Share

Teman Lama

Author: Adilia
last update Last Updated: 2026-01-12 12:31:13

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, menerangi debu-debu yang menari di udara kamar utama mansion Vascov. Alexa mengerjapkan matanya yang terasa berat. Hal pertama yang ia rasakan adalah denyut nyeri di perut dan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang hangat mendekap jemarinya.

​Ia menoleh pelan dan mendapati Matthew duduk di kursi tepat di samping tempat tidurnya. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan semalam, tampak kusut dan tidak rapi—pemandangan yang sangat langka bagi seorang Matthew Vascov yang perfeksionis. Mata biru safirnya yang biasanya dingin kini terlihat kuyu, menunjukkan bahwa ia tidak tidur barang semenit pun.

​"Kau sudah bangun?" suara Matthew serak, namun penuh dengan kelembutan yang membuat bulu kuduk Alexa meremang.

​Alexa mencoba menarik tangannya, namun Matthew justru mempererat genggamannya. "Jangan. Biarkan seperti ini sebentar saja, Alexa."

​"Tuan, saya ... saya ingin duduk," bisik Alexa, menghindari tatapan intens pria itu.

​Dengan sigap, Matthew bangkit. Bukannya membantu dengan instruksi, ia justru menyelipkan lengannya di bawah punggung Alexa dan mengangkat tubuh gadis itu dengan hati-hati untuk menyandarkannya pada tumpukan bantal empuk. Jarak mereka begitu dekat hingga Alexa bisa mencium aroma maskulin bercampur sisa ketegangan dari tubuh Matthew.

​"Apa masih sakit? Di bagian mana? Katakan padaku," tanya Matthew posesif. Jemarinya mengusap pipi Alexa yang masih sedikit memar dengan sangat hati-hati, seolah Alexa adalah porselen retak yang bisa hancur jika ditekan terlalu keras.

​Alexa memalingkan wajah, merasa risih dengan perhatian yang terlalu berlebihan ini. "Saya baik-baik saja, Tuan. Anda tidak perlu melakukan ini."

​"Aku melakukan apa yang ingin aku lakukan terhadap milikku," balas Matthew datar, meski matanya memancarkan rasa bersalah yang tersembunyi. "Aku sudah membawakan sarapan terbaik. Kau harus makan agar bisa minum obat."

Tiba-tiba ketukan pintu memecah suasana canggung itu. Seorang pria muda dengan jas putih dokter masuk ke dalam kamar. Dia membawa papan jalan dan stetoskop yang melingkar di lehernya.

"Maaf mengganggu, Tuan Vascov. Saya harus memeriksa tanda-tanda vital Nona Alexa pagi ini. Kebetulan dokter senior pribadi anda sedang ada acara," ucap dokter itu dengan nada profesional.

​Alexa menoleh ke arah pintu, dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak. Bukan karena takut, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa. Pria di depan sana, dengan rambut tertata rapi dan senyum tipis yang hangat, adalah wajah yang sangat ia kenali.

​"D-Daffa?" gumam Alexa pelan, hampir tak terdengar.

​Dokter muda itu tertegun sejenak saat matanya bertemu dengan mata hazel Alexa. Matanya membelalak kecil. "Alexa? Alexa Rahardja?"

Matthew, yang memiliki insting predator sangat tajam, langsung merasakan perubahan atmosfer di ruangan itu. Ia menyipitkan mata, menatap bergantian antara Alexa yang tampak bercahaya dan dokter muda bernama Daffa itu.

​"Kalian saling kenal?" suara Matthew berubah menjadi dingin, seperti es yang siap menusuk.

​Daffa berdehem, mencoba menguasai keadaan meskipun ia tahu siapa pria yang berdiri di depannya. Matthew Vascov bukanlah orang yang bisa diajak bercanda. "Kami ... kami teman satu SMA, Tuan. Alexa adalah adik kelas saya dulu."

​Alexa menunduk, pipinya merona tipis. Daffa adalah cinta monyetnya, pria yang dulu selalu ia kagumi dari jauh karena kecerdasan dan kebaikannya. Daffa adalah sosok yang selalu membela Alexa saat ia dirundung karena penampilannya yang cupu.

​Matthew bangkit berdiri, postur tubuhnya yang menjulang seketika memberikan tekanan berat pada Daffa. Ia berjalan mendekati Daffa, meletakkan tangannya di bahu dokter muda itu dengan cengkeraman yang sedikit terlalu kuat.

​"Teman lama, ya?" Matthew tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Dunia memang sempit. Tapi kau harus ingat, Dokter ... kau di sini hanya untuk memeriksa kesehatannya. Bukan untuk bernostalgia."

​"Tentu, Tuan Vascov," jawab Daffa tenang meski bahunya terasa nyeri. ia berjalan mendekati ranjang Alexa. "Bisa aku periksa denyut nadimu, Alexa?"

