แชร์

BAB 5

ผู้เขียน: Syifa Safaah
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-09 13:13:16

"Jangan mendekat!"

"Sudah kubilang tidak boleh ada yang berani memerintahku!" tegas Evans. Mata biru gelapnya mengkilat.

Evans mencondongkan tubuhnya, membuat jarak wajahnya semakin dekat dengan wajah Ranira yang berkulit seputih kapas.

Dalam posisi sedekat ini. Tentu saja Ranira langsung pucat pasi jika berhadapan dengan Evander.  Ranira menahan napas menatap mata biru yang menyorotnya tajam.

Sialnya pria ini tampan. Tapi ketampanannya hanya serupa jubah untuk menyembunyikan sisi kejamnya.

"Katamu aku tidak menarik, kan? Tapi kenapa kau repot-repot datang ke kamar ini, Tuan Evander Lukas?" ejek Ranira.

Evans tersenyum menyeringai. "Kau begitu percaya diri mengira aku akan sudi menyentuhmu? Perlu kau tahu kalau aku biasanya tak pernah menyentuh wanita yang sama lebih dari satu kali, kecuali wanita itu spesial bagiku," bisik Evans.

Ranira tersenyum. "Kalau begitu semoga aku tidak pernah menjadi yang spesial bagimu agar aku tak perlu lagi berurusan dengan pria berhati dingin sepertimu," balas Ranira yang seketika memadamkan raut wajah Evans.

Dari riak wajahnya yang redup, tampaknya Evans tak suka mendengar perkataan Ranira barusan.

"Tapi kau juga harus tahu satu hal ..." kali ini Evans berdiri menegakan tubuhnya. Kedua tangannya melipat di depan dada.

Mata Ranira ikut mendongkak menatap wajah lelaki itu.

"Biasanya setelah aku menikmati seorang gadis tawanan sebanyak satu kali, aku akan langsung melempar mereka pada bawahanku untuk dimainkan sesuka mereka. Kadang aku juga akan menjualnya ke tempat pelelangan jika gadis itu terlihat menarik," sinis Evans.

Terhenyak, Ranira sampai membulatkan matanya lebar-lebar.

Sementara Evans justru tampak puas dengan senyum bajingannya.

"Tidurlah yang nyenyak, Ranira Moseley! Besok aku akan tentukan nasib apa yang paling bagus untukmu. Antara memberikanmu pada para anggotaku atau menjualmu ke tempat pelelangan." Setelah mengatakan itu, Evans berbalik dan beranjak keluar dari kamar Ranira.

Ditutupnya kembali pintu kamar itu dengan rapat. Meninggalkan Ranira yang masih tercenung di atas ranjangnya.

"Dia akan melakukannya? Evans bukan orang yang bermain-main dengan kata-katanya. Apa dia akan benar-benar melakukan itu padaku?" tangan Ranira meremas pelan rambutnya sendiri. Merasa frustasi.

Sesak napas menghimpit dadanya.

Entah bagaimana nasibnya esok hari.

***

Pagi telah kembali menyambut. Semua orang pun terbangun dan mulai menjalankan aktivitas mereka masing-masing.

Namun, Ranira masih bergelung dalam selimut. Sejak semalam ia hanya berbaring dengan mata yang tetap terbuka.

Ya! Karena memikirkan ucapan Evans semalam, Ranira jadi tak bisa tidur hingga pagi ini.

"Hari ini Evans akan menentukan nasibku. Hhh …  apa yang harus kulakukan? Sialan! Aku harus kabur dari sini. Pasti ada jalan keluar dari neraka ini."

Meskipun Ranira tak pernah tahu seperti apa suasana dan bentuk tempat pelelangan para wanita yang disebutkan Evans, namun Ranira tak sudi menjajakan tubuhnya di depan para lelaki konglomerat.

"Pagi ini pintunya tidak terkunci lagi. Apakah mereka membuka kunci pintu kamarku setiap pagi?" gumam Ranira senang setelah mendapati dirinya ternyata tak dikurung.

Dalam setiap ruangan di dalam mansion Evander yang begitu luas, kedua kaki langsing Ranira bergerak cepat melangkah mencari jalan keluar.

