تسجيل الدخولRanira menoleh, lalu mengerutkan kening melihat seorang wanita muda yang usianya mungkin sedikit lebih tua darinya.
Wanita berparas cantik dan berambut pirang itu menampilkan wajah sinis. Kedua tangannya melipat di depan dadanya yang membusung dan tampak seksi.
Ranira meringis melihat pakaian wanita tersebut yang menurutnya sangat seksi.
Dia adalah Sofia Lovita.
"Kau mau mencoba kabur dari mansion Evander?" tebak Sofia yang sialnya adalah benar.
"Enghh ..." Ranira menggigit bibir. Takut salah bicara. Bisa saja wanita cantik di hadapannya ini adalah mata-mata Evans yang diperintah untuk memantaunya.
"Percuma saja. Sekuat apa pun kau berusaha kabur dari mansion ini, kau tidak akan pernah bisa meloloskan diri. Karena semua wanita yang telah masuk ke dalam pintu mansion ini, seperti terjebak di dalamnya. Tidak ada yang dapat keluar, kecuali Evans sendiri yang membuang wanita tersebut," kata Sofia yang lantas membuat Ranira membulatkan mata.
"Kau tahu banyak tentang Evans dan tempat ini?" tanya Ranira, penasaran.
Sofia menarik sebelah sudut bibir, tersenyum miring.
"Tentu saja. Aku sudah tinggal selama empat bulan di mansion Evander," jawab Sofia sambil tersenyum santai. "Jelas aku tahu betul, bagaimana nasib para wanita yang pernah diculik oleh organisasi mafia di sini, lalu wanita mana saja yang pernah menghabiskan malam dengan Evans."
Kening Ranira berkerut dalam.
"Sama sepertimu, aku juga merupakan salah satu gadis tawanan. Tapi aku tidak menyesal berada di tempat ini. Karena di sini lebih menyenangkan daripada hidup miskin bersama dengan keluargaku yang seperti benalu," ucap Sofia.
"Apa kau gila? Kau menganggap neraka ini sebagai tempat yang menyenangkan?" Ranira geleng-geleng kepala.
Sofia mengangkat bahu. "Terserah kau mau mengatakan tempat ini neraka atau apa pun itu. Bagiku, ini adalah surga duniaku. Aku bosan hidup miskin, lalu Evans di sini memberiku kemewahan dan memperlakukanku berbeda daripada para wanita yang pernah menjadi tawanannya."
"Kau harus tahu satu hal, biasanya Evans akan menyentuh tawanan wanita yang ia inginkan satu kali saja. Setelahnya, Evans akan memberikan wanita itu pada para anggotanya untuk dinikmati bergiliran, atau langsung menjualnya kepada para konglomerat. Aku hanya berpesan, sebaiknya kau mulai berdoa saja. Semoga nasib baik menghampirimu. Karena bisa saja hal itu juga terjadi padamu," ucap Sofia sambil berpura-pura memasang wajah iba.
Ranira sendiri membulatkan mata. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga.
Dijual pada para konglomerat? Dinikmati bergiliran?
Membayangkan semua itu, membuat Ranira merasa merinding.
“Kau tidak takut jika suatu saat hal itu juga akan menimpamu?" kali ini Ranira bertanya pada Sofia.
Sofia malah tertawa pelan. Tawa yang anggun.
"Kau bercanda. Mana mungkin. Evans sangat menyukai tubuhku. Dia candu terhadapku. Bahkan, dia memperlakukanku seperti boneka kesayangannya. Jadi, tidak mungkin Evans akan sanggup menjualku atau memberikanku pada para anggota organisasinya." Wajah Sofia menyiratkan kepercaya dirian yang tinggi.
"Kau terlihat begitu mengangumi Evans."
"Jelas. Evans itu sangat tampan dan sempurna. Aku tidak pernah bertemu lelaki setampan dia. Menjadi kesayangan Evans adalah hal yang aku sukai," ujar Sofia, senyum lebar tak lepas dari bibirnya.
Ranira berdecak dalam hati saat mendengar berbagai macam pujian yang dilontarkan oleh Sofia pada sang boss mafia kejam itu.
Ranira memutar bola mata. "Apa gunanya menjadi wanita yang spesial bagi lelaki yang biadab seperti Evander? Dia iblis. Tidak berperasaan," ejek Ranira, memaki Evans.
Mata Sofia menyipit. Mulutnya terperangah, tak menyangka jika ada wanita yang berani menentang dan memaki seorang Evander.
"Kau salah. Evans seperti pangeran di mataku. Jika saja Evans mendengar makianmu itu, dia pasti akan langsung melenyapkanmu," ucap Sofia, mengacungkan telunjuk kanannya di depan wajah Ranira.
