Share

Gadis Indigo Milik Mafia Kejam
Gadis Indigo Milik Mafia Kejam
Author: Rusmidah

BAB 1 Lamaran Kerja

Author: Rusmidah
last update publish date: 2026-08-18 19:59:18

"Jangan biarkan dia mati!”

Rayung membeku di ambang pintu saat sebuah bisikan dingin bergema tepat di dalam gendang telinganya.

Suara itu begitu dekat, seolah seseorang berbisik tepat di dalam kepalanya. Padahal, di sekelilingnya tidak ada siapa-siapa.

Ia menelan ludah susah payah.

"Siapa yang mau mati...?" gumamnya pelan.

Tidak ada siapa pun yang tampak sedang berbicara.

Namun, hawa dingin perlahan merambat dari tengkuk hingga menusuk punggungnya. Rayung sudah mengenal sensasi itu sejak kecil.

Sejak kecil, Rayung memiliki kemampuan unik—bisa berinteraksi dengan makhluk tak terlihat mata biasa. Ia sudah terbiasa dengan segala macam jenis gangguan, bahkan beberapa dari mereka suka meminta bantuannya.

Masalahnya, hari ini ia sama sekali tidak punya waktu untuk berurusan dengan mereka.

Ia sedang melamar pekerjaan di Zalas Corp—sebuah perusahaan raksasa yang terkenal ketat dan dingin.

Setelah hampir sebulan menganggur dan beberapa kali kehilangan kesempatan kerja hanya karena gangguan aneh yang mengikuti dirinya, Rayung benar-benar membutuhkan pekerjaan ini.

Ia menarik napas panjang.

"Gue cuma mau kerja."

Rayung menekan tombol lift lagi dengan jari yang sedikit gemetar.

Denting!

Pintu lift terbuka.

Baru saja ia hendak melangkah masuk ketika

"Hei, kau mau naik lift atau tidak?"

Suara berat dan dalam dari arah belakang membuat Rayung tersentak.

Ia berbalik cepat.

Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya.

Untuk sesaat, Rayung benar-benar lupa bagaimana cara bernapas.

Pria itu tinggi dengan setelan jas hitam yang tampak dibuat khusus. Penampilannya rapi, nyaris tanpa cela. Wajahnya memiliki garis rahang tegas, hidung mancung, dan bibir tipis yang terkatup rapat.

Namun, bukan penampilannya yang membuat Rayung terdiam.

Melainkan matanya.

Sepasang mata gelap yang dingin dan tajam, seolah mampu membuat siapa pun yang ditatapnya merasa sedang dihakimi.

Beberapa pegawai yang kebetulan melewati lorong langsung menepi.

Ada yang menundukkan kepala.

Ada pula yang mempercepat langkah tanpa berani menoleh.

Rayung mengerutkan kening.

Siapa, sih, orang ini?

Kenapa semua orang seperti takut kepadanya?

Namun, pertanyaan itu langsung terlupakan ketika pandangan Rayung perlahan bergeser ke atas bahu pria tersebut.

Wajahnya seketika berubah pucat.

Oh... tidak.

Ada sesuatu di sana.

Sosok hitam yang bentuknya tidak jelas sedang bertengger di pundak pria itu. Bayangannya bergerak-gerak seperti asap pekat, sementara sepasang mata merah redup tampak menyala dari balik kegelapan.

Rayung refleks mundur satu langkah.

Pria itu langsung menyadari gerakannya.

"Kau takut?"

Rayung buru-buru menggeleng.

"Enggak."

"Lalu kenapa mundur?"

"Karena..."

Rayung melirik lagi ke arah pundaknya.

Otaknya bekerja keras mencari alasan yang terdengar masuk akal.

"...saya baru ingat belum sarapan."

Hening.

Alis pria itu terangkat sebelah.

Tatapannya berubah seperti sedang berhadapan dengan orang paling aneh yang pernah ditemuinya.

Rayung tersenyum kaku.

Alasan macam apa itu, Rayung?!

Pria tersebut melangkah mendekat.

Semakin dekat jarak mereka, semakin kuat hawa aneh yang Rayung rasakan.

Bukan hanya berasal dari makhluk di pundaknya.

Pria itu sendiri memiliki aura yang berat dan dominan. Aura yang membuat naluri Rayung menyuruhnya menjaga jarak.

Pria itu hendak mengatakan sesuatu ketika—

Denting!

Pintu lift kembali terbuka lebar.

Rayung langsung memanfaatkan kesempatan itu.

