik perhatian Sunny, celana legging hitam yang dipadukan dengan crop top bunga-bunga merah jambu, dan tas tangan magenta tergantung di pergelangan tangannya yang lentik. Rambutnya pendek, bulu matanya panjang dan basah oleh pelumas, pipi berperona, dan bibirnya serupa warna jeruk matang. Sangat segar dan bersahabat.

“Kau sudah bangun?” tanya Gani sembari mendekati Sunny. Dia menyentuh pundak Sunny dan membantunya untuk berdiri. “Dasar Marco! Dia tidak tahu memperlakukan gadis semanis dirimu dengan baik. Untungnya, ada aku di sini. Aku akan mengurusmu, jadi kau bisa bergantung padaku.”

Sunny menatap Gani dengan sorot kebingungan. “Siapa kau?”

“Oh, maaf,” Gani cekikikan malu. “Aku lupa mengenalkan namaku. Aku Gani, dan kau—siapa namamu?” Gani merangkul Sunny dan membawanya keluar kamar.

Mereka menuju ke kamar yang lain, tepat di sebalah kamar Sunny tadi. Namun, kamar yang ini lebih layak disebut kamar. Setidaknya ada kasur empuk, meja rias, dan jendela bertirai. Gani mendudukkan Sunny di kasur dengan lembut.

“Sunny,” sahut Sunny datar.

Gani menimpali dengan antusias, “nama yang indah, seperti matahari pagi. Mulai saat ini, aku bertanggung jawab untuk keperluanmu.”

“Bertanggung jawab?”

Gani mengambil sisir dari meja rias, kemudian dia menyisir rambut Sunny yang berantakan. “Ya, mulai malam nanti kau akan bekerja di klub dan Marco memintaku untuk mendandanimu. Tenang saja, aku tidak segalak Marco. Kau bisa terbuka padaku, anggap saja aku kakakmu.”

“Bekerja di klub?” Sunny bergumam, kali ini dia semakin kelimpungan. Sunny melirik Gani dengan perasaan aneh, tapi dia mendadak menyadari Gani memiliki kepribadian yang menyenangkan. Mungkin mereka bisa menjalin tali persahabatan jika mereka bertemu tidak sengaja entah di mana.

Sunny tidak ingin mempercayai siapa pun di rumah ini, karena mereka pengikut Marco. Tentu saja sikap mereka tidak jauh beda dengan Marco.

Namun Gani terlihat berbeda. Dia seperti ibu peri yang mengabulkan segala keinginan. Sunny ingin mencoba percaya pada Gani, sekali saja. Dia harus mencobanya.

“Aku harus kembali. Ibuku menunggu aku pulang. Dia sakit dan—aku harus bersamanya. Bisakah kau membantuku keluar dari sini?”

Sunny berharap Gani bisa membantunya pergi, tetapi Gani tidak bisa melawan Marco. Dulu dia juga bernasib sama dengan Sunny, bedanya dia tidak dijebak, melainkan dia sendiri yang menawarkan dirinya bekerja pada Marco karena tidak bisa melunasi segala utangnya.

Gani menggeleng, dia memberikan senyum tipis. “Sayangnya, aku tidak bisa melakukan banyak hal untuk ini. Aku juga tidak punya kekuatan untuk menentang Marco. Tenang saja, jika kau bersabar, aku akan berusaha membantumu sebisaku.”

Bodoh. Jangan terlalu berharap. Sunny mengutuki dirinya.

Percakapan mereka tidak terlalu menarik lagi bagi Sunny. Dia tidak lagi berbicara. Sunny lebih memilih diam, membiarkan Gani mempermak dirinya menjadi lebih seksi dan dewasa dari usianya. Selama dia hidup, baru kali ini Sunny melihat peralatan berhias wanita. Walau dia sudah memasuki usia 21 tahun, satu bedak pun tidak pernah dia pakai di wajahnya. Dia terlalu lugu dan tidak tahu banyak hal tentang mode dan make up.

Sikap Sunny selalu periang, tidak terlalu terbuka dengan perasaannya, tidak bersikap dibuat-buat. Jika dia suka, dia akan mengatakannya—jika dia tidak suka, tentu dia akan mengatakannya dengan halus tanpa melukai hati orang lain. Sekarang, dia seolah orang lain ketika memandang dirinya di cermin. Binar-binar bahagia di matanya telah pergi, dalam sekejap dia telah berubah menjadi orang lain.

Gani memilih dress emas bermanik-manik untuk Sunny. Pundak terbuka, rok berbelah tinggi, dan sangat ketat sampai-sampai bentuk tubuhnya terlihat jelas. Bulu mata yang sehitam malam membingkai mata coklat madu Sunny, pipi berperona jingga, dan bibirnya yang tipis dipoles lipstik merah muda. Gani juga menata rambut Sunny dengan hati-hati, membiarkan rambut coklat berombak Sunny terurai dan menambahkan jepit rambut serupa berlian di sisi kiri.

