공유

BAB 3

작가: Syifa Safaah
last update 게시일: 2026-01-09 13:11:49

Ranira menoleh, lalu mengerutkan kening melihat seorang wanita muda yang usianya mungkin sedikit lebih tua darinya.

Wanita berparas cantik dan berambut pirang itu menampilkan wajah sinis. Kedua tangannya melipat di depan dadanya yang membusung dan tampak seksi.

Ranira meringis melihat pakaian wanita tersebut yang menurutnya sangat seksi.

Dia adalah Sofia Lovita.

"Kau mau mencoba kabur dari mansion Evander?" tebak Sofia yang sialnya adalah benar.

"Enghh ..." Ranira menggigit bibir. Takut salah bicara. Bisa saja wanita cantik di hadapannya ini adalah mata-mata Evans yang diperintah untuk memantaunya.

"Percuma saja. Sekuat apa pun kau berusaha kabur dari mansion ini, kau tidak akan pernah bisa meloloskan diri. Karena semua wanita yang telah masuk ke dalam pintu mansion ini, seperti terjebak di dalamnya. Tidak ada yang dapat keluar, kecuali Evans sendiri yang membuang wanita tersebut," kata Sofia yang lantas membuat Ranira membulatkan mata.

"Kau tahu banyak tentang Evans dan tempat ini?" tanya Ranira, penasaran.

Sofia menarik sebelah sudut bibir, tersenyum miring.

"Tentu saja. Aku sudah tinggal selama empat bulan di mansion Evander," jawab Sofia sambil tersenyum santai. "Jelas aku tahu betul, bagaimana nasib para wanita yang pernah diculik oleh organisasi mafia di sini, lalu wanita mana saja yang pernah menghabiskan malam dengan Evans."

Kening Ranira berkerut dalam.

"Sama sepertimu, aku juga merupakan salah satu gadis tawanan. Tapi aku tidak menyesal berada di tempat ini. Karena di sini lebih menyenangkan daripada hidup miskin bersama dengan keluargaku yang seperti benalu," ucap Sofia.

"Apa kau gila? Kau menganggap neraka ini sebagai tempat yang menyenangkan?" Ranira geleng-geleng kepala.

Sofia mengangkat bahu. "Terserah kau mau mengatakan tempat ini neraka atau apa pun itu. Bagiku, ini adalah surga duniaku. Aku bosan hidup miskin, lalu Evans di sini memberiku kemewahan dan memperlakukanku berbeda daripada para wanita yang pernah menjadi tawanannya."

"Kau harus tahu satu hal, biasanya Evans akan menyentuh tawanan wanita yang ia inginkan satu kali saja. Setelahnya, Evans akan memberikan wanita itu pada para anggotanya untuk dinikmati bergiliran, atau langsung menjualnya kepada para konglomerat. Aku hanya berpesan, sebaiknya kau mulai berdoa saja. Semoga nasib baik menghampirimu. Karena bisa saja hal itu juga terjadi padamu," ucap Sofia sambil berpura-pura memasang wajah iba.

Ranira sendiri membulatkan mata. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga.

Dijual pada para konglomerat? Dinikmati bergiliran?

Membayangkan semua itu, membuat Ranira merasa merinding.

“Kau tidak takut jika suatu saat hal itu juga akan menimpamu?" kali ini Ranira bertanya pada Sofia.

Sofia malah tertawa pelan. Tawa yang anggun.

"Kau bercanda. Mana mungkin. Evans sangat menyukai tubuhku. Dia candu terhadapku. Bahkan, dia memperlakukanku seperti boneka kesayangannya. Jadi, tidak mungkin Evans akan sanggup menjualku atau memberikanku pada para anggota organisasinya." Wajah Sofia menyiratkan kepercaya dirian yang tinggi.

"Kau terlihat begitu mengangumi Evans."

"Jelas. Evans itu sangat tampan dan sempurna. Aku tidak pernah bertemu lelaki setampan dia. Menjadi kesayangan Evans adalah hal yang aku sukai," ujar Sofia, senyum lebar tak lepas dari bibirnya.

Ranira berdecak dalam hati saat mendengar berbagai macam pujian yang dilontarkan oleh Sofia pada sang boss mafia kejam itu.

Ranira memutar bola mata. "Apa gunanya menjadi wanita yang spesial bagi lelaki yang biadab seperti Evander? Dia iblis. Tidak berperasaan," ejek Ranira, memaki Evans.

Mata Sofia menyipit. Mulutnya terperangah, tak menyangka jika ada wanita yang berani menentang dan memaki seorang Evander.

"Kau salah. Evans seperti pangeran di mataku. Jika saja Evans mendengar makianmu itu, dia pasti akan langsung melenyapkanmu," ucap Sofia, mengacungkan telunjuk kanannya di depan wajah Ranira.

