Masuk"Adikku pulang dari Inggris pagi ini. Dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu."
Suara Reyhan yang dingin memecah keheningan di meja makan pagi itu. Ia berbicara tanpa melihat ke arah Kirana yang sedang menuangkan kopi hangat ke dalam cangkirnya. Reyhan lebih fokus mengoles mentega pada selembar roti tawar. Gerakan tangan Kirana berhenti sejenak. Jantungnya berdesir pelan. Selama tiga tahun menikah, Reyhan memang jarang menceritakan tentang keluarganya. Kirana hanya tahu secara garis besar bahwa suaminya memiliki seorang adik laki-laki yang menyelesaikan pendidikan di luar negeri. "Oh... begitu, Mas?" Kirana mencoba mengulas senyum tipis, menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyusup. "Harus aku siapkan kamar tamu yang mana? Yang di lantai atas atau—" "Terserah kamu," potong Reyhan cepat. Nada suaranya menggambarkan bahwa topik itu sama sekali tidak penting baginya. "Zayn bukan anak kecil. Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Kamu cukup siapkan kamar dan jangan banyak bertanya." Kirana menelan ludah, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Lagi-lagi, rasa tidak dihargai itu merambat pelan di dadanya. Reyhan selalu memperlakukannya seperti ini, seolah-olah Kirana hanyalah seorang pengurus rumah tangga yang diberi gaji berupa kemewahan. Bukan seorang istri yang diajak berdiskusi. Belum sempat Kirana merapikan kembali teko kopi di tangannya. Suara derak roda koper yang diseret di atas lantai marmer terdengar gemeretak dari arah pintu utama. Disusul oleh langkah kaki yang tegas, mendekat ke arah ruang makan. "Wah, menyambutku dengan aroma kopi hangat? Sensasi yang sangat menyenangkan untuk pagi pertama di Jakarta." Sebuah suara berat, serak, dan penuh percaya diri bergema di ruangan itu. Kirana refleks menoleh. Sosok pria jangkung dengan bahu yang lebar berdiri di ambang pintu ruang makan. Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap dengan dua kancing atas yang terbuka, mengekspos garis leher dan dadanya yang tegap. Lengan kemejanya digulung hingga siku, menampilkan kulit kecokelatan dan urat-urat tangan yang menonjol tegas. Zayn Nugraha. Wajahnya memiliki kemiripan dengan Reyhan. Garis rahang yang tegas dan hidung mancung yang tajam. Tetapi aura yang dibawanya sama sekali berbeda. Jika Reyhan adalah es yang dingin dan beku, maka Zayn adalah api yang liar, berbahaya, dan tak tersentuh aturan. Reyhan hanya melirik sekilas dari balik cangkir kopinya. "Kamu sudah sampai, Zayn. Ini Kirana... istriku." Pengenalan yang sangat singkat. Tanpa kehangatan, tanpa kebanggaan. Zayn tidak langsung menjawab. Pria itu menghentikan langkahnya, lalu mengunci pandangan lurus pada Kirana. Cara Zayn menatapnya tidak hanya sekadar melihat, melainkan menilai. Menyapu setiap inci tubuh Kirana dari ujung kepala menuju lehernya yang terbuka hingga pada gaun rumahan berwarna krem yang membungkus lekuk tubuhnya. Tatapan itu terasa begitu tajam, vulgar, dan intim. Seketika itu juga tubuh Kirana meremang. Ia merasa telanjang karena cara Zayn melihatnya. "Mbak Kirana...?" Zayn melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka. "Senang bisa bertemu langsung dengan wanita yang membuat Kak Reyhan akhirnya mau menikah" Zayn mengulurkan tangannya. Kirana tertegun sejenak sebelum akhirnya menjabat uluran tangan Zayn. Mencoba bersikap sopan sebagai tuan rumah yang baik. "Senang berkenalan denganmu, Zayn..." Tapi bukannya sekadar menjabat tangan lalu melepaskan. Zayn justru menggenggam tangan Kirana dengan erat. Ibu jarinya perlahan bergerak mengelus punggung tangan Kirana dengan usapan lembut yang terasa begitu sensual. Sebuah sentuhan terlarang yang sangat jelas melompati batas antara seorang adik ipar dan istri kakaknya. Kirana terperanjat hebat. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, menjalar dari punggung tangan menuju seluruh tubuhnya. Wajah Kirana seketika memanas, bukan karena terpesona, melainkan karena rasa takut dan tidak nyaman yang luar biasa. Ia mencoba menarik tangannya pelan, tetapi Zayn tidak melepaskan tangannya, seolah pria itu sengaja ingin memamerkan kekuatannya. Kirana panik. Matanya yang bergetar refleks bergulir menatap suaminya yang duduk hanya berjarak dua meter dari mereka. Dalam hati, Kirana berteriak memohon. 