Share

BAB 2

Author: Syifa Safaah
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-09 13:11:15

Namun, kedua tangan Ranira mengepal kuat setelah ingat bahwa lelaki tampan di hadapannya ini adalah sosok manusia berhati iblis. Penjahat kelas kakap.

"Tutup pintunya!" Evans sedikit menoleh ke belakang, memerintah pada bawahannya yang langsung mengangguk patuh dan menutup rapat pintu kamar tersebut.

Kini, Ranira terjebak bersama Evans di dalam kamar itu. Suasana di dalamnya, seketika terasa mencekam bagi Ranira.

"Bagus. Ternyata si penghianat itu sudah menyerahkan tebusannya padaku," ucap Evans, tersenyum miring sambil melangkah maju dan duduk di sofa yang ada di dekat Ranira.

"Namamu Ranira Moseley?" tanya Evans, menuangkan sampanye ke dalam gelas kosong, lalu meneguknya hingga tandas.

Ranira mengerutkan kening.

Sejak kapan nama belakangnya berubah menjadi Moseley? Nama lengkapnya adalah Ranira Zanina. Moseley adalah nama belakang keluarga Mike.

Ah, sial. Tentu saja, di sini Ranira harus berpura-pura menjadi anak kandungnya Mike Moseley.

"Jawab pertanyaanku! Aku tahu kau tidak bisu," cetus Evans, melayangkan sorot tajam dan memerintah.

"Benar. Namaku Ranira Moseley," jawabnya dusta. Sambil menahan gugup dan berusaha menyembunyikan tangannya yang agak gemetar.

Evans mengangguk-anggukan kepala, lalu matanya memindai tubuh Ranira dari atas ke bawah. Decak sebal keluar dari mulut sang ketua mafia tersebut.

"Si bodoh itu tidak memberimu pakaian yang layak. Seharusnya dia memberimu pakaian yang lebih pantas untuk menghadapku." Evans memaki Mike setelah melihat tubuh Ranira hanya terbalut oleh baju terusan yang tak bermerek.

Ranira menundukan wajah, mengusap lengannya yang bulunya mulai meremang.

"Lepaskan semua pakaianmu! Aku ingin melihat bentuk tubuhmu," perintah Evans yang sontak membuat Ranira terkejut.

"Apa? Dasar gila! Seenaknya kau menyuruhku menanggalkan pakaian di depanmu. Aku tidak akan melakukan itu! Kau pikir kau siapa berani memintaku melakukan hal serendah itu?!" Ranira membentak keras sembari memundurkan langkahnya hingga punggungnya mentok ke tembok.

"Kau tanya siapa aku? Seharusnya ayahmu yang penghianat itu sudah memberitahumu tentang siapa aku. Baiklah. Jadi, kau tidak mau menanggalkan pakaianmu?" Evans merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya ke arah Ranira.

Ranira tercengang, menelan ludahnya susah payah. Namun, pertahannya tak akan runtuh.

"Sekalipun kau membunuhku, aku tidak mau menelanjangi diriku di depanmu!"

"Kau tahu, hanya kau saja wanita yang berani mengatakan itu pada seorang Evander. Apa kau tidak takut mati di tanganku?"

"Sama sekali tidak. Bahkan aku tidak takut jika kau menarik pelatuk pistolmu ke kepalaku," balas Ranira.

Raut wajah Evans berubah keruh. "Kau menantangku?"

Sambil merapatkan rahangnya, Evans berdiri dan masih menodongkan pistol itu ke kepala Ranira. Baru kali ini Evans bertemu wanita yang menolak perintahnya.

Meski berusaha berani, namun Ranira tak bisa menyembunyikan ketakutan yang terpancar melalui sorot matanya saat jemari Evans hampir saja menarik pelatuk itu.

"Satu ... dua ... ti—" Ranira langsung memejamkan mata dan berpasrah diri bila malam ini adalah akhir hidupnya.

"Ga!"

Ranira menahan napas, berpikir peluru itu akan menembus kepalanya dan menghancurkan otaknya.

Akan tetapi, tidak ada satu pun suara tembakan. Hal itu membuat mata Ranira kembali terbuka dan menatap Evans yang sedang menatapnya sambil menyunggingkan senyum smirk.

"Bertingkah sok berani, padahal kau sangat ketakutan. Karena kau menolak melakukan perintahku, maka jangan salahkan jika aku memaksamu," ucap Evans, melempar pistolnya ke sofa yang tadi ia duduki, kemudian melepas jas hitam yang ia kenakan dan melemparnya ke sembarang arah.

