INICIAR SESIÓNSentuhan jemari Zayn di lehernya terasa sehangat bara api yang memercik di atas kulit Kirana yang dingin. Kirana tersentak pelan. Naluri pertahanannya langsung menyala merah, memperingatkan bahaya nyata yang kini berlutut tepat di hadapannya.
Ia ingat betul bagaimana cara Zayn menatapnya tadi pagi di meja makan. Tatapan yang vulgar, liar, dan penuh ketertarikan terlarang. Kirana bermaksud memundurkan tubuhnya, takut jika adik iparnya ini akan melakukan hal buruk di tengah kondisinya yang begitu rentan dan tak berdaya. Saat matanya yang basah mendongak dan menatap wajah Zayn, Kirana membeku. Tidak ada kekerasan di sana. Zayn berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer, menyejajarkan posisinya dengan Kirana yang tergeletak pasrah. Tidak ada garis kebekuan seperti yang biasa ditunjukkan Reyhan pada wajah pria itu. Zayn menatapnya dengan raut teduh yang begitu dalam, seolah-olah seluruh perhatiannya mendadak tertuju penuh hanya pada Kirana. "Z-Zayn... kamu... mau apa?" bisik Kirana gagap. Suaranya bergetar hebat, tangannya yang gemetar mencoba menutupi belahan gaun tidur transparan di dadanya. "Pergi... tolong jangan dekat-dekat..." Bukannya mundur, Zayn justru terkekeh rendah. Sebuah tawa serak yang bergetar halus di dalam dadanya. Pria itu mengabaikan perintah Kirana, ia justru memajukan wajahnya hingga jarak di antara mereka melenyapkan udara. "Aku hanya tidak suka melihat hal indah terbuang sia-sia, Mbak," bisik Zayn. Jemari Zayn yang hangat kini bergerak merayap dari leher Kirana, menyusuri bahunya yang polos terbuka, lalu secara berani menyelipkan beberapa helai rambut Kirana yang basah karena keringat ke belakang telinganya. Usapan itu begitu lembut, begitu hati-hati, bertolak belakang dengan dorongan kasar Reyhan beberapa menit yang lalu. Hati Kirana yang hancur berkeping-keping mendadak berdesir aneh. Ia merasa takut namun ia juga tidak memungkiri bahwa sentuhan adik iparnya ini terasa begitu menenangkan. Hatinya yang haus akan kasih sayang dan lapar akan kehangatan seolah mendapat setetes air di tengah padang pasir yang tandus. Rasanya ironis sekaligus tragis. Pria yang berstatus suaminya melemparkannya ke lantai dan memaki dirinya murahan, sementara adik dari suaminya justru memperlakukannya seperti barang pecah belah yang amat berharga. "Lepaskan, Zayn... ini salah ... kamu tidak boleh menyentuhku," cicit Kirana, meski nada penolakannya kini terdengar begitu lemah, bahkan di telinganya sendiri. Zayn tersenyum tipis. Sorot matanya yang pekat mengunci lurus pada mata Kirana yang sembap. "Salah?" tanya Zayn lembut, lalu jemarinya bergerak menyapu bibir bawah Kirana yang gemetar akibat sisa isakan tangis. "Yang salah itu suamimu. Dia punya permata di rumahnya, tapi malah memperlakukannya seperti sampah." Ibu jari Zayn menekan pelan bibir bawah Kirana, mengelusnya dengan gerakan sensual yang membuat napas Kirana tertahan. Kirana memejamkan mata erat-erat, meremas kain lingerie-nya sendiri. Harusnya ia menampar Zayn. Harusnya ia berteriak dan mengusir pria ini. Namun, tubuhnya yang lelah dan hatinya yang remuk tak punya kekuatan lagi untuk melawan. Melihat Kirana yang pasrah dan tak lagi menolak secara fisik, Zayn memajukan tubuhnya. Tanpa peringatan, tangan kanan Zayn menyusup ke balik punggung Kirana, sementara tangan kirinya berada di bawah lipatan lutut wanita itu. Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, Zayn mengangkat tubuh Kirana ke dalam kapitan dadanya. "Ah!" Kirana terpekik pelan, refleks melingkarkan kedua tangannya pada leher Zayn agar tidak jatuh. Tubuh Kirana menempel erat pada dada bidang Zayn. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang berpacu tenang namun kuat, serta kehangatan tubuh yang selama ini hanya bisa ia impikan dari Reyhan. "Zayn, turunkan aku!" bisik Kirana panik saat menyadari Zayn mulai melangkah melintasi ruang makan yang berantakan, membawanya menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai atas. "Lantai bawah terlalu dingin untuk wanita selembut kamu, Mbak," sahut Zayn santai, sama sekali tak terbebani oleh bobot tubuh Kirana. Pandangannya tetap tertuju pada wajah Kirana yang memerah dan ketakutan dalam pelukannya. "Lagipula... kue ulang tahunmu sudah hancur. Sekarang biar aku yang beri kado indah untukmu. Kado yang tak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu." Jantung Kirana serasa melompat keluar dari rongga dadanya. Ketakutan dan desiran gairah yang terlarang bercampur aduk menjadi satu, menciptakan sensasi racun yang memabukkan di dalam dadanya. Zayn mendorong pintu kamar utama yang tidak terkunci dengan kakinya. Pintu terbuka lebar, memperlihatkan suasana kamar yang dihiasi kelopak mawar dan nyala lilin aromaterapi yang remang. Suasana romantis yang tadinya disiapkan Kirana untuk Reyhan. Zayn melangkah masuk, lalu perlahan merebahkan tubuh Kirana di atas ranjang besar yang empuk. Kirana buru-buru memundurkan tubuhnya menuju kepala ranjang, tetapi gerakan Zayn jauh lebih cepat. Pria itu merangkak naik ke atas tempat tidur, mengurung tubuh Kirana di bawah naungan bayang-bayangnya. Kedua tangan Zayn bertumpu di kiri dan kanan kepala Kirana, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya. Cahaya temaram lilin menimpa garis rahang Zayn yang tegas, membuat ketampanannya terlihat amat berbahaya. Pandangannya jatuh menyapu seluruh lekuk tubuh Kirana yang terbalut lingerie putih transparan di bawah terkaman tubuhnya. "Zayn, tolong... pergi... kamu tidak seharusnya berada di kamar ini," lirih Kirana dengan mata berkaca-kaca, memohon pertolongan terakhir pada hati nurani pria di atasnya. Zayn menundukkan kepalanya, menyisakan jarak hanya seujung jari dari bibir Kirana. Hembusan napas hangatnya menyapu kulit wajah Kirana yang memanas. "Dia sudah membuangmu malam ini, Mbak," bisik Zayn dengan suara berat yang dalam, serak, dan penuh dengan dominasi yang tak tertahankan. Tangan Zayn perlahan merayap turun, menyusup ke balik kain lingerie tipis di pinggang Kirana, meremas lembut kulit halus di sana hingga Kirana mendesah pelan dalam kejutan. "Dan aku tidak ingin membuatmu merasa tidak berharga."Valerie Suwandi, yang berdiri tak jauh dari jangkauan kerumunan itu, terkekeh pelan. Sebuah kekehan halus yang dibungkus keanggunan palsu, namun memancarkan kepuasan yang teramat pekat. Melihat Kirana terpojok dan dihantam tajam oleh lidah-lidah elitis para tamu undangan adalah pemandangan yang amat memanjakan gengsinya. Valerie menyesap minuman di gelas, menatap Kirana dengan binar mata puas. Seolah menegaskan bahwa tempat Kirana memang bukan di panggung kemewahan ini.Di samping Kirana, aura Zayn telah berubah menjadi badai yang siap menerjang. Kedua matanya mengkilat murka. Garis rahangnya mengetat tajam, dan langkah kakinya sudah terangkat, bersiap maju untuk menghancurkan mulut-mulut beracun yang berani menghina wanita yang dicintainya. Pria itu tidak akan segan-segan membuat gempar seluruh ballroom demi membela Kirana.Sebelum langkah Zayn merobek kerumunan, Kirana menahan pergelangan tangannya.Zayn menoleh cepat. Kirana berdiri di sana, meremas jemarinya dengan sisa kekuatan y
Hening yang dingin sempat menyelimuti area sekitar mereka tepat setelah kalimat pamungkas Zayn terucap. Kata-kata tegas pria itu bergema di udara, memotong keangkuhan yang semula mengudara begitu tebal di sekeliling Valerie Suwandi.Sebagai seorang putri konglomerat yang terlatih di panggung sosial kelas atas, Valerie tidak membiarkan dirinya terlihat hancur di depan publik. Gengsinya yang setinggi langit memaksanya untuk tetap menegakkan dagu. Senyuman anggun yang dipoles kaku kembali menghiasi bibirnya yang berpoles lipstik merah gelap, meski kilatan kekalahan dan kepahitan tak bisa sepenuhnya tersembunyi dari matanya.Valerie menutupi rasa malunya dengan kekehan elegan yang terdengar begitu renyah, seolah ucapan menohok Zayn barusan hanyalah sebuah lelucon ringan di antara kawan lama."Kritik yang cukup tajam, Zayn," ujar Valerie, mengibaskan tangannya seraya membetulkan posisi gaun hitam obsidian-nya dengan keanggunan yang dipaksakan. "Tapi aku senang melihatmu menemukan orang yan