"Aku tidak takut," balas Ranira tak peduli.
Kemudian Ranira membalikan badan, memilih pergi meninggalkan wanita yang sangat memuja sosok Evander itu.
Saat ini rasa lapar di perutnya jauh lebih penting daripada mendengar pujian tentang lelaki itu.
Namun, Ranira berdecak kesal saat lagi-lagi ia bingung harus mengarahkan kakinya ke ruangan sebelah mana.
"Kau mau pergi ke mana, sekarang?" Sofia mendekat dan bertanya.
Ranira menoleh lagi, kemudian memegangi perutnya yang berbunyi.
"Perutku lapar. Tunjukan padaku siapa yang bisa memberiku makan." Setidaknya, jika ia ditawan di mansion megah ini, harusnya ada seseorang yang memberinya makanan, bukan?
Sofia sempat mengangkat sebelah alis, tapi kemudian ia menerbitkan senyum culas di bibirnya.
"Ikuti aku!"
Ranira mengangguk, lantas mengikuti langkah wanita seksi itu menyusuri setiap ruangan.
Ternyata, Sofia membawanya masuk ke dalam lift yang sejak tadi tidak Ranira temukan karena saking luasnya mansion tersebut.
Lift itu membawa mereka turun ke lantai satu. Ranira terus mengekori langkah Sofia dari belakang.
Sampai kemudian mereka tiba di meja makan. Ranira terkejut melihat Evander yang telah duduk di balik meja makan tersebut.
Mata lelaki itu memicing ke arahnya.
"Sofia, kenapa kau membawanya ke mari?" tanya lelaki itu dingin.
"Maaf, Tuan Evans. Dia memaksa ikut. Katanya dia lapar dan ingin makan," jawab Sofia lembut.
Ranira menundukan wajah saat mata Evans terus memperhatikannya dengan sorot menusuk.
Seketika, rasa gugup menjalar ke dalam hati Ranira. Tangan Ranira pun saling meremas gelisah.
"Kau lapar?" akhirnya, Evans pun bertanya.
Ranira mengangguk tanpa menatap lelaki itu.
"Kalau begitu, duduklah!"
Mendengar itu, Ranira melebarkan mata. Tak menyangka jika Evans akan mempersilakannya duduk di satu meja makan dengannya.
"Aku pikir dia akan mengusirku." Ternyata dugaan Ranira salah.
"Baik." Ranira mengangguk, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang diduduki oleh Sofia.
Sementara Evander sendiri duduk di sebuah kursi khusus yang memang berbeda dari kursi yang lainnya. Kursi milik Evans lebih tinggi dan lebar.
"Pelayan!" Evans memanggil dua pelayan wanita yang berdiri tak jauh dari meja makan.
Ketika dua pelayan itu menghampirinya, Evans menyuruh mereka untuk menuangkan makanan di piring dirinya dan piring milik Sofia.
Ranira duduk diam menunggu giliran. Namun, setelah setelah mengisi piring Evans dan Sofia, dua pelayan itu diperintah oleh Evans untuk kembali berdiri di tempat mereka semula.
Ranira meneguk berat salivanya. Rasa laparnya semakin bergejolak saat melihat menu masakan yang tampak lezat di atas meja makan berukuran besar tersebut.
"Mereka berdua asyik makan. Sementara aku duduk diam seperti orang bodoh. Sebaiknya aku mengisi piringku sendiri saja," gumam batin Ranira.
"Apa yang kau lakukan? Siapa yang menyuruhmu menyentuh makanan di atas meja ini?" gerakan Ranira yang hendak menyendok makanan pun terhenti karena pertanyaan dingin dari mulut Evans.
Manik mata lelaki itu menyorotnya tajam dan menusuk.
"T-tidak ada yang menyuruhku. Tapi aku juga lapar. Tadi kau menyuruhku duduk satu meja makan dengan kalian, kan?" tanya Ranira dengan wajah gugup.
Mata Evans menyipit, lalu ia menarik senyum culas.
"Aku memang menyuruhmu duduk, tapi bukan berarti kau bisa ikut makan dengan kami," balas Evans dengan tegas.
Ranira tercengang. Wajahnya langsung memerah, menahan kesal pada Evans yang mempermainkannya.
Padahal perut Ranira sudah mulai perih karena rasa laparnya.
Diam-diam Sofia pun menyunggingkan senyum puas sambil mengunyah makanannya.
"Maaf, Tuan Evans. Tapi kurasa dia sangat lapar. Apa kau tidak bisa berbelas kasih memberinya sedikit saja makanan?" tanya Sofia dengan nada bicaranya yang anggun. Matanya menoleh pada Evans.
"Baiklah. Aku akan sedikit berbaik hati padamu. Kau boleh makan, tapi hanya makanan bekasku ini."
Bola mata Ranira terbelalak lebar ketika Evans mendorong piring yang berisi sisa makanannya ke depan Ranira.
Sofia ikut tersenyum senang. Puas melihat wajah kaget Ranira.
"Aku bukan anjing!"
"Memangnya siapa yang menyebutmu anjing?" tanya Evans dengan santai. Menekuk kedua sikunya di tepi meja, sementara kedua jemarinya saling bertautan di bawah dagu.
Mata biru milik lelaki itu mengarah pada wajah cantik Ranira yang tampak memerah menahan emosi.
"Kau memberiku makanan sisa. Sama saja kau memperlakukanku seperti binatang. Aku tidak mau. Aku tidak mau memakan makanan bekasmu," tegas Ranira, menolak dengan penekanan.
"Memangnya menurutmu aku harus memperlakukan putri dari seorang penghianat dengan cara seperti apa? Hemm? Memperlakukanmu dengan lemah lembut, atau beramah tamah padamu? Ck! Itu sangat mustahil." Evans mendorong kursinya ke belakang, kemudian bangkit berdiri dari duduknya.
Langkah Evans bergerak memutari meja makan, lantas berhenti tepat di samping kursi yang Ranira duduki.
Evans menunduk dengan tangan yang bertelekan di meja. Wajahnya menunduk hingga berdekatan dengan wajah Ranira yang mendongkak menatapnya.
"Keberadaanmu di sini adalah untuk menebus kesalahan dan hutang-hutang ayahmu. Jadi terserahku mau memperlakukanmu dengan bagaimana. Harusnya kau berterima kasih karena aku masih berbaik hati memberimu makan. Karena seharusnya, putri dari seorang penghianat harus dilenyapkan," ucap Evans di depan wajah Ranira.
Senyum seringai terlukis di wajah tampan sang ketua mafia tersebut.
Ranira mengepalkan tangannya dengan kuat, sebelum kemudian ia melakukan sesuatu yang sangat fatal pada Evander.
CUIH!
Senyum Evans langsung lenyap bersamaan dengan matanya yang langsung terpejam rapat saat Ranira tiba-tiba meludahi wajahnya.
Setelah melewati berbagai dilemma kehamilan yang membuat Jessica cukup puas. Akhirnya, saat yang mereka nanti-nanti akan tiba sebentar lagi.Di sini. Di dalam sebuah ruang bersalin yang cukup luas, dengan dibantu oleh dokter kandungan yang sengaja dipilih oleh James untuk menangani Jessica.Hari ini bayi mereka akan lahir ke dunia.Di atas-ranjang rumah sakit, Jessica sedang berjuang untuk mengeluarkan buah hati pertamanya lahir. Jessica terus mengejan mengikuti perintah dokter. “Tahan. Tarik napas perlahan, lalu mengejan.”Jessica berulangkali meremas tangan James dengan sangat kencang. Hingga James ikut merasakan sakit akibat kuku-kuku istrinya yang tak begitu panjang namun terasa menusuk.“Semangat, sayang. Kau pasti bisa. Ada aku di sampingmu,” James menatap wajah meringis Jessica dengan keringat yang bercucuran.Meski merasa panik karena tak tega melihat Jessica kesakitan. Tapi James harus berusaha bersikap tenang. Agar Jessica juga ikut tenang karenanya.“Ayo! Pintar. Cob
Jessica terenyuh. Ia membekap mulutnya sendiri melihat betapa romantisnya James. Lalu Jessica meraih kalung indah yang menggantung indah di hadapannya kemudian menatapnya dengan takjub.“Kau suka?” tanya James.Jessica mengangguk. “Sangat suka. Terimakasih, James.”“Sama-sama, sayang.”James tersenyum senang. Begitu Jessica menghambur memeluknya. James langsung membalas dekapan hangat istrinya itu dengan tangan terbuka.Sungguh. Jessica bentuk anugerah terindah yang Tuhan berikan untuknya.Tak berselang lama, Jessica kembali mengurai dekapan mereka. Ia beralih menatap James dengan sebuah senyum manis yang tersumir di bibirnya.“Sebenarnya, aku juga memiliki sebuah kejutan anniversary untukmu.”James menaikan sebelah alisnya. “Benarkah? Apa itu?”Jessica tak langsung menjawab. Tapi ia membuka tas selempang yang ia kenakan. Lantas mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.Kening James berkerut dalam saat ternyata Jessica mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyodorkannya pada James.“Apa in
“Aku memang sudah gila sejak dulu. Kau baru tahu, ya? Ayo! Kita pelorotkan celanamu di sana!” Alden bergerak menarik tangan James. Hingga membuat James terkejut dan mencoba menggapai tangan Jessica.Tapi sayangnya, Jessica malah terkekeh dan tak berniat menolong James dari aksi Alden yang tak berprikemanusiaan!“Jessica! Tolong aku! Jangan biarkan cecunguk got ini menjatuhkan harga diri suamimu, sayang. Bilang padanya agar dia berhenti menarik tanganku!” James sedikit berteriak pada Jessica saat Alden menariknya mulai menjauh.Tapi balasan yang diberikan Jessica sungguh diluar dugaan.“Tidak apa. Bawa saja, Alden. Biar suamiku itu kapok dan tidak lagi mau mengumbar janji. Aku bahkan rela kalau para tamu undangan harus melihat isi celananya,” teriak Jessica lalu tergelak.James yang terus diseret oleh Alden melongo ucapan Jessica. Lantas ia merutuk dengan kesal.“Istri dan teman memang sama gilanya!”Dan hari itu..Semua tamu undangan yang hadir menjadi saksi mata bagaimana James hanya
Hari ini..James dan Jessica mengunjungi pemakaman tempat Cinta-nya beristirahat dalam damai.Dengan sebuah buket mawar putih yang Jessica bawa. Langkah mereka terhenti di samping pusara buah hatinya.Jessica mengukir seulas senyum manis lalu ia meluruhkan tubuhnya hingga sejajar dengan nisan Cinta.“Jadi.. selama ini kau orangnya?” Jessica melirik kearah James. “Yang selalu menaruh sebuket mawar putih di makam Cinta? Mengapa aku tidak pernah menyadarinya selama ini? Aku just ru berpikir Aldenlah yang melakukan itu.”James tersenyum, lalu ia mengangguk. “Nyaris setiap hari aku ke sini. Meski hanya sekadar untuk menyapa anak kita. Aku sengaja membawakannya mawar putih sebab aku tahu kalau kau sangat menyukainya.”Jessica ikut menoleh pada nisan anaknya. Kalau saja Cinta masih hidup. Mungkin usianya sudah lebih dari dua tahun saat ini.Tapi Tuhan terlalu menyayangi Cintanya. Hingga ia harus berpisah bahkan sebelum Jessica pernah memberikan asi-pertama untuk anaknya itu.“Cinta. Buah hat
Di pinggir jalanan yang lengang. James melangkah gontai seakan ia adalah seonggok raga yang tak memiliki jiwa. Pikirannya masih berkabut tentang bayangan senyum bahagia yang mungkin terpatri di bibir manis Jessica setelah gadis itu resmi menjadi Nyonya ferdinan.James mengerjap. Ia menghembuskan napas kasarnya yang terasa begitu berat. “Akhirnya kalian resmi menikah. Aku bahagia, Jessica. Aku bahagia untuk pernikahan kalian,” gumam James yang masih berjalan seraya menatapi jalanan kota jakarta yang selengang hatinya kini.Rencananya, setelah dari sini James memang akan pergi ke Amerika. Dan hal itu sudah ia ungkapkan pada Arya. Tapi sepertinya Arya tak bisa tutup mulut. Hingga lelaki itu memberitahukannya pada Alden.Sekarang James sedang melangkah menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari gereja tempat Jessica menikah. Sebab, di pelataran gereja itu sendiri sudah dipenuhi oleh mobil para jemaat yang menghadiri dan mobil khusus pengantin. Hingga mobil James tak muat untuk ikut
Ranira dan Harish juga Elijah juga tak kalah bingungnya. Mereka menggigit bibir melihat kekacauan yang sedang Alden ciptakan.Pendeta itu mengangguk. “Dia adalah Jessica calon istriku dan aku ingin menikahinya. Tapi karena pernikahan itu tak bisa dipaksakan, maka aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku memutuskan untuk membatalkannya.”Jessica terhenyak. Ia menyentuh lengan Alden agar menatapnya.“Apa yang sedang kau lakukan ini, Alden? Mengapa berkata seperti itu?”“Jessica. Aku mohon. Jangan lanjutkan sandiwara ini. Jangan membuatku semakin berharap. Aku tahu nama siapa yang tersemat di dalam hatimu bahkan saat kakimu pertama kali menginjak altar ini. Kau akan menikah denganku, tapi nama orang lain yang kau pikirkan.”“Alden..”“Sekarang aku juga mau bertanya padamu. Katakan dengan sangat jujur. Saat ini kita ada di dalam gereja, Jessica. Dan aku berharap kau tidak akan berbohong,” kata Alden lalu menyentuh puncak kepala Jessica dengan telapak tangannya. “Jessica fatima suri