Ranira mengerutkan kening. Matanya melebar panik. Tiba-tiba saja Evans merenggut tangannya dan menariknya dengan kasar, kemudian menyudutkannya ke tembok, sembari mengungkung kedua tangan Ranira di sisi kepala wanita itu.

"L-lepaskan aku!"

"Permintaan yang sangat bodoh. Siapa pun wanita yang datang ke mansionku, tidak ada yang bisa keluar dari sini kecuali jika dia mati," bisik Evans sambil menyeringai.

Detak jantung Ranira memompa kuat. Antara takut dan panik.

"Lihatlah betapa tidak menariknya tubuhmu yang kurus ini. Sama sekali tidak menggiurkan. Bahkan, jika aku membawamu untuk dijual di tempat lelang, aku ragu para konglomerat itu mau membayarmu meski dengan harga yang murah," ejek Evans sambil berdesis di samping wajah Ranira.

Hembusan napas Evans yang hangat menerpa kulit wajah Ranira.

“ Ayahmu telah berhianat padaku dan memiliki hutang yang sangat banyak. Dia tak mampu menebusnya. Dia juga tidak ingin mati di tanganku. Lalu akhirnya, dia memilihmu sebagai penebus kesalahannya. Ayahmu itu sungguh ayah yang sangat baik, bukan?" Evans menyeringai lagi.

Dada Ranira bergerak naik turun seiring dengan napasnya yang tak beraturan karena suasana di dalam kamar itu semakin mencekam.

"Sekarang, kau harus tinggal di sini dan menebus kesalahan ayahmu," lanjut Evans, membuat tubuh Ranira semakin menegang.

"Tapi aku bukan an—" Ranira melepaskan cengkeraman tangan Evans dari rahangnya dan hendak bicara.

Namun Evans lebih dulu memotong ucapannya dan kembali mencengkeram rahang wanita itu.

"Bukan apa? Heum?”

Mulut Ranira terkatup rapat. Jika Evans tahu dia bukan anak kandung Mike Moseley, Mike pasti akan membahayakan nyawa ibunya.

"Tidak ada yang bisa menolongmu. Jadi menyerah saja padaku. Ayahmu sudah menyerahkanmu padaku. Aku bebas melakukan apa pun." Evans menunduk dan mencium bibir Ranira, namun dia menggeram marah saat bibirnya berdarah.  

“Aaarghh! Sial! Berani-beraninya kau menggigit bibirku!" mata Evans menatap tajam.

"Itu pantas didapatkan oleh lelaki berhati iblis sepertimu," balas Ranira dengan nada tinggi.

Geram, Evans tak bisa lagi menahan emosinya menghadapi si wanita pembangkang itu.

"Sepertinya kau lebih suka melakukannya dengan kasar. Oke, aku akan menunjukkan padamu bagaimana caranya bercinta dengan kasar," ucap Evans, mengusap darah di bibirnya dengan ibu jari, lalu bibirnya menyeringai pada Ranira.

Evans menarik Ranira ke dalam pelukannya dalam satu kali gerakan, hendak kembali menciumnya. Akan tetapi saat tangannya menangkup rahang wanita itu, mata Evans terpaku pada wajah Ranira yang terpejam.

Gadis itu mengkerut dalam pelukannya. Evans bisa merasakan hangat napasnya di kulit wajahnya. Dan wajah polos gadis ini … entah mengapa membuat Evans terdiam.

Di klannya, dia terkenal kejam dan tak kenal ampun. Tapi kali ini Evans justru membeku.  

“Betulkan lagi pakaianmu!” dengan wajah datar, Evans mendorong Ranira dari pelukannya kemudian menepuk-nepuk bagian depan kemejanya seolah takut ada debu tak kasat mata yang menempel di sana.   

Detik selanjutnya, Evans membalikan badan dan berlalu keluar kamar. Meninggalkan Ranira yang duduk lega dengan rasa heran.

"Evander Lukas! Lelaki kejam, lelaki iblis!" Ranira mengepalkan tangannya, meninju kasur dengan kasar, seolah berfantasi bahwa ia sedang meninju dada Evander.

Matanya menatap tajam pada daun pintu yang baru saja ditutup oleh Evans. Dan Ranira yakin, ia pun kembali dikunci di dalam kamar ini.

