LOGINTanpa menunggu Reyhan berkata apa pun. Zayn berjalan santai pergi dari ruang kerja Reyhan. Senyum kepuasan mengulas di wajah tampannya. Ia tahu betul, racun emosi yang ditanamkannya di kepala Reyhan sebentar lagi akan mulai bekerja.
Di dalam ruangan, napas Reyhan berburu tak beraturan. Darahnya mendidih, kepalanya serasa hendak meledak akibat ancaman telak dan rasa malu yang menghantam egonya. Zayn sudah pergi. Ia tidak punya keberanian maupun kekuatan untuk membalas adiknya itu. ReyGelas kristal di genggaman Valerie retak dalam diam, seiring mobil mewahnya yang melaju membelah malam Jakarta usai kekalahan telaknya di Gala Amal Outdoor. Rasa malu dan amarah yang membakar dada tak lantas membuat wanita itu kehabisan akal. Justru, reputasinya yang tercoreng di depan para tamu elit memicu insting liciknya untuk melancarkan serangan dari pintu yang jauh lebih menentukan: Keluarga Nugraha.Dalam benak Valerie, Kirana hanyalah orang luar yang tidak akan pernah punya panggung jika tak didukung oleh Nugraha Group. Dan kunci utama dari benteng pertahanan itu ada pada Nyonya Sofia, ibu kandung Zayn sekaligus ibu kandung Reyhan.Valerie tahu betul betapa Nyonya Sofia dahulunya sangat memanjakan dirinya. Bagi Valerie, wanita paruh baya itu masih memandangnya sebagai calon menantu idaman yang tak tergantikan. Valerie sangat yakin Nyonya Sofia belum mengetahui hubungan asmara antara Zayn dan Kirana, apalagi menyetujui seorang janda dari kakak kandung Zayn untuk bersanding deng
Langkah kaki Kirana menjauh dari tempat sampah dekoratif itu tanpa sedikit pun keraguan. Rasa puas mengalir hangat di dadanya saat melihat Valerie terpaku membisu di balik pilar ballroom. Keesokan harinya, berkat keberhasilan spektakuler Kirana mengubah krisis menjadi mahakarya Rustic Modern Elegance, reputasinya melambung tinggi. Pihak penyelenggara utama tidak hanya memberi bonus, tetapi juga secara khusus meminta Kirana Flower untuk menangani ulang seluruh dekorasi Gala Amal Outdoor yang digelar esok malamnya di taman eksklusif area perumahan elit Jakarta Selatan.Malam acara Gala Amal Outdoor pun tiba. Suasana taman bernuansa eksklusif itu disulap menjadi panggung megah berbalut cahaya lampu temaram yang hangat. Rangkaian bunga karya Kirana, perpaduan eksotis antara mawar segar berwarna soft blush dan untaian bunga kering keemasan yang menjuntai artistik menjadi pusat perhatian utama para tamu VIP, pengusaha papan atas, hingga awak media sosialita.Kirana hadir mendampingi Zayn N
"Mbak Kirana! Ada pesanan masuk lewat pesan resmi! Jumlahnya besar sekali untuk acara gala dinner nanti malam!"Teriakan gembira Sisi memecah konsentrasi Kirana yang sedang merapikan vas di meja utama. Kirana melangkah mendekat, memperhatikan lembar rincian pesanan yang baru saja dicetak. Sebuah perusahaan atas nama PT Magenta Pratama meminta puluhan rangkaian bunga segar mewah untuk diantar sore ini ke ballroom hotel bintang lima di pusat kota. Pembayarannya bahkan sudah dilunasi secara penuh di depan tanpa menawar."Wah, nama Kirana Flower benar-benar makin melambung setelah masuk majalah bisnis ya, Mbak," puji Sisi dengan mata berbinar.Kirana tersenyum, meski ada sedikit getaran asing di hatinya. Pesanan mendadak dengan jumlah fantastis dan batas waktu yang sangat mepet selalu menyimpan risiko tinggi. Tetapi, sebagai pebisnis profesional, Kirana tak ingin membuang kesempatan emas ini. Tanpa menyadari bahwa di balik nama PT Magenta Pratama ada tangan dingin Valerie Suwandi yang sia
"Awas durinya, Sisi! Mawar merah dari Cipanas ini masih sangat segar, batangnya keras!"Kirana berseru seraya memotong mawar lokal dengan gunting dahan di tangannya. Bunyi klik-klik tajam dari gunting besi memecah riuh pagi di toko. Di sekelilingnya, daun-daun hijau dan potongan batang berjatuhan ke dalam keranjang. Kirana mengelap keringat tipis di dahinya dengan lengan baju, lalu menepuk-nepuk lembut mahkota mawar yang baru saja ia tancapkan ke dalam vas air."Aroma sedap malamnya juga makin semerbak ya, Mbak," sahut Sisi sambil menyerahkan seikat krisan kuning yang langsung disambut Kirana dengan senyuman lebar.Perhatian Kirana mendadak teralihkan ketika layar ponselnya di atas meja bergetar hebat. Nama Zayn tertera di sana, menyala terang bersamaan dengan sebuah tautan artikel berita yang dikirimkan pria itu melalui pesan singkat.Kirana menekan tautan tersebut. Matanya membelalak takjub saat membaca judul utama yang bertengger di salah satu portal berita bisnis independen ternam
Aroma harum bunga mawar segar, krisan yang menenangkan, dan wangi khas dedaunan memenuhi setiap sudut toko bunga milik Kirana sejak pagi. Pengiriman pertama bunga segar dari kebun Pak Karya di Cipanas baru saja tiba beberapa jam lalu, dan kualitasnya benar-benar melebihi ekspektasi. Warna-warni kelopak yang mekar sempurna kini menghiasi vas-vas besar di area kerja.Kertas pembungkus aesthetic, pita-pita satin berbagai warna, dan tangkai-tangkai bunga berserakan rapi di atas meja kayu panjang. Kirana dan tiga orang karyawannya sedang fokus merangkai pesanan besar pertama mereka. Dekorasi bunga segar untuk pameran seni dan pesanan berkala dari perusahaan manajemen gedung yang mereka dapatkan kemarin."Mbak Kirana, krisan putihnya bagus banget! Batangnya tebal, jadi gampang banget diatur," seru Sisi, salah satu karyawan muda Kirana, dengan mata berbinar antusias seraya memotong pangkal batang bunga.Kirana tersenyum bahagia, jemarinya lincah memadukan mawar m
"Kita sudah berkendara hampir tiga jam, Zayn. Kamu tidak sedang berencana menculikku ke puncak gunung, kan?"Suara renyah Kirana memecah keheningan di dalam kabin mobil yang terasa hangat. Gadis itu menoleh ke arah kursi kemudi, menatap Zayn dengan mata memicing penuh selidik, namun seulas senyum geli tak bisa disembunyikan dari bibirnya.Zayn tertawa pelan, suara baritonnya mengalun merdu berpadu dengan alunan musik jazz dari pemutar audio mobil. Satu tangannya bertengger santai di lingkar kemudi, sementara sebelah tangannya yang lain tak melepaskan genggamannya pada jemari Kirana sejak mereka meninggalkan jalan tol."Kalau iya, memangnya kamu mau lari ke mana, hm?" goda Zayn seraya melirik sekilas ke arah Kirana. "Lagi pula, menculikmu ke tempat seindah ini rasanya bukan ide yang buruk."Kirana tertawa lalu kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pemandangan gedung-gedung beton Jakarta telah lama tertinggal di belakang, digantikan oleh







