LOGINNamun, kedua tangan Ranira mengepal kuat setelah ingat bahwa lelaki tampan di hadapannya ini adalah sosok manusia berhati iblis. Penjahat kelas kakap.
"Tutup pintunya!" Evans sedikit menoleh ke belakang, memerintah pada bawahannya yang langsung mengangguk patuh dan menutup rapat pintu kamar tersebut.
Kini, Ranira terjebak bersama Evans di dalam kamar itu. Suasana di dalamnya, seketika terasa mencekam bagi Ranira.
"Bagus. Ternyata si penghianat itu sudah menyerahkan tebusannya padaku," ucap Evans, tersenyum miring sambil melangkah maju dan duduk di sofa yang ada di dekat Ranira.
"Namamu Ranira Moseley?" tanya Evans, menuangkan sampanye ke dalam gelas kosong, lalu meneguknya hingga tandas.
Ranira mengerutkan kening.
Sejak kapan nama belakangnya berubah menjadi Moseley? Nama lengkapnya adalah Ranira Zanina. Moseley adalah nama belakang keluarga Mike.
Ah, sial. Tentu saja, di sini Ranira harus berpura-pura menjadi anak kandungnya Mike Moseley.
"Jawab pertanyaanku! Aku tahu kau tidak bisu," cetus Evans, melayangkan sorot tajam dan memerintah.
"Benar. Namaku Ranira Moseley," jawabnya dusta. Sambil menahan gugup dan berusaha menyembunyikan tangannya yang agak gemetar.
Evans mengangguk-anggukan kepala, lalu matanya memindai tubuh Ranira dari atas ke bawah. Decak sebal keluar dari mulut sang ketua mafia tersebut.
"Si bodoh itu tidak memberimu pakaian yang layak. Seharusnya dia memberimu pakaian yang lebih pantas untuk menghadapku." Evans memaki Mike setelah melihat tubuh Ranira hanya terbalut oleh baju terusan yang tak bermerek.
Ranira menundukan wajah, mengusap lengannya yang bulunya mulai meremang.
"Lepaskan semua pakaianmu! Aku ingin melihat bentuk tubuhmu," perintah Evans yang sontak membuat Ranira terkejut.
"Apa? Dasar gila! Seenaknya kau menyuruhku menanggalkan pakaian di depanmu. Aku tidak akan melakukan itu! Kau pikir kau siapa berani memintaku melakukan hal serendah itu?!" Ranira membentak keras sembari memundurkan langkahnya hingga punggungnya mentok ke tembok.
"Kau tanya siapa aku? Seharusnya ayahmu yang penghianat itu sudah memberitahumu tentang siapa aku. Baiklah. Jadi, kau tidak mau menanggalkan pakaianmu?" Evans merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya ke arah Ranira.
Ranira tercengang, menelan ludahnya susah payah. Namun, pertahannya tak akan runtuh.
"Sekalipun kau membunuhku, aku tidak mau menelanjangi diriku di depanmu!"
"Kau tahu, hanya kau saja wanita yang berani mengatakan itu pada seorang Evander. Apa kau tidak takut mati di tanganku?"
"Sama sekali tidak. Bahkan aku tidak takut jika kau menarik pelatuk pistolmu ke kepalaku," balas Ranira.
Raut wajah Evans berubah keruh. "Kau menantangku?"
Sambil merapatkan rahangnya, Evans berdiri dan masih menodongkan pistol itu ke kepala Ranira. Baru kali ini Evans bertemu wanita yang menolak perintahnya.
Meski berusaha berani, namun Ranira tak bisa menyembunyikan ketakutan yang terpancar melalui sorot matanya saat jemari Evans hampir saja menarik pelatuk itu.
"Satu ... dua ... ti—" Ranira langsung memejamkan mata dan berpasrah diri bila malam ini adalah akhir hidupnya.
"Ga!"
Ranira menahan napas, berpikir peluru itu akan menembus kepalanya dan menghancurkan otaknya.
Akan tetapi, tidak ada satu pun suara tembakan. Hal itu membuat mata Ranira kembali terbuka dan menatap Evans yang sedang menatapnya sambil menyunggingkan senyum smirk.
"Bertingkah sok berani, padahal kau sangat ketakutan. Karena kau menolak melakukan perintahku, maka jangan salahkan jika aku memaksamu," ucap Evans, melempar pistolnya ke sofa yang tadi ia duduki, kemudian melepas jas hitam yang ia kenakan dan melemparnya ke sembarang arah.
