Masuk
"Sesuai janjiku, aku datang ke sini untuk menyerahkan putriku pada Tuan Evans," ujar Mike pada dua anggota mafia di depannya.
Ranira yang mendengar itu, sontak mengangkat wajah dan menoleh pada Mike dengan mata yang membelalak terkejut.
Pasalnya sebelum ke sini, Mike mengatakan padanya dia akan mendaftarkan Ranira di kampus tempat Cristie kuliah.
Tentu saja Ranira begitu bersemangat. Sejak dulu dia ingin kuliah, tapi dia harus mengubur impiannya karena keterbatasan biaya. Dia dan ibunya hanya bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Mike Moseley.
Tapi kini, Mike mengingkari ucapannya. Bukannya membawa Ranira ke kampus seperti yang dijanjikannya, Mike justru membawanya ke sebuah mansion mewah yang catnya didominasi warna hitam.
Entah tempat apa itu. Tapi Ranira merasa ngeri melihat dua pria berperawakan tinggi besar dengan tato naga di lengan, yang memasang wajah sangar di depannya.
"Baik. Tuan Evans sedang pergi ke luar. Mungkin dia akan pulang nanti malam. Kami akan menyampaikan kabar ini padanya," ucap salah satu dari mereka.
Ranira mengerutkan dahi. "Tunggu, ada apa ini? Apa maksud dari perkataan kalian?" tanya Ranira.
Tiba-tiba tangan Ranira ditarik masuk ke dalam mansion tersebut oleh dua bawahan Evans. Diam-diam Mike menyunggingkan senyum miring sembari membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Mike berbalik dan hendak pergi. Namun terhenti saat mendengar teriakan Ranira.
"Lepaskan aku! Kalian tidak bisa menarikku masuk! Aku mau pulang!"
"Aargghh! Gadis sialan," umpat salah seorang bawahan Evans setelah Ranira menggigit tangannya, lalu berlari menghampiri Mike yang baru saja turun dari teras.
"Tuan Mike, apa maksud Anda? Bukannya Anda bilang akan membawaku untuk daftar kuliah di kampusnya Cristie?"
"Ssstt ..." Mike membekap mulut Ranira dengan telapak tangannya.
Dua orang bawahan Evans keluar dan hendak menyusul Ranira. Namun Mike memberi isyarat agar mereka memberikan waktu sesaat.
"Aku ingin berbicara sebentar dengan putriku sebelum meninggalkannya," pinta Mike. Kedua bawahan Evans pun mengangguk dan memundurkan langkah.
"Jangan sebut nama Cristie di rumah ini," tekan Mike sambil mencengkeram ketat lengan kiri Ranira. Membuat gadis belia berbulu mata lentik itu meringis pelan.
Tentu saja Mike tidak mau Evans curiga jika Ranira menyebut-nyebut nama putri kandungnya.
"Tapi kenapa Anda mengakuiku sebagai putri Anda? Anda akan meninggalkanku di rumah besar ini? Apa yang sedang Anda rencanakan, Tuan Mike?"
Senyum seringai terlukis di wajah Mike. Lelaki yang telah menginjak usia kepala lima itu makin mengetatkan cengkeramannya di tangan Ranira.
"Aku adalah anggota dari organisasi mafia yang dipimpin oleh Evander. Semua kekayaanku yang berlimpah bukan hasil dari pekerjaanku sebagai pejabat. Tapi aku diutus sebagai tikus yang menyelinap ke dalam dunia politik untuk menggerogoti banyak uang dari sana."
Ranira memasang wajah terkejut. Matanya melebar, menatap serius pada Mike yang baru saja memberitahu bahwa ia adalah anggota mafia.
Padahal selama ini Ranira berpikir kekayaan Mike murni dari hasilnya mengabdi sebagai pejabat negara.
