หน้าหลัก / Romansa / GELORA HASRAT SANG MAFIA / 8 | Ryuse dan keputusan gegabahnya

แชร์

8 | Ryuse dan keputusan gegabahnya

ผู้เขียน: Vieneze
last update วันที่เผยแพร่: 2023-10-03 17:28:31

“Tuan-tuan, silakan duduk dengan tenang dan bersabar. Kalian bisa memiliki gadis ini asal kesepakatan harga kita cocok. Lihatlah, betapa wajah ini begitu lugu.” Marco menyentuh wajah Sunny. “Dan—dia masih polos, sangat polos seperti kertas yang belum dicoret.”

Ryuse merasakan tekanan darah di dalam tubuhnya meningkat drastis. Dia sangat marah kepada Marco, marah pada situasi Sunny yang menyedihkan, dan dia marah karena tidak bisa melakukan apapun pada gadis itu.

Ryuse sadar, Sunny bukan urusannya dan juga bukan tanggung jawabnya. Namun, sesuatu yang disebut empati masih ada dalam hatinya. Dia memang tidak lebih baik, tapi soal nurani—Ryuse lebih baik dibandingkan Marco.

Marco kembali berujar, “bayangkan saja dia tidur di samping kalian, menatap matanya yang indah, senyumnya yang menawan dan dia sedikit galak. Oh, betapa itu kombinasi yang menggiurkan.”

Ryuse tidak tahan lagi. Kali ini saja dia akan membiarkan dirinya ikut campur, melanggar aturan yang dibuat, dan menerima konsekuensinya nanti.

“Marco!” teriak Ryuse penuh amarah. Ryuse berjalan mendekati panggung, kedua tangan masuk ke dalam saku.

Marco terbahak-bahak ketika melihat Ryuse. Dia merasa kehadiran Ryuse di tempat itu tidak diharapkan. Di satu sisi, Marco juga merasa Ryuse terlalu ikut campur.

“Ah, lihat siapa yang datang? Apa itu kau tuan Ryu?” Marco berbicara dengan nada mengejek. “Kelihatannya kau salah tempat, kau tidak diundang di sini. Jadi silakan pergi dan menjauh dariku!”

“Lepaskan dia,” nada bicara Ryuse berubah lebih lembut, namun tetap terdengar seperti ancaman.

Ryuse melirik sekilas ke arah Sunny, mencoba melihat ekspresi Sunny terhadapnya.

Dan benar, kata-kata Ryuse membuat Sunny terkejut. Bahkan Sunny berpikir keras bagaimana bisa lelaki itu berusaha menolongnya. Hubungan mereka sama seperti hubungannya dengan Marco. Namun, setelah dia menolak untuk menolong Sunny dengan kata-kata tanpa perasaan waktu itu, kini dia tiba-tiba muncul dan ingin membantu Sunny.

Tindakan mendadak Ryuse tersebut tidak masuk akal menurut Sunny. Tetapi di satu sisi, dia merasa bersyukur, dari semua orang, Ryuse satu-satunya pria yang tidak berkata 'dia milikku', seolah dia jauh lebih dihargai sebagai wanita oleh Ryuse.

Marco menyeringai. “Dia milikku. Sumber uangku. Kau tidak punya hak untuk memerintahkan aku. Sebaiknya kau pergi saja.”

“Biarkan dia pergi. Aku akan berbicara baik sekali ini, tapi jika kau tidak melakukannya, wajahmu yang menerima akibatnya.” Ryuse menatap tajam Marco seolah menunjukkan dirinya yang sudah meledak oleh amarah.

“Kalau kau mau, tebus saja dia.”

“Dia bukan barang!”

“Ya, dia sumber uangku,” pungkas Marco.

“Kau!” rahang Ryuse mengeras. Di sudah kehilangan kesabarannya.

Ryuse melompat ke atas panggung dan segera melayangkan tinju di wajah Marco.

Marco tersungkur, wajahnya lebam tetapi dia malah tertawa. “Sekalipun kau memukuli aku sampai babak belur, aku tidak akan melepaskannya.”

Ryuse lepas kendali. Dia mencengkram kerah kemeja Marco. “Berapa? Katakan berapa harganya?”

Dua orang pengawal Marco segera berlari mendekati Ryuse dan berusaha menarik tubuhnya. Situasi menyebalkan ini membuat Ryuse terpaksa melepas Marco sementara. Dia memilih untuk menyingkirkan dua pengawal itu dengan pukulan.

