Share

BAB 4

Author: Syifa Safaah
last update publish date: 2026-01-09 13:12:45

Sofia terkejut membekap mulutnya dengan telapak tangan kanan. Tak percaya jika ada wanita yang berani meludahi wajah seorang Evander Lukas.

"Aku lebih baik mati daripada berterima kasih pada iblis sepertimu," balas Ranira tegas.

"Tuan Evans." Sofia berdiri dan memberikan beberapa lembar tissue pada Evans. Tangan Evans menerimanya, lalu ia menegakan tubuh dan membersihkan wajahnya yang terkena ludah Ranira.

Evans membuka matanya yang tajam. Kini mata setajam elang itu mengarah pada mata Ranira selayaknya anak panah yang bersiap melesat ke tujuan.

Dengan rahang yang mengetat, kedua tangan Evans mengepal kuat. Giginya mengeletuk seiring dengan emosi yang makin meningkat kala melihat wajah angkuh Ranira.

"Jangan berikan dia makanan sampai besok! Kurung dia di kamar!" perintah Evans dengan nada tinggi sambil mengarahkan telunjuk kanannya pada Ranira yang terkejut.

"Baik Tuan." Para pelayan yang ada di sana mengangguk patuh.

Evans mendengus kesal dan sempat melemparkan tatapan membunuhnya pada Ranira, kemudian lelaki itu berbalik dan pergi dengan langkah yang cepat. Meninggalkan ruang makan itu yang kini suasananya terasa mencekam.

Bibir Sofia tersenyum puas. Kedua tangannya melipat di depan dada.

"Sudah kuperingatkan, jangan main-main dengan Evander. Turunkan sifat angkuhmu itu. Jika tidak, mungkin Evans tidak akan berpikir dua kali untuk membunuhmu," kata Sofia dengan senyum yang tetap terpatri di bibirnya.

"Semoga kau tetap hidup sampai besok." Sofia melambaikan tangan, lantas ikut beranjak dari sana.

Tersisa Ranira sendirian yang menelan salivanya susah payah.

Tiba-tiba, dua bawahan Evans datang dan langsung memegangi kedua tangan Ranira. Membuat Ranira sontak menjerit kaget dan protes.

"Hei! Lepaskan! Kalian akan membawaku ke mana?"

"Tuan Evans meminta kami kembali mengurungmu di kamar," jawab mereka sambil terus menarik paksa Ranira.

Ternyata, Evander Lukas memang tak pernah main-main dengan kata-katanya.

Setelah dikurung selama seharian, Ranira merasa lega karena akhirnya ia mendapat makanan. Seorang pelayan bernama Enny yang mengantarkan senampan makanan itu padanya.

"Tuan Evans menyuruhmu menghabiskan makanan ini." Pelayan itu berkata dengan wajah datar.

Ranira mengerti. Mungkin dirinya dianggap sebagai seorang wanita rendahan yang menjadi tawanan di mansion ini. Tentu Ranira tak perlu berharap siapa pun akan bersikap baik padanya.

"Baik. Akan kuhabiskan." Ya, karena Ranira merasa perutnya sangat lapar.

Tanpa bicara apa pun lagi, Enny pun berlalu pergi meninggalka kamar Ranira. Membiarkan Ranira melahap makanannya hingga habis tak bersisa.

"Semoga saja iblis itu tak menaruh racun di makanan ini," gumam Ranira dengan mulut penuh makanan.

Begitu makanan di nampannya habis, Ranira meneguk air putih sampai gelasnya kosong, kemudian lanjut terduduk memeluk lututnya sendiri di atas ranjang.

"Mama," desah Ranira. Matanya memanas mengingat ibunya.

Kebencian masih mendalam di dalam hati Ranira mengingat kebejatan Mike yang mengirimkannya ke mansion mewah ini. Ranira merasa terkurung di sebuah neraka yang tak terdapat pintu untuk keluar dari dalamnya.

***

"Apa gadis itu menghabiskan makananya?" sambil memegangi salah satu koleksi pistolnya, Evans bertanya pada Enny yang tak sengaja melewati dirinya.