"Sayangnya, obsesiku untuk menjadi orang terkaya di negeri ini membuatku mencoba berhianat dengan mengambil keuntungan dari organisasi mafia lain. Sekarang, Evans sudah menendangku dari organisasi karena penghianatanku terbongkar. Harusnya aku dibunuh oleh Evans sebagai hukuman atas penghianatanku. Tapi, untungnya Evans memberiku sebuah penawaran yang membuatku terbebas dari jerat hukuman. Kau mau tahu apa penawaran itu?" Mike menyeringai lagi.
Membuat kedua alis Ranira saling bertautan.
"Apa?"
"Tawarannya adalah aku bisa bebas asalkan aku harus menyerahkan putriku padanya. Kau tahu sendiri bagaimana aku sangat menyayangi putri kandungku, Cristie. Maka dari itu, aku sengaja memilih menyerahkanmu saja. Di sini, kau harus mengaku sebagai putri kandungku. Jangan sampai Evans tahu kalau kau hanya anak pembantuku. Jika sampai rahasia ini terbongkar, maka nyawa ibumu menjadi taruhannya," cetus Mike tanpa perasaan.
Lelaki setengah baya itu menghempaskan kasar lengan Ranira. Sambil memegangi lengannya yang terasa sakit, Ranira menatap Mike dengan sorot benci.
"Dasar berengsek! Jangan berani menyakiti ibuku!"
"Tenang saja, Ranira. Hal itu tidak akan terjadi selama kau tetap menjaga rahasia. Sampai kudengar kau membocorkan pada Evander tentang siapa dirimu sebenarnya, maka aku jamin saat kau pulang ke rumahku nanti, kau akan melihat mayat ibumu." Ancaman Mike membuat hati Ranira mencelos.
Ranira menyesal. Mengapa ia harus termakan oleh jebakan Mike yang mengiming-iminginya daftar kuliah? Sekarang, Riana terjebak di dalam sarang mafia.
Setelahnya, Mike berpura-pura memasang wajah sedih dan memberi instruksi pada dua orang bawahan Evander.
"Aku sudah selesai bicara dengan putriku," ucap Mike, mengusap air mata palsunya.
Ranira masih tercenung dan melamun. Ia masih syok dengan kenyataan yang menimpanya.
"Sayang, Papa pulang. Maafkan Papa." Mike mengusap rambut Ranira, kemudian melangkah pergi menuju mobilnya.
Ranira langsung ditarik masuk oleh dua bawahan Evans. Mata Ranira sempat menoleh ke arah Mike yang menyunggingkan senyum puas sebelum masuk ke mobilnya.
Sementara Ranira terus digiring masuk menuju lantai atas, lantas diantar ke sebuah kamar yang luas dan lengkap dengan berbagai furniture mewah di dalamnya.
Ada sebuah ranjang berbentuk round bed berbalut sprei warna merah darah di tengah-tengah kamar.
"Tetaplah di sini sampai Tuan Evans pulang," ucap mereka, sebelum akhirnya menutup rapat daun pintu dan mengunci Ranira dari luar.
"Mama," desah Ranira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa yang akan dikatakan si brengsek Mike pada ibuku setelah dia melemparku ke dalam sarang mafia? Mungkin dia akan membuat cerita bohong. Sial! Kupikir dia orang yang baik, tapi ternyata dia sangat licik. Bisa-bisanya dia menyerahkanku ke tempat ini. Seharusnya Cristie yang berada di sini, sekarang."
"Aku tidak akan memaafkan lelaki tua itu jika sampai dia berani menyakiti ibuku," lanjut Ranira penuh emosi.
Dengan mata yang basah dan memerah, Ranira memendarkan pandangan ke sekeliling. Hanya ada beberapa lukisan berlatar hitam dan abu. Tidak ada satu pun foto sosok Evander yang katanya sang ketua mafia itu.
“Apa yang akan dia lakukan padaku jika dia pulang nanti?" gumam Ranira, bertanya dengan perasaan cemas yang menyergap hatinya.
***
Malam hari, ketika Ranira merasa kelopak matanya berat dan hampir saja jatuh tertidur di atas ranjangnya, tiba-tiba ia terkejut mendengar suara gemerincing kunci dari luar kamar.