Satu pukulan di wajah, satu pukulan di perut dan satu tendangan putar menghantam keduanya. “Kalian bukan tandinganku,” cemooh Ryuse.

Marco tiba-tiba berujar, “kau bukan tipe pria hidung belang, tapi demi gadis ini kau seperti orang gila. Atau ada hal lain yang tidak kuketahui?”

Marco merasa tindakan frustasi Ryuse tidak beralasan. Sepengetahuannya, Ryuse tidak pernah tertarik berhubungan dengan wanita. Bukan dia tidak normal, hanya saja Ryuse tidak suka membebani pekerjaannya dengan wanita.

Ryuse berseru, “sebut saja jumlahnya! Kau membuatku muak.”

Ryuse menarik kembali kerah Marco. Kali ini dia akan menghabisinya jika Marco tidak mau melepaskan Sunny.

“Singkirkan dulu tanganmu dariku. Baru kita bicara baik-baik,” seringai Marco.

Ryuse menghempas Marco dan dia menyingkir ke sisi yang berlawanan sembari menyugar rambut hitamnya.

Para pengunjung terdiam, tetapi dipenuhi penasaran dengan akhir perseteruan Ryuse dan Marco. Mereka juga kecewa oleh Ryuse yang mendadak muncul dan ingin merebut gadis idaman mereka.

Sunny menarik napas lega karena Ryuse berjuang demi kebebasannya, walau Sunny sempat merasa kecewa karena Ryuse menyebut harga atas dirinya. Seolah dia sesuatu yang bernilai sama dengan barang. Dia berperasaan, dia memiliki harga diri, dan dia juga bukan barang ataupun mesin penghasil uang seperti yang Marco katakan.

“Dia bernilai 500 juta, ditambah biaya rumah sakit atas pukulan yang kudapat dan utang bibinya jadi total 2 Milyar.” Marco sengaja melebihkan angkanya agar Ryuse membatalkan niat untuk membawa Sunny.

Dua milyar. Ryuse memikirkan hal ini dan itu mengganggu pikirannya. Lantas dia menyeringai sembari menatap Marco dengan penuh ancaman. “Kau gila!”

“Sudah kuduga kau tidak punya uang. Batalkan saja. Aku akan memberikannya kepada mereka. Aih, kau sangat merepotkan. Pergi saja jika sudah selesai!”

Ryuse membuang pandangan ke arah para pelanggan Marco. Wajah-wajah mereka terlihat menjijikkan dengan mata liar yang menatap Sunny seperti hidangan yang menggugah. Ryuse tidak menginginkan itu terjadi, sekali ini saja dia harus membantu Sunny sebagai sesama manusia berempati dan mengambil keputusan gegabah dalam hidupnya.

“Kau benar-benar licik seperti rumor yang beredar,” ujar Ryuse datar. “Selalu mencari celah sempit demi keuntungan diri sendiri. Aku akan mengirimkan cek, biarkan saja dia pergi.”

Marco buru-buru menimpali, “cash. Tidak terima cek.”

“Tssk ... kau sengaja melakukan itu, bukan?” geram Ryuse.

“Bung, aku bukan orang yang mudah. Siapkan uangnya atau dia milik mereka.”

Ryuse mendengus kesal. Pada akhirnya dia mengambil ponsel dari dalam saku dan menghubungi Marvin.

“Siapkan uang 2 milyar dan antar ke Fantagio sekarang,” perintah Ryuse dan mematikan ponselnya tanpa membiarkan Marvin bertanya.

“Ini tidak adil,” teriak salah seorang pelanggan.

“Kami berjuang menawarkan harga di sini, tapi mengapa dia yang mendapatkan gadis itu,” imbuh yang lainnya dengan ekspresi marah.

“Iya, itu benar.” Mereka serempak setuju dengan pendapat itu.

“Ah, tuan-tuan semua. Mohon maaf atas keributan yang terjadi. Ini tidak terduga dan mendesak. Aku berjanji akan memberikan kalian gadis yang terbaik. Tetapi yang ini...” Marco mendekati Sunny, menarik sehelai rambut dan mengendusnya. “Sudah habis.”

Sunny menghempas tangan Marco. “Kau menjijikkan.” Suaranya terdengar kesal dan itu membuat Marco semakin bersemangat untuk menyakiti Sunny.

“Kau hanya beruntung kali ini,” ancam Marco, dia menarik dagu Sunny dan berbisik di telinganya. “Seharusnya kau tahu tidak boleh melakukan itu di depanku atau bisa saja wajahmu dipenuhi darah. Aku tidak takut pada Ryuse.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    55. Jatuh cinta bikin orang terlihat bodoh!

