LOGINSuara jeritan melengking bergema di koridor ruang pemeriksaan kepolisian, memutus keheningan dingin gedung bertembok kusam itu.
Di balik meja kayu penyidik, Bella terduduk kaku dengan napas memburu dan mata mendelik lebar. Kedua tangannya yang terborgol bergetar hebat di atas lembaran-lembaran kertas berstempel resmi pengadilan yang baru saja disodorkan di hadapannya. Surat Penetapan Tersangka Tambahan dan Penyitaan Aset. "Tidak! Ini tidak mungkin! Ini pastiSinar matahari pagi menerobos hangat melalui celah jendela apartemen, membias pada lembaran-lembaran modul kuliah dan laporan keuangan toko bunga yang tertata rapi di atas meja. Setelah badai emosi yang menguras batin beberapa hari terakhir, Kirana memutuskan untuk tidak larut dalam drama. Ia memilih kembali menjejak bumi, memfokuskan pikirannya pada dua hal yang menjadi fondasi hidupnya: pendidikan dan usaha toko bunganya.Pagi itu, Zayn sempat menawarkan diri untuk mengantarnya ke kampus, namun Kirana menolaknya secara halus dengan senyuman hangat. Kirana ingin melangkah dengan kakinya sendiri, membuktikan pada dirinya bahwa ia sanggup menghadapi dunia luar tanpa harus terus bersembunyi di balik ketiak Zayn.Melangkah keluar dari zona nyaman tidak pernah benar-benar mudah. Begitu Kirana menginjakkan kaki di koridor gedung fakultasnya, suasana dingin dan kecemburuan seketika menyergap. Beberapa mahasiswi berpenampilan modis yang sedang berdiri menepi di dekat tangga meliriknya tajam.
Lampu kamar apartemen yang berpendar kekuningan membiaskan suasana hangat yang begitu kontras dengan dinginnya angin malam di luar. Kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Zayn masih mengudara, meninggalkan getaran ketulusan yang meresap sempurna hingga ke relung hati Kirana.Kirana menatap sepasang mata di hadapannya. Mata yang menyimpan kejujuran polos dari seorang pria yang merindukan cinta tanpa syarat. Rasa sesak yang semula menyumbat dada Kirana perlahan luruh, berganti dengan gelombang keharuan yang membuat kelopak matanya menjadi basah.Tanpa mengucap sepatah kata pun, Kirana memajukan tubuhnya. Ia melingkarkan kedua lengannya pada leher tegap Zayn, menarik pria itu ke dalam pelukan yang erat dan hangat.Zayn sempat tertegun sejenak. Detik berikutnya, kedua tangan kokohnya merengkuh pinggang Kirana dengan protektif, membenamkan wajahnya di celah leher wanita itu. Zayn menghirup aroma wangi alami rambut Kirana, seolah menemukan tempat peraduan paling aman di tengah hiruk-piku
Suasana di dalam mobil sedan hitam milik Zayn membelah jalanan malam Jakarta yang hening, namun keheningan itu kini tak lagi mencekam. Pendar lampu kota menerobos kaca jendela, memantulkan raut wajah Kirana yang tampak lelah. Jemari tangannya bertengger pasrah di atas paha.Zayn mengulurkan tangan kirinya untuk meraih jemari Kirana. Ia menyetir dengan satu tangan demi bisa memegang tangan kekasihnya. Pria itu menggenggamnya erat, mengusap punggung tangan Kirana menggunakan ibu jarinya secara perlahan."Kamu luar biasa malam ini, Kirana," bisik Zayn, suaranya terdengar begitu dalam dan hangat di tengah deru mesin yang halus. "Aku bangga sekali padamu."Kirana menoleh, mengulas senyum tipis yang terlihat lelah. "Jantungku rasanya mau melompat keluar, Zayn. Aku cuma... tidak ingin mereka terus-menerus meremehkan kita. Tapi sejujurnya, dadaku masih terasa gemetar.""Setidaknya, mulut-mulut beracun itu sudah terkunci rapat sekarang," sahut Zayn lembut, menyunggingkan senyum tipis seraya me
Valerie Suwandi, yang berdiri tak jauh dari jangkauan kerumunan itu, terkekeh pelan. Sebuah kekehan halus yang dibungkus keanggunan palsu, namun memancarkan kepuasan yang teramat pekat. Melihat Kirana terpojok dan dihantam tajam oleh lidah-lidah elitis para tamu undangan adalah pemandangan yang amat memanjakan gengsinya. Valerie menyesap minuman di gelas, menatap Kirana dengan binar mata puas. Seolah menegaskan bahwa tempat Kirana memang bukan di panggung kemewahan ini.Di samping Kirana, aura Zayn telah berubah menjadi badai yang siap menerjang. Kedua matanya mengkilat murka. Garis rahangnya mengetat tajam, dan langkah kakinya sudah terangkat, bersiap maju untuk menghancurkan mulut-mulut beracun yang berani menghina wanita yang dicintainya. Pria itu tidak akan segan-segan membuat gempar seluruh ballroom demi membela Kirana.Sebelum langkah Zayn merobek kerumunan, Kirana menahan pergelangan tangannya.Zayn menoleh cepat. Kirana berdiri di sana, meremas jemarinya dengan sisa kekuatan y
Hening yang dingin sempat menyelimuti area sekitar mereka tepat setelah kalimat pamungkas Zayn terucap. Kata-kata tegas pria itu bergema di udara, memotong keangkuhan yang semula mengudara begitu tebal di sekeliling Valerie Suwandi.Sebagai seorang putri konglomerat yang terlatih di panggung sosial kelas atas, Valerie tidak membiarkan dirinya terlihat hancur di depan publik. Gengsinya yang setinggi langit memaksanya untuk tetap menegakkan dagu. Senyuman anggun yang dipoles kaku kembali menghiasi bibirnya yang berpoles lipstik merah gelap, meski kilatan kekalahan dan kepahitan tak bisa sepenuhnya tersembunyi dari matanya.Valerie menutupi rasa malunya dengan kekehan elegan yang terdengar begitu renyah, seolah ucapan menohok Zayn barusan hanyalah sebuah lelucon ringan di antara kawan lama."Kritik yang cukup tajam, Zayn," ujar Valerie, mengibaskan tangannya seraya membetulkan posisi gaun hitam obsidian-nya dengan keanggunan yang dipaksakan. "Tapi aku senang melihatmu menemukan orang yan
Pagi harinya, ketegangan terselubung di apartemen sedikit mencair ketika Zayn membawa sebuah kotak hadiah besar berbalut pita sutra. Pria itu meletakkannya tepat di samping Kirana, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Dengan lembut, Zayn menarik jemari Kirana dan menggenggamnya erat."Malam ini ada Gala Dinner asosiasi pengusaha," bisik Zayn dengan tatapan mata yang hangat dan tegas. "Dampingi aku nanti malam, ya?" ujar Zayn pelan penuh kesungguhan. "Aku ingin semua orang tahu... siapa wanita yang berdiri di sampingku."Kirana sempat ragu. Bayangan ejekan para mahasiswi kemarin masih membayangi pikirannya, membuatnya merasa kecil di hadapan panggung kemewahan Zayn. Namun, menatap kedua mata Zayn yang memohon penuh harapan, Kirana menguatkan dadanya.Ia datang mengenakan gaun malam anggun berwarna navy rancangan desainer ternama pilihan Zayn, merias wajahnya secara natural, dan membiarkan rambut hitam panjangnya terurai indah.Di awal acara yang







