LOGINWaktu seperti membeku.Kerumunan yang bising tadi berubah bisu.Hanya satu suara yang terdengar—suara tubuh Alexa jatuh menghantam lantai marmer putih bandara.Darah semakin merembes dari ujung roknya, membentuk noda merah yang semakin besar.Arsenio membeku, wajahnya memutih seperti mayat.Martin membatu, mulutnya terbuka tanpa suara, tubuhnya gemetar.Lalu—“ALEXA!!!”Arsenio menerjang ke arah Alexa, lututnya menghantam lantai, tangannya langsung menahan tubuh Alexa sebelum darah menjalar lebih jauh.“Alexa… Alexa… buka matamu…,” suaranya pecah, hampir tak terdengar.Alexa tidak bergerak.Hening.Panik.Dunia Arsenio runtuh dalam satu detik.Sementara itu, Martin baru tersadar. “T-tidak… Alexa… ALEXA!” Ia berusaha berlari ke arah Alexa—Namun anak buah Arsenio langsung mencekal kedua lengannya dari belakang.“Lepaskan aku! ALEXA!!!” Martin meronta seperti orang kehilangan nyawa, wajahnya kacau oleh ketakutan. “Aku tidak bermaksud—AKU TIDAK BERMAKSUD MELUKAINYA!”Aksi itu membuat ke
Terminal bandara pagi itu sudah ramai, tapi di tengah keramaian itu, suasana di sekitar Alexa dan Martin terasa seperti ruang hampa. Dunia di luar bergerak… namun dunia mereka membeku.Martin masih mencengkeram pergelangan tangan Alexa, terlalu kuat untuk disebut “menahan”, tapi terlalu goyah untuk disebut “mengendalikan”. Ia seperti orang yang kehilangan kompas; antara kasih sayang, ketakutan, dan obsesi yang mulai tumbuh tanpa ia sadari.“Alexa,” suara Martin bergetar, “tolong… jangan kembali pada dia. Kamu tahu sendiri bagaimana semua ini berbahaya.”Alexa menggeleng pelan, air matanya mengalir. “Berbahaya atau tidak, aku… aku tidak bisa pergi begitu saja. Arsenio—dia melawan semua itu. Dia… menyelamatkanku.”Martin menatapnya seolah terpukul.“Apa kamu kira aku tidak mencoba? Aku yang menyembunyikanmu dari mereka, aku yang—”Tapi kamu membawaku tanpa bertanya apa pun,” Alexa memotong. “Kamu mengurungku dari pilihanku sendiri.”Martin diam. Telapak tangannya mulai berkeringat.Oran
Matahari muncul, pagi itu tampak muram—seolah mengetahui bahwa sesuatu yang besar akan terjadi.Arsenio tidak tidur semalam pun. Matanya merah, rambutnya berantakan, namun auranya tetap tajam, tidak berubah: ia akan menemukan Alexa.Kelvin berdiri dengan kaki pincang sambil memegangi laptopnya. “Tuan… kita menemukan jejak.”Arsenio langsung menghampirinya. “Di mana?”Kelvin memperbesar beberapa cuplikan CCTV yang ditarik dari puluhan titik di kota.Potongan pertama: Alexa keluar dari parkiran basement, langkahnya goyah.Potongan kedua: Martin berjalan cepat, membawa koper kecil.Potongan ketiga: plat nomor mobil sewaan yang mereka pakai.Felix menegang. “Itu mobil dari rental lokal. Aku akan cek datanya.”Beberapa detik kemudian, Felix kembali dengan wajah serius.“Mobil itu disewa oleh Martin.”Arsenio mengepalkan tangannya. "Martin... Kamu lagi...""Tuan, Dan..."“Dan apa?” Arsenio menuntut.Felix menyerahkan tablet padanya.“Martin memesan dua tiket penerbangan ke Australia. Atas n
Martin memarkir mobil sewaan mereka di basement sebuah hotel kecil di pinggir kota Madrid. Bukan hotel mewah, bukan tempat yang mencolok—justru itu sebabnya ia memilihnya. Tempat aman, tempat di mana tidak ada yang akan mencari Alexa di sana.Alexa turun dengan langkah goyah.Tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, tapi karena seluruh kejutan dan rasa sakit yang menumpuk sejak malam itu. Martin meraih bahunya dengan lembut.“Pelan-pelan, Lex. Kita sudah hampir sampai,” ujarnya dengan khawatir.Alexa hanya mengangguk tanpa suara.Mereka naik lift menuju lantai 3. Martin membuka pintu kamar kecil itu—sederhana, bersih, dan penuh obat-obatan di atas meja yang sudah ia siapkan.Alexa duduk di tepi ranjang, memegang kepalanya yang berdenyut. Martin menuangkan air hangat dan menyerahkannya.“Kamu harus minum. Kamu dehidrasi.”Alexa memegang gelas itu, tapi tidak meminumnya. Tatapannya kosong menembus jendela. Pandangannya seolah melihat kejauhan… entah Arsenio sedang apa… entah dia baik-ba
Arsenio tidak menunggu sedetik pun setelah asisten Mireya pergi.Ia bangkit, menyambar jas hitamnya yang tergeletak di kursi, dan melangkah cepat keluar ruangan yang berantakan itu. Felix langsung mengikuti.“Tuan, mau ke mana—?”“Ruang kerjaku. Sekarang.”Felix mengangguk dan berlari mengejarnya.Begitu masuk ke ruang kerja, Arsenio langsung duduk di kursi besar, memasukkan flashdisk pemberian asisten Mireya ke laptop terenkripsi miliknya.Felix menunggu di samping, gugup.Dan ketika data terbuka—Felix tersentak.Arsenio hanya menatap layar itu dengan mata yang semakin gelap.“Ini… bukan cuma cukup untuk menghancurkan mereka, Tuan,” Felix berbisik. “Ini bisa menjebloskan seluruh jaringan Hadrian dalam satu malam.”Arsenio mengatupkan rahang.“Saya akan menghubungi intel,” ujar Felix cepat sambil meraih ponselnya, namun Arsenio mengangkat tangan menghentikannya.“Tidak. Aku sendiri yang bicara.”Felix mengangguk.Arsenio menekan nomor seorang agen intelijen tingkat tinggi, seorang pr
Arsenio terduduk bersandar pada dinding kamarnya yang berantakan. Nafasnya tersengal, dada naik-turun dengan ritme yang kacau. Pecahan kaca berkilauan di sekelilingnya, seperti pantulan hidupnya yang ikut retak.Ia baru saja menghancurkan tiga guci antik, satu meja kecil, dan hampir memecahkan cermin besar sebelum menghentikan dirinya sendiri.Tapi ia tidak merasa lebih baik. Ia merasa… kosong.Tiba-tiba, pintunya diketuk keras.Tok! Tok! Tok!Arsenio mengangkat kepala, mata merah, rahang mengeras.“Pergi,” geramnya.Namun pintu tetap terbuka.Felix muncul. "Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda.""Aku tak mau bertemu siapa pun, kecuali Alexa.""Tuan, ini penting, dan ini demi Nona Alexa."Arsenik langsung mengangkat wajahnya. Seorang pria masuk,pria yang Arsenio kenal— memakai setelan hitam rapi, tetapi wajahnya pucat dan gugup. Ada ketakutan. Ada keberanian yang dipaksa hidup—Asisten pribadi Mireya. Pria itu membungkuk dalam-dalam.“Tuan Arsenio… saya harus bicara. Segera.”Ars