"Aku tidak takut," balas Ranira tak peduli.

Kemudian Ranira membalikan badan, memilih pergi meninggalkan wanita yang sangat memuja sosok Evander itu.

Saat ini rasa lapar di perutnya jauh lebih penting daripada mendengar pujian tentang lelaki itu.

Namun, Ranira berdecak kesal saat lagi-lagi ia bingung harus mengarahkan kakinya ke ruangan sebelah mana.

"Kau mau pergi ke mana, sekarang?" Sofia mendekat dan bertanya.

Ranira menoleh lagi, kemudian memegangi perutnya yang berbunyi.

"Perutku lapar. Tunjukan padaku siapa yang bisa memberiku makan." Setidaknya, jika ia ditawan di mansion megah ini, harusnya ada seseorang yang memberinya makanan, bukan?

Sofia sempat mengangkat sebelah alis, tapi kemudian ia menerbitkan senyum culas di bibirnya.

"Ikuti aku!"

Ranira mengangguk, lantas mengikuti langkah wanita seksi itu menyusuri setiap ruangan.

Ternyata, Sofia membawanya masuk ke dalam lift yang sejak tadi tidak Ranira temukan karena saking luasnya mansion tersebut.

Lift itu membawa mereka turun ke lantai satu. Ranira terus mengekori langkah Sofia dari belakang.

Sampai kemudian mereka tiba di meja makan. Ranira terkejut melihat Evander yang telah duduk di balik meja makan tersebut.

Mata lelaki itu memicing ke arahnya.

"Sofia, kenapa kau membawanya ke mari?" tanya lelaki itu dingin.

"Maaf, Tuan Evans. Dia memaksa ikut. Katanya dia lapar dan ingin makan," jawab Sofia lembut.

Ranira menundukan wajah saat mata Evans terus memperhatikannya dengan sorot menusuk.

Seketika, rasa gugup menjalar ke dalam hati Ranira. Tangan Ranira pun saling meremas gelisah.

"Kau lapar?" akhirnya, Evans pun bertanya.

Ranira mengangguk tanpa menatap lelaki itu.

"Kalau begitu, duduklah!"

Mendengar itu, Ranira melebarkan mata. Tak menyangka jika Evans akan mempersilakannya duduk di satu meja makan dengannya.

"Aku pikir dia akan mengusirku." Ternyata dugaan Ranira salah.

"Baik." Ranira mengangguk, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang diduduki oleh Sofia.

Sementara Evander sendiri duduk di sebuah kursi khusus yang memang berbeda dari kursi yang lainnya. Kursi milik Evans lebih tinggi dan lebar.

"Pelayan!" Evans memanggil dua pelayan wanita yang berdiri tak jauh dari meja makan.

Ketika dua pelayan itu menghampirinya, Evans menyuruh mereka untuk menuangkan makanan di piring dirinya dan piring milik Sofia.

Ranira duduk diam menunggu giliran. Namun, setelah setelah mengisi piring Evans dan Sofia, dua pelayan itu diperintah oleh Evans untuk kembali berdiri di tempat mereka semula.

Ranira meneguk berat salivanya. Rasa laparnya semakin bergejolak saat melihat menu masakan yang tampak lezat di atas meja makan berukuran besar tersebut.

"Mereka berdua asyik makan. Sementara aku duduk diam seperti orang bodoh. Sebaiknya aku mengisi piringku sendiri saja," gumam batin Ranira.

"Apa yang kau lakukan? Siapa yang menyuruhmu menyentuh makanan di atas meja ini?" gerakan Ranira yang hendak menyendok makanan pun terhenti karena pertanyaan dingin dari mulut Evans.

Manik mata lelaki itu menyorotnya tajam dan menusuk.

"T-tidak ada yang menyuruhku. Tapi aku juga lapar. Tadi kau menyuruhku duduk satu meja makan dengan kalian, kan?" tanya Ranira dengan wajah gugup.

Mata Evans menyipit, lalu ia menarik senyum culas.

"Aku memang menyuruhmu duduk, tapi bukan berarti kau bisa ikut makan dengan kami," balas Evans dengan tegas.

Ranira tercengang. Wajahnya langsung memerah, menahan kesal pada Evans yang mempermainkannya.

Padahal perut Ranira sudah mulai perih karena rasa laparnya.

Diam-diam Sofia pun menyunggingkan senyum puas sambil mengunyah makanannya.

"Maaf, Tuan Evans. Tapi kurasa dia sangat lapar. Apa kau tidak bisa berbelas kasih memberinya sedikit saja makanan?" tanya Sofia dengan nada bicaranya yang anggun. Matanya menoleh pada Evans.

