LOGIN
"Jangan biarkan dia mati!”
Rayung membeku di ambang pintu saat sebuah bisikan dingin bergema tepat di dalam gendang telinganya. Suara itu begitu dekat, seolah seseorang berbisik tepat di dalam kepalanya. Padahal, di sekelilingnya tidak ada siapa-siapa. Ia menelan ludah susah payah. "Siapa yang mau mati...?" gumamnya pelan. Tidak ada siapa pun yang tampak sedang berbicara. Namun, hawa dingin perlahan merambat dari tengkuk hingga menusuk punggungnya. Rayung sudah mengenal sensasi itu sejak kecil. Sejak kecil, Rayung memiliki kemampuan unik—bisa berinteraksi dengan makhluk tak terlihat mata biasa. Ia sudah terbiasa dengan segala macam jenis gangguan, bahkan beberapa dari mereka suka meminta bantuannya. Masalahnya, hari ini ia sama sekali tidak punya waktu untuk berurusan dengan mereka. Ia sedang melamar pekerjaan di Zalas Corp—sebuah perusahaan raksasa yang terkenal ketat dan dingin. Setelah hampir sebulan menganggur dan beberapa kali kehilangan kesempatan kerja hanya karena gangguan aneh yang mengikuti dirinya, Rayung benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Ia menarik napas panjang. "Gue cuma mau kerja." Rayung menekan tombol lift lagi dengan jari yang sedikit gemetar. Denting! Pintu lift terbuka. Baru saja ia hendak melangkah masuk ketika "Hei, kau mau naik lift atau tidak?" Suara berat dan dalam dari arah belakang membuat Rayung tersentak. Ia berbalik cepat. Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya. Untuk sesaat, Rayung benar-benar lupa bagaimana cara bernapas. Pria itu tinggi dengan setelan jas hitam yang tampak dibuat khusus. Penampilannya rapi, nyaris tanpa cela. Wajahnya memiliki garis rahang tegas, hidung mancung, dan bibir tipis yang terkatup rapat. Namun, bukan penampilannya yang membuat Rayung terdiam. Melainkan matanya. Sepasang mata gelap yang dingin dan tajam, seolah mampu membuat siapa pun yang ditatapnya merasa sedang dihakimi. Beberapa pegawai yang kebetulan melewati lorong langsung menepi. Ada yang menundukkan kepala. Ada pula yang mempercepat langkah tanpa berani menoleh. Rayung mengerutkan kening. Siapa, sih, orang ini? Kenapa semua orang seperti takut kepadanya? Namun, pertanyaan itu langsung terlupakan ketika pandangan Rayung perlahan bergeser ke atas bahu pria tersebut. Wajahnya seketika berubah pucat. Oh... tidak. Ada sesuatu di sana. Sosok hitam yang bentuknya tidak jelas sedang bertengger di pundak pria itu. Bayangannya bergerak-gerak seperti asap pekat, sementara sepasang mata merah redup tampak menyala dari balik kegelapan. Rayung refleks mundur satu langkah. Pria itu langsung menyadari gerakannya. "Kau takut?" Rayung buru-buru menggeleng. "Enggak." "Lalu kenapa mundur?" "Karena..." Rayung melirik lagi ke arah pundaknya. Otaknya bekerja keras mencari alasan yang terdengar masuk akal. "...saya baru ingat belum sarapan." Hening. Alis pria itu terangkat sebelah. Tatapannya berubah seperti sedang berhadapan dengan orang paling aneh yang pernah ditemuinya. Rayung tersenyum kaku. Alasan macam apa itu, Rayung?! Pria tersebut melangkah mendekat. Semakin dekat jarak mereka, semakin kuat hawa aneh yang Rayung rasakan. Bukan hanya berasal dari makhluk di pundaknya. Pria itu sendiri memiliki aura yang berat dan dominan. Aura yang membuat naluri Rayung menyuruhnya menjaga jarak. Pria itu hendak mengatakan sesuatu ketika— Denting! Pintu lift kembali terbuka lebar. Rayung langsung memanfaatkan kesempatan itu. Ia melangkah masuk ke dalam kabin lift, lalu buru-buru menekan tombol penutup pintu. "Maaf, Pak! Saya naik duluan!" Pintu lift mulai