​Saat Daffa hendak menyentuh pergelangan tangan Alexa, Matthew berdehem keras dan berdiri tepat di belakang Daffa, mengawasi setiap inci gerakan tangan sang dokter. Alexa merasa sangat tidak nyaman. Ia ingin menyapa Daffa dengan hangat, menanyakan kabarnya, namun aura membunuh dari Matthew membuatnya membeku.

​"Tekanan darahnya sedikit rendah, mungkin karena trauma semalam," ucap Daffa sambil mencatat di papan jalannya. Ia menatap Alexa dengan tatapan prihatin yang dalam. "Kau harus banyak istirahat, Lex. Dan ... jangan terlalu banyak pikiran."

​"Terima kasih, Kak Daffa," sahut Alexa pelan.

​Mendengar panggilan "Kak" yang akrab itu, rahang Matthew mengeras. Ia melangkah maju, memotong jarak antara Daffa dan Alexa. "Sudah selesai pemeriksaannya? Jika sudah, asistenku akan mengantarmu keluar. Aku tidak ingin ada orang asing berlama-lama di kamar istriku."

​"Istri?" Daffa tampak terkejut. Ia melirik Alexa yang hanya bisa menunduk pasrah.

​"Segera menjadi istri," koreksi Matthew dengan penekanan pada setiap kata. "Keluar sekarang."

​Setelah Daffa keluar, Matthew mengunci pintu kamar dengan kasar. Ia berbalik dan menatap Alexa dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara amarah, cemburu, dan obsesi yang meledak-ledak.

​"Jadi itu alasanmu selalu menolakku? Karena kau masih mengharapkan dokter muda itu?" Matthew mendekati ranjang, suaranya rendah dan mengancam.

​"Apa? Tidak! Dia hanya teman sekolahku, Tuan Matthew!" bela Alexa.

​Matthew mencengkeram kedua sisi ranjang, mengurung Alexa di antara lengannya. "Aku melihat caramu menatapnya, Alexa. Kau tidak pernah menatapku seperti itu. Kau menatapnya seolah dia adalah pahlawanmu."

​"Karena dia memang orang baik! Tidak seperti kau yang selalu menggunakan kekerasan!" teriak Alexa berani.

​Matthew tertawa sinis, ia menarik dagu Alexa agar menatapnya. "Orang baik tidak akan bisa menjagamu di dunia ini, Alexa. Hanya iblis sepertiku yang bisa memastikan tidak akan ada Sahara lain yang menyentuhmu. Jika aku melihatmu menatapnya seperti itu lagi, aku bersumpah akan mengakhiri karier kedokterannya malam ini juga."

Alexa terisak, merasa terjepit di antara masa lalu yang indah dan masa depan yang gelap. Matthew tidak peduli seberapa besar Alexa membencinya, asalkan Alexa tetap berada di bawah kendalinya. Pria itu mencium kening Alexa dengan kasar sebelum berbisik, "Ingat, kau hanya milikku. Bahkan bayanganmu pun tidak boleh disentuh oleh pria lain."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Di antara angin dan tawa

    Lima tahun kemudian, suasana di halaman belakang kediaman Vascov tidak lagi menyerupai markas militer yang kaku. Memang, para penjaga masih berdiri di titik-titik strategis, namun kini mereka lebih sering terlihat membantu mengambilkan bola plastik yang terlempar ke semak-semak daripada memegang senjata laras panjang.Alexa duduk di kursi rotan di bawah pohon rindang, menyesap teh melati hangatnya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang, gurat kecemasan yang dulu selalu menghiasi matanya kini telah hilang, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di pangkuannya, sebuah buku sketsa terbuka, namun ia tidak sedang menggambar; matanya sibuk mengawasi pemandangan di depannya."Papa! Jangan lari! Tangkap aku!"Seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dengan rambut hitam legam dan mata biru yang persis seperti Matthew, sedang berlari kencang di atas rumput hijau. Di belakangnya, Matthew—pria yang dulunya dianggap sebagai iblis paling kejam di dunia bawah tanah—sedang berlari kecil dengan

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   pasir putih

    Pesawat jet pribadi itu membelah awan dengan tenang, namun di dalamnya, ketegangan yang berbeda merayapi Matthew. Ia duduk di kursi kulitnya, jemarinya berulang kali mengetuk sandaran tangan. Matanya sesekali melirik ke arah jendela, lalu kembali ke arah Alexa yang sedang asyik membaca majalah perjalanan."Kau terlihat seperti bom waktu yang siap meledak, Matthew," ucap Alexa tanpa mengalihkan pandangan. "Rilekslah. Marco tidak akan mati hanya karena kau meninggalkannya selama beberapa jam.""Ini bukan tentang Marco," gumam Matthew, suaranya rendah. "Ini tentang tidak adanya senjata di jangkauanku dan fakta bahwa aku tidak tahu siapa pilotnya."Alexa meletakkan majalahnya, lalu berpindah duduk ke pangkuan Matthew. Ia memegang wajah pria itu, memaksa mata biru yang gelisah itu menatapnya. "Pilotnya adalah orang pilihanku. Dan senjata? Kau tidak butuh itu di Maladewa. Jika ada yang mencoba melukaimu, mereka harus melewati aku dulu."Matthew terkekeh, tangannya secara refleks melingkari