"Baiklah. Aku akan sedikit berbaik hati padamu. Kau boleh makan, tapi hanya makanan bekasku ini."

Bola mata Ranira terbelalak lebar ketika Evans mendorong piring yang berisi sisa makanannya ke depan Ranira.

Sofia ikut tersenyum senang. Puas melihat wajah kaget Ranira.

"Aku bukan anjing!"

"Memangnya siapa yang menyebutmu anjing?" tanya Evans dengan santai. Menekuk kedua sikunya di tepi meja, sementara kedua jemarinya saling bertautan di bawah dagu.

Mata biru milik lelaki itu mengarah pada wajah cantik Ranira yang tampak memerah menahan emosi.

"Kau memberiku makanan sisa. Sama saja kau memperlakukanku seperti binatang. Aku tidak mau. Aku tidak mau memakan makanan bekasmu," tegas Ranira, menolak dengan penekanan.

"Memangnya menurutmu aku harus memperlakukan putri dari seorang penghianat dengan cara seperti apa? Hemm? Memperlakukanmu dengan lemah lembut, atau beramah tamah padamu? Ck! Itu sangat mustahil." Evans mendorong kursinya ke belakang, kemudian bangkit berdiri dari duduknya.

Langkah Evans bergerak memutari meja makan, lantas berhenti tepat di samping kursi yang Ranira duduki.

Evans menunduk dengan tangan yang bertelekan di meja. Wajahnya menunduk hingga berdekatan dengan wajah Ranira yang mendongkak menatapnya.

"Keberadaanmu di sini adalah untuk menebus kesalahan dan hutang-hutang ayahmu. Jadi terserahku mau memperlakukanmu dengan bagaimana. Harusnya kau berterima kasih karena aku masih berbaik hati memberimu makan. Karena seharusnya, putri dari seorang penghianat harus dilenyapkan," ucap Evans di depan wajah Ranira.

Senyum seringai terlukis di wajah tampan sang ketua mafia tersebut.

Ranira mengepalkan tangannya dengan kuat, sebelum kemudian ia melakukan sesuatu yang sangat fatal pada Evander.

CUIH!

Senyum Evans langsung lenyap bersamaan dengan matanya yang langsung terpejam rapat saat Ranira tiba-tiba meludahi wajahnya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 97

    Menanggapi itu, Jessica langsung berdecih meludah ke sampingnya. Ia tak ingin membuat James besar kepala dan menganggapnya menikmati tautan bibir mereka.Meskipun sebenarnya, Jessica memang merasakan sedikit gelenyar aneh yang menjalar di tubuhnya ketika James menjamah bibirnya tadi.Tetapi Jessica tidak ingin menunjukan itu."Jangan mimpi! Salah besar jika kau berpikir aku menikmati sentuhanmu. Aku muak padamu! Aku membencimu!" tegas Jessica."Benarkah?" James memicingkan mata.Jessica terdiam dengan mengatur napasnya. Ia tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Tatapan James begitu lekat menatapnya, seolah lelaki itu ingin menyelami apa yang ada dalam pikirannya."Kau seorang putra dari keluarga terhormat. Bisakah kau berperilaku lebih manusiawi? Kau sudah menghancurkan kehormatan seorang wanita, lalu mengganggu ketenangannya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, kau bahkan tak meminta maaf. Sikapmu betul-betul tidak mencerminkan derajatmu." akhirnya Jessica bangkit berdiri, ia bisa turu

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 96

    Pulang menuju rumahnya, Jessica menggerutu sepanjang jalan. Ia tidak habis pikir dengan Alden. Lelaki kaya itu membuatnya jengah dan sebal."Mungkin dia pikir karena aku ini wanita miskin dan dia bisa memanfaatkanku. Tidak! Aku paham apa yang ada dalam pikiran lelaki pembual seperti dia. Yang ada di dalam otaknya hanya bagian dalam paha wanita!" gerutu Jessica sembari terus melangkahkan kakinya, menyusuri gang kecil yang menyambung menuju ke kontrakannya.Fisiknya sangat lelah. Sejak tadi pagi, entah berapa kali Jessica menahan mual. Jessica menunduk, mengelus perutnya yang masih datar.Sekarang Jessica sudah bisa menerima kehamilannya. Bahkan Jessica menyesal mengapa dulu ia sempat ingin menggugurkan kandungannya."Mama tahu kau pasti lelah. Maaf ya, seharusnya dalam kondisi hamil muda seperti ini Mama tidak terlalu keras bekerja. Tetapi Mama perlu bekerja untuk dapat uang," ucap Jessica pada bayi yang ada dalam rahimnya.Sampai langkahnya terhenti di depan pintu kontrakannya. Jessic

