Share

Kabur

Author: Adilia
last update Last Updated: 2026-01-13 20:58:39

Keheningan di mansion Vascov terasa semakin mencekam setelah kunjungan Daffa. Bagi Alexa, pertemuan dengan masa lalunya itu bukan sekadar reuni, melainkan sebuah pengingat akan kehidupan normal yang pernah ia miliki—kehidupan di mana ia bisa tersenyum tanpa rasa takut dan bernapas tanpa diawasi sepasang mata biru yang obsesif.

​Alexa duduk termenung di tepi jendela yang terkunci rapat. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada rasa syukur karena ibunya sedang dalam penanganan medis terbaik berkat uang Matthew. Disisi lain, ia merasa seperti barang rampasan yang tidak memiliki hak atas tubuh dan jiwanya sendiri. Kebenciannya pada Matthew bukannya memudar, justru semakin mengakar setiap kali ia melihat tanda merah di lehernya—tanda yang dipaksakan pria itu sebagai simbol kepemilikan.

​Matthew menjadi semakin tidak terkendali. Ia memerintahkan penambahan kamera CCTV di setiap sudut kamar, kecuali kamar mandi. Bahkan, ia meminta pelayan untuk mencicipi setiap makanan yang akan dimakan Alexa, se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Paksaan

    Malam semakin larut di Mansion Vascov. Jam dinding besar di aula utama berdenting dua belas kali, namun suasana di dalam bangunan megah itu jauh dari kata tenang. Ketegangan menggantung di udara seperti kabut tebal yang siap meledak menjadi badai. ​Matthew Vascov baru saja melangkah masuk melalui pintu utama dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Garis wajahnya tampak keras, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang belum tuntas setelah insiden Daffa tadi malam. Setiap langkah sepatunya yang menghantam lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian yang bergaung di seluruh ruangan. ​"Di mana dia?" suara Matthew berat dan rendah, menghentikan langkah dua penjaga yang berjaga di depan koridor kamar khusus Alexa. ​"Nona Alexa ada di dalam, Tuan," jawab salah satu penjaga dengan suara bergetar. ​"Apa dia sudah makan?" ​Kedua penjaga itu saling pandang, keraguan terpancar jelas dari wajah mereka. "Anu... Tuan... pelayan sudah membawakan makan malam, bahkan camilan sej

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Kabur

    Keheningan di mansion Vascov terasa semakin mencekam setelah kunjungan Daffa. Bagi Alexa, pertemuan dengan masa lalunya itu bukan sekadar reuni, melainkan sebuah pengingat akan kehidupan normal yang pernah ia miliki—kehidupan di mana ia bisa tersenyum tanpa rasa takut dan bernapas tanpa diawasi sepasang mata biru yang obsesif.​Alexa duduk termenung di tepi jendela yang terkunci rapat. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada rasa syukur karena ibunya sedang dalam penanganan medis terbaik berkat uang Matthew. Disisi lain, ia merasa seperti barang rampasan yang tidak memiliki hak atas tubuh dan jiwanya sendiri. Kebenciannya pada Matthew bukannya memudar, justru semakin mengakar setiap kali ia melihat tanda merah di lehernya—tanda yang dipaksakan pria itu sebagai simbol kepemilikan.​Matthew menjadi semakin tidak terkendali. Ia memerintahkan penambahan kamera CCTV di setiap sudut kamar, kecuali kamar mandi. Bahkan, ia meminta pelayan untuk mencicipi setiap makanan yang akan dimakan Alexa, se

