MasukSofia terkejut membekap mulutnya dengan telapak tangan kanan. Tak percaya jika ada wanita yang berani meludahi wajah seorang Evander Lukas.
"Aku lebih baik mati daripada berterima kasih pada iblis sepertimu," balas Ranira tegas.
"Tuan Evans." Sofia berdiri dan memberikan beberapa lembar tissue pada Evans. Tangan Evans menerimanya, lalu ia menegakan tubuh dan membersihkan wajahnya yang terkena ludah Ranira.
Evans membuka matanya yang tajam. Kini mata setajam elang itu mengarah pada mata Ranira selayaknya anak panah yang bersiap melesat ke tujuan.
Dengan rahang yang mengetat, kedua tangan Evans mengepal kuat. Giginya mengeletuk seiring dengan emosi yang makin meningkat kala melihat wajah angkuh Ranira.
"Jangan berikan dia makanan sampai besok! Kurung dia di kamar!" perintah Evans dengan nada tinggi sambil mengarahkan telunjuk kanannya pada Ranira yang terkejut.
"Baik Tuan." Para pelayan yang ada di sana mengangguk patuh.
Evans mendengus kesal dan sempat melemparkan tatapan membunuhnya pada Ranira, kemudian lelaki itu berbalik dan pergi dengan langkah yang cepat. Meninggalkan ruang makan itu yang kini suasananya terasa mencekam.
Bibir Sofia tersenyum puas. Kedua tangannya melipat di depan dada.
"Sudah kuperingatkan, jangan main-main dengan Evander. Turunkan sifat angkuhmu itu. Jika tidak, mungkin Evans tidak akan berpikir dua kali untuk membunuhmu," kata Sofia dengan senyum yang tetap terpatri di bibirnya.
"Semoga kau tetap hidup sampai besok." Sofia melambaikan tangan, lantas ikut beranjak dari sana.
Tersisa Ranira sendirian yang menelan salivanya susah payah.
Tiba-tiba, dua bawahan Evans datang dan langsung memegangi kedua tangan Ranira. Membuat Ranira sontak menjerit kaget dan protes.
"Hei! Lepaskan! Kalian akan membawaku ke mana?"
"Tuan Evans meminta kami kembali mengurungmu di kamar," jawab mereka sambil terus menarik paksa Ranira.
Ternyata, Evander Lukas memang tak pernah main-main dengan kata-katanya.
Setelah dikurung selama seharian, Ranira merasa lega karena akhirnya ia mendapat makanan. Seorang pelayan bernama Enny yang mengantarkan senampan makanan itu padanya.
"Tuan Evans menyuruhmu menghabiskan makanan ini." Pelayan itu berkata dengan wajah datar.
Ranira mengerti. Mungkin dirinya dianggap sebagai seorang wanita rendahan yang menjadi tawanan di mansion ini. Tentu Ranira tak perlu berharap siapa pun akan bersikap baik padanya.
"Baik. Akan kuhabiskan." Ya, karena Ranira merasa perutnya sangat lapar.
Tanpa bicara apa pun lagi, Enny pun berlalu pergi meninggalka kamar Ranira. Membiarkan Ranira melahap makanannya hingga habis tak bersisa.
"Semoga saja iblis itu tak menaruh racun di makanan ini," gumam Ranira dengan mulut penuh makanan.
Begitu makanan di nampannya habis, Ranira meneguk air putih sampai gelasnya kosong, kemudian lanjut terduduk memeluk lututnya sendiri di atas ranjang.
"Mama," desah Ranira. Matanya memanas mengingat ibunya.
Kebencian masih mendalam di dalam hati Ranira mengingat kebejatan Mike yang mengirimkannya ke mansion mewah ini. Ranira merasa terkurung di sebuah neraka yang tak terdapat pintu untuk keluar dari dalamnya.
***
"Apa gadis itu menghabiskan makananya?" sambil memegangi salah satu koleksi pistolnya, Evans bertanya pada Enny yang tak sengaja melewati dirinya.