'Mas Reyhan, lihat ini! Tolong tegur adikmu! Katakan sesuatu!' Kirana berharap Reyhan akan menyadari ketidaknyamanan yang ia rasakan. Ia berharap pria yang menyandang status sebagai suaminya itu akan berdiri, memotong tindakan lancang Zayn, atau setidaknya menunjukkan raut wajah cemburu sebagai seorang pria yang miliknya sedang diusik. Namun, harapan Kirana sia-sia. Reyhan bahkan tidak mendongak. Pria itu tetap menatap layar ponselnya, jemarinya sibuk mengetik pesan. Ia benar-benar acuh tak acuh. Di mata Reyhan, interaksi di hadapannya sama sekali tidak berarti. Atau mungkin, Reyhan memang tidak pernah peduli jika istrinya disentuh oleh siapa pun, karena sejak awal Kirana memang tak pernah bernilai di hatinya. Melihat respons dingin dan ketidakpedulian Reyhan yang begitu nyata, sudut bibir Zayn terangkat tipis. Sebuah seringai kecil yang penuh kemenangan terbit di wajah tampannya. Zayn akhirnya melepaskan genggaman tangannya dari Kirana, tetapi tatapannya tetap tak bergeser sedikit pun. "Kopi buatanmu baunya sangat enak, Mbak," bisik Zayn dengan suara rendah yang terdengar berbahaya di telinga Kirana. "Aku rasa... aku akan sangat betah tinggal di rumah ini." Kirana mundur beberapa langkah hingga pinggulnya menabrak pinggiran meja dapur. Tangannya menyilang di dada, berusaha menutupi dirinya dari pandangan Zayn. Reyhan kemudian bangkit dari kursinya lalu menyambar kunci mobil tanpa memandang Kirana. "Aku berangkat ke kantor sekarang. Zayn, kalau butuh apa-apa, bilang saja pada Kirana. Dia yang mengurus rumah." Tanpa mengecup kening Kirana, tanpa mengucapkan salam, Reyhan melangkah pergi begitu saja. Suara pintu depan yang tertutup keras menandakan bahwa Kirana kini benar-benar ditinggalkan. Di dalam ruang makan yang mendadak hening, Kirana berdiri membeku. Ia bisa merasakan udara di sekitarnya menjadi sangat berat dan beracun. Zayn perlahan melangkah mendekat, mengikis jarak hingga ia berdiri sangat dekat di depan Kirana. Zayn menaruh sebelah tangannya di tepi meja dapur, tepat di samping tubuh Kirana, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat mengintimidasi. Aroma tubuh Zayn seketika menguasai indra penciuman Kirana, mengusir aroma kopi hangat yang ada di meja. Zayn menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga Kirana bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu menyapu pelipisnya. Tatapan matanya yang pekat terkunci pada bibir Kirana yang gemetar ketakutan. "Apa sikap kakakku selalu seperti ini, Mbak Kirana..." bisik Zayn pelan, suaranya sarat akan ancaman dan godaan yang pekat. "Sepertinya dia sama sekali tidak khawatir membiarkan istrinya yang cantik ini berada di dekatku." Kirana menahan napasnya, matanya membelalak lebar. Tubuhnya menangkap sinyal-sinyal bahaya yang terpancar dari tubuh Zayn. Rasa ketakutan menjalar hebat memenuhi tubuhnya. Kirana harus buru-buru pergi. Ia tidak lagi merasa nyaman berada di dapur ini.Aroma harum mawar merah yang segar memenuhi setiap sudut Kirana Flower pagi itu. Di balik meja racik, Kirana sedang menekuni pekerjaannya dengan teliti. Jemarinya yang terampil dengan cekatan memotong tangkai, membersihkan duri-duri tajam, lalu menyusun kuntum demi kuntum mawar merah merekah menjadi sebuah buket yang amat indah. Di tengah kesibukannya, pendar cahaya matahari pagi menimpa jemari tanganya. Kirana menghentikan gerakannya sejenak. Matanya tertambat pada cincin pertunangan berhias berlian yang melingkar sempurna di jari manisnya. Kirana menatap cincin itu cukup lama. Bayangan wajah tegas Zayn, senyuman tipisnya yang langka, serta nada suaranya yang penuh kepemilikan sore kemarin di area parkir kampus seketika melintas di benak Kirana. Dada Kirana berdesir hangat. Rasa bahagia yang meluap-luap membuncah di hatinya. Setelah melewati badai pernikahan masa lalu yang kelam dan perjuangan keras membangun kehidupan baru, Kirana merasa akhirnya ia m