Enny berhenti sejenak, menunduk di hadapan sang tuan tampan.

"Sepertinya begitu, Tuan. Saya sudah menyuruhnya menghabiskan semua makanannya."

"Bagus. Sekarang kau boleh pergi," kata Evans pada pelayan berambut kemerahan itu.

Enny mengangguk cepat, lantas beranjak pergi meninggalkan Evans.

Kini sebelah sudut bibir Evans tertarik, membentuk senyum miring. Ditaruhnya pistol itu di dinding berjejer dengan pistol yang lainnya.

Benak Evans seperti sedang memikirkan sesuatu. Siapa lagi kalau bukan Ranira.

"Dia berani meludahi wajahku. Rasanya aku cukup puas memberinya pelajaran dengan membuat perutnya kosong seharian. Aku yakin saat ini dia pasti sedang makan seperti orang kelaparan." Senyum Evans semakin lebar.

Tak lama setelahnya, Sofia datang menghampiri Evans dengan ragu. Takut jika mood lelaki itu sedang buruk. Tapi Sofia tetap memaksakan diri sebab ia selalu senang mencuri perhatian Evans.

"Tuan Evans, sekarang sudah malam. Apa malam ini Anda akan datang ke kamarku?" suara Sofia terdengar begitu lembut saat bertanya.

Evans menoleh, membuat dirinya berhadapan dengan sang wanita cantik bertubuh seksi tersebut.

Pipi Sofia bersemu ketika menyadari bola mata Evans menatapnya dalam.

Namun jawaban yang selanjutnya keluar dari mulut Evans justru membuat senyum Sofia padam.

"Tidak."

Jawaban yang singkat, namun sukses meremukan hati Sofia.

Mata wanita cantik itu tercenung ketika Evans berlalu pergi melewati tubuhnya begitu saja.

Kini langkah Evans bergerak menuju ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dimana kamar Ranira berada.

"Apa yang sedang dilakukan wanita bodoh itu sekarang," gumamnya sambil membenamkan tangan ke dalam saku celana.

Lift pun berhenti, lantas pintunya berdenting terbuka.

Tubuh jangkung Evans melangkah lebar menuju pintu kamar Ranira. Tanpa perlu mengetuknya, Evans langsung membukanya begitu saja.

Jelas saja kedatangan Evans yang tiba-tiba membuat Ranira yang sedang meringkuk di atas ranjang, terkejut setengah mati dan menatap waspada.

"Kau? Mau apa lagi kau datang ke sini?" sentak Ranira panik.

"Apa kau tak bisa bicara lebih sopan padaku?" Evans melangkah tenang. Berdiri di depan ranjang.

"Untuk apa bersikap sopan pada lelaki yang tidak tahu caranya menghargai wanita?"

Evans tertawa pelan, merasa lucu dengan perkataan Ranira.

"Selama hidupku, hanya kau saja wanita paling keras kepala yang pernah kutemui," kata Evans, kedua tangannya bersilang dada.

"Dan kau juga lelaki paling kejam yang pernah kulihat!" sentak Ranira lagi.

Evans mengerutkan kening. Tak pernah ada yang berani berbicara keras kepadanya, bahkan meskipun anggota mafia sekali pun.

Semua orang selalu bersikap segan dan hormat pada Evans. Namun kali ini Evans mendapat perlakuan yang berbeda dari seorang wanita sederhana seperti Ranira.

"Turunkan nada bicaramu, atau kau akan kubuat tidak bisa bicara lagi," ancam Evans.

Mata Ranira terbelalak kaget. Ranira tahu, ancaman lelaki itu selalu serius.

Akhirnya Ranira bungkam sambil menelan salivanya dengan susah payah.

"Keluar dari kamarku! Aku ingin sendirian." Ranira mengalihkan pandangan sembari memeluk lututnya sendiri.