    Kabar itu datang tiba-tiba, saat sarapan masih berlangsung hangat beberapa hari setelah lamaran itu. "Kita akan berlibur," ujar Ryuse santai, menyesap kopinya seolah baru saja mengumumkan hal biasa. Marvin nyaris tersedak roti panggangnya. "Liburan? Kak Ryuse yang bicara?" "Kenapa? Ada yang aneh?" "Kak Ryuse tidak pernah libur," sahut Gordon, menatap curiga seolah sedang mencari jebakan tersembunyi di balik kalimat itu. "Terakhir kali kau bilang mau istirahat, itu karena kau di rumah sakit." Ryuse mengabaikan sindiran itu, matanya beralih ke arah Sunny yang duduk di sampingnya, senyum tipis terukir di wajahnya. "Kupikir kita semua layak mendapatkan sedikit waktu untuk bernapas. Setelah semua yang terjadi." Rury langsung melonjak bersemangat. "Ke mana? Ke mana kita akan pergi?" "Pulau Serena," jawab Ryuse. "Aku punya vila kecil di sana. Airnya jernih, pantainya sepi. Tidak ada yang akan mengganggu kita di sana." Sunny menatapnya, hatinya menghangat mendengar rencana itu.

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    54. Sunny bilang ya

    Sunny masih terdiam, jantungnya berdebar begitu keras hingga dia bisa merasakan denyutnya sendiri di telinga. Kata-kata Ryuse masih menggantung di udara kamar yang hangat oleh cahaya pagi, dan untuk beberapa detik, dia hanya bisa menatap pria di hadapannya tanpa tahu harus berkata apa."Ryuse," akhirnya dia bersuara, suaranya bergetar antara haru dan keraguan yang masih tersisa. "Kau yakin ini bukan karena rasa bersalah? Bukan karena semalam?""Aku sudah bilang," Ryuse menggenggam kedua tangan Sunny lebih erat, matanya tidak goyah sedikit pun. "Aku sudah memikirkan ini jauh sebelum semalam terjadi. Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya."Sunny menunduk, menatap tangan mereka yang saling bertaut, mencoba mencerna semuanya—perjalanan panjang yang membawanya sampai ke titik ini, dari gadis desa yang hampir kehilangan segalanya, menjadi seseorang yang kini ditawari kehidupan yang dulu tidak pernah berani dia bayangkan."Aku takut," bisiknya jujur. "Bukan takut pad

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    53. ”Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu”

    Ryuse terbangun perlahan, matanya masih setengah terpejam saat merasakan pergerakan di sampingnya. Begitu kesadarannya kembali penuh, dia melihat Sunny sudah terduduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk, tubuhnya dibalut rapat oleh selimut putih yang dia dekap erat-erat ke dadanya."Kau sudah bangun?"Suara itu membuat Sunny tersentak. Dia menoleh sekilas, wajahnya merah padam hingga ke telinga, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Ryuse yang kini ikut bangkit, bersandar pada satu siku."Aku... aku hanya—" Sunny tergagap, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tanpa menunggu lebih lama, dia buru-buru meraih bajunya yang tergeletak berserakan di lantai kamar, mendekapnya ke dada, lalu bangkit dan berlari kecil menuju kamar mandi, pintu tertutup rapat di belakangnya dengan bunyi klik pelan.Ryuse hanya bisa menatap kepergian itu dengan senyum tipis yang perlahan muncul di wajahnya—geli sekaligus gemas melihat kepanikan Sunny yang begitu jujur, begitu polos, jauh dari kesan

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    52. Hasrat yang menggebu-gebu

    Sunny masih terdiam, wajahnya merah padam, bibirnya terbuka namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar setelah godaan Ryuse tadi.Ryuse menatapnya lama, sorot matanya perlahan berubah—dari nada jenaka yang tadi dia bawa, menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih intens. Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Sunny dengan lembut, ibu jarinya mengusap perlahan di bawah mata gadis itu, menghapus jejak air mata yang sempat jatuh sebelumnya."Sansan," bisiknya, suaranya serak."Ryuse, aku—"Kata-kata itu tidak pernah selesai. Ryuse sudah lebih dulu menunduk, bibirnya menyentuh bibir Sunny dalam ciuman yang lembut namun dalam, tanpa keraguan seperti yang biasa dia tunjukkan. Tangannya yang tadi memegang kain untuk mengobati luka kini terlupakan sepenuhnya, jatuh begitu saja ke lantai kamar.Sunny terkejut, tubuhnya membeku sesaat. Namun dia tidak mendorong Ryuse menjauh. Sebaliknya, dia membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan itu, matanya perlahan terpejam, jemarinya yang gem