Ia melangkah masuk ke dalam kabin lift, lalu buru-buru menekan tombol penutup pintu.

"Maaf, Pak! Saya naik duluan!"

Pintu lift mulai menutup.

Pria itu hanya berdiri diam di luar.

Tatapannya mengikuti Rayung dengan sorot mata yang semakin penuh tanda tanya.

Sementara di atas pundaknya, sosok hitam itu perlahan mengangkat kepalanya.

Dua mata merahnya menatap lurus ke arah Rayung.

Senyum samar muncul di balik bayangan gelapnya.

Lalu pintu lift tertutup.

Rayung langsung menyandarkan punggungnya ke dinding.

Napasnya keluar panjang.

"Astaga..."

Jantungnya masih berdegup cepat.

Ia mengusap wajahnya.

"Baru mau interview kerja, kenapa malah ketemu beginian?"

Lift bergerak naik.

Angka lantai berubah perlahan.

Rayung menatap pantulan wajahnya sendiri di dinding lift.

Ia tidak tahu siapa pria tadi.

Ia juga belum tahu bahwa pria itu adalah Prewa Zalas, pemimpin Zalas Corp yang selama ini dikenal sebagai sosok paling sulit didekati di perusahaan tersebut.

Yang Rayung tahu hanya satu.

Ada sesuatu yang sangat buruk menempel pada pria itu.

Dan bisikan tadi bukan sebuah kebetulan.

"Jangan biarkan dia mati."

Rayung menatap angka lantai yang terus berubah.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke Zalas Corp, ia merasa mungkin saja pekerjaan ini bukan sekadar pekerjaan.

Mungkin, tanpa ia sadari...

ia baru saja membuka pintu menuju sebuah rahasia yang telah terkubur selama bertahun-tahun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 23 Rambut Yang Masih Hidup

    BRAK!Tutup kotak itu terlempar ke samping.Rayung refleks mundur, sementara Prewa segera berdiri di depannya. Satu tangannya terangkat melindungi Rayung, sedangkan tangan lainnya tetap memegang senjata.Namun, tidak ada manusia ataupun monster yang muncul dari dalam kotak.Hanya kain hitam tua yang membungkus sesuatu.Dan sehelai rambut panjang berwarna hitam yang perlahan bergerak sendiri.Rayung menahan napas. Rambut itu menjulur keluar dari kotak, melayang di udara seperti ular yang baru terbangun setelah tidur panjang.“Jangan sentuh,” ujar Prewa.“Gue tahu.”Rayung tidak berniat menyentuhnya. Penglihatan yang baru saja dialaminya sudah cukup menjadi peringatan bahwa rambut tersebut bukan benda biasa.Anehnya, helai rambut itu tidak menyerang mereka.Ujungnya justru bergerak ke arah Rayung, berhenti sesaat di depan wajahnya, lalu beralih menunjuk dada Prewa.Rayung mengerutkan kening.“Sepertinya dia menunjuk kamu.”Prewa tidak mengalihkan pandangan dari rambut itu. “Apa maksudny

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 22 DI BAWAH AKAR

    “Prewa…” Rayung menelan ludah sambil menatap tanah di bawah pohon pule. “Kayaknya... yang ada di bawah sana belum mati.” Prewa tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada lubang yang baru saja mereka gali. Di antara akar-akar besar yang mencuat dari tanah, terdengar suara ketukan sekali lagi. Tok. Rayung dan Prewa saling berpandangan. Tok... tok. Bukan suara ranting patah. Bukan pula suara akar yang bergesekan. Sesuatu memang sedang mengetuk dari bawah tanah. Rayung perlahan berjongkok dan menempelkan telapak tangannya ke permukaan tanah. Seketika, hawa dingin menjalar dari ujung jarinya. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang mengingatkannya pada kulit mayat. Prewa langsung menarik lengannya. “Jangan sentuh lagi.” “Kenapa? Kalau dia yang mengetuk, berarti dia juga tahu kita ada di sini.” “Justru itu masalahnya. Kita belum tahu apa yang sedang menunggu di bawah.” Rayung hendak membalas, tetapi suara cekikikan dari atas pohon memotong ucapannya. “Hehehe…” Kuntila