Mata Evans memicing. "Siapa kau berani mengusirku? Ini bukan kamarmu! Ini adalah mansionku. Nona Ranira Moseley, saat ini kau sedang berada di dalam mansionku jika kau lupa," sindir Evans.

Ranira mendelik kesal. "Aku tahu. Tapi kedatanganmu membuatku sesak. Aku butuh ruang. Seharian kau membuat perutku kelaparan. Aku baru saja makan dengan perut yang perih. Tolong keluarlah dan berikan aku waktu sejenak untuk mencerna makananku."

Jantung Ranira berdegup resah saat Evans ternyata tak menuruti permintaannya sama sekali. Lelaki itu justru tetap berdiri tegap di tempatnya seraya berkacak pinggang.

"Kau tahu, tidak boleh ada orang yang berani memerintahku!" kata Evans sembari melangkah tenang menghampiri Ranira.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   TAMAT - BAB 143

    Setelah melewati berbagai dilemma kehamilan yang membuat Jessica cukup puas. Akhirnya, saat yang mereka nanti-nanti akan tiba sebentar lagi.Di sini. Di dalam sebuah ruang bersalin yang cukup luas, dengan dibantu oleh dokter kandungan yang sengaja dipilih oleh James untuk menangani Jessica.Hari ini bayi mereka akan lahir ke dunia.Di atas-ranjang rumah sakit, Jessica sedang berjuang untuk mengeluarkan buah hati pertamanya lahir. Jessica terus mengejan mengikuti perintah dokter. “Tahan. Tarik napas perlahan, lalu mengejan.”Jessica berulangkali meremas tangan James dengan sangat kencang. Hingga James ikut merasakan sakit akibat kuku-kuku istrinya yang tak begitu panjang namun terasa menusuk.“Semangat, sayang. Kau pasti bisa. Ada aku di sampingmu,” James menatap wajah meringis Jessica dengan keringat yang bercucuran.Meski merasa panik karena tak tega melihat Jessica kesakitan. Tapi James harus berusaha bersikap tenang. Agar Jessica juga ikut tenang karenanya.“Ayo! Pintar. Cob

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 142

    Jessica terenyuh. Ia membekap mulutnya sendiri melihat betapa romantisnya James. Lalu Jessica meraih kalung indah yang menggantung indah di hadapannya kemudian menatapnya dengan takjub.“Kau suka?” tanya James.Jessica mengangguk. “Sangat suka. Terimakasih, James.”“Sama-sama, sayang.”James tersenyum senang. Begitu Jessica menghambur memeluknya. James langsung membalas dekapan hangat istrinya itu dengan tangan terbuka.Sungguh. Jessica bentuk anugerah terindah yang Tuhan berikan untuknya.Tak berselang lama, Jessica kembali mengurai dekapan mereka. Ia beralih menatap James dengan sebuah senyum manis yang tersumir di bibirnya.“Sebenarnya, aku juga memiliki sebuah kejutan anniversary untukmu.”James menaikan sebelah alisnya. “Benarkah? Apa itu?”Jessica tak langsung menjawab. Tapi ia membuka tas selempang yang ia kenakan. Lantas mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.Kening James berkerut dalam saat ternyata Jessica mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyodorkannya pada James.“Apa in

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 141

    “Aku memang sudah gila sejak dulu. Kau baru tahu, ya? Ayo! Kita pelorotkan celanamu di sana!” Alden bergerak menarik tangan James. Hingga membuat James terkejut dan mencoba menggapai tangan Jessica.Tapi sayangnya, Jessica malah terkekeh dan tak berniat menolong James dari aksi Alden yang tak berprikemanusiaan!“Jessica! Tolong aku! Jangan biarkan cecunguk got ini menjatuhkan harga diri suamimu, sayang. Bilang padanya agar dia berhenti menarik tanganku!” James sedikit berteriak pada Jessica saat Alden menariknya mulai menjauh.Tapi balasan yang diberikan Jessica sungguh diluar dugaan.“Tidak apa. Bawa saja, Alden. Biar suamiku itu kapok dan tidak lagi mau mengumbar janji. Aku bahkan rela kalau para tamu undangan harus melihat isi celananya,” teriak Jessica lalu tergelak.James yang terus diseret oleh Alden melongo ucapan Jessica. Lantas ia merutuk dengan kesal.“Istri dan teman memang sama gilanya!”Dan hari itu..Semua tamu undangan yang hadir menjadi saksi mata bagaimana James hanya