Ranira menuruni anak tangga dengan hati-hati agar tak terpleset dan menimbulkan kegaduhan. Ia pun akan bersembunyi ketika dirasa ada orang di sekitarnya.

Karena begitu luasnya mansion itu, Ranira merasa lelah mencari jalan keluar.

"Aku tak boleh menyerah. Aku hanya perlu berdoa agar tak bertemu dengan iblis sialan itu!" mempercepat langkahnya, Ranira tersenyum ketika melihat sebuah pintu yang seperti mengarah ke jalan keluar.

Ranira berkesimpulan begitu sebab ada cahaya matahari yang terlihat dari celah pintu tersebut.

Ranira pun bergegas masuk ke dalamnya.

Akan tetapi, keningnya berkerut setelah menyadari pintu itu malah membuatnya terjebak di dalam sebuah ruangan markas para anggota mafia itu berkumpul. Cahaya matahari yang ia lihat dari kejauhan hanyalah sebuah ilusi mata dari mewahnya ruangan di dalamnya.

"Evans?!" secepatnya Ranira bersembunyi di balik buffet besar ketika melihat Evans yang duduk di kursi kejayaannya.

Di depannya ada puluhan bawahan yang berdiri sambil memperhatikan Evans yang sedang berbicara tegas pada seorang lelaki tua yang berlutut di hadapannya.

"Menyerahlah, Tuan Jhon! Dan berikan seluruh tanah itu kepadaku!" perintah Evans pada lelaki tua yang ternyata bernama Jhon.

Dengan tegas lelaki tua itu menggelengkan kepala. "Sampai mati pun aku tidak akan sudi memberikan tanah milik kakek buyutku pada kalian. Kau sengaja memalsukan dokumen kepemilikan tanah itu untuk mengakuisisi tanah milik mendiang kakek buyutku. Kau sangat licik!"

Evans menyeringai. "Kau sudah sangat fatal dengan mengikuti bawahanku sampai ke sini lalu menyelinap masuk ke dalam mansionku. Apa yang kau lakukan itu adalah sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Setidaknya, aku masih bisa berpikir untuk membiarkanmu tetap hidup asal kau setuju menyerahkan seluruh tanah itu padaku!"

"Dasar bengis! Kejam! Kau harusnya malu karena tiba-tiba membuat dokumen palsu dan mengakui tanah milik orang lain. Kau sudah sekaya ini, tapi kau menindas orang rendah seperti kami," sentak Jhon kesal.

Dengan santai Evans menaikan kaki kananannya ke kaki kiri, bersikap tenang dan santai di depan orang yang sedang ditindasnya.

"Aku akan pastikan aku memenangkan pengadilan untuk mendapatkan kembali tanah kakek buyutku!" lanjut Jhon dengan keras.

Tawa pelan berderai dari mulut Evans dan beberapa anggota mafia yang ada di ruangan itu. Termasuk Natthan—yang merupakan ayah Evans.

Natthan berdiri tegap dan menatap bangga pada Evans yang telah ia didik menjadi boss mafia yang bengis dan kejam. Hingga tidak ada organisasi mafia lain yang berani menyenggol seorang Evander.

"Jangan terlalu percaya diri, Tuan Jhon. Sebenarnya aku tidak tega mengatakannya. Tapi kau harus tahu bahwa kau tidak akan bisa memenangkan pengadilan. Sebab pihakku sudah menjalin kolusi dengan pihak aparat untuk memenangkan kepemilikan atas tanah itu." Seringaian Evans semakin lebar.

Mendengar para mafia kejam itu telah menjalin kerja sama dengan aparat, sontak saja bola mata Jhon membelalak lebar. Bahkan Ranira yang bersembunyi pun langsung membekap mulutnya mendengar kekejaman dan kelicikan Evander.

Sialan! Pantas saja beberapa pihak aparat terkesan membela Evans.

"Berengsek kau!" Jhon berteriak marah dan akan menyerang Evans.

Namun Evans lebih dulu mengacungkan pistolnya pada Jhon hingga membuat