LOGINAroma antiseptik yang khas memenuhi lorong Poli Spesialis Jiwa Rumah Sakit Medika Sentosa. Di dalam ruang praktiknya yang tenang dengan pencahayaan lembut, dr. Nadine Haris, Sp.KJ baru saja merapikan berkas rekam medis pasien terakhirnya. Dokter berparas anggun dengan jas putih terpasang rapi itu menghela napas pendek, mengurai kelelahan setelah seharian mendengarkan keluh kesah para pasiennya.Saat Nadine hendak mematikan lampu meja, layar ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca menyala. Nama "Mbak Annisa" tertera di layar.Nadine menggeser tombol hijau, memiringkan kepala menyangga ponsel di bahunya sembari memasukkan stetoskop ke dalam tas kulitnya."Iya, Mbak Nisa? Ada apa? Nadine baru selesai tugas" sapa Nadine dengan suara lembut dan tenang khas seorang psikiater.Dari seberang telepon, suara Annisa terdengar agak tergesa-gesa, walau berusaha ditata agar terkesan biasa saja. "Nadine... kamu masih di RS? Mbak sengaja telepon. Mumpung masih sore, temanin ke k
Suara raungan mesin mobil anak buah Juragan Haris perlahan menjauh, tenggelam di balik pekatnya malam Jalan Raya Kartini. Gang sempit di samping ruko kembali hening. Aris berdiri diam beberapa saat, mengatur napasnya yang tenang sembari mengibaskan sedikit debu di lengan kemeja hitamnya.Begitu melangkah kembali melewati pintu belakang ruko, langkah Aris disambut oleh wajah-wajah yang menegang.Alvin berdiri memegang balok kayu dengan napas memburu, siap pasang badan. Di sudut ruangan dekat meja kasir, Ibu duduk memeluk Mentari erat-erat dalam dekapan hangatnya. Wajah cemas sang Ibu terpancar jelas dari garis-garis halus di dahinya, sementara Mentari menyembunyikan wajah kecilnya di dada sang nenek."Mas... mereka sudah pergi?" suara Alvin bergetar, tatapannya menyapu tubuh Aris dari atas sampai bawah untuk memastikan tidak ada luka."Sudah," jawab Aris singkat. Suaranya yang tadinya dingin mematikan saat menghadapi Margo, kini melunak begitu berbicara pada keluarganya. Ia berjala
Dinding ruang kerja Juragan Haris terasa mencekam. Di balik meja jati ukirnya, Haris mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, menatap layar ponsel yang menampilkan video viral ruko Aris. Amarah mencengkeram dadanya—rencana sabotase pagi tadi tidak hanya gagal, tetapi justru melambungkan nama mantan saingannya itu.Dengan napas memburu, Haris menempelkan ponsel ke telinganya."Margo," ucap Haris, suaranya dingin dan tanpa ampun. "Bakar dapur mereka malam ini. Buat seolah-olah kecelakaan tabung gas meledak. Jangan sampai ada yang tersisa."Di balik pintu kayu yang sedikit terbuka, Annisa berdiri membeku. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetaran menahan napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Kata-kata suaminya menghantam dada Annisa bagaikan palu berat. Haris benar-benar ingin membunuh Aris.Tanpa membuang waktu, Annisa berjinjit mundur, lalu berlari tanpa suara menuju kamarnya di ujung lorong. Dengan tangan gemetar, ia menutup pintu kamar, menyandarkan p
Subuh baru saja pecah di pinggir Jalan Raya Kartini. Spanduk kain putih berukuran dua meter terbentang rapi di depan ruko kayu milik keluarga Dinata. Tulisan cat semprot warna merah bertuliskan "Bubur Ayam Restu Ibu" masih berbau cat basah.Aris berdiri menyandarkan punggungnya di tiang ruko. Kemeja hitam bertangan panjang yang ia gulung hingga siku memperlihatkan urat-urat lengannya yang keras. Mata tajam eks-Briptu itu terus memindai setiap sudut jalanan yang masih remang. Di sampingnya, Alvin sibuk memanaskan kuah kuning di dalam dandang besar, sementara Angga—yang terhubung lewat earpiece dari Jepang—sedang memantau pergerakan jaringan CCTV jalanan yang berhasil ia retas secara ilegal."Mas Aris, kuah sudah pas. Target 100 mangkuk gratis pertama untuk orang pasar siap jalan jam enam," ujar Alvin, mengusap keringat.Aroma daun salam, serai, dan kuah kuning gurih yang membubung dari dandang besar berkapasitas 50 liter membakar semangat Alvin pagi itu. Pukul lima subuh di tepi Jalan
Aris Sambil menaruh beberapa botol sirup dan termos di atas meja kayu "Alvin, liat ini. Sisa modal kita cuma begini setelah lunasi utang si Bagong. Pas-pasan banget. Tapi gue punya resep bubur daging sama racikan kopi susu yang biasa bokap bikin dulu. Menurut lo, gimana kalau kita hajar buka lapak sarapan di sini?" Alvin berhenti sejenak, menyeka keringat di dahinya dengan kaos yang basah, lalu memandang tembok yang baru setengah dicat "Nggak usah mikir dua kali, Mas. Tempat ini sempat dihancuri sama mereka, tapi mental kita nggak. Lu fokus di dapur, racik minuman terbaik yang lu punya. Urusan fisik dan kenyamanan tempat ini, serahin ke gue." Alvin tersenyum tipis, melempar sebuah obeng ke arah Aris "Gue tahu lu bisa diandelin. Tapi lu liat kursi-kursi itu? Anak buah Bagong bener-bener mutusin pasak kayunya. Bisa lu beresin sebelum subuh?" Aris menangkap obeng dengan sigap, lalu terkekeh "Cuma segini? Jangankan kursi patah, meja hancur pun bakal gue rakit lagi sampai kokoh. Ki
Aroma bunga melati yang segar menyeruak saat sebuah mobil mewah berhenti di pelataran kediaman Juragan Haris. Aris yang sedang menggenggam erat amplop cokelat tebal di tangannya mendadak menghentikan langkah tepat di undakan teras. Pintu mobil terbuka. Nissa turun membawa beberapa kantong belanjaan mahal, disusul oleh Nadine—seorang perempuan berpenampilan tenang dan elegan yang sangat Aris kenali. Nissa sempat terpaku saat matanya beradu dengan mata Aris. Ada jeda canggung yang dingin di antara mereka, sebelum Nissa memalingkan wajah dan berjalan melewati Aris begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. "Mas Aris?" suara lembut Nadine memecah kecanggungan. Dokter psikiater yang menangani keponakan Aris itu tersenyum tipis, merapikan tas bahunya. "Kok enggak nelpon dulu sebelum kemari?" Aris” Saya ada urusan dengan juragan Haris, Dokter “ Nadine menatap amplop cokelat di tangan Aris, lalu mengangguk paham dengan canggung "Oh ..gitu Kak Haris ada di ruang tamu. Masuk saja. Oh







