Home / Romansa / GODAAN DI SEPERTIGA MALAM / 3. KADO PAHIT DI HARI ULANG TAHUN

Share

3. KADO PAHIT DI HARI ULANG TAHUN

Author: Mystique
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-18 11:54:13

Tepat setelah deru mesin mobil Reyhan menghilang di balik pagar. Kirana buru-buru melangkah cepat meninggalkan dapur. Mengabaikan Zayn yang masih mengurungnya dengan pandangan lapar. Ia mengunci diri di dalam kamar mandi lantai bawah. Menyandarkan tubuhnya pada pintu yang tertutup rapat, sambil memegang dadanya yang berdebar liar.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 24.

Jangankan sebuah kado sederhana. Sekedar ucapan selamat atau pelukan hangat pun tidak ia dapatkan dari Reyhan. Tapi, Kirana tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Ia sudah terbiasa. Selama tiga tahun terakhir, Reyhan memang selalu lupa.

Reyhan cuma terlalu sibuk, bisik Kirana pada hatinya sendiri, berusaha merawat sisa-sisa pembenaran yang kian menipis. Atau mungkin kalau ia  yang memulai lebih dulu, Reyhan akan luluh. Pikirnya.

Siang harinya, sebuah pesan singkat masuk dari Reyhan.

[Reyhan] : Malam ini aku pulang terlambat. Banyak pekerjaan kantor. Jangan menungguku, tidurlah lebih dulu.

Kirana menatap layar ponselnya sejenak, lalu mengetik pesan balasan di atas layar.

[Kirana]: Baik, Mas.

Namun, Kirana tidak berniat menuruti perintah itu. Ia justru memilih berjuang, berharap hari ulang tahunnya kali ini tidak terasa dingin.

Sepanjang sore, Kirana sibuk bersiap. Ia memesan kue tart cokelat kecil, merangkai tangkai-tangkai mawar merah di atas meja makan, dan menyalakan lilin-lilin aromaterapi beraroma vanilla yang lembut.

Tak berhenti di situ, Kirana menghias kamar tidur utama mereka di lantai atas. Kelopak mawar ditaburkannya di atas sprei abu-abu yang dingin, sementara lilin-lilin wangi ditata rapi di sudut meja rias.

Ia mandi, memoles riasan tipis di wajahnya, dan memberanikan diri mengenakan lingerie sutra putih berenda tipis yang dibelinya secara sembunyi-sembunyi bulan lalu. Gaun tidur transparan itu membungkus tubuhnya dengan sempurna. Mengekspos kulit mulusnya yang bersih, leher jenjang, serta lekuk tubuh yang selama ini diabaikan sang suami.

Pukul delapan malam.

Suara pintu depan terbuka. Kirana tersontak kaget bercampur bahagia. Mengira Kirana sudah tidur lelap sesuai pesan singkatnya, Reyhan ternyata pulang lebih awal dari biasanya.

Reyhan melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah gelap. Dahi pria itu berkerut saat melihat meja makan dihiasi lilin bercahaya temaram, bunga mawar merah, dan sebuah kue tart. Bau harum lilin aromaterapi langsung menyapa indra penciumannya.

"Apa-apaan ini?" gumam Reyhan dingin, raut wajahnya tampak sangat terganggu.

Tanpa menyadari riak kemarahan di wajah suaminya, Kirana berjalan cepat menghampiri Reyhan dari arah tangga. Hatinya membuncah oleh kehangatan dan rasa gugup yang membakar. Begitu jarak mereka mengikis, Kirana langsung melingkarkan kedua lengannya pada leher Reyhan, memeluk pria itu erat-erat dan menyandarkan dadanya ke tubuh sang suami.

"Selamat datang di rumah, Mas..." bisik Kirana manis.

Spontan tanpa sedikitpun berpikir. Reyhan mencengkeram lengan Kirana dan mendorong tubuh istrinya itu dengan kasar.

BRAK!