"Siapa itu?" panik Ranira, segera mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya terus tertuju pada daun pintu yang ini berayun terbuka.
Ranira mengerutkan kening saat ia hanya melihat seorang bawahan Evans yang berdiri di ambang pintu.
"Tuan Evans sudah datang," beritahunya pada Ranira.
Apa? Ketua mafia yang bengis itu telah datang?
Ranira segera bangkit dari ranjangnya dan berdiri dengan wajah tegang. Selanjutnya, melangkah masuk seorang lelaki barparas tampan, berambut hitam kecokelatan, serta tubuhnya yang tinggi menjulang.
Mulanya, Ranira sempat terkesiap melihat lelaki yang kini berdiri di dekat pintu. Hati kecilnya mengakui ketampanan dari sosok lelaki karismatik tersebut.
"Apakah dia sang ketua mafia yang dimaksud oleh Tuan Mike?" tanya Ranira dalam batinnya.
Setelah melewati berbagai dilemma kehamilan yang membuat Jessica cukup puas. Akhirnya, saat yang mereka nanti-nanti akan tiba sebentar lagi.Di sini. Di dalam sebuah ruang bersalin yang cukup luas, dengan dibantu oleh dokter kandungan yang sengaja dipilih oleh James untuk menangani Jessica.Hari ini bayi mereka akan lahir ke dunia.Di atas-ranjang rumah sakit, Jessica sedang berjuang untuk mengeluarkan buah hati pertamanya lahir. Jessica terus mengejan mengikuti perintah dokter. “Tahan. Tarik napas perlahan, lalu mengejan.”Jessica berulangkali meremas tangan James dengan sangat kencang. Hingga James ikut merasakan sakit akibat kuku-kuku istrinya yang tak begitu panjang namun terasa menusuk.“Semangat, sayang. Kau pasti bisa. Ada aku di sampingmu,” James menatap wajah meringis Jessica dengan keringat yang bercucuran.Meski merasa panik karena tak tega melihat Jessica kesakitan. Tapi James harus berusaha bersikap tenang. Agar Jessica juga ikut tenang karenanya.“Ayo! Pintar. Cob
Jessica terenyuh. Ia membekap mulutnya sendiri melihat betapa romantisnya James. Lalu Jessica meraih kalung indah yang menggantung indah di hadapannya kemudian menatapnya dengan takjub.“Kau suka?” tanya James.Jessica mengangguk. “Sangat suka. Terimakasih, James.”“Sama-sama, sayang.”James tersenyum senang. Begitu Jessica menghambur memeluknya. James langsung membalas dekapan hangat istrinya itu dengan tangan terbuka.Sungguh. Jessica bentuk anugerah terindah yang Tuhan berikan untuknya.Tak berselang lama, Jessica kembali mengurai dekapan mereka. Ia beralih menatap James dengan sebuah senyum manis yang tersumir di bibirnya.“Sebenarnya, aku juga memiliki sebuah kejutan anniversary untukmu.”James menaikan sebelah alisnya. “Benarkah? Apa itu?”Jessica tak langsung menjawab. Tapi ia membuka tas selempang yang ia kenakan. Lantas mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.Kening James berkerut dalam saat ternyata Jessica mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyodorkannya pada James.“Apa in
“Aku memang sudah gila sejak dulu. Kau baru tahu, ya? Ayo! Kita pelorotkan celanamu di sana!” Alden bergerak menarik tangan James. Hingga membuat James terkejut dan mencoba menggapai tangan Jessica.Tapi sayangnya, Jessica malah terkekeh dan tak berniat menolong James dari aksi Alden yang tak berprikemanusiaan!“Jessica! Tolong aku! Jangan biarkan cecunguk got ini menjatuhkan harga diri suamimu, sayang. Bilang padanya agar dia berhenti menarik tanganku!” James sedikit berteriak pada Jessica saat Alden menariknya mulai menjauh.Tapi balasan yang diberikan Jessica sungguh diluar dugaan.“Tidak apa. Bawa saja, Alden. Biar suamiku itu kapok dan tidak lagi mau mengumbar janji. Aku bahkan rela kalau para tamu undangan harus melihat isi celananya,” teriak Jessica lalu tergelak.James yang terus diseret oleh Alden melongo ucapan Jessica. Lantas ia merutuk dengan kesal.“Istri dan teman memang sama gilanya!”Dan hari itu..Semua tamu undangan yang hadir menjadi saksi mata bagaimana James hanya
Hari ini..James dan Jessica mengunjungi pemakaman tempat Cinta-nya beristirahat dalam damai.Dengan sebuah buket mawar putih yang Jessica bawa. Langkah mereka terhenti di samping pusara buah hatinya.Jessica mengukir seulas senyum manis lalu ia meluruhkan tubuhnya hingga sejajar dengan nisan Cinta.“Jadi.. selama ini kau orangnya?” Jessica melirik kearah James. “Yang selalu menaruh sebuket mawar putih di makam Cinta? Mengapa aku tidak pernah menyadarinya selama ini? Aku just ru berpikir Aldenlah yang melakukan itu.”James tersenyum, lalu ia mengangguk. “Nyaris setiap hari aku ke sini. Meski hanya sekadar untuk menyapa anak kita. Aku sengaja membawakannya mawar putih sebab aku tahu kalau kau sangat menyukainya.”Jessica ikut menoleh pada nisan anaknya. Kalau saja Cinta masih hidup. Mungkin usianya sudah lebih dari dua tahun saat ini.Tapi Tuhan terlalu menyayangi Cintanya. Hingga ia harus berpisah bahkan sebelum Jessica pernah memberikan asi-pertama untuk anaknya itu.“Cinta. Buah hat
Di pinggir jalanan yang lengang. James melangkah gontai seakan ia adalah seonggok raga yang tak memiliki jiwa. Pikirannya masih berkabut tentang bayangan senyum bahagia yang mungkin terpatri di bibir manis Jessica setelah gadis itu resmi menjadi Nyonya ferdinan.James mengerjap. Ia menghembuskan napas kasarnya yang terasa begitu berat. “Akhirnya kalian resmi menikah. Aku bahagia, Jessica. Aku bahagia untuk pernikahan kalian,” gumam James yang masih berjalan seraya menatapi jalanan kota jakarta yang selengang hatinya kini.Rencananya, setelah dari sini James memang akan pergi ke Amerika. Dan hal itu sudah ia ungkapkan pada Arya. Tapi sepertinya Arya tak bisa tutup mulut. Hingga lelaki itu memberitahukannya pada Alden.Sekarang James sedang melangkah menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari gereja tempat Jessica menikah. Sebab, di pelataran gereja itu sendiri sudah dipenuhi oleh mobil para jemaat yang menghadiri dan mobil khusus pengantin. Hingga mobil James tak muat untuk ikut
Ranira dan Harish juga Elijah juga tak kalah bingungnya. Mereka menggigit bibir melihat kekacauan yang sedang Alden ciptakan.Pendeta itu mengangguk. “Dia adalah Jessica calon istriku dan aku ingin menikahinya. Tapi karena pernikahan itu tak bisa dipaksakan, maka aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku memutuskan untuk membatalkannya.”Jessica terhenyak. Ia menyentuh lengan Alden agar menatapnya.“Apa yang sedang kau lakukan ini, Alden? Mengapa berkata seperti itu?”“Jessica. Aku mohon. Jangan lanjutkan sandiwara ini. Jangan membuatku semakin berharap. Aku tahu nama siapa yang tersemat di dalam hatimu bahkan saat kakimu pertama kali menginjak altar ini. Kau akan menikah denganku, tapi nama orang lain yang kau pikirkan.”“Alden..”“Sekarang aku juga mau bertanya padamu. Katakan dengan sangat jujur. Saat ini kita ada di dalam gereja, Jessica. Dan aku berharap kau tidak akan berbohong,” kata Alden lalu menyentuh puncak kepala Jessica dengan telapak tangannya. “Jessica fatima suri