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 21 Mba Sari

    Bab 21: Tamu yang Tidak Punya Bayangan Tok... tok... tok... Ketukan itu terdengar lagi. Tiga kali. Pelan. Teratur. Prewa berhenti tepat beberapa langkah dari pintu depan. Tangannya masih berada dekat senjata di pinggang. Rayung berdiri dari kursinya. Tubuhnya memang masih lemas, tetapi rasa lelah itu mendadak tersingkir oleh firasat buruk. Ia menatap pintu. Tidak ada aura manusia dari balik sana. Tidak ada napas. Tidak ada suara langkah. Namun— ada sesuatu. Sesuatu yang sangat dingin. "Jangan dibuka dulu," kata Rayung. Prewa menoleh. "Tadi kamu bilang akan membukanya." "Berubah pikiran." "Kenapa?" Rayung menunjuk pintu. "Karena yang berdiri di luar bukan cuma satu." Prewa langsung waspada. "Berapa?" Rayung memejamkan mata. Kemampuan yang sudah dimilikinya sejak kecil kembali bekerja. Dunia di depannya seolah berubah. Warna-warna memudar. Suara angin menghilang. Yang tersisa hanya lapisan tipis antara dunia manusia dan dunia yang selama ini selalu bisa ia

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 20 Hantu Yang Di Abadikan

    KABOOM! Ledakan energi menghantam seluruh ruangan lelang. Panggung The Crimson Velvet pecah. Meja-meja terlempar. Kaca jendela bergetar hebat. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit runtuh satu demi satu. Rayung bahkan tidak sempat melihat apa yang terjadi setelah tangannya menyentuh kedua artefak itu. Cahaya putih keperakan meledak dari tubuhnya. Kemudian semuanya menjadi gelap. Ketika Rayung membuka mata— langit-langit putih menyambut pandangannya. Ia berkedip beberapa kali. Bau antiseptik memenuhi hidungnya. "Rumah sakit?" Suaranya serak. "Zalas Tower." Suara Prewa terdengar dari samping. Rayung memutar kepala. Prewa duduk di sofa panjang dekat jendela. Jasnya sudah dilepas. Kemeja hitamnya sedikit kusut dan dua kancing bagian atas terbuka. Wajahnya terlihat lelah. Namun matanya tetap tajam. Rayung mencoba bangun. Prewa langsung berdiri. "Jangan." "Gue cuma mau duduk." "Kamu baru sadar." "Terus?" "Berbaring." Rayung mengerutkan kening. "Lu m

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 19 TAWA TAK BIASA

    BLUP... BLUP... BLUP... Gelembung cairan merah di dalam Cangkir Porselen Merah meletup makin kencang, memercikkan hawa amis beraroma karat dan bunga kamboja yang seketika memenuhi seluruh ruangan lelang. Tawa melengking non-manusia yang keluar dari dalam cangkir itu menggetarkan lampu-lampu kristal, membuat kaca panggung retak seribu. Para tamu VIP yang semula duduk tenang mendadak panik. Beberapa pejabat dan pengusaha berteriak seraya berusaha menerobos keluar melalui pintu utama yang tiba-tiba terkunci rapat secara gaib. "Tenang semuanya!" seru Madam Clara dengan suara yang bergema magis. Namun, matanya sendiri menyiratkan keterkejutan saat melihat cairan darah Aruna menolak dikendalikan oleh mantra pemudanya. Di barisan belakang, pria berjas hitam dengan pisau kecil beracun meluncur cepat dari balik kegelapan. Ia bergerak seperti bayangan tanpa suara, mengincar leher Rayung saat perhatian semua orang teralih ke panggung! SRAK! Sebelum bilah hitam itu menyentuh kulit Rayung,

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 18 CERMIN MALAM

    Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung pencakar langit menyala seperti ribuan mata yang mengawasi jalanan dari ketinggian. Di antara deretan bangunan modern dan klub-klub eksklusif yang hanya dikenal oleh kalangan tertentu, sebuah gedung tua berdiri tanpa papan nama. Dari luar, tempat itu tampak seperti bangunan kolonial yang sudah lama ditinggalkan. Namun sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pintu besinya. Pintu itu terbuka. Prewa turun lebih dulu. Setelan hitamnya rapi tanpa satu pun lipatan. Wajahnya tetap dingin seperti biasa. Kemudian ia berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Rayung. Rayung turun perlahan. Gaun hitam panjang dengan detail merah gelap membalut tubuhnya. Rambutnya ditata sederhana, tetapi beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh di sisi wajah. Rayung menatap gedung di hadapannya. "Ini klubnya?" "Ya." Rayung mengerutkan kening. "Kelihatannya kayak tempat syuting film horor." Prewa menatap bangunan itu sebentar. "Meman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status