Ranira mengerutkan kening. Matanya melebar panik. Tiba-tiba saja Evans merenggut tangannya dan menariknya dengan kasar, kemudian menyudutkannya ke tembok, sembari mengungkung kedua tangan Ranira di sisi kepala wanita itu.
"L-lepaskan aku!"
"Permintaan yang sangat bodoh. Siapa pun wanita yang datang ke mansionku, tidak ada yang bisa keluar dari sini kecuali jika dia mati," bisik Evans sambil menyeringai.
Detak jantung Ranira memompa kuat. Antara takut dan panik.
"Lihatlah betapa tidak menariknya tubuhmu yang kurus ini. Sama sekali tidak menggiurkan. Bahkan, jika aku membawamu untuk dijual di tempat lelang, aku ragu para konglomerat itu mau membayarmu meski dengan harga yang murah," ejek Evans sambil berdesis di samping wajah Ranira.
Hembusan napas Evans yang hangat menerpa kulit wajah Ranira.
“ Ayahmu telah berhianat padaku dan memiliki hutang yang sangat banyak. Dia tak mampu menebusnya. Dia juga tidak ingin mati di tanganku. Lalu akhirnya, dia memilihmu sebagai penebus kesalahannya. Ayahmu itu sungguh ayah yang sangat baik, bukan?" Evans menyeringai lagi.
Dada Ranira bergerak naik turun seiring dengan napasnya yang tak beraturan karena suasana di dalam kamar itu semakin mencekam.
"Sekarang, kau harus tinggal di sini dan menebus kesalahan ayahmu," lanjut Evans, membuat tubuh Ranira semakin menegang.
"Tapi aku bukan an—" Ranira melepaskan cengkeraman tangan Evans dari rahangnya dan hendak bicara.
Namun Evans lebih dulu memotong ucapannya dan kembali mencengkeram rahang wanita itu.
"Bukan apa? Heum?”
Mulut Ranira terkatup rapat. Jika Evans tahu dia bukan anak kandung Mike Moseley, Mike pasti akan membahayakan nyawa ibunya.
"Tidak ada yang bisa menolongmu. Jadi menyerah saja padaku. Ayahmu sudah menyerahkanmu padaku. Aku bebas melakukan apa pun." Evans menunduk dan mencium bibir Ranira, namun dia menggeram marah saat bibirnya berdarah.
“Aaarghh! Sial! Berani-beraninya kau menggigit bibirku!" mata Evans menatap tajam.
"Itu pantas didapatkan oleh lelaki berhati iblis sepertimu," balas Ranira dengan nada tinggi.
Geram, Evans tak bisa lagi menahan emosinya menghadapi si wanita pembangkang itu.
"Sepertinya kau lebih suka melakukannya dengan kasar. Oke, aku akan menunjukkan padamu bagaimana caranya bercinta dengan kasar," ucap Evans, mengusap darah di bibirnya dengan ibu jari, lalu bibirnya menyeringai pada Ranira.
Evans menarik Ranira ke dalam pelukannya dalam satu kali gerakan, hendak kembali menciumnya. Akan tetapi saat tangannya menangkup rahang wanita itu, mata Evans terpaku pada wajah Ranira yang terpejam.
Gadis itu mengkerut dalam pelukannya. Evans bisa merasakan hangat napasnya di kulit wajahnya. Dan wajah polos gadis ini … entah mengapa membuat Evans terdiam.
Di klannya, dia terkenal kejam dan tak kenal ampun. Tapi kali ini Evans justru membeku.
“Betulkan lagi pakaianmu!” dengan wajah datar, Evans mendorong Ranira dari pelukannya kemudian menepuk-nepuk bagian depan kemejanya seolah takut ada debu tak kasat mata yang menempel di sana.
Detik selanjutnya, Evans membalikan badan dan berlalu keluar kamar. Meninggalkan Ranira yang duduk lega dengan rasa heran.
"Evander Lukas! Lelaki kejam, lelaki iblis!" Ranira mengepalkan tangannya, meninju kasur dengan kasar, seolah berfantasi bahwa ia sedang meninju dada Evander.
Matanya menatap tajam pada daun pintu yang baru saja ditutup oleh Evans. Dan Ranira yakin, ia pun kembali dikunci di dalam kamar ini.