"Aku tidak boleh menangis di hadapan iblis itu. Dia pasti suka jika korbannya merasa tersiksa. Dia pikir aku takut padanya. Evans, aku tidak pernah bertemu lelaki sebejat dirimu," cetus Ranira penuh emosi.

***

Pagi hari, Ranira mengerjapkan mata, kemudian terbangun dari ranjangnya.

Rasa lapar diperutnya memaksanya untuk turun dari ranjang.

Kini tubuh Ranira sudah terbalut sebuah dress rumahan yang panjangnya mencapai lutut. Entah milik siapa dress itu. Ranira menemukannya di dalam lemari yang ada di kamar tersebut.

"Perutku lapar. Sejak kemarin siang, aku belum memakan apa pun," gumam Ranira memegangi perutnya sendiri.

Perlahan ia bangkit dari ranjang dan melangkah menuju pintu kamar. Tangannya mencoba memutar kenop, lalu ia tersenyum saat ternyata pintu kamarnya tak dikunci.

"Aku bisa kabur dari sini," seru Ranira pelan.

Sambil melangkah hati-hati, Ranira mencoba untuk melarikan diri menyusuri setiap ruangan di dalam mansion tersebut.

Namun, saking luasnya mansion itu, Ranira sampai tersesat di dalamnya dan bingung harus melewati pintu yang mana.

"Kalau sampai aku salah jalan dan malah bertemu Evander, aku bisa tamat di tangannya," gumam Ranira.

Baru saja kaki jenjang Ranira hendak kembali melangkah, tiba-tiba terdengar suara lembut milik seorang wanita yang memanggilnya dari belakang.

"Mau ke mana kau?"

Sontak tubuh Ranira menegang bersamaan dengan langkahnya yang terhenti.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   TAMAT - BAB 143

    Setelah melewati berbagai dilemma kehamilan yang membuat Jessica cukup puas. Akhirnya, saat yang mereka nanti-nanti akan tiba sebentar lagi.Di sini. Di dalam sebuah ruang bersalin yang cukup luas, dengan dibantu oleh dokter kandungan yang sengaja dipilih oleh James untuk menangani Jessica.Hari ini bayi mereka akan lahir ke dunia.Di atas-ranjang rumah sakit, Jessica sedang berjuang untuk mengeluarkan buah hati pertamanya lahir. Jessica terus mengejan mengikuti perintah dokter. “Tahan. Tarik napas perlahan, lalu mengejan.”Jessica berulangkali meremas tangan James dengan sangat kencang. Hingga James ikut merasakan sakit akibat kuku-kuku istrinya yang tak begitu panjang namun terasa menusuk.“Semangat, sayang. Kau pasti bisa. Ada aku di sampingmu,” James menatap wajah meringis Jessica dengan keringat yang bercucuran.Meski merasa panik karena tak tega melihat Jessica kesakitan. Tapi James harus berusaha bersikap tenang. Agar Jessica juga ikut tenang karenanya.“Ayo! Pintar. Cob

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 142

    Jessica terenyuh. Ia membekap mulutnya sendiri melihat betapa romantisnya James. Lalu Jessica meraih kalung indah yang menggantung indah di hadapannya kemudian menatapnya dengan takjub.“Kau suka?” tanya James.Jessica mengangguk. “Sangat suka. Terimakasih, James.”“Sama-sama, sayang.”James tersenyum senang. Begitu Jessica menghambur memeluknya. James langsung membalas dekapan hangat istrinya itu dengan tangan terbuka.Sungguh. Jessica bentuk anugerah terindah yang Tuhan berikan untuknya.Tak berselang lama, Jessica kembali mengurai dekapan mereka. Ia beralih menatap James dengan sebuah senyum manis yang tersumir di bibirnya.“Sebenarnya, aku juga memiliki sebuah kejutan anniversary untukmu.”James menaikan sebelah alisnya. “Benarkah? Apa itu?”Jessica tak langsung menjawab. Tapi ia membuka tas selempang yang ia kenakan. Lantas mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.Kening James berkerut dalam saat ternyata Jessica mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyodorkannya pada James.“Apa in