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Sang Ratu

    Aroma lavender dan kayu cendana memenuhi lorong utama.Matthew melangkah menuju ruang tengah dan terpaku. Tirai-tirai berat berwarna beludru merah yang selama ini membuat rumah itu terasa seperti makam kuno, kini telah diganti dengan kain linen tipis berwarna krem yang membiarkan cahaya matahari menari bebas di atas lantai marmer. Vas-vas kristal besar yang biasanya kosong, kini diisi dengan bunga-bunga liar dan lili putih."Marco, apa yang terjadi dengan rumahku? Siapa yang berani mengubah dekorasi tanpa seizinku?" suara Matthew menggelegar, namun tidak ada amarah di sana, hanya kebingungan yang murni.Marco, yang sedang berdiri di dekat tangga, hanya bisa mengedikkan bahu dengan senyum tertahan. "Bukan saya, Tuan. Tapi sepertinya 'otoritas tertinggi' baru saja mengeluarkan perintah pagi ini."Tepat saat itu, Alexa muncul dari arah taman belakang. Ia tidak lagi mengenakan gaun hitam yang kelam. Ia memakai gaun musim panas berwarna kuning pucat yang membuat kulitnya tampak bercahaya.

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   pagi manis

    Pagi itu, Mansion Vascov tidak dibangunkan oleh suara teriakan atau derap langkah sepatu bot yang terburu-buru. Sinar matahari masuk melalui celah gorden sutra yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit, menyinari lantai marmer dengan warna emas yang lembut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Alexa terbangun tanpa rasa sesak di dadanya.Ia merasakan berat yang nyaman di pinggangnya. Lengan kokoh Matthew melingkar di sana, posesif bahkan dalam tidurnya. Alexa membalikkan tubuhnya perlahan, mencoba tidak mengusik pria yang akhirnya tampak begitu tenang itu. Wajah Matthew saat tidur kehilangan semua garis keras dan kejamnya; ia terlihat sepuluh tahun lebih muda, seorang pria yang akhirnya menemukan tempat tidurnya setelah peperangan yang panjang.Alexa mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik menyisir helai rambut Matthew yang jatuh di dahi. Siapa yang menyangka? pikirnya. Pria ini menculiknya, mengurungnya, dan menghancurkan dunianya, namun di sinilah ia sekarang—memperhat

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   keheningan

    Malam itu, kebisingan kota Jakarta terasa begitu jauh, teredam oleh dinding-dinding kedap suara di lantai teratas Mansion Vascov. Matthew tidak lagi berada di ruang bawah tanah, tidak juga di ruang rapat yang penuh dengan asap cerutu. Ia berada di kamar utama, berdiri di ambang pintu balkon, menatap punggung Alexa yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin besar.Suasana di antara mereka telah berubah. Bukan lagi tentang siapa yang memegang senjata, melainkan tentang keheningan yang menyesakkan—sebuah perang dingin antara dua jiwa yang terlalu hancur untuk saling melepaskan, namun terlalu terluka untuk saling memeluk."Sampai kapan kau akan terus menjaga jarak seperti ini, Alexa?" suara Matthew rendah, hampir pecah.Tangan Alexa yang sedang memegang sisir berhenti sejenak. Ia melihat pantulan Matthew di cermin—pria yang tampak begitu perkasa namun terlihat sangat rapuh di matanya sekarang. "Jarak adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras, Matthew. Jika aku membiarkanmu te

  • Gadis Cupu Milik Sang Mafia   Tahta diatas luka

    Jakarta menyambut kepulangan sang penguasa dengan hujan badai yang seolah mencuci noda darah dari pegunungan Alpen. Mansion Vascov berdiri tegak, lebih sunyi dan lebih mencekam dari sebelumnya. Namun, ada satu hal yang telah bergeser secara fundamental. Di koridor-koridor yang biasanya didominasi oleh langkah kaki berat para penjaga, kini terasa aura yang berbeda.Alexa tidak lagi kembali sebagai tawanan yang meringkuk. Ia berjalan di samping Matthew melewati aula utama dengan gaun hitam yang menyapu lantai, dagunya terangkat tinggi, dan tatapannya sedingin es yang menyelimuti Zurich. Matthew tidak lagi menyeretnya; ia berjalan setengah langkah di belakangnya, seolah-olah ia adalah pengawal pribadi dari ratu yang baru saja ia jemput dari kematian."Kau terlihat lelah, Alexa. Istirahatlah. Aku harus mengurus sisa-sisa pengkhianat di ruang bawah tanah," ucap Matthew sambil mencoba menyentuh bahu Alexa.Alexa berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. "Jangan sentuh aku, Matthew. Dan ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status