Tubuh Kirana terlempar dan tersungkur keras di atas lantai marmer yang dingin. Sikunya membentur sudut pilar hingga rasa nyeri menjalar hebat. Kain lingerie putihnya tersingkap, memperlihatkan paha dan lututnya yang mulai kemerahan.

Kirana mendongak dengan tatapan mata terkejut. Memegang sikunya yang kesakitan. Rasa tidak percaya menguasai dadanya jauh lebih hebat daripada rasa sakit di tubuhnya.

"Mas...?" bisik Kirana bergetar.

"Kamu gila, Kirana?!" bentak Reyhan, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Pria itu menatap Kirana dengan pandangan penuh jijik dan murka. Seolah-olah wanita yang tergeletak di lantai itu adalah sesosok mahluk yang paling menjijikkan di muka bumi. "Apa-apaan penampilanmu ini?! Memakai baju murahan seperti ini, menyalakan lilin di mana-mana... kamu pikir rumah ini tempat pelacuran?!"

Kata-kata itu menghantam keras dada Kirana seperti pukulan godam. Air mata seketika menumpuk di pelupuk matanya.

"M-mas... aku cuma mau merayakan..." suara Kirana tercekat, tenggorokannya terasa amat sempit. "Hari ini aku ulang tahun, Mas. Aku cuma ingin kita merayakannya bersama... aku rindu sama kamu..."

Bukannya melunak, raut wajah Reyhan justru makin bengis. Pria itu menyapu kasar kue dan vas bunga di atas meja makan hingga jatuh ke lantai.

PRANG!

Piring keramik hancur berantakan.

Kue tart coklat yang cantik itu remuk di atas lantai.

"Aku muak dengan drama ulang tahun dan rengekanmu!" jerit Reyhan tajam. "Aku sudah bilang berkali-kali, aku lelah pulang kerja! Aku tidak suka hal-hal konyol seperti ini! Otakmu memang tidak pernah dipakai, ya?!"

"Mas, tolong... dengarkan aku dulu..." Kirana merangkak mendekat. Mencoba menggapai ujung celana Reyhan dengan tangan gemetar, menanggalkan seluruh sisa harga diri yang ia miliki. "Aku minta maaf kalau Mas tidak suka... tolong maafkan aku... aku hanya tidak ingin sendirian di hari ulang tahunku."

Namun, Reyhan menyentakkan kakinya, menghindari sentuhan Kirana seolah tangan istrinya beracun. Pria itu membalikkan badan dengan napas memburu, merapikan jasnya, lalu melangkah kembali menuju pintu keluar.

"Mas Reyhan!"

Kirana berteriak dengan suara gemetar. Air matanya sudah meluncur deras membasahi pipi.

"Mas, jangan tinggalkan aku! Ini hari ulang tahunku, Mas!"

Langkah Reyhan tidak berhenti sedikit pun. Pintu depan justru dihempaskannya hingga tertutup keras.

BAM!

Tak lama kemudian, deru mesin mobilnya menggerung kencang, meninggalkan rumah itu dalam keheningan yang dingin.

Kirana duduk bersimpuh di atas lantai dingin, tepat di samping puing-puing piring pecah dan kelopak mawar yang hancur.

Isakan tangisnya pecah mengudara, terdengar begitu pilu dan merana di tengah kegelapan rumah yang hanya dihiasi remang cahaya lilin. Hatinya hancur berkeping-keping, tak bersisa. Tiga tahun kesabaran dan cintanya dibalas dengan lemparan tubuhnya ke lantai dan makian murahan.

Di saat Kirana meratapi nasibnya dengan napas terengah-engah dan dada yang sesak oleh kesedihan...

Cklik.

Lampu gantung di atas ruang makan tiba-tiba menyala terang, menyilaukan penglihatan Kirana yang basah oleh air mata.

'Apakah Mas Reyhan kembali?' batin gadis itu.

Namun bukan suara langkah kaki Reyhan yang terdengar. Seorang pria berjalan mendekat. Berhenti tepat di hadapan Kirana yang masih bersimpuh dengan lingerie putih yang berantakan. Kirana mendongak, tatapannya kabur karena air mata.