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 141

    “Aku memang sudah gila sejak dulu. Kau baru tahu, ya? Ayo! Kita pelorotkan celanamu di sana!” Alden bergerak menarik tangan James. Hingga membuat James terkejut dan mencoba menggapai tangan Jessica.Tapi sayangnya, Jessica malah terkekeh dan tak berniat menolong James dari aksi Alden yang tak berprikemanusiaan!“Jessica! Tolong aku! Jangan biarkan cecunguk got ini menjatuhkan harga diri suamimu, sayang. Bilang padanya agar dia berhenti menarik tanganku!” James sedikit berteriak pada Jessica saat Alden menariknya mulai menjauh.Tapi balasan yang diberikan Jessica sungguh diluar dugaan.“Tidak apa. Bawa saja, Alden. Biar suamiku itu kapok dan tidak lagi mau mengumbar janji. Aku bahkan rela kalau para tamu undangan harus melihat isi celananya,” teriak Jessica lalu tergelak.James yang terus diseret oleh Alden melongo ucapan Jessica. Lantas ia merutuk dengan kesal.“Istri dan teman memang sama gilanya!”Dan hari itu..Semua tamu undangan yang hadir menjadi saksi mata bagaimana James hanya

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 140

    Hari ini..James dan Jessica mengunjungi pemakaman tempat Cinta-nya beristirahat dalam damai.Dengan sebuah buket mawar putih yang Jessica bawa. Langkah mereka terhenti di samping pusara buah hatinya.Jessica mengukir seulas senyum manis lalu ia meluruhkan tubuhnya hingga sejajar dengan nisan Cinta.“Jadi.. selama ini kau orangnya?” Jessica melirik kearah James. “Yang selalu menaruh sebuket mawar putih di makam Cinta? Mengapa aku tidak pernah menyadarinya selama ini? Aku just ru berpikir Aldenlah yang melakukan itu.”James tersenyum, lalu ia mengangguk. “Nyaris setiap hari aku ke sini. Meski hanya sekadar untuk menyapa anak kita. Aku sengaja membawakannya mawar putih sebab aku tahu kalau kau sangat menyukainya.”Jessica ikut menoleh pada nisan anaknya. Kalau saja Cinta masih hidup. Mungkin usianya sudah lebih dari dua tahun saat ini.Tapi Tuhan terlalu menyayangi Cintanya. Hingga ia harus berpisah bahkan sebelum Jessica pernah memberikan asi-pertama untuk anaknya itu.“Cinta. Buah hat

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 139

    Di pinggir jalanan yang lengang. James melangkah gontai seakan ia adalah seonggok raga yang tak memiliki jiwa. Pikirannya masih berkabut tentang bayangan senyum bahagia yang mungkin terpatri di bibir manis Jessica setelah gadis itu resmi menjadi Nyonya ferdinan.James mengerjap. Ia menghembuskan napas kasarnya yang terasa begitu berat. “Akhirnya kalian resmi menikah. Aku bahagia, Jessica. Aku bahagia untuk pernikahan kalian,” gumam James yang masih berjalan seraya menatapi jalanan kota jakarta yang selengang hatinya kini.Rencananya, setelah dari sini James memang akan pergi ke Amerika. Dan hal itu sudah ia ungkapkan pada Arya. Tapi sepertinya Arya tak bisa tutup mulut. Hingga lelaki itu memberitahukannya pada Alden.Sekarang James sedang melangkah menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari gereja tempat Jessica menikah. Sebab, di pelataran gereja itu sendiri sudah dipenuhi oleh mobil para jemaat yang menghadiri dan mobil khusus pengantin. Hingga mobil James tak muat untuk ikut

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 138

    Ranira dan Harish juga Elijah juga tak kalah bingungnya. Mereka menggigit bibir melihat kekacauan yang sedang Alden ciptakan.Pendeta itu mengangguk. “Dia adalah Jessica calon istriku dan aku ingin menikahinya. Tapi karena pernikahan itu tak bisa dipaksakan, maka aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku memutuskan untuk membatalkannya.”Jessica terhenyak. Ia menyentuh lengan Alden agar menatapnya.“Apa yang sedang kau lakukan ini, Alden? Mengapa berkata seperti itu?”“Jessica. Aku mohon. Jangan lanjutkan sandiwara ini. Jangan membuatku semakin berharap. Aku tahu nama siapa yang tersemat di dalam hatimu bahkan saat kakimu pertama kali menginjak altar ini. Kau akan menikah denganku, tapi nama orang lain yang kau pikirkan.”“Alden..”“Sekarang aku juga mau bertanya padamu. Katakan dengan sangat jujur. Saat ini kita ada di dalam gereja, Jessica. Dan aku berharap kau tidak akan berbohong,” kata Alden lalu menyentuh puncak kepala Jessica dengan telapak tangannya. “Jessica fatima suri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status