LOGIN"Di mana Jack?" tanya Arsen saat keluar dari ruang rawat Aluna. Bi Ina yang sedang duduk langsung berdiri. "Oh, Tuan Jack baru saja pergi," jawab Bi Ina cepat. "Pergi?" ulang Arsen. Bi Ina mengangguk pelan. "Iya, Tuan." Arsen mengernyitkan dahinya. "Ke mana?" "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu." Bi Ina terlihat sedikit ragu sebelum melanjutkan, "Karena tadi Tuan Jack terlihat sangat buru-buru." Arsen langsung terdiam. Ia menoleh sekilas ke arah lorong rumah sakit. Biasanya Jack tidak akan pergi begitu saja dalam keadaan seperti ini. "Apa dia mengatakan sesuatu sebelum pergi?" tanya Arsen lagi. Bi Ina mencoba mengingat. "Tidak banyak, Tuan." "Beliau hanya meminta kami tetap menjaga Nona Aluna." Arsen menghela napas pelan. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Jack. Namun saat ini. Fokusnya tetap kepada Aluna. Pria itu kembali menoleh ke arah pintu ruang rawat VVIP milik Aluna. Tatapannya perlahan melembut. Setelah melihat sendiri bagaimana Aluna kesakita
"Aluna, ada apa?" tanya Arsen panik saat melihat mata Aluna mulai terbuka. Saat ini, Aluna sudah dipindahkan ke ruang VVIP. Namun dari raut wajahnya terlihat jelas. Ia sedang menahan rasa sakit. Keningnya berkerut. Napasnya tidak teratur. Dan sesekali terdengar suara erangan kecil dari bibirnya. Hal itu membuat Arsen semakin panik. Ia langsung berdiri di samping ranjang Aluna lalu mendekat. "Aluna, ada apa?" tanyanya lagi dengan nada penuh kekhawatiran. Aluna hanya kembali mengerang pelan. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Mungkin. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya sakit. Tetapi tubuhnya terlalu lemah. Melihat keadaan itu, Arsen langsung menoleh ke arah dokter yang berada di sampingnya. "Dok, apa yang terjadi?" tanya Arsen cepat. "Dia mengerang seperti itu… sepertinya dia kesakitan." Dokter itu memperhatikan kondisi Aluna beberapa detik sebelum menjawab, "Sepertinya efek obat biusnya sudah mulai habis." Seketika Arsen langsung menegang. "Jadi sekarang dia mulai merasaka
"Arsen, bagaimana Aluna?" tanya Jack yang baru saja tiba di rumah sakit. Dia datang tepat saat Aluna sudah masuk ke ruang operasi. Arsen yang berdiri di depan ruang operasi langsung menoleh. Wajahnya terlihat begitu panik dan kacau. "Dia berada di dalam," jawab Arsen pelan. Tatapannya kembali tertuju pada pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Jack menghela napas perlahan lalu mendekat ke arah sahabatnya itu. "Tenanglah," ucap Jack mencoba menenangkan. Namun Arsen justru menggeleng pelan. "Aku tidak bisa tenang." Suara itu terdengar begitu lemah. Berbeda jauh dari biasanya. Jack terdiam menatap Arsen. Ia tahu. Pria di depannya benar-benar takut kehilangan Aluna. Dan rasa takut itu perlahan mulai menghancurkan dirinya sendiri. Di tengah suasana yang menegangkan itu— Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa di lorong ruang operasi. Tap. Tap. Tap. Arsen dan Jack langsung menoleh bersamaan. Tak lama kemudian, terlihat Bi Ina datang bersama Sara, Zara, Ne
"Kondisinya sudah jauh membaik selama beberapa hari ini," ucap dokter setelah selesai memeriksa keadaan Aluna. Arsen yang sejak tadi berdiri di samping ranjang langsung menatap dokter itu dengan serius. "Jadi, sepertinya kami sudah bisa melakukan tindakan selanjutnya." Mendengar itu, Aluna langsung terlihat sedikit tegang. Sementara Arsen perlahan menggenggam tangannya mencoba menenangkan. "Butuh waktu berapa jam, Dok?" tanya Arsen. Dokter itu membuka map pemeriksaan sebelum menjawab, "Mungkin sekitar dua sampai empat jam." Arsen mengernyit pelan. "Cukup lama?" Dokter mengangguk. "Karena beberapa bagian tubuhnya mengalami kerusakan yang harus diperbaiki dengan benar." Tatapannya kemudian beralih kepada Aluna. "Kalau tidak ditangani dengan baik, kemungkinan bisa meninggalkan kecacatan." Ucapan itu membuat suasana kamar langsung hening. Aluna perlahan menundukkan pandangannya. Sementara rahang Arsen langsung menegang. "Kalau begitu…" ucap Arsen pelan. "Lakukan yang ter
"Kau sudah bangun?" tanya Jack saat melihat Bella mulai mencoba duduk di atas ranjang. "Hmm…" deham Bella pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Hari sudah berganti pagi. Cahaya matahari masuk melalui jendela apartemen. Dan sejak semalaman, Jack tetap berada di sana menemani Bella. Bahkan untuk pertama kalinya, pria itu membawa Bella ke apartemennya sendiri. Biasanya mereka hanya bertemu di bar. Tidak pernah lebih jauh dari itu. Karena Jack selalu menjaga batas di antara mereka. Bella perlahan membuka matanya lebih lebar. Pandangan matanya menyapu sekeliling ruangan yang terasa asing. "A-Aku di mana?" tanyanya dengan suara serak. "Di apartemenku," jawab Jack singkat. Mata Bella langsung membelalak kecil. Ia menoleh cepat ke arah Jack yang sedang duduk di sofa tidak jauh dari ranjang. "K-Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyanya lagi. Jack menghela napas pelan. "Kau mabuk berat tadi malam." Bella langsung terdiam. Perlahan ingatan tentang semalam mu
"J-Jack… jangan tinggalkan aku…" gumam Bella lirih. Tubuhnya lemah. Kepalanya terkulai di bahu Jack. Belum sempat Jack menjawab— Tiba-tiba Bella muntah. "Ugh—" Jack langsung sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dengan cepat ia memiringkan posisi Bella agar tidak tersedak. Wajahnya langsung berubah serius. Ia menoleh ke arah salah satu karyawan yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Ambilkan tisu!" perintahnya tegas. "Baik, Tuan!" sahut karyawan itu dan segera berlari mengambil tisu. Jack menepuk pelan punggung Bella. "Pelan… keluarkan saja," ucapnya menenangkan. Bella hanya bisa terisak lemah di sela-sela muntahnya. Tak lama, karyawan itu datang membawa tisu. Jack langsung mengambilnya lalu membersihkan mulut Bella dengan hati-hati. "Air," ucap Jack singkat lagi. Karyawan lain segera mengambilkan air mineral. Jack membantu Bella untuk minum sedikit. "Cukup… jangan terlalu banyak," ucapnya pelan. Bella menatap Jack dengan mata setengah terpejam. Air matanya







