LOGINPagi harinya, ketegangan terselubung di apartemen sedikit mencair ketika Zayn membawa sebuah kotak hadiah besar berbalut pita sutra. Pria itu meletakkannya tepat di samping Kirana, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Dengan lembut, Zayn menarik jemari Kirana dan menggenggamnya erat.
"Malam ini ada Gala Dinner asosiasi pengusaha," bisik Zayn dengan tatapan mata yang hangat dan tegas. "Dampingi aku nanti malam, ya?" ujar Zayn pelan penuh kesungguhan. "Aku ingin semua orang tahu... sValerie Suwandi, yang berdiri tak jauh dari jangkauan kerumunan itu, terkekeh pelan. Sebuah kekehan halus yang dibungkus keanggunan palsu, namun memancarkan kepuasan yang teramat pekat. Melihat Kirana terpojok dan dihantam tajam oleh lidah-lidah elitis para tamu undangan adalah pemandangan yang amat memanjakan gengsinya. Valerie menyesap minuman di gelas, menatap Kirana dengan binar mata puas. Seolah menegaskan bahwa tempat Kirana memang bukan di panggung kemewahan ini.Di samping Kirana, aura Zayn telah berubah menjadi badai yang siap menerjang. Kedua matanya mengkilat murka. Garis rahangnya mengetat tajam, dan langkah kakinya sudah terangkat, bersiap maju untuk menghancurkan mulut-mulut beracun yang berani menghina wanita yang dicintainya. Pria itu tidak akan segan-segan membuat gempar seluruh ballroom demi membela Kirana.Sebelum langkah Zayn merobek kerumunan, Kirana menahan pergelangan tangannya.Zayn menoleh cepat. Kirana berdiri di sana, meremas jemarinya dengan sisa kekuatan y
Hening yang dingin sempat menyelimuti area sekitar mereka tepat setelah kalimat pamungkas Zayn terucap. Kata-kata tegas pria itu bergema di udara, memotong keangkuhan yang semula mengudara begitu tebal di sekeliling Valerie Suwandi.Sebagai seorang putri konglomerat yang terlatih di panggung sosial kelas atas, Valerie tidak membiarkan dirinya terlihat hancur di depan publik. Gengsinya yang setinggi langit memaksanya untuk tetap menegakkan dagu. Senyuman anggun yang dipoles kaku kembali menghiasi bibirnya yang berpoles lipstik merah gelap, meski kilatan kekalahan dan kepahitan tak bisa sepenuhnya tersembunyi dari matanya.Valerie menutupi rasa malunya dengan kekehan elegan yang terdengar begitu renyah, seolah ucapan menohok Zayn barusan hanyalah sebuah lelucon ringan di antara kawan lama."Kritik yang cukup tajam, Zayn," ujar Valerie, mengibaskan tangannya seraya membetulkan posisi gaun hitam obsidian-nya dengan keanggunan yang dipaksakan. "Tapi aku senang melihatmu menemukan orang yan
Pagi harinya, ketegangan terselubung di apartemen sedikit mencair ketika Zayn membawa sebuah kotak hadiah besar berbalut pita sutra. Pria itu meletakkannya tepat di samping Kirana, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Dengan lembut, Zayn menarik jemari Kirana dan menggenggamnya erat."Malam ini ada Gala Dinner asosiasi pengusaha," bisik Zayn dengan tatapan mata yang hangat dan tegas. "Dampingi aku nanti malam, ya?" ujar Zayn pelan penuh kesungguhan. "Aku ingin semua orang tahu... siapa wanita yang berdiri di sampingku."Kirana sempat ragu. Bayangan ejekan para mahasiswi kemarin masih membayangi pikirannya, membuatnya merasa kecil di hadapan panggung kemewahan Zayn. Namun, menatap kedua mata Zayn yang memohon penuh harapan, Kirana menguatkan dadanya.Ia datang mengenakan gaun malam anggun berwarna navy rancangan desainer ternama pilihan Zayn, merias wajahnya secara natural, dan membiarkan rambut hitam panjangnya terurai indah.Di awal acara yang
Suasana di dalam ruang kelas Manajemen mendadak dihinggapi keheningan yang serba salah. Lirikan mata sinis dan bisikan yang tiba-tiba terputus itu menggantung di udara seperti jelaga kotor. Kirana berpura-pura tidak mendengar. Ia menunduk kaku, membolak-balik halaman buku catatannya tanpa benar-benar membaca sepatah kata pun. Jemarinya yang menekan ujung kertas gemetar halus, menahan gelombang rasa malu dan sesak yang perlahan merayap naik menjejali tenggorokannya.Sepanjang jam kuliah berlangsung, Kirana berjuang keras mempertahankan fokusnya. Setiap kali dosen menjelaskan materi di depan papan tulis, kalimat-kalimat ejekan di internet dan nama Valerie terus berputar di kepalanya seperti gema yang tak mau henti.Sore harinya, saat bel ganti jam telah berbunyi dan kelas berangsur sepi, ponsel Kirana bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Zayn masuk.[Zayn] : Na, maaf, aku ada rapat mendadak dengan direksi. Aku sedikit terlambat jemput kamu. Tungg
Keheningan malam di meja makan kafe itu mendadak terasa berat.Setelah panggilan internasional tanpa nama itu memotong pembicaraan mereka, Zayn meminta izin untuk mengangkatnya sebentar dengan menjauh beberapa langkah. Saat kembali, raut wajahnya tampak berusaha keras bersikap tenang, meski ketegangan kaku di garis rahangnya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.Kirana memilih untuk tidak mencecar. Mengingat janji yang baru beberapa menit lalu terucap dari bibirnya, Kirana memegang teguh komitmennya untuk percaya.Zayn mematikan layar ponselnya yang baru saja meredup, lalu menoleh menatap Kirana dengan raut wajah serba salah. Pria itu menghembuskan napas panjang, berusaha mengikis ketegangan di wajahnya."Na... kita pulang yaa.. ke apartemen, mau?" panggil Zayn pelan, nada suaranya terdengar ragu, seolah bersiap jika Kirana akan menolak atau meminta diantarkan kembali ke toko bunga.Kirana menatap mata yang kini tampak cemas itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan gemuruh di dadan
Suasana hangat di lantai dua Kirana Flower pagi itu menjadi saksi bisu kembalinya keharmonisan dua insan yang sempat diterpa prasangka. Setelah Zayn membersihkan diri dan menikmati sarapan sederhana buatan Kirana, kecanggungan yang sempat membeku di antara mereka menguap tanpa sisa.Sinar matahari pagi yang cerah mengiringi perjalanan mereka saat sedan hitam Zayn membelah jalanan kota menuju kampus Kirana. Di sepanjang perjalanan, Zayn tak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Kirana setiap kali kendaraan berhenti di lampu merah. Senyuman tipis tak pernah lepas dari wajah tegas pria itu, menggantikan raut lelah dan tegang yang menghantuinya beberapa hari terakhir."Belajar yang rajin, ya," ucap Zayn lembut seraya mengusap kepala Kirana saat mereka sampai di depan gerbang utama kampus.Kirana mengangguk anggun, mengulas senyum manis merona yang paling dirindukan Zayn. "Hati-hati di jalan, Zayn. Jangan lupa makan siang."Kembali ke rutinitas masing-masing tak membuat benteng kerind