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    51. Ciuman adalah obat terbaik

    Mobil melaju pelan menembus jalanan kota yang mulai sepi, lampu-lampu jalan berkelebat satu demi satu di kaca jendela, memantulkan cahaya kuning pucat pada wajah Ryuse yang masih terdiam di kursi kemudi. Di kursi belakang, Rury sudah tertidur dalam pelukan Sunny, napasnya teratur setelah lelah menangis sepanjang malam. Sunny sendiri menatap keluar jendela, pikirannya masih dipenuhi bayangan Ryuse yang berjalan tegak meninggalkan halaman Luigi, dan kata-kata terakhir yang diucapkannya pada pria yang pernah menyelamatkan hidupnya.Tidak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Hanya suara mesin mobil yang berdengung pelan, dan sesekali erangan tertahan dari Ryuse setiap kali dia menggerakkan lengannya yang memar untuk membelokkan kemudi.Rumah Ryuse menyambut mereka dengan cahaya lampu yang masih menyala di setiap jendela, seolah seluruh isi rumah ikut menahan napas menunggu kepulangan mereka. Begitu mobil berhenti di halaman, pintu depan langsung terbuka lebar—Gordon berlari keluar leb

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    50. Ryuse vs Luigi

    Pengawal itu bergerak lebih dulu, tubuhnya besar dan terlatih, kepalan tangannya melesat cepat ke arah wajah Ryuse dengan kekuatan yang jelas sudah diasah bertahun-tahun. Namun Ryuse sudah lebih dulu membaca gerakan itu—tubuhnya miring tipis, membiarkan pukulan itu lewat hanya beberapa senti dari pipinya, sebelum tangannya sendiri bergerak cepat, menghantam rusuk lawan dengan siku yang keras dan presisi.Pengawal itu terhuyung, namun cepat memulihkan keseimbangan, membalas dengan tendangan rendah yang mengincar lutut Ryuse. Ryuse melompat mundur, menghindari serangan itu dengan jarak yang nyaris sempurna, lalu memanfaatkan momentum lompatannya untuk melancarkan tendangan balik yang mengenai dada lawan telak.Suara benturan keras menggema di halaman yang hening, hanya disaksikan oleh cahaya lampu taman yang berkelap-kelip tenang, seolah tidak peduli dengan pertarungan yang sedang berlangsung di bawahnya.Pengawal itu jatuh terduduk, napasnya memburu, namun dengan geram dia kembali bang

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    4 | Pertemuan pertama, kesan pertama

    “Ma-mati?” Sunny akhirnya berbicara setelah susah payah mendapatkan suaranya yang hampir tenggelam oleh kengerian. Marco hanya memberikan senyum simpul, sekejap berubah menjadi senyum manis nan mengerikan. “Benar— mati! Maka mintalah wanita ini untuk melunasinya segera,” sahut Marco.Sunny menole

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    3 | Sebuah kebohongan, awal buruk bagi Sunny

    Sunny menyesal telah membuat janji gila tak masuk akal seperti itu pada bibi Joyce. Bila pada akhirnya itu akan memisahkan dia dengan orang terkasihnya. Namun, Sunny juga cukup sadar bahwa perjanjian itu menyelamatkan nyawa ibunya. Sunny tidak bisa berbuat apa pun selain menurut. Dia mengemasi be

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    2 | Menurutlah, jika ingin ibumu selamat

    “Ada apa? Mengapa kau kemari?” teriak Sunny, dia memegang erat batang kelapa sebab Sunny hampir terjatuh. Tangisan Rury merusak perhatiannya pada kelapa-kelapa itu. “Dan—mengapa kau menangis?” “Mama tidak sadar, Kak. Aku—aku menemukannya tergeletak di lantai. Aku sudah membangunkannya tapi dia ti

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    1 | Menikahlah dengan Marco!

    “Hentikan gertakan itu, Sunny. Wajahmu terlihat jelek jika memandangiku dengan tatapan itu,” ujar Bibi Joyce sembari meraih cangkir teh dari meja tua di hadapannya. “Jika kau melakukan ini, aku berjanji akan merawat adik dan ibumu. Kau hanya perlu berpura-pura menjadi Anne. Marco tidak akan tahu itu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status