LOGINArsenio turun dari mobil, Ia masuk dengan langkah cepat, tangannya tak sabar melonggarkan dasi dengan kasar.Pintu mansion menutup pelan di belakangnya, namun suara itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Arsenio berdiri di ruang tamu yang gelap—lampu chandelier di langit-langit memantulkan bayangan panjang tubuhnya, seolah menegaskan satu hal:Ia baru saja bermain peran di meja makan para iblis.Napasnya memburu, meski wajahnya tetap datar.Begitu mencapai sofa, Arsenio menjatuhkan tubuhnya. Bukan kelelahan fisik—ia bisa bertarung melawan sepuluh orang tanpa mengeluh—tetapi kelelahan moral. Kekecewaan terhadap dirinya sendiri.Dan… jijik.Jijik karena tadi ia tersenyum pada Mireya.Jijik karena ia menunduk pada Gervasio.Jijik karena ia berkata seolah Alexa hanyalah “masalah”.Ia memijat pelipisnya keras—berusaha meredam gelombang emosi yang hampir meretakkan ketenangannya.“Apa pun demi dia… demi darah dagingku,” bisiknya pada ruangan kosong.Tangannya menutupi wajahnya. Da
Keheningan memenuhi ruang itu seperti kabut tebal. Arsenio duduk dengan sikap sempurna, namun bahunya menegang sedikit—nyaris tak terlihat, kecuali bagi orang yang benar-benar memperhatikan.Gervasio Hadrian memperhatikan.Mata tua itu menyala dingin, seperti bara yang dipelihara dalam kegelapan.“Aku dengar,” Gervasio membuka suara pelan namun menembus telinga seperti dentuman, “kau telah… menciptakan masalah.”Arsenio menahan napas, hanya satu detik, sebelum tatapannya tetap tenang. “Masalah?”Gervasio mencondongkan tubuh sedikit, memutar kepala tongkat naganya.“Aku dengar ada seorang perempuan yang sedang mengandung anakmu.”Mireya mencengkeram tangan Arsenio di bawah meja—keras—seperti ingin mengukir kuku ke kulitnya. Tatapannya memohon agar Arsenio tidak panik. Atau mungkin… agar Arsenio tidak mengingkari keinginannya.Arsenio tidak mengalihkan pandangan dari kakek itu.“Benar,” katanya pelan. “Alexa sedang hamil.”Gervasio mengeluarkan suara pendek seperti tawa tanpa humor. “Ak
Pagi itu, di ruang klinik bersih dengan aroma antiseptik yang menenangkan, Alexa duduk di atas ranjang periksa. Tangannya gemetar, mencengkeram ujung selimut tipis. Suster memasang gel hangat di perutnya—perut yang masih datar, tetapi menyimpan kehidupan kecil di dalamnya.“Siap, Bu Alexa?” tanya dokter dengan senyum lembut.Alexa mengangguk. Napasnya tersengal halus. “S-si—ya.”Monitor di samping meja mulai menyala, garis-garis bergerak, lalu… suara itu keluar.Detak halus.Cepat.Kecil.Namun jelas.Detak jantung.Detak jantung yang bukan miliknya.Waktu seakan berhenti.Alexa menutup mulutnya, air matanya langsung tumpah tanpa bisa ia cegah. “S-Suster… itu… itu suara…”“Ya.” Dokter mengangguk lembut. “Itu detak jantung janin Anda. Janin sangat sehat. Perkembangannya baik. Tidak ada masalah.”Alexa tersedu kecil, tubuhnya berguncang. “Syukurlah… Terima kasih, Dok…”USG mulai menampilkan bayangan kecil seperti titik mungil. Belum berbentuk sempurna. Masih sangat kecil. Namun bagi Ale
Sore itu, langit kota meredup perlahan ketika Arsenio meraih ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat, mengetikkan sesuatu yang tidak pernah Mireya bayangkan akan datang darinya.'Mireya.Kita makan malam malam ini.Ada hal yang ingin kubicarakan.'Belum sampai lima detik, ponselnya bergetar lagi.Mireya:'Benarkah?! Jam berapa? Di mana? Aku tunggu!'Arsenio menghela napas panjang. “Dia terpancing,” gumamnya, dingin.Felix yang berdiri di belakangnya hanya bisa menatap punggung tuannya, tahu betul betapa ganas badai yang disembunyikan Arsenio.Di saat yang sama, pintu mansion tiba-tiba terbuka. Suara langkah cepat terdengar. Dania muncul dengan wajah pucat, rambut diikat seadanya seperti baru berlari dari parkiran. “Dania?” Felix menoleh. “Kau sudah pulang? Bagaimana dengan Kelvin?”Dania mengangguk pelan. “Kelvin sudah membaik, dia sudah pulang ke rumahnya.”Arsenio menatap Dania sebentar—namun mata itu tidak fokus. Seperti ada badai lain yang lebih penting di dalamnya. “Bagus,” katan
Pagi menyelinap perlahan ke dalam kamar itu. Cahaya lembut menembus tirai tipis, mengusap pipi Alexa yang masih basah bekas air mata semalam.Ia menggeliat pelan, meringis kecil karena rasa tidak nyaman di perutnya.Lalu ia membuka mata.Sekejap, ia hanya menatap langit-langit kamar. Namun setelah beberapa detik, ia merasakan sesuatu.Bukan sesuatu yang tampak.Keheningan yang berbeda. Kehangatan samar di udara. Aroma samar parfumnya—parfum Arsenio—yang seharusnya tidak ada di kamar ini.Alexa mengangkat tubuhnya perlahan, duduk di ranjang. Dadanya tiba-tiba sesak.Itu bukan mimpi… bukan hanya ilusi karena kelelahan.Arsenio… ada di sini.Ia menatap bantal yang ia peluk semalam—tercium sangat samar wangi yang tidak mungkin ia lupa. Wangi yang dahulu membuatnya merasa aman, merasa dicintai.Wangi Arsenio.Alexa menutup mulutnya dengan tangan, bahunya bergetar.“Arsenio…” bisiknya. Suaranya pecah. “A-apakah kamu benar-benar datang?”Air mata mengalir turun tanpa bisa ia hentikan.Tubuhn
Keesokan harinya, setelah malam panjang yang membuat dadanya seperti diremas tanpa belas kasihan, Arsenio berdiri di depan cermin kamarnya. Ia merapikan rambutnya, merapikan kerah kemejanya yang baru dipress, lalu mengendurkan dasinya sedikit—tidak terlalu formal, tidak terlalu santai.Penampilan yang tepat untuk seorang pria… yang sedang jatuh cinta.Atau, setidaknya, itulah peran yang harus ia mainkan.Felix berdiri di dekat pintu. “Tuan, apakah Anda yakin ini perlu?”Arsenio menatap bayangannya sendiri. Mata yang lelah. Rahang yang tegang. Tapi di balik semua itu ada bara api—rencana yang mulai terbentuk.“Jika aku ingin mematikan racun,” katanya pelan, “aku harus tahu di mana sumbernya.”Felix tidak menjawab lagi.Malam itu, restoran mewah di lantai tertinggi gedung Primrose dipenuhi cahaya kristal dan musik pelan. Namun kemewahan tak mampu menyamarkan ketegangan yang mengalir begitu Arsenio masuk.Mireya berdiri menyambutnya.Ia mengenakan gaun hitam panjang yang memeluk tubuhnya