Enny berhenti sejenak, menunduk di hadapan sang tuan tampan.
"Sepertinya begitu, Tuan. Saya sudah menyuruhnya menghabiskan semua makanannya."
"Bagus. Sekarang kau boleh pergi," kata Evans pada pelayan berambut kemerahan itu.
Enny mengangguk cepat, lantas beranjak pergi meninggalkan Evans.
Kini sebelah sudut bibir Evans tertarik, membentuk senyum miring. Ditaruhnya pistol itu di dinding berjejer dengan pistol yang lainnya.
Benak Evans seperti sedang memikirkan sesuatu. Siapa lagi kalau bukan Ranira.
"Dia berani meludahi wajahku. Rasanya aku cukup puas memberinya pelajaran dengan membuat perutnya kosong seharian. Aku yakin saat ini dia pasti sedang makan seperti orang kelaparan." Senyum Evans semakin lebar.
Tak lama setelahnya, Sofia datang menghampiri Evans dengan ragu. Takut jika mood lelaki itu sedang buruk. Tapi Sofia tetap memaksakan diri sebab ia selalu senang mencuri perhatian Evans.
"Tuan Evans, sekarang sudah malam. Apa malam ini Anda akan datang ke kamarku?" suara Sofia terdengar begitu lembut saat bertanya.
Evans menoleh, membuat dirinya berhadapan dengan sang wanita cantik bertubuh seksi tersebut.
Pipi Sofia bersemu ketika menyadari bola mata Evans menatapnya dalam.
Namun jawaban yang selanjutnya keluar dari mulut Evans justru membuat senyum Sofia padam.
"Tidak."
Jawaban yang singkat, namun sukses meremukan hati Sofia.
Mata wanita cantik itu tercenung ketika Evans berlalu pergi melewati tubuhnya begitu saja.
Kini langkah Evans bergerak menuju ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dimana kamar Ranira berada.
"Apa yang sedang dilakukan wanita bodoh itu sekarang," gumamnya sambil membenamkan tangan ke dalam saku celana.
Lift pun berhenti, lantas pintunya berdenting terbuka.
Tubuh jangkung Evans melangkah lebar menuju pintu kamar Ranira. Tanpa perlu mengetuknya, Evans langsung membukanya begitu saja.
Jelas saja kedatangan Evans yang tiba-tiba membuat Ranira yang sedang meringkuk di atas ranjang, terkejut setengah mati dan menatap waspada.
"Kau? Mau apa lagi kau datang ke sini?" sentak Ranira panik.
"Apa kau tak bisa bicara lebih sopan padaku?" Evans melangkah tenang. Berdiri di depan ranjang.
"Untuk apa bersikap sopan pada lelaki yang tidak tahu caranya menghargai wanita?"
Evans tertawa pelan, merasa lucu dengan perkataan Ranira.
"Selama hidupku, hanya kau saja wanita paling keras kepala yang pernah kutemui," kata Evans, kedua tangannya bersilang dada.
"Dan kau juga lelaki paling kejam yang pernah kulihat!" sentak Ranira lagi.
Evans mengerutkan kening. Tak pernah ada yang berani berbicara keras kepadanya, bahkan meskipun anggota mafia sekali pun.
Semua orang selalu bersikap segan dan hormat pada Evans. Namun kali ini Evans mendapat perlakuan yang berbeda dari seorang wanita sederhana seperti Ranira.
"Turunkan nada bicaramu, atau kau akan kubuat tidak bisa bicara lagi," ancam Evans.
Mata Ranira terbelalak kaget. Ranira tahu, ancaman lelaki itu selalu serius.
Akhirnya Ranira bungkam sambil menelan salivanya dengan susah payah.
"Keluar dari kamarku! Aku ingin sendirian." Ranira mengalihkan pandangan sembari memeluk lututnya sendiri.
Mata Evans memicing. "Siapa kau berani mengusirku? Ini bukan kamarmu! Ini adalah mansionku. Nona Ranira Moseley, saat ini kau sedang berada di dalam mansionku jika kau lupa," sindir Evans.