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 140

    Hari ini..James dan Jessica mengunjungi pemakaman tempat Cinta-nya beristirahat dalam damai.Dengan sebuah buket mawar putih yang Jessica bawa. Langkah mereka terhenti di samping pusara buah hatinya.Jessica mengukir seulas senyum manis lalu ia meluruhkan tubuhnya hingga sejajar dengan nisan Cinta.“Jadi.. selama ini kau orangnya?” Jessica melirik kearah James. “Yang selalu menaruh sebuket mawar putih di makam Cinta? Mengapa aku tidak pernah menyadarinya selama ini? Aku just ru berpikir Aldenlah yang melakukan itu.”James tersenyum, lalu ia mengangguk. “Nyaris setiap hari aku ke sini. Meski hanya sekadar untuk menyapa anak kita. Aku sengaja membawakannya mawar putih sebab aku tahu kalau kau sangat menyukainya.”Jessica ikut menoleh pada nisan anaknya. Kalau saja Cinta masih hidup. Mungkin usianya sudah lebih dari dua tahun saat ini.Tapi Tuhan terlalu menyayangi Cintanya. Hingga ia harus berpisah bahkan sebelum Jessica pernah memberikan asi-pertama untuk anaknya itu.“Cinta. Buah hat

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 139

    Di pinggir jalanan yang lengang. James melangkah gontai seakan ia adalah seonggok raga yang tak memiliki jiwa. Pikirannya masih berkabut tentang bayangan senyum bahagia yang mungkin terpatri di bibir manis Jessica setelah gadis itu resmi menjadi Nyonya ferdinan.James mengerjap. Ia menghembuskan napas kasarnya yang terasa begitu berat. “Akhirnya kalian resmi menikah. Aku bahagia, Jessica. Aku bahagia untuk pernikahan kalian,” gumam James yang masih berjalan seraya menatapi jalanan kota jakarta yang selengang hatinya kini.Rencananya, setelah dari sini James memang akan pergi ke Amerika. Dan hal itu sudah ia ungkapkan pada Arya. Tapi sepertinya Arya tak bisa tutup mulut. Hingga lelaki itu memberitahukannya pada Alden.Sekarang James sedang melangkah menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari gereja tempat Jessica menikah. Sebab, di pelataran gereja itu sendiri sudah dipenuhi oleh mobil para jemaat yang menghadiri dan mobil khusus pengantin. Hingga mobil James tak muat untuk ikut

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 138

    Ranira dan Harish juga Elijah juga tak kalah bingungnya. Mereka menggigit bibir melihat kekacauan yang sedang Alden ciptakan.Pendeta itu mengangguk. “Dia adalah Jessica calon istriku dan aku ingin menikahinya. Tapi karena pernikahan itu tak bisa dipaksakan, maka aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku memutuskan untuk membatalkannya.”Jessica terhenyak. Ia menyentuh lengan Alden agar menatapnya.“Apa yang sedang kau lakukan ini, Alden? Mengapa berkata seperti itu?”“Jessica. Aku mohon. Jangan lanjutkan sandiwara ini. Jangan membuatku semakin berharap. Aku tahu nama siapa yang tersemat di dalam hatimu bahkan saat kakimu pertama kali menginjak altar ini. Kau akan menikah denganku, tapi nama orang lain yang kau pikirkan.”“Alden..”“Sekarang aku juga mau bertanya padamu. Katakan dengan sangat jujur. Saat ini kita ada di dalam gereja, Jessica. Dan aku berharap kau tidak akan berbohong,” kata Alden lalu menyentuh puncak kepala Jessica dengan telapak tangannya. “Jessica fatima suri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status