Zayn berdiri di sana, memakai kemeja navy dengan lengan digulung sampai siku. Dua kancing atasnya terbuka, memperlihatkan sedikit keringat yang membuatnya terlihat eksotis. Pandangan mata Zayn menancap lurus pada Kirana. Menyapu air mata di pipi wanita itu, merayap turun ke bahunya yang terbuka dan paha mulusnya yang terekspos di atas lantai.

Zayn berlutut perlahan di hadapan Kirana, mengikis seluruh jarak di antara mereka. Jemarinya yang hangat terulur, mengusap air mata di pipi Kirana dengan sangat lembut, sebelum jemari itu bergerak turun membelai leher jenjang Kirana yang bergetar.

"Pria bodoh itu benar-benar tidak tahu cara menghargai kado seindah ini..." bisik Zayn dengan suara berat yang dalam dan intim, menatap bibir Kirana yang gemetar. "Selamat ulang tahun, Mbak Kirana. Biar aku yang merayakannya bersamamu malam ini."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   105. BADAI BARU

    Sisa-sisa air mata di pipi Kirana telah mengering, meninggalkan bekas yang kaku dan panas. Kirana terbangun dari posisi tertunduknya di balik meja kerja, diselimuti oleh keheningan toko bunga yang begitu dingin dan asing. Cahaya matahari pagi menembus celah-celah tirai, menyinari cangkir kopi dingin yang masih mendekap di tangannya sepanjang malam. Kirana memposisikan dirinya duduk tegak dengan jemari yang kaku. Seluruh sendi tubuhnya ngilu, tetapi rasa sakit fisik itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang menganga di dalam dadanya. Pagi yang biasanya dipenuhi aroma segar mawar dan suara sapaan hangat kini terasa seperti kuburan yang membisu. Ponselnya yang tergeletak di atas meja tak berhenti bergetar. Kirana menatap layarnya dengan mata sembap dan tatapan yang benar-benar hampa. Ratusan notifikasi membanjiri layar ponsel itu. Berita keberhasilan, pujian dari para insan mode, hingga foto-foto dirinya yang tampil anggun di atas

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   104. HATI YANG HANCUR

    Sorak-sorai tepuk tangan membahana di dalam ballroom megah itu, tetapi bagi Kirana, seluruh suara itu teredam bagai tenggelam di dalam air. Lampu-lampu kilat media terus menyambar wajahnya, namun matanya yang membelalak lebar hanya tertuju pada satu titik di sudut temaram ruangan.Tempat di mana Zayn tadinya berdiri... kini telah kosong hampa.Genggaman tangan Bara di jemarinya terasa membakar kulitnya. Tanpa peduli pada protokol acara, tanpa memikirkan puluhan kamera yang masih menyorotnya, Kirana secara refleks menarik tangannya dari cengkeraman Bara."Mbak Kirana?" tanya Bara halus dengan kening berkerut penuh kebingungan yang dibuat-buat.Kirana tidak menjawab. Ia mengangkat pinggiran gaun malam berwarna biru lembutnya, lalu berlari membelah kerumunan tamu VIP. Suara tumit sepatu hak tingginya beradu cepat dengan lantai marmer, berpacu dengan detak jantungnya yang bergemuruh diliputi rasa panik yang membakar dada.Kirana mengabaikan panggi

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   103. PANGGUNG KEKECEWAAN

    Pagi berikutnya, hening yang memekakkan telinga menyelimuti toko Kirana Flower. Hujan lebat semalam telah usai, menyisakan hawa dingin yang merayap di sela-sela daun jendela. Kirana berdiri kaku di balik meja kerjanya, menatap pintu masuk dengan dada yang bergemuruh cemas. Bayangan pertengkarannya dengan Zayn kemarin pagi dan presensi hangat Bara di lokasi resort semalam terus berputar seperti gulungan film yang menyiksa pikirannya.Denting bel pintu berdenting halus. Zayn melangkah masuk.Tidak ada aura amarah, tidak ada kilat cemburu, dan tidak ada tuduhan tajam yang biasanya membakar mata pria itu. Zayn berjalan pelan dengan setelan kemeja formal yang sangat rapi. Wajahnya berseri tenang, tetapi matanya redup, begitu redup dan berjarak, seolah ada dinding kaca tak kasat mata yang sangat tebal baru saja terbangun di antara mereka."Zayn..." panggil Kirana lirih, suaranya bergetar.Zayn tidak menjawab dengan nada tinggi. Ia melangkah mendekat, meletak