"Aku tidak boleh menangis di hadapan iblis itu. Dia pasti suka jika korbannya merasa tersiksa. Dia pikir aku takut padanya. Evans, aku tidak pernah bertemu lelaki sebejat dirimu," cetus Ranira penuh emosi.
***
Pagi hari, Ranira mengerjapkan mata, kemudian terbangun dari ranjangnya.
Rasa lapar diperutnya memaksanya untuk turun dari ranjang.
Kini tubuh Ranira sudah terbalut sebuah dress rumahan yang panjangnya mencapai lutut. Entah milik siapa dress itu. Ranira menemukannya di dalam lemari yang ada di kamar tersebut.
"Perutku lapar. Sejak kemarin siang, aku belum memakan apa pun," gumam Ranira memegangi perutnya sendiri.
Perlahan ia bangkit dari ranjang dan melangkah menuju pintu kamar. Tangannya mencoba memutar kenop, lalu ia tersenyum saat ternyata pintu kamarnya tak dikunci.
"Aku bisa kabur dari sini," seru Ranira pelan.
Sambil melangkah hati-hati, Ranira mencoba untuk melarikan diri menyusuri setiap ruangan di dalam mansion tersebut.
Namun, saking luasnya mansion itu, Ranira sampai tersesat di dalamnya dan bingung harus melewati pintu yang mana.
"Kalau sampai aku salah jalan dan malah bertemu Evander, aku bisa tamat di tangannya," gumam Ranira.
Baru saja kaki jenjang Ranira hendak kembali melangkah, tiba-tiba terdengar suara lembut milik seorang wanita yang memanggilnya dari belakang.
"Mau ke mana kau?"
Sontak tubuh Ranira menegang bersamaan dengan langkahnya yang terhenti.
Menanggapi itu, Jessica langsung berdecih meludah ke sampingnya. Ia tak ingin membuat James besar kepala dan menganggapnya menikmati tautan bibir mereka.Meskipun sebenarnya, Jessica memang merasakan sedikit gelenyar aneh yang menjalar di tubuhnya ketika James menjamah bibirnya tadi.Tetapi Jessica tidak ingin menunjukan itu."Jangan mimpi! Salah besar jika kau berpikir aku menikmati sentuhanmu. Aku muak padamu! Aku membencimu!" tegas Jessica."Benarkah?" James memicingkan mata.Jessica terdiam dengan mengatur napasnya. Ia tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Tatapan James begitu lekat menatapnya, seolah lelaki itu ingin menyelami apa yang ada dalam pikirannya."Kau seorang putra dari keluarga terhormat. Bisakah kau berperilaku lebih manusiawi? Kau sudah menghancurkan kehormatan seorang wanita, lalu mengganggu ketenangannya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, kau bahkan tak meminta maaf. Sikapmu betul-betul tidak mencerminkan derajatmu." akhirnya Jessica bangkit berdiri, ia bisa turu
Pulang menuju rumahnya, Jessica menggerutu sepanjang jalan. Ia tidak habis pikir dengan Alden. Lelaki kaya itu membuatnya jengah dan sebal."Mungkin dia pikir karena aku ini wanita miskin dan dia bisa memanfaatkanku. Tidak! Aku paham apa yang ada dalam pikiran lelaki pembual seperti dia. Yang ada di dalam otaknya hanya bagian dalam paha wanita!" gerutu Jessica sembari terus melangkahkan kakinya, menyusuri gang kecil yang menyambung menuju ke kontrakannya.Fisiknya sangat lelah. Sejak tadi pagi, entah berapa kali Jessica menahan mual. Jessica menunduk, mengelus perutnya yang masih datar.Sekarang Jessica sudah bisa menerima kehamilannya. Bahkan Jessica menyesal mengapa dulu ia sempat ingin menggugurkan kandungannya."Mama tahu kau pasti lelah. Maaf ya, seharusnya dalam kondisi hamil muda seperti ini Mama tidak terlalu keras bekerja. Tetapi Mama perlu bekerja untuk dapat uang," ucap Jessica pada bayi yang ada dalam rahimnya.Sampai langkahnya terhenti di depan pintu kontrakannya. Jessic
Namun saat mulutnya terbuka dan benar-benar nyaris menelan semua obat itu, tiba-tiba Jessica langsung memuntahkannya ke lantai dan mengurungkan niatnya."Tidak! Aku tidak bisa melakukan ini! Tidak bisa!" isaknya, lalu menangis dan berbaring miring di atas ranjangnya.Jemarinya meremas bantal dengan kuat, ingin sekali Jessica menjerit marah.Mengapa hati kecilnya melarangnya melakukan itu? Mengapa hati kecilnya tak mengizinkanna melenyapkan bayi milik James yang sedang dikandungnya?***"Tuan Alden! Anda membeli sebuah bunga?" Nando—sekretaris Alden bertanya pada Alden ketika bossnya itu menghentikan mobil di toko bunga, lalu membeli buket bunga mawar berukuran sedang dari sana.Masih berdiri di dalam toko itu, Alden mendekatkan bunga ke hidungnya, aroma wangi dari bunga mawar itu langsung membelai indera penciumannya.Alden tersenyum menatap bunga di tangannya. Senyum itu membuat Nando semakin bingung. Pasalnya, ia seperti tak mengenal sosok Alden yang saat ini berdiri di hadapannya.
