INICIAR SESIÓNPerjalanan kembali dari pemakaman keluarga Zalas terasa jauh lebih panjang daripada saat mereka berangkat.Rayung duduk di samping Prewa di kursi belakang mobil. Sejak meninggalkan Makam Pertama, pria itu nyaris tidak berbicara. Tangannya sesekali mencengkeram dada kiri, tepat di tempat rasa sakit yang selama ini menghantuinya kembali menyerang.Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.Cincin Zalas di jarinya memancarkan cahaya merah samar.Rayung memperhatikannya sejak tadi.“Prewa, tangan lo.”Prewa menurunkan pandangan. “Kenapa?”“Cincin itu masih bereaksi.”“Sejak kita meninggalkan makam.”“Terus kenapa nggak bilang?”“Saya tidak ingin membuatmu semakin khawatir.”Rayung mendengus kecil.“Wah, perhatian banget. Sayangnya, gue tetap khawatir meskipun lo diam.”Prewa menoleh sekilas. Ada bayangan senyum tipis di sudut bibirnya, tetapi segera menghilang ketika rasa
“Aku adalah orang yang seharusnya dikubur bersama ayahmu.” Suara itu masih menggema ketika Prewa menyadari sesuatu telah berubah. Cincin di jarinya mendadak terasa panas. Ia menunduk. Lambang keluarga Zalas pada cincin itu memancarkan cahaya merah samar, sama seperti tujuh lingkaran yang terukir di pintu makam. “Prewa, lepaskan cincin itu!” seru Rayung. Prewa mencoba menariknya, tetapi cincin tersebut seolah melekat pada kulitnya. Rasa panas menjalar dari jarinya ke pergelangan tangan, lalu naik menuju dadanya. Ia mengertakkan gigi. “Rayung, apa yang terjadi?” “Gue nggak tahu! Tapi sesuatu sedang mengikat lo!” Dari dalam lubang terdengar suara tawa. “Kau sudah menjawab panggilanku, pewaris Zalas. Sekarang darahmu telah mengenali tempat ini.” Prewa mengangkat senjatanya ke arah lubang. “Kalau kamu menginginkan saya, keluarlah dan hadapi saya.” “Prewa, jangan!” Terlambat. Tanah di sekitar makam bergetar hebat. Ketujuh pilar batu menyala satu per satu, kecuali pilar ketuj
Mobil hitam itu melaju membelah jalanan malam. Prewa duduk di sebelah Rayung, sementara Alan mengemudi dan Kip memantau peta dari tablet di tangannya. Tidak ada yang banyak bicara sejak mereka meninggalkan rumah persembunyian. Rayung terus menatap rambut Aruna yang melingkari pergelangan tangannya. Ujungnya kembali memancarkan semburat merah. “Lo yakin kita harus ke sana malam ini?” tanyanya akhirnya. Prewa menoleh. “Kamu ingin menunggu sampai Harsa menghilang lagi?” “Bukan itu maksud gue.” “Lalu?” Rayung ragu. Ia ingin mengatakan bahwa Aruna telah memperingatkannya, tetapi setiap kali hendak membuka mulut, ia teringat ekspresi Prewa saat mendengar nama ayahnya di balik pintu batu. Pria itu membutuhkan jawaban. Masalahnya, Rayung mulai takut bahwa jawaban tersebut justru akan menghancurkannya. “Gue cuma merasa tempat itu berbahaya,” katanya. Prewa memandang rambut di pergelangan tangannya. “Sejak kita menemukan pintu di bawah pohon pule, kamu terus merasakan sesuatu, buk
Rayung terus menggenggam rambut Aruna sepanjang perjalanan menaiki tangga batu.Pikirannya masih tertinggal di ruangan bawah tanah. Suara dari balik pintu, cincin Zalas pada tangan misterius itu, dan penglihatan tentang ayah Prewa berputar-putar di kepalanya.Namun, ada satu hal yang jauh lebih mengganggunya.Pesan terakhir Aruna.Jangan biarkan Prewa menemukan makam ayahnya.Rayung melirik pria yang berjalan di sampingnya.Prewa tampak tenang, tetapi rahangnya mengeras sejak mereka meninggalkan pintu batu. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada sesuatu yang mengikuti mereka.“Prewa.”“Hm?”“Kalau ternyata ayah lo memang dibunuh karena mengetahui rahasia keluarga, apa yang bakal lo lakukan?”Langkah Prewa tidak melambat.“Saya akan mencari orang yang bertanggung jawab.”“Terus kalau orang itu ternyata masih hidup?”“Saya akan membuatnya menjawab semua pertanyaan saya.”“Kalau dia keluarga lo sendiri?”Kali ini, Prewa berhenti.Ia menoleh dan menatap Rayung dengan mata g
Prewa tidak bergerak. Suara dari balik pintu itu masih menggema di kepalanya, memanggil nama ayahnya seolah-olah pemilik suara tersebut mengenal pria itu dengan sangat baik. Mustahil. Ayahnya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Tidak ada alasan bagi seseorang yang terkurung di tempat ini untuk memanggilnya. “Siapa kamu?” tanya Prewa dingin. Dari balik pintu terdengar tawa pelan. “Kau benar-benar tidak mengenaliku?” Rahang Prewa mengeras. “Jawab pertanyaan saya.” “Darahmu masih sama. Wajahmu pun mengingatkanku kepadanya. Tapi rupanya, mereka berhasil membuatmu melupakan segalanya.” Rayung memperhatikan Prewa. Pria itu tetap mengarahkan senjatanya ke pintu, tetapi jemarinya mencengkeram gagang senjata lebih kuat daripada sebelumnya. “Prewa,” bisik Rayung, “lo pernah dengar suara itu?” “Tidak.” “Terus kenapa lo kelihatan seperti baru melihat hantu?” Prewa meliriknya tajam. “Saya tidak melihat apa pun.” “Gue tahu. Maksud gue—” “Saya tahu maksud kamu.” R
Rayung masih menatap Prewa ketika suara dari balik pintu kembali terdengar.“Dia tidak pernah menceritakan apa yang dilakukan keluarganya kepada ibumu.”Prewa mengangkat senjatanya, meskipun ia tidak dapat melihat apa pun di balik pintu selain retakan yang memancarkan cahaya merah.“Kalau kamu mengenal keluarga saya, sebutkan namamu.”Tawa rendah menggema dari balik batu.“Nama tidak berarti apa-apa bagi mereka yang sudah dikorbankan.”Rayung mengepalkan tangan. Rambut Aruna masih melilit pergelangan tangannya, terasa hangat sekaligus berdenyut seperti sesuatu yang hidup.“Jangan dengarkan dia, Rayung,” ujar Prewa tanpa menoleh. “Tempat ini sengaja mempermainkan pikiranmu.”“Bagaimana kalau dia mengatakan sesuatu yang benar?”“Kalau benar, kita akan mencari buktinya. Bukan menuruti perintahnya.”Jawaban itu membuat Rayung terdiam. Ia ingin mempercayai Prewa, tetapi penglihatan barusan masih terbayang jelas. Aruna berdiri di depan pintu, sementara seorang laki-laki muda terikat di bela