“Sempurna,” puji Gani bersemangat. “Kau cantik sekali.”

“Ini ... bukan aku. Aku ingin pakaian lamaku.”

“Sayang ... kau harus berpenampilan menarik biar para tamu senang.”

“Apa maksudmu? Apa aku harus melayani mereka? Itukah pekerjaanku?”

Sunny berharap pekerjaannya tidak seperti yang dia pikirkan, namun ekspresi Gani seolah membenarkan pemikirannya.

”Marco brengsek! bibi Joyce bedebah. Aku benci kalian semua!” frustasi Sunny.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    48 | Rury menghilang

    Suara Marvin di seberang telepon masih bergetar panik ketika Ryuse sudah berlari keluar ruangan, mantel hitamnya disambar cepat dari sandaran kursi."Di mana posisimu sekarang?" Ryuse membentak ke arah ponsel, suaranya keras menggema di lorong rumah yang mendadak sepi."Taman dekat jalan Kenanga, Kak. Aku hanya meninggalkannya sebentar untuk membeli minuman—tidak lebih dari lima menit. Tapi begitu aku kembali, dia sudah tidak ada.""Lima menit sudah cukup," gumam Ryuse pahit, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Marvin.Sunny berlari mengejarnya, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar saat mencoba mengambil mantelnya sendiri dari gantungan dekat pintu. "Aku ikut.""Sunny, sebaiknya kau tetap di sini—""Itu adikku, Ryuse!" Suara Sunny pecah, matanya sudah berkaca-kaca sebelum mereka bahkan sampai ke taman. "Aku tidak bisa hanya duduk diam menunggu kabar."Ryuse menatapnya sejenak, memahami bahwa argumen apa pun tidak akan berhasil menahan seorang kakak yang ketakutan kehilangan

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    47 | Ancaman yang menjadi nyata

    Ponsel itu masih bergetar di atas meja, layarnya berkedip terang dalam ruangan yang mendadak terasa jauh lebih dingin dari beberapa menit sebelumnya. Ryuse menatap nama itu lama, rahangnya mengeras, sebelum akhirnya meraih ponsel itu dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja merasakan dadanya berdegup kencang.Sunny berdiri di dekatnya, tangannya masih menggenggam ujung lengan baju Ryuse, matanya penuh tanya melihat perubahan drastis dalam raut wajah orang yang baru saja memeluknya dengan begitu hangat.Ryuse menekan tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. "Luigi."Suara di seberang terdengar renyah, nyaris ramah—jenis keramahan yang justru membuat bulu kuduk siapa pun yang mengenalnya ikut meremang."Ryuse. Sudah lama kita tidak bicara langsung, bukan? Biasanya kau lebih suka mengirim orang untuk bicara atas namamu.""Katakan apa maumu," jawab Ryuse dingin, tidak tertarik berbasa-basi.Di seberang telepon, terdengar suara tawa pelan, seolah nada dingin

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    46 | Ryuse akhirnya jujur tentang perasaannya

    Sepanjang hari itu, Sunny nyaris tidak bicara. Dia menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil di rumah dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya, pikirannya masih terjebak pada kata-kata Camila yang terus terngiang di kepalanya. Menjelang sore, dia berdiri lama di depan jendela kamarnya, menatap halaman belakang tempat kemarin malam dia dan Ryuse duduk berdampingan di ayunan, tempat segalanya terasa begitu sederhana untuk sesaat. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Dengan langkah yang mantap meski hatinya bergejolak, Sunny akhirnya memutuskan menemui Ryuse di ruang kerjanya. Pintu itu sedikit terbuka, dan dia bisa melihat Ryuse duduk di balik mejanya, jarinya menekan pelipis seolah menahan pusing yang tidak kunjung reda sejak pagi tadi. "Ryuse," Sunny mengetuk pelan pintu itu sebelum melangkah masuk. Ryuse mengangkat wajah, dan seketika raut lelahnya melunak melihat Sunny berdiri di ambang pintu. "Sunny. Masuklah." Sunny melangkah masuk, namun tidak duduk di kursi yang b

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    45 | Api cemburu berbalut ancaman