Seketika Jessica mematung di tempatnya. Ia berpikir, setiap kali melewati gang yang tak jauh di depannya itu, Jessica memang seringkali melihat ada beberapa lelaki yang sedang mabuk dan berjudi. Kini, Jessica jadi takut dan gamang jika harus melanjutkan langkah kakinya.Ketika melihat Jessica tak bergerak atau pun bereaksi, James akhirnya mulai kembali menyalakan mesin mobilnya. Bermaksud untuk meninggalkan Jessica saja. Gadis ini terlihat sedang berpikir seperti siput saja. Lambat sekali menurut James.Tapi, ketika mesin mobil James benar-benar menyala. Pintu mobil depannya juga sudah ditutup. Jessica mulai membuka mulutnya dan segera bergerak untuk menghadang mobil James yang sudah kembali pada posisi yang benar.“James, Tunggu!” teriak Jessica.Sontak saja James menghentikan mobilnya. Diam-diam di dalam mobil, sudut bibirnya terangkat.Jessica mengetuk kaca mobil, dan James menurunkannya.“James. Enghh ... boleh aku menumpang padamu?” tanya Jessica dengan wajah malu dan takut.Jame
"Hei! Buka matamu! Aku mohon, Tuan! Sadarlah!" Jessica menepuk-nepuk kedua pipi Alden untuk menyadarkannya."Lebih baik segera bawa saja dia ke rumah sakit!" salah satu orang yang ikut berkerumun di sana memberi saran.Jessica mengangguk, membiarkan orang-orang itu membawa Alden masuk ke dalam mobil bagian belakang. Jessica dipaksa ikut ke mobil dan ia duduk dengan menaruh kepala Alden di atas pangkuannya.Padahal seharusnya Jessica sudah tiba di tempat kerjanya. Tetapi dengan terpaksa Jessica menghubungi atasannya dan meminta izin kalau ia akan sangat terlambat masuk kerja. Awalnya Jessica mendapat omelan dari atasannya. Tetapi syukurlah atasannya masih berbaik hati dengan tidak memecatnya.Mungkin karena selama ini Jessica selalu bekerja dengan baik tanpa mengambil cuti satu kalipun.Sepanjang jalan menuju rumah sakit, sesekali Jessica menunduk memperhatikan wajah tampan yang berada sangat dekat dengannya. Kedua alisnya saling bertaut saat benaknya memikirkan sesuatu.Setelah diperi
Bukan hanya saat kakek dan ibu kandungnya meninggal, tapi juga karena desakan para anggota klan mafia yang dipimpin Evans terus mendesaknya untuk ikut bergabung dengan mereka.Jika bukan karena Ranira, mereka pasti tak segan mencelakai James karena dianggap berkhianat pada klan mereka."Tapi aku tidak dibutuhkan di sana, Nek. Kalian mulai saja acaranya tanpa aku," kata James dengan wajah biasa saja saat mengatakan itu. Tapi jauh dalam hatinya, jelas James tidak sedang baik-baik saja.Dan Ranira selalu marah setiap kali James mengatakan itu.“Kau jangan bicara begitu! Pokoknya kau harus datang ke sini! Kalau kau berkeras tidak mau datang, Nenek pastikan, kau tidak akan pernah melihat wajah nenek lagi besok pagi!' kata Ranira sebelum mengakhiri sambungan telponnya.James berdecak mendengar itu. Ranira mengancamnya dan James tahu kalau Neneknya itu tidak pernah bermainmain dengan perkataannya.Maka mau tidak mau, James harus datang ke sana. Karena ia tidak ingin kehilangan Ranira yang sa