Pagi harinya, ketegangan terselubung di apartemen sedikit mencair ketika Zayn membawa sebuah kotak hadiah besar berbalut pita sutra. Pria itu meletakkannya tepat di samping Kirana, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Dengan lembut, Zayn menarik jemari Kirana dan menggenggamnya erat."Malam ini ada Gala Dinner asosiasi pengusaha," bisik Zayn dengan tatapan mata yang hangat dan tegas. "Dampingi aku nanti malam, ya?" ujar Zayn pelan penuh kesungguhan. "Aku ingin semua orang tahu... siapa wanita yang berdiri di sampingku."Kirana sempat ragu. Bayangan ejekan para mahasiswi kemarin masih membayangi pikirannya, membuatnya merasa kecil di hadapan panggung kemewahan Zayn. Namun, menatap kedua mata Zayn yang memohon penuh harapan, Kirana menguatkan dadanya.Ia datang mengenakan gaun malam anggun berwarna navy rancangan desainer ternama pilihan Zayn, merias wajahnya secara natural, dan membiarkan rambut hitam panjangnya terurai indah.Di awal acara yang
Suasana di dalam ruang kelas Manajemen mendadak dihinggapi keheningan yang serba salah. Lirikan mata sinis dan bisikan yang tiba-tiba terputus itu menggantung di udara seperti jelaga kotor. Kirana berpura-pura tidak mendengar. Ia menunduk kaku, membolak-balik halaman buku catatannya tanpa benar-benar membaca sepatah kata pun. Jemarinya yang menekan ujung kertas gemetar halus, menahan gelombang rasa malu dan sesak yang perlahan merayap naik menjejali tenggorokannya.Sepanjang jam kuliah berlangsung, Kirana berjuang keras mempertahankan fokusnya. Setiap kali dosen menjelaskan materi di depan papan tulis, kalimat-kalimat ejekan di internet dan nama Valerie terus berputar di kepalanya seperti gema yang tak mau henti.Sore harinya, saat bel ganti jam telah berbunyi dan kelas berangsur sepi, ponsel Kirana bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Zayn masuk.[Zayn] : Na, maaf, aku ada rapat mendadak dengan direksi. Aku sedikit terlambat jemput kamu. Tungg
Keheningan malam di meja makan kafe itu mendadak terasa berat.Setelah panggilan internasional tanpa nama itu memotong pembicaraan mereka, Zayn meminta izin untuk mengangkatnya sebentar dengan menjauh beberapa langkah. Saat kembali, raut wajahnya tampak berusaha keras bersikap tenang, meski ketegangan kaku di garis rahangnya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.Kirana memilih untuk tidak mencecar. Mengingat janji yang baru beberapa menit lalu terucap dari bibirnya, Kirana memegang teguh komitmennya untuk percaya.Zayn mematikan layar ponselnya yang baru saja meredup, lalu menoleh menatap Kirana dengan raut wajah serba salah. Pria itu menghembuskan napas panjang, berusaha mengikis ketegangan di wajahnya."Na... kita pulang yaa.. ke apartemen, mau?" panggil Zayn pelan, nada suaranya terdengar ragu, seolah bersiap jika Kirana akan menolak atau meminta diantarkan kembali ke toko bunga.Kirana menatap mata yang kini tampak cemas itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan gemuruh di dadan
Suasana hangat di lantai dua Kirana Flower pagi itu menjadi saksi bisu kembalinya keharmonisan dua insan yang sempat diterpa prasangka. Setelah Zayn membersihkan diri dan menikmati sarapan sederhana buatan Kirana, kecanggungan yang sempat membeku di antara mereka menguap tanpa sisa.Sinar matahari pagi yang cerah mengiringi perjalanan mereka saat sedan hitam Zayn membelah jalanan kota menuju kampus Kirana. Di sepanjang perjalanan, Zayn tak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Kirana setiap kali kendaraan berhenti di lampu merah. Senyuman tipis tak pernah lepas dari wajah tegas pria itu, menggantikan raut lelah dan tegang yang menghantuinya beberapa hari terakhir."Belajar yang rajin, ya," ucap Zayn lembut seraya mengusap kepala Kirana saat mereka sampai di depan gerbang utama kampus.Kirana mengangguk anggun, mengulas senyum manis merona yang paling dirindukan Zayn. "Hati-hati di jalan, Zayn. Jangan lupa makan siang."Kembali ke rutinitas masing-masing tak membuat benteng kerind