menutup. Pria itu hanya berdiri diam di luar. Tatapannya mengikuti Rayung dengan sorot mata yang semakin penuh tanda tanya. Sementara di atas pundaknya, sosok hitam itu perlahan mengangkat kepalanya. Dua mata merahnya menatap lurus ke arah Rayung. Senyum samar muncul di balik bayangan gelapnya. Lalu pintu lift tertutup. Rayung langsung menyandarkan punggungnya ke dinding. Napasnya keluar panjang. "Astaga..." Jantungnya masih berdegup cepat. Ia mengusap wajahnya. "Baru mau interview kerja, kenapa malah ketemu beginian?" Lift bergerak naik. Angka lantai berubah perlahan. Rayung menatap pantulan wajahnya sendiri di dinding lift. Ia tidak tahu siapa pria tadi. Ia juga belum tahu bahwa pria itu adalah Prewa Zalas, pemimpin Zalas Corp yang selama ini dikenal sebagai sosok paling sulit didekati di perusahaan tersebut. Yang Rayung tahu hanya satu. Ada sesuatu yang sangat buruk menempel pada pria itu. Dan bisikan tadi bukan sebuah kebetulan. "Jangan biarkan dia mati." Rayung menatap angka lantai yang terus berubah. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Zalas Corp, ia merasa mungkin saja pekerjaan ini bukan sekadar pekerjaan. Mungkin, tanpa ia sadari... ia baru saja membuka pintu menuju sebuah rahasia yang telah terkubur selama bertahun-tahun.Gedung administrasi lama Zalas Corp berdiri di ujung kawasan industri yang telah ditinggalkan selama puluhan tahun.Dindingnya kusam, jendela-jendelanya gelap, dan tanaman liar merambat menutupi pagar besi. Papan nama perusahaan di depan gedung hampir terlepas, seolah tempat itu sengaja dibiarkan dilupakan.Rayung memandangnya dari balik kaca mobil.“Perusahaan sebesar Zalas punya gedung begini, tapi dibiarkan jadi sarang hantu?”“Gedung ini ditutup dua puluh tiga tahun lalu,” jawab Prewa. “Setelah kebocoran data yang melibatkan arsip internal perusahaan.”“Dan nggak ada yang pernah memeriksanya lagi?”“Ada. Semua laporan menyatakan tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan.”Rayung menoleh kepadanya.“Kalau begitu, orang yang bikin laporan itu bodoh atau terlibat.”“Pilihan kedua lebih masuk akal.”Belum sempat Rayung membalas, rasa dingin menjalar di tengkuknya. Ia melirik bahu kiri Prewa.Makhluk berkepala tiga itu tampak lebih gelisah daripada biasanya. Ketiga kepalanya bergerak k
Perjalanan kembali dari pemakaman keluarga Zalas terasa jauh lebih panjang daripada saat mereka berangkat.Rayung duduk di samping Prewa di kursi belakang mobil. Sejak meninggalkan Makam Pertama, pria itu nyaris tidak berbicara. Tangannya sesekali mencengkeram dada kiri, tepat di tempat rasa sakit yang selama ini menghantuinya kembali menyerang.Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.Cincin Zalas di jarinya memancarkan cahaya merah samar.Rayung memperhatikannya sejak tadi.“Prewa, tangan lo.”Prewa menurunkan pandangan. “Kenapa?”“Cincin itu masih bereaksi.”“Sejak kita meninggalkan makam.”“Terus kenapa nggak bilang?”“Saya tidak ingin membuatmu semakin khawatir.”Rayung mendengus kecil.“Wah, perhatian banget. Sayangnya, gue tetap khawatir meskipun lo diam.”Prewa menoleh sekilas. Ada bayangan senyum tipis di sudut bibirnya, tetapi segera menghilang ketika rasa