    "Katakan," bisik Sunny, jantungnya mulai berdebar dengan alasan yang berbeda dari sebelumnya.Ryuse menatapnya lama, bibirnya terbuka, namun kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya. Dia menghela napas, mencoba menyusun kembali kalimat yang sudah lama dia tahan."Ada hal-hal dari masa laluku yang belum kuceritakan padamu," katanya akhirnya, suaranya pelan namun penuh beban. "Hal-hal yang mungkin akan membuatmu melihatku berbeda."Sunny menggenggam tangannya sendiri erat-erat, mencoba menyiapkan diri untuk apa pun yang akan keluar dari mulut Ryuse selanjutnya.Namun sebelum Ryuse sempat melanjutkan, pintu di belakang mereka terbuka. Marvin muncul dengan wajah yang sedikit canggung, jelas tidak bermaksud mengganggu, tapi juga tidak punya pilihan lain."Maaf mengganggu, Kak," katanya, "tapi Rury memaksa ingin tidur di kamar sebelahmu malam ini. Katanya dia takut sendirian di rumah baru."Momen itu pecah begitu saja. Ryuse menutup mulutnya, menatap Sunny dengan raut wajah yang me

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    44 | Lantas, kita sekarang apa?

    Sensasi memabukkan dari ciuman itu masih terasa ketika keduanya akhirnya duduk kembali di ayunan masing-masing, jarak di antara mereka tidak lagi sedekat tadi, namun juga tidak sejauh sebelum semuanya terjadi.Sunny menatap kedua tangannya sendiri yang terlipat di pangkuan, tidak berani mengangkat wajah. Jantungnya masih berdebar tidak keruan, dan dia yakin jika Ryuse melihat wajahnya sekarang, warna merah di sana pasti belum juga memudar.Ryuse sendiri duduk kaku di ayunannya, matanya menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan di ujung halaman. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Dia masih bisa merasakan kehangatan bibir Sunny, masih bisa mendengar suara napas gadis itu yang tertahan saat ciuman mereka semakin dalam.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh perhitungan dan kendali, Ryuse merasa benar-benar kehilangan arah."Ryuse," Sunny akhirnya bersuara, memecah keheningan yang mulai terasa canggung."Ya?""Apa yang terjadi barusan..." Sunny berhenti, mencoba m

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    43 | Ciuman di bawah langit malam

    Malam turun perlahan di atas rumah Ryuse.Lampu-lampu di ruang makan menyala hangat, memantulkan cahaya keemasan pada meja panjang yang sejak tadi dipenuhi piring, gelas, dan suara tawa. Rumah besar itu—yang selama ini terasa terlalu luas untuk ditinggali—kini seolah memiliki napas sendiri, hidup oleh kehadiran dua orang yang baru saja menjadi bagian darinya.Rury duduk di antara Marvin dan Gordon, sibuk memilih potongan daging paling besar dari piring saji."Yang ini milikku," katanya sambil menusukkan garpu penuh percaya diri."Kenapa milikmu?" Gordon memprotes. "Kau bahkan belum mencicipinya.""Karena aku melihatnya lebih dulu.""Kalau begitu, aku juga melihat kentang itu lebih dulu."Marvin buru-buru menarik piring kentang ke arahnya. "Terlambat. Aku sudah menyentuhnya duluan."Rury menatap kedua pria itu dengan mata menyipit, seolah menghadapi lawan yang tidak sepadan. "Kalian berdua bertengkar seperti anak-anak.""Kami hanya memastikan kau tidak menghabiskan semua makanan," kata

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    4 | Pertemuan pertama, kesan pertama

    “Ma-mati?” Sunny akhirnya berbicara setelah susah payah mendapatkan suaranya yang hampir tenggelam oleh kengerian. Marco hanya memberikan senyum simpul, sekejap berubah menjadi senyum manis nan mengerikan. “Benar— mati! Maka mintalah wanita ini untuk melunasinya segera,” sahut Marco.Sunny menole

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    3 | Sebuah kebohongan, awal buruk bagi Sunny

    Sunny menyesal telah membuat janji gila tak masuk akal seperti itu pada bibi Joyce. Bila pada akhirnya itu akan memisahkan dia dengan orang terkasihnya. Namun, Sunny juga cukup sadar bahwa perjanjian itu menyelamatkan nyawa ibunya. Sunny tidak bisa berbuat apa pun selain menurut. Dia mengemasi be

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    2 | Menurutlah, jika ingin ibumu selamat

    “Ada apa? Mengapa kau kemari?” teriak Sunny, dia memegang erat batang kelapa sebab Sunny hampir terjatuh. Tangisan Rury merusak perhatiannya pada kelapa-kelapa itu. “Dan—mengapa kau menangis?” “Mama tidak sadar, Kak. Aku—aku menemukannya tergeletak di lantai. Aku sudah membangunkannya tapi dia ti

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    1 | Menikahlah dengan Marco!

    “Hentikan gertakan itu, Sunny. Wajahmu terlihat jelek jika memandangiku dengan tatapan itu,” ujar Bibi Joyce sembari meraih cangkir teh dari meja tua di hadapannya. “Jika kau melakukan ini, aku berjanji akan merawat adik dan ibumu. Kau hanya perlu berpura-pura menjadi Anne. Marco tidak akan tahu itu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status