Sejak insiden singkat dengan Pak Aris sore itu, Zayn tampaknya semakin menikmati peran barunya sebagai penjemput setia Kirana. Pria itu hampir tidak pernah absen berada di area parkir kampus menjelang jam kuliah Kirana berakhir.Kehadiran sosok sekelas Zayn Nugraha di lingkungan akademis tentu tidak pernah benar-benar tak terlihat. Pria berwajah tegas dengan setelan kemeja eksekutif kustom, jam tangan mewah yang melingkar elegan di pergelangan, serta aura dominan yang amat memikat itu seketika menjadi daya tarik utama di area luar gedung kuliah.Bagi mahasiswi-mahasiswi muda, kedatangan mobil sedan hitam berpelat nomor khusus itu ibarat panggung hiburan sore. Mereka yang biasanya terburu-buru pulang, kini rela berlama-lama duduk di bangku taman kampus hanya untuk sekadar mencuri pandang, berbisik kagum, atau berpura-pura melintas di dekat Zayn.Sore itu, jadwal kuliah Manajemen Finansial Kirana selesai sedikit lebih lambat karena diskusi dosen di akhir jam
Kemenangan manis atas analisis rantai pasok minggu lalu meninggalkan jejak segar di kehidupan kampus Kirana. Tidak ada lagi yang berani memandangnya sebelah mata atau mencoba memanfaatkannya. Kirana kini dikenal sebagai mahasiswa baru yang cerdas, tekun, dan berpendirian teguh.Prestasi cemerlang itu juga menarik perhatian yang tak disangka-sangka.Di mata kuliah Manajemen Finansial, ada seorang asisten dosen muda bernama Aris. Berusia akhir belasan menuju dua puluhan, berwajah tampan dengan kacamata berbingkai tipis, serta bersikap sangat ramah, Aris menjadi idola baru di kalangan mahasiswi. Sejak presentasi memukau Kirana minggu lalu, Aris secara terbuka menunjukkan kekaguman akademis pada Kirana.Sore itu, kelas baru saja berakhir. Saat mahasiswa lain berhamburan keluar, Kirana masih sibuk merapikan buku-buku tebalnya di meja."Kirana," panggil Aris ramah seraya melangkah menghampiri meja Kirana dengan membawa sebendel jurnal ilmiah bersampul tebal.
Dua minggu berlalu sejak hari pertama pembekalan di auditorium. Pengakuan terbuka dari Zayn tempo hari memang berhasil membungkam bisik-bisik murahan pada mahasiswa, namun dinamika kehidupan kampus rupanya menyimpan ujian tersendiri. Bagi sekelompok mahasiswa muda yang merasa lebih unggul secara akademis dan latar belakang, keberadaan Kirana di kelas Manajemen Bisnis masih sering dipandang sebelah mata.Hari itu, suasana ruang kuliah lantai tiga terasa cukup riuh. Dosen Pengampu mata kuliah Manajemen Operasional baru saja mengumumkan tugas besar pertama yang harus dikerjakan secara berkelompok."Proyek ini menuntut kalian menganalisis efisiensi rantai pasok dari sebuah usaha nyata," ujar sang dosen seraya mengetuk meja. "Saya sudah membagi kelompoknya secara acak. Masing-masing kelompok terdiri dari empat orang. Tenggat waktu presentasi adalah minggu depan."Kirana melihat papan tulis di depan kelas. Namanya tertera di Kelompok 4, bergabung dengan tiga mahasiswa reguler muda: Rico, R
Tekad yang sudah bulat tidak lagi memberi ruang bagi rasa ragu. Setelah malam penuh keputusan bersama Zayn di toko bunga, Kirana mendaftarkan dirinya ke salah satu universitas bisnis ternama di kota itu. Ia mengambil program manajemen untuk memperdalam kemampuannya mengelola Kirana Flower agar semakin berkembang. Hari-hari berikutnya diisi Kirana dengan belajar tanpa kenal lelah. Di sela-sela merangkai bunga dan melayani pelanggan, buku-buku panduan bisnis dan manajemen tebal selalu terbuka di meja kerjanya. Jam di dinding toko menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi lampu meja kerja di sudut Kirana Flower masih menyala terang. Di antara tumpukan tangkai mawar dan kertas pembungkus yang belum dirapikan, dua buku tebal berikatan spiral " Pengantar Manajemen dan Akuntansi Bisnis" terbuka lebar di atas meja. Kirana memijit pelipisnya seraya menatap deretan grafik yang rumit. Pen
Langkah kaki Zayn berpacu cepat menembus remang-remang senja. Sepatunya menapak keras di atas tanah kering lorong sempit di balik panti asuhan. Pandangannya menyapu tajam setiap celah di antara dinding-dinding bangunan tua, namun sosok berjaket hitam itu bergerak sangat cepat dan lincah. Pria misterius itu menghilang di persimpangan jalan besar, menyatu dengan kebisingan lalu lintas kota yang padat. Zayn berhenti dengan napas memburu. Kepalan tangannya menghantam tembok bata di sampingnya dengan keras. "Sial!" umpat Zayn dingin, rahangnya mengetat rapat. Perasaan tak tenang menyergap dadanya saat ia berbalik dan kembali berlari menuju mobil, di mana Kirana menunggunya dengan wajah pucat pasi. Kejanggalan sore itu terbukti menjadi awal dari badai baru. Keesokan harinya, publik dihebohkan oleh berita utama yang menyebar kilat di berbagai portal media daring dan m