“Aku adalah orang yang seharusnya dikubur bersama ayahmu.” Suara itu masih menggema ketika Prewa menyadari sesuatu telah berubah. Cincin di jarinya mendadak terasa panas. Ia menunduk. Lambang keluarga Zalas pada cincin itu memancarkan cahaya merah samar, sama seperti tujuh lingkaran yang terukir di pintu makam. “Prewa, lepaskan cincin itu!” seru Rayung. Prewa mencoba menariknya, tetapi cincin tersebut seolah melekat pada kulitnya. Rasa panas menjalar dari jarinya ke pergelangan tangan, lalu naik menuju dadanya. Ia mengertakkan gigi. “Rayung, apa yang terjadi?” “Gue nggak tahu! Tapi sesuatu sedang mengikat lo!” Dari dalam lubang terdengar suara tawa. “Kau sudah menjawab panggilanku, pewaris Zalas. Sekarang darahmu telah mengenali tempat ini.” Prewa mengangkat senjatanya ke arah lubang. “Kalau kamu menginginkan saya, keluarlah dan hadapi saya.” “Prewa, jangan!” Terlambat. Tanah di sekitar makam bergetar hebat. Ketujuh pilar batu menyala satu per satu, kecuali pilar ketuj
Mobil hitam itu melaju membelah jalanan malam. Prewa duduk di sebelah Rayung, sementara Alan mengemudi dan Kip memantau peta dari tablet di tangannya. Tidak ada yang banyak bicara sejak mereka meninggalkan rumah persembunyian. Rayung terus menatap rambut Aruna yang melingkari pergelangan tangannya. Ujungnya kembali memancarkan semburat merah. “Lo yakin kita harus ke sana malam ini?” tanyanya akhirnya. Prewa menoleh. “Kamu ingin menunggu sampai Harsa menghilang lagi?” “Bukan itu maksud gue.” “Lalu?” Rayung ragu. Ia ingin mengatakan bahwa Aruna telah memperingatkannya, tetapi setiap kali hendak membuka mulut, ia teringat ekspresi Prewa saat mendengar nama ayahnya di balik pintu batu. Pria itu membutuhkan jawaban. Masalahnya, Rayung mulai takut bahwa jawaban tersebut justru akan menghancurkannya. “Gue cuma merasa tempat itu berbahaya,” katanya. Prewa memandang rambut di pergelangan tangannya. “Sejak kita menemukan pintu di bawah pohon pule, kamu terus merasakan sesuatu, buk
Rayung terus menggenggam rambut Aruna sepanjang perjalanan menaiki tangga batu.Pikirannya masih tertinggal di ruangan bawah tanah. Suara dari balik pintu, cincin Zalas pada tangan misterius itu, dan penglihatan tentang ayah Prewa berputar-putar di kepalanya.Namun, ada satu hal yang jauh lebih mengganggunya.Pesan terakhir Aruna.Jangan biarkan Prewa menemukan makam ayahnya.Rayung melirik pria yang berjalan di sampingnya.Prewa tampak tenang, tetapi rahangnya mengeras sejak mereka meninggalkan pintu batu. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada sesuatu yang mengikuti mereka.“Prewa.”“Hm?”“Kalau ternyata ayah lo memang dibunuh karena mengetahui rahasia keluarga, apa yang bakal lo lakukan?”Langkah Prewa tidak melambat.“Saya akan mencari orang yang bertanggung jawab.”“Terus kalau orang itu ternyata masih hidup?”“Saya akan membuatnya menjawab semua pertanyaan saya.”“Kalau dia keluarga lo sendiri?”Kali ini, Prewa berhenti.Ia menoleh dan menatap Rayung dengan mata g
Prewa tidak bergerak. Suara dari balik pintu itu masih menggema di kepalanya, memanggil nama ayahnya seolah-olah pemilik suara tersebut mengenal pria itu dengan sangat baik. Mustahil. Ayahnya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Tidak ada alasan bagi seseorang yang terkurung di tempat ini untuk memanggilnya. “Siapa kamu?” tanya Prewa dingin. Dari balik pintu terdengar tawa pelan. “Kau benar-benar tidak mengenaliku?” Rahang Prewa mengeras. “Jawab pertanyaan saya.” “Darahmu masih sama. Wajahmu pun mengingatkanku kepadanya. Tapi rupanya, mereka berhasil membuatmu melupakan segalanya.” Rayung memperhatikan Prewa. Pria itu tetap mengarahkan senjatanya ke pintu, tetapi jemarinya mencengkeram gagang senjata lebih kuat daripada sebelumnya. “Prewa,” bisik Rayung, “lo pernah dengar suara itu?” “Tidak.” “Terus kenapa lo kelihatan seperti baru melihat hantu?” Prewa meliriknya tajam. “Saya tidak melihat apa pun.” “Gue tahu. Maksud gue—” “Saya tahu maksud kamu.” R