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Teman Lama

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, menerangi debu-debu yang menari di udara kamar utama mansion Vascov. Alexa mengerjapkan matanya yang terasa berat. Hal pertama yang ia rasakan adalah denyut nyeri di perut dan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang hangat mendekap jemarinya. ​Ia menoleh pelan dan mendapati Matthew duduk di kursi tepat di samping tempat tidurnya. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan semalam, tampak kusut dan tidak rapi—pemandangan yang sangat langka bagi seorang Matthew Vascov yang perfeksionis. Mata biru safirnya yang biasanya dingin kini terlihat kuyu, menunjukkan bahwa ia tidak tidur barang semenit pun. ​"Kau sudah bangun?" suara Matthew serak, namun penuh dengan kelembutan yang membuat bulu kuduk Alexa meremang. ​Alexa mencoba menarik tangannya, namun Matthew justru mempererat genggamannya. "Jangan. Biarkan seperti ini sebentar saja, Alexa." ​"Tuan, saya ... saya ingin duduk," bisik A

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Kemarahan Sang Iblis

    Matthew mendekap tubuh ramping Alexa, hingga wanita manis itu sulit bergerak. Tangan nakalnya mulai merayap masuk ke dalam T-shirt berwana putih dan mengusap lembut perut datarnya. Alexa segera menahan tangan gagah itu untuk tidak bereaksi kemana-mana. Wajah polosnya mengiba untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh. Matthew tak menanggapi permohonan dari Alexa, tersebut. Dia terus menyusup masuk hingga belahan indah yang selama ini dia jaga, menjadi ladang bebas untuk Sang mafia. Isak tangis terdengar di telinga Matthew, dia menghentikan aksinya dan menatap lekat wajah sembab yang sejak tadi terus menangis. "Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat wajah cantikmu berubah bengkak. Aku tidak akan melakukannya karena kamu adalah ratu spesial untukku." ucap Matthew dengan senyum maskulin. "Istirahatlah, aku akan pergi sebentar. Kalau kamu butuh apapun, panggil saja pelayanan yang ada diluar kamar. Ingat, jangan menangis lagi. Itu bisa melukai hatiku," bisik Matthew yang kemudia

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Pilihan berat

    Malam di mansion Vascov terasa lebih panjang dari ribuan malam yang pernah Alexa lalui. Kamar megah yang seharusnya menjadi dambaan setiap wanita itu kini terasa seperti sel isolasi yang menyesakkan. Alexa meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat, alih-alih merasa aman dengan kemewahan, ia justru merasa kecil dan hancur.​Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara ketukan. Matthew masuk dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Ia membawa sebuah nampan berisi makanan mewah, namun matanya hanya tertuju pada satu objek, Alexa yang gemetar tanpa kacamata.​"Makanlah. Aku tidak suka milikku terlihat kurus dan pucat," suara Matthew memecah kesunyian.​Alexa tidak bergeming. "Aku bukan milikmu. Berapa kali harus kukatakan? Aku punya harga diri yang tidak bisa kau beli dengan emasmu."​Matthew meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu berjalan mendekat. Gerakannya tenang namun pasti, seperti predator yang tahu mangsanya sud

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Digendong paksa

    Alexa yang masih kebingungan, segera di gendong paksa dan dimasukkan ke dalam mobil oleh sang mafia. Wanita polos dan manis itu pun sontak kebingungan. Mesin mobil SUV hitam masih menderu halus, namun suasana di dalam kabin terasa mencekam. Alexa berusaha keras menarik gagang pintu, tetapi sistem pengunci otomatis telah mematikan seluruh akses keluar. Di sampingnya, Matthew duduk dengan tenang, menyilangkan kaki panjangnya sambil menyesap aroma cerutu yang belum dinyalakan.​"Buka pintunya, Tuan Matthew! Ini penculikan!" suara Alexa gemetar, air mata mulai menggenang di balik kacamata tebalnya.​Matthew menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. "Penculikan adalah istilah yang kasar, Sayang. Aku lebih suka menyebutnya sebagai ... penjemputan paksa untuk keamananmu." Wajah Matthew semakin mendekat, membuat Alexa mengkerut takut. Bulu kuduknya merinding, serasa nyawanya akan tercabut saat ini juga. ​"Keamananku? Anda adalah satu-satunya ancaman di s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status