Mag-log inPagi masih sangat muda ketika Niko sudah berdiri di depan lemari pakaiannya. Udara dingin sisa malam masih terasa, namun pikirannya sudah penuh rencana. Hari ini ia memutuskan untuk mengambil jeda sejenak dari rutinitas kantor yang padat. Bukan untuk bermalas-malasan, melainkan untuk menyegarkan pikiran—dan tempat yang ia pilih adalah lapangan golf.
Dengan gerakan rapi, ia mengenakan polo shirt berwarna putih dipadukan dengan celana panjang olahraga yang nyaman. Sepatu golf kesayangaHari terus berjalan seperti biasa, dan acara pengumuman tender besar itu sudah lewat. Tapi ternyata, apa yang terjadi di sana nggak benar-benar selesai begitu saja. Justru, efeknya malah makin terasa di kantor. Seperti pepatah lama bilang, mulut orang itu bisa nyebarin cerita ke mana-mana dengan cepat—dan itulah yang sekarang terjadi di PT The New Aditama.Kejadian kemarin, terutama soal tingkah Niko, jadi bahan omongan di mana-mana. Awalnya sih cuma obrolan kecil di pantry atau bisik-bisik pas jam istirahat. Tapi nggak sampai setengah hari, ceritanya udah menyebar ke seluruh lantai kantor. Semua orang kayak punya versi masing-masing, tapi intinya tetap sama.Bos mereka, Niko, yang biasanya dingin dan serius, tiba-tiba berubah total gara-gara Laras. Apalagi waktu dia harus berhadapan langsung sama James Syahputra. Banyak yang nggak nyangka kalau dua orang penting itu malah terlihat kayak lagi rebutan perhatian satu cewek.Suasana di Kantor: Heboh dan
Di sudut ruangan VIP yang kelihatan mewah banget itu, suasananya sebenarnya hangat dan santai buat sebagian orang. Tapi buat Niko, apa yang ada di depan matanya sekarang rasanya kayak siksaan yang nggak ada habisnya. Tatapannya tajam banget, fokus ke setiap gerakan James Syahputra ke arah Laras.Gimana nggak panas? James dari tadi sigap banget—narikin kursi, menuangin air minum, bahkan sampai motongin makanan buat Laras. Niko cuma bisa nahan emosi, tapi dalam hati rasanya udah kayak diremas-remas. Cemburunya kebakar, makin lama makin jadi.“Dasar… sok perhatian banget sih. Itu sekretaris apa putri raja?” gerutu Niko dalam hati, tangannya sampai ngepal di bawah meja.Akhirnya dia nggak tahan lagi. Lihat Laras diperlakuin selembut itu sama orang yang dia anggap saingan berat, jelas bikin dadanya makin sesak. Tanpa mikir panjang, Niko langsung berdiri dan jalan ke meja tempat Laras dan James duduk.“Permisi,” ucapnya singkat, nada suaranya berat, aga
Siapa yang menyangka, di balik sosoknya yang selama ini dikenal dingin, tegas, dan penuh wibawa sebagai pemimpin perusahaan besar, ternyata James Syahputra punya sisi lain yang benar-benar di luar dugaan. Banyak orang mengenalnya sebagai bos yang perfeksionis, sulit didekati, bahkan cenderung membuat orang merasa segan. Tapi semua kesan itu seperti lenyap begitu saja setiap kali ia berada di dekat Laras.Perhatian yang diberikan James kepada sekretarisnya ini jelas bukan perhatian biasa. Kalau sekadar atasan peduli pada bawahannya, itu mungkin masih wajar. Tapi yang dilakukan James jauh lebih dari itu. Cara ia memperlakukan Laras terasa begitu personal, lembut, bahkan bisa dibilang penuh rasa sayang. Seolah Laras adalah seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya, bukan sekadar bagian dari pekerjaannya.Hal ini mulai kelihatan jelas sejak acara penyerahan tender selesai. Awalnya mungkin terlihat samar, tapi semakin lama, terutama saat mereka berada di area VIP at
Suasana di aula utama gedung konvensi itu makin terasa tegang, kayak semua orang lagi nahan napas bareng-bareng. Acara sudah sampai di ujung, di momen yang dari tadi ditunggu semua peserta. Para panitia dan perwakilan pemberi proyek naik ke atas panggung sambil membawa amplop cokelat tebal. Semua orang langsung fokus ke sana, seolah amplop itu berisi takdir masing-masing.Nggak ada suara. Benar-benar hening.Beberapa orang terlihat duduk tegak dengan penuh harap, ada juga yang gelisah sampai jemarinya nggak berhenti bergerak. Persaingan kali ini memang gila-gilaan. Semua perusahaan datang dengan persiapan terbaik mereka.Di salah satu sisi ruangan, Niko duduk diam. Wajahnya terlihat tenang, tapi kalau diperhatikan lebih dekat, jelas banget dia lagi deg-degan. Tangannya terlipat, tapi jari-jarinya saling menekan. Sesekali, matanya melirik ke depan. Ke arah Laras.Laras berdiri di sana, di samping James. Anggun, percaya diri, dan kelihatan banget ka
Suasana di aula utama masih belum benar-benar tenang. Sorak-sorai kemenangan PT James Cipta Mandiri masih terasa menggema, bercampur dengan berbagai perasaan dari para peserta yang hadir—ada yang kecewa, ada yang kagum, dan ada juga yang hanya bisa terdiam sambil mencerna apa yang baru saja terjadi. Di atas panggung, James Syahputra berdiri dengan penuh percaya diri, menerima ucapan selamat dari panitia. Di sampingnya, Laras tersenyum lebar, matanya terlihat berbinar, jelas menunjukkan rasa bangga yang tak bisa disembunyikan.Tapi ternyata acara belum benar-benar berakhir. Masih ada satu pengumuman penting yang belum disampaikan, yaitu pemenang Tender Kedua. Nilai proyek ini juga tidak kecil, bahkan bisa dibilang sebagai kesempatan besar bagi perusahaan yang berada tepat di bawah juara utama.Perlahan, suasana yang tadinya riuh kembali berubah jadi tegang. Semua orang kembali memusatkan perhatian ke pembawa acara yang kini memegang amplop kedua. Beberapa perwakilan
Sorak-sorai dan tepuk tangan masih terdengar memenuhi ruangan. Laras tersenyum sambil sedikit menundukkan badan sebagai tanda terima kasih, lalu buru-buru turun dari panggung. Dari luar, dia terlihat tenang dan percaya diri, tapi sebenarnya jantungnya berdetak kencang sejak tadi. Begitu kakinya menginjak lantai, rasa gugup yang ditahannya sejak awal mulai terasa. Belum lagi bayangan masa lalu yang kadang datang tanpa diundang, membuat dadanya sesak dan kepalanya agak pusing. Dia butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri.Dengan langkah cepat, Laras menghampiri James yang sedang berbicara dengan beberapa rekan bisnis. “Permisi, Pak…” ucapnya pelan. “Saya izin sebentar ya, mau ke toilet, mau tarik napas dulu.” James menoleh dan langsung menangkap kondisi Laras yang terlihat sedikit pucat. “Oh, silakan. Tapi jangan lama ya, nanti ada sesi foto,” jawabnya dengan nada yang cukup mengerti.Dari sudut ruangan yang agak sepi, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan L