Ranira mendelik kesal. "Aku tahu. Tapi kedatanganmu membuatku sesak. Aku butuh ruang. Seharian kau membuat perutku kelaparan. Aku baru saja makan dengan perut yang perih. Tolong keluarlah dan berikan aku waktu sejenak untuk mencerna makananku."
Jantung Ranira berdegup resah saat Evans ternyata tak menuruti permintaannya sama sekali. Lelaki itu justru tetap berdiri tegap di tempatnya seraya berkacak pinggang.
"Kau tahu, tidak boleh ada orang yang berani memerintahku!" kata Evans sembari melangkah tenang menghampiri Ranira.
Menanggapi itu, Jessica langsung berdecih meludah ke sampingnya. Ia tak ingin membuat James besar kepala dan menganggapnya menikmati tautan bibir mereka.Meskipun sebenarnya, Jessica memang merasakan sedikit gelenyar aneh yang menjalar di tubuhnya ketika James menjamah bibirnya tadi.Tetapi Jessica tidak ingin menunjukan itu."Jangan mimpi! Salah besar jika kau berpikir aku menikmati sentuhanmu. Aku muak padamu! Aku membencimu!" tegas Jessica."Benarkah?" James memicingkan mata.Jessica terdiam dengan mengatur napasnya. Ia tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Tatapan James begitu lekat menatapnya, seolah lelaki itu ingin menyelami apa yang ada dalam pikirannya."Kau seorang putra dari keluarga terhormat. Bisakah kau berperilaku lebih manusiawi? Kau sudah menghancurkan kehormatan seorang wanita, lalu mengganggu ketenangannya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, kau bahkan tak meminta maaf. Sikapmu betul-betul tidak mencerminkan derajatmu." akhirnya Jessica bangkit berdiri, ia bisa turu
Pulang menuju rumahnya, Jessica menggerutu sepanjang jalan. Ia tidak habis pikir dengan Alden. Lelaki kaya itu membuatnya jengah dan sebal."Mungkin dia pikir karena aku ini wanita miskin dan dia bisa memanfaatkanku. Tidak! Aku paham apa yang ada dalam pikiran lelaki pembual seperti dia. Yang ada di dalam otaknya hanya bagian dalam paha wanita!" gerutu Jessica sembari terus melangkahkan kakinya, menyusuri gang kecil yang menyambung menuju ke kontrakannya.Fisiknya sangat lelah. Sejak tadi pagi, entah berapa kali Jessica menahan mual. Jessica menunduk, mengelus perutnya yang masih datar.Sekarang Jessica sudah bisa menerima kehamilannya. Bahkan Jessica menyesal mengapa dulu ia sempat ingin menggugurkan kandungannya."Mama tahu kau pasti lelah. Maaf ya, seharusnya dalam kondisi hamil muda seperti ini Mama tidak terlalu keras bekerja. Tetapi Mama perlu bekerja untuk dapat uang," ucap Jessica pada bayi yang ada dalam rahimnya.Sampai langkahnya terhenti di depan pintu kontrakannya. Jessic
Namun saat mulutnya terbuka dan benar-benar nyaris menelan semua obat itu, tiba-tiba Jessica langsung memuntahkannya ke lantai dan mengurungkan niatnya."Tidak! Aku tidak bisa melakukan ini! Tidak bisa!" isaknya, lalu menangis dan berbaring miring di atas ranjangnya.Jemarinya meremas bantal dengan kuat, ingin sekali Jessica menjerit marah.Mengapa hati kecilnya melarangnya melakukan itu? Mengapa hati kecilnya tak mengizinkanna melenyapkan bayi milik James yang sedang dikandungnya?***"Tuan Alden! Anda membeli sebuah bunga?" Nando—sekretaris Alden bertanya pada Alden ketika bossnya itu menghentikan mobil di toko bunga, lalu membeli buket bunga mawar berukuran sedang dari sana.Masih berdiri di dalam toko itu, Alden mendekatkan bunga ke hidungnya, aroma wangi dari bunga mawar itu langsung membelai indera penciumannya.Alden tersenyum menatap bunga di tangannya. Senyum itu membuat Nando semakin bingung. Pasalnya, ia seperti tak mengenal sosok Alden yang saat ini berdiri di hadapannya.
