LOGINPagi menyelinap perlahan ke dalam kamar itu. Cahaya lembut menembus tirai tipis, mengusap pipi Alexa yang masih basah bekas air mata semalam.Ia menggeliat pelan, meringis kecil karena rasa tidak nyaman di perutnya.Lalu ia membuka mata.Sekejap, ia hanya menatap langit-langit kamar. Namun setelah beberapa detik, ia merasakan sesuatu.Bukan sesuatu yang tampak.Keheningan yang berbeda. Kehangatan samar di udara. Aroma samar parfumnya—parfum Arsenio—yang seharusnya tidak ada di kamar ini.Alexa mengangkat tubuhnya perlahan, duduk di ranjang. Dadanya tiba-tiba sesak.Itu bukan mimpi… bukan hanya ilusi karena kelelahan.Arsenio… ada di sini.Ia menatap bantal yang ia peluk semalam—tercium sangat samar wangi yang tidak mungkin ia lupa. Wangi yang dahulu membuatnya merasa aman, merasa dicintai.Wangi Arsenio.Alexa menutup mulutnya dengan tangan, bahunya bergetar.“Arsenio…” bisiknya. Suaranya pecah. “A-apakah kamu benar-benar datang?”Air mata mengalir turun tanpa bisa ia hentikan.Tubuhn
Keesokan harinya, setelah malam panjang yang membuat dadanya seperti diremas tanpa belas kasihan, Arsenio berdiri di depan cermin kamarnya. Ia merapikan rambutnya, merapikan kerah kemejanya yang baru dipress, lalu mengendurkan dasinya sedikit—tidak terlalu formal, tidak terlalu santai.Penampilan yang tepat untuk seorang pria… yang sedang jatuh cinta.Atau, setidaknya, itulah peran yang harus ia mainkan.Felix berdiri di dekat pintu. “Tuan, apakah Anda yakin ini perlu?”Arsenio menatap bayangannya sendiri. Mata yang lelah. Rahang yang tegang. Tapi di balik semua itu ada bara api—rencana yang mulai terbentuk.“Jika aku ingin mematikan racun,” katanya pelan, “aku harus tahu di mana sumbernya.”Felix tidak menjawab lagi.Malam itu, restoran mewah di lantai tertinggi gedung Primrose dipenuhi cahaya kristal dan musik pelan. Namun kemewahan tak mampu menyamarkan ketegangan yang mengalir begitu Arsenio masuk.Mireya berdiri menyambutnya.Ia mengenakan gaun hitam panjang yang memeluk tubuhnya
Arsenio tidak menunggu lift. Ia berlari menuruni anak tangga, nafasnya berat dan terputus-putus—bukan karena lelah, tetapi karena ketakutan. Ketakutan kehilangan orang yang paling penting dalam hidupnya. Felix membukakan pintu mobil.“Tuan, kita langsung ke hotel—”“Tidak.” Arsenio masuk ke mobil dan membanting pintunya. Suaranya serak. “Mereka mengawasi. Jika aku muncul, Alexa dalam bahaya.”Felix menatap Arsenio melalui kaca spion. “Lalu… apa instruksi Anda?”Arsenio menarik napas panjang, menahan suara gemetar. “Kita tetap ke hotel. Tapi aku tidak boleh terlihat. Aku hanya ingin melihat dia.”Mobil melaju cepat.Sepanjang perjalanan, Arsenio hanya menggenggam ponselnya. Mata elangnya tajam, tapi dipenuhi rasa bersalah yang menghitam.“Alexa… kamu sendiri, sakit, dan aku tidak ada di samping kamu…” gumamnya pelan—hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.Felix mendengar itu. Ia menggelengkan kepala perlahan, tahu betul bahwa luka tuannya jauh lebih dalam dari yang tampak.Mobil
Arsenio berdiri lama tanpa bergerak. Hening itu tidak lagi sekadar hening—melainkan badai yang menahan diri untuk tidak meledak.Felix berdiri beberapa langkah di belakangnya, menunggu tanpa berani membuka suara.Hingga akhirnya Arsenio berbalik.“Felix,” suaranya rendah dan berat. “Kita habisi akar mereka, bukan hanya cabang.”Saat Arsenio menutup map hitam yang berisi daftar nama musuh-musuhnya, layar ponselnya tiba-tiba menyala.Satu notifikasi muncul.Dari: Mireya.Arsenio membuka pesannya.'Arsenio, kita harus bicara. Makan bersama besok malam, bagaimana?''Ada sesuatu yang hanya bisa kusampaikan langsung padamu.'Felix mendekat sedikit. “Tuan, sepertinya dia terobsesi pada anda.”Arsenio menatap layar ponsel beberapa detik, sebelum sudut bibirnya terangkat tipis—senyum yang nyaris tidak terlihat, namun penuh arti.“Obsesi?” ia mengeja pelan. “Justru itu bagus.”“Tuan?” Felix hampir tidak percaya.Arsenio menutup pesan itu dan memasukkan ponselnya ke saku. "Obsesinya akan memperm
Arsenio masih berdiri di balik jendela ketika Alexa menghilang di balik gerbang mansion. Namun matanya tidak lepas dari sosok gelap yang berdiri di balik pepohonan.Pria itu mengintip terlalu lama.Terlalu berani.Terlalu percaya diri seolah tahu Arsenio terlalu kacau secara emosi untuk bereaksi.Arsenio mengusap wajahnya, menahan gemetar yang bukan karena sedih saja—tetapi marah.Sangat marah.Ia memanggil salah satu pengawalnya tanpa menoleh. Anak buahnya langsung muncul. “Ya, Tuan.”“Orang itu,” Arsenio menunjuk ke arah luar jendela, suaranya dingin, terkontrol dengan susah payah. “Ikuti. Jangan sampai ketahuan. Dia pasti anak buah Mireya. Habisi dia!”Anak buahnya mengangguk, tetapi Arsenio menambahkan satu kalimat dengan intonasi yang membuat bulu kuduk berdiri.“Dan kirim empat orang terbaik untuk mengikuti Alexa. Jaga dari jauh. Kalau ada yang coba mendekat, singkirkan—tanpa jejak.”Untuk sesaat anak buahnya terdiam. “Tuan… Anda ingin pengawasan penuh?”“Alexa sedang diancam,”
Pagi datang tanpa matahari. Awan menggantung rendah, seakan langit pun ikut berduka.Alexa duduk di tepi ranjang, memeluk perutnya sambil menatap jendela besar yang tertutup tirai. Matanya sembab, wajahnya pucat, tetapi ia memaksakan diri untuk tetap kuat. Tangannya gemetar saat merapikan tas kecil yang sudah ia siapkan sejak subuh.Di belakangnya, Arsenio berdiri bersandar pada dinding, tidak bergerak sejak tadi. Wajahnya keras namun kosong—seperti topeng yang retak. Rambutnya masih basah, entah karena baru mandi atau karena ia membasuh wajahnya berkali-kali untuk menyembunyikan jejak air mata.“Alexa…” suaranya akhirnya keluar. Serak. Patah. “Aku antar kamu.”Alexa memejamkan mata. Ia tidak boleh goyah. Tidak boleh.“Tidak usah,” jawabnya pelan, nyaris tidak terdengar. “Aku bisa sendiri.”Arsenio mendekat dua langkah, napasnya terdengar berat. “Alexa… kamu hamil. Kamu baru saja—”“Arsen… tolong.” Alexa berdiri, memegang perutnya, menatapnya dengan mata yang berusaha tegar meski berg