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 95

    Namun saat mulutnya terbuka dan benar-benar nyaris menelan semua obat itu, tiba-tiba Jessica langsung memuntahkannya ke lantai dan mengurungkan niatnya."Tidak! Aku tidak bisa melakukan ini! Tidak bisa!" isaknya, lalu menangis dan berbaring miring di atas ranjangnya.Jemarinya meremas bantal dengan kuat, ingin sekali Jessica menjerit marah.Mengapa hati kecilnya melarangnya melakukan itu? Mengapa hati kecilnya tak mengizinkanna melenyapkan bayi milik James yang sedang dikandungnya?***"Tuan Alden! Anda membeli sebuah bunga?" Nando—sekretaris Alden bertanya pada Alden ketika bossnya itu menghentikan mobil di toko bunga, lalu membeli buket bunga mawar berukuran sedang dari sana.Masih berdiri di dalam toko itu, Alden mendekatkan bunga ke hidungnya, aroma wangi dari bunga mawar itu langsung membelai indera penciumannya.Alden tersenyum menatap bunga di tangannya. Senyum itu membuat Nando semakin bingung. Pasalnya, ia seperti tak mengenal sosok Alden yang saat ini berdiri di hadapannya.

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 94

    Seketika Jessica mematung di tempatnya. Ia berpikir, setiap kali melewati gang yang tak jauh di depannya itu, Jessica memang seringkali melihat ada beberapa lelaki yang sedang mabuk dan berjudi. Kini, Jessica jadi takut dan gamang jika harus melanjutkan langkah kakinya.Ketika melihat Jessica tak bergerak atau pun bereaksi, James akhirnya mulai kembali menyalakan mesin mobilnya. Bermaksud untuk meninggalkan Jessica saja. Gadis ini terlihat sedang berpikir seperti siput saja. Lambat sekali menurut James.Tapi, ketika mesin mobil James benar-benar menyala. Pintu mobil depannya juga sudah ditutup. Jessica mulai membuka mulutnya dan segera bergerak untuk menghadang mobil James yang sudah kembali pada posisi yang benar.“James, Tunggu!” teriak Jessica.Sontak saja James menghentikan mobilnya. Diam-diam di dalam mobil, sudut bibirnya terangkat.Jessica mengetuk kaca mobil, dan James menurunkannya.“James. Enghh ... boleh aku menumpang padamu?” tanya Jessica dengan wajah malu dan takut.Jame

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 93

    "Hei! Buka matamu! Aku mohon, Tuan! Sadarlah!" Jessica menepuk-nepuk kedua pipi Alden untuk menyadarkannya."Lebih baik segera bawa saja dia ke rumah sakit!" salah satu orang yang ikut berkerumun di sana memberi saran.Jessica mengangguk, membiarkan orang-orang itu membawa Alden masuk ke dalam mobil bagian belakang. Jessica dipaksa ikut ke mobil dan ia duduk dengan menaruh kepala Alden di atas pangkuannya.Padahal seharusnya Jessica sudah tiba di tempat kerjanya. Tetapi dengan terpaksa Jessica menghubungi atasannya dan meminta izin kalau ia akan sangat terlambat masuk kerja. Awalnya Jessica mendapat omelan dari atasannya. Tetapi syukurlah atasannya masih berbaik hati dengan tidak memecatnya.Mungkin karena selama ini Jessica selalu bekerja dengan baik tanpa mengambil cuti satu kalipun.Sepanjang jalan menuju rumah sakit, sesekali Jessica menunduk memperhatikan wajah tampan yang berada sangat dekat dengannya. Kedua alisnya saling bertaut saat benaknya memikirkan sesuatu.Setelah diperi

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 92

    Bukan hanya saat kakek dan ibu kandungnya meninggal, tapi juga karena desakan para anggota klan mafia yang dipimpin Evans terus mendesaknya untuk ikut bergabung dengan mereka.Jika bukan karena Ranira, mereka pasti tak segan mencelakai James karena dianggap berkhianat pada klan mereka."Tapi aku tidak dibutuhkan di sana, Nek. Kalian mulai saja acaranya tanpa aku," kata James dengan wajah biasa saja saat mengatakan itu. Tapi jauh dalam hatinya, jelas James tidak sedang baik-baik saja.Dan Ranira selalu marah setiap kali James mengatakan itu.“Kau jangan bicara begitu! Pokoknya kau harus datang ke sini! Kalau kau berkeras tidak mau datang, Nenek pastikan, kau tidak akan pernah melihat wajah nenek lagi besok pagi!' kata Ranira sebelum mengakhiri sambungan telponnya.James berdecak mendengar itu. Ranira mengancamnya dan James tahu kalau Neneknya itu tidak pernah bermainmain dengan perkataannya.Maka mau tidak mau, James harus datang ke sana. Karena ia tidak ingin kehilangan Ranira yang sa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status