Seketika Jessica mematung di tempatnya. Ia berpikir, setiap kali melewati gang yang tak jauh di depannya itu, Jessica memang seringkali melihat ada beberapa lelaki yang sedang mabuk dan berjudi. Kini, Jessica jadi takut dan gamang jika harus melanjutkan langkah kakinya.Ketika melihat Jessica tak bergerak atau pun bereaksi, James akhirnya mulai kembali menyalakan mesin mobilnya. Bermaksud untuk meninggalkan Jessica saja. Gadis ini terlihat sedang berpikir seperti siput saja. Lambat sekali menurut James.Tapi, ketika mesin mobil James benar-benar menyala. Pintu mobil depannya juga sudah ditutup. Jessica mulai membuka mulutnya dan segera bergerak untuk menghadang mobil James yang sudah kembali pada posisi yang benar.“James, Tunggu!” teriak Jessica.Sontak saja James menghentikan mobilnya. Diam-diam di dalam mobil, sudut bibirnya terangkat.Jessica mengetuk kaca mobil, dan James menurunkannya.“James. Enghh ... boleh aku menumpang padamu?” tanya Jessica dengan wajah malu dan takut.Jame
"Hei! Buka matamu! Aku mohon, Tuan! Sadarlah!" Jessica menepuk-nepuk kedua pipi Alden untuk menyadarkannya."Lebih baik segera bawa saja dia ke rumah sakit!" salah satu orang yang ikut berkerumun di sana memberi saran.Jessica mengangguk, membiarkan orang-orang itu membawa Alden masuk ke dalam mobil bagian belakang. Jessica dipaksa ikut ke mobil dan ia duduk dengan menaruh kepala Alden di atas pangkuannya.Padahal seharusnya Jessica sudah tiba di tempat kerjanya. Tetapi dengan terpaksa Jessica menghubungi atasannya dan meminta izin kalau ia akan sangat terlambat masuk kerja. Awalnya Jessica mendapat omelan dari atasannya. Tetapi syukurlah atasannya masih berbaik hati dengan tidak memecatnya.Mungkin karena selama ini Jessica selalu bekerja dengan baik tanpa mengambil cuti satu kalipun.Sepanjang jalan menuju rumah sakit, sesekali Jessica menunduk memperhatikan wajah tampan yang berada sangat dekat dengannya. Kedua alisnya saling bertaut saat benaknya memikirkan sesuatu.Setelah diperi
Bukan hanya saat kakek dan ibu kandungnya meninggal, tapi juga karena desakan para anggota klan mafia yang dipimpin Evans terus mendesaknya untuk ikut bergabung dengan mereka.Jika bukan karena Ranira, mereka pasti tak segan mencelakai James karena dianggap berkhianat pada klan mereka."Tapi aku tidak dibutuhkan di sana, Nek. Kalian mulai saja acaranya tanpa aku," kata James dengan wajah biasa saja saat mengatakan itu. Tapi jauh dalam hatinya, jelas James tidak sedang baik-baik saja.Dan Ranira selalu marah setiap kali James mengatakan itu.“Kau jangan bicara begitu! Pokoknya kau harus datang ke sini! Kalau kau berkeras tidak mau datang, Nenek pastikan, kau tidak akan pernah melihat wajah nenek lagi besok pagi!' kata Ranira sebelum mengakhiri sambungan telponnya.James berdecak mendengar itu. Ranira mengancamnya dan James tahu kalau Neneknya itu tidak pernah bermainmain dengan perkataannya.Maka mau tidak mau, James harus datang ke sana. Karena ia tidak ingin kehilangan Ranira yang sa