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   102. HUJAN MELEBARKAN JARAK

    Pagi berikutnya, ketegangan sisa percekcokan kemarin masih membekas kaku di udara. Zayn melangkah masuk ke dalam toko Kirana Flower dengan wajah letih. Dua lingkaran hitam menggantung di bawah matanya setelah semalaman bertarung dengan tim hukum demi menyelamatkan proyek perumahan Nugraha Group. Di tangannya, Zayn membawa sebuah kantong kertas berisi sarapan favorit Kirana, upaya kecil untuk meruntuhkan dinding es yang mendadak terbangun di antara mereka."Na," panggil Zayn pelan, melemparkan senyum tipis yang dipaksakan. Ia meletakkan kantong kertas itu di atas meja kerja Kirana."Aku belikan bubur langgananmu. Kita sarapan dulu, ya? Sekalian aku mau jelaskan soal masalah audit kemarin."Kirana menatap Zayn sejenak. Ada rasa iba melihat kekasihnya terlihat kacau, tetapi rasa kecewa atas sikap keras dan penolakan Zayn kemarin masih menyisakan nyeri yang enggan padam."Terima kasih, Zayn. Tapi aku sedang tidak berselera," jawab Kirana datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar la

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   101. BENIH CELAH KERENGGANGAN

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja Kirana Flower. Ketegangan di antara Zayn dan Kirana begitu pekat, seolah pendar biru dari mawar di dalam tabung kaca itu memancarkan rasa dingin yang membekukan atmosfer di sekitar mereka.Zayn melemparkan kartu ucapan bertinta emas itu ke atas meja. Tatapannya yang tajam bergeser merengkuh wajah Kirana yang masih memucat. "Kembalikan bunga ini, Kirana."Kirana tersentak. Kerutan halus tercipta di dahinya. "Apa? Kenapa harus dikembalikan, Zayn? Ini hanya ucapan selamat dari Pak Bara atas kontrak kita.""Ini bukan sekadar ucapan selamat!" nada suara Zayn meninggi, sarat akan proteksi yang menekan. "Mawar biru... kata-kata bersirat di kartu itu... Seorang pengusaha yang baru mengenalmu semalam tidak akan pernah mengirimkan hadiah se-personal ini jika tidak memiliki niat terselubung. Dia sedang mengujimu, Na!"Kirana mendesah berat, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Perasaan lelah atas drama yang tak kunjung usai kembali merayapi

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   100. MAWAR BIRU

    Deru mesin mobil yang halus membelah heningnya jalanan ibu kota di larut malam. Kirana masih belum bisa menghentikan senyum bahagia yang mengembang di bibirnya. Di sampingnya, Zayn mengemudikan kendaraan dengan tenang, sesekali melirik wanita di sebelahnya dengan tatapan penuh kehangatan, meski jauh di dalam benaknya, bayangan tatapan dingin Bara Mahendra masih menancap kuat.Zayn memutar kemudi, membawa mobil mereka berbelok ke arah sebuah bukit kecil di pinggiran kota, area rooftop view terbuka yang sepi dan menyajikan pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian."Zayn? Kita tidak langsung pulang?" tanya Kirana lembut, menoleh penasaran.Zayn mematikan mesin mobil, lalu berbalik menatap Kirana sepenuhnya. "Aku ingin merayakan malam kebahagiaanmu tanpa ada gangguan siapa pun, Na."Zayn keluar, membukakan pintu untuk Kirana, lalu menuntunnya berdiri di tepi pagar pembatas. Angin malam meraba lembut kulit mereka, membawa kedamaian yang sudah lama tidak mereka rasakan. Zayn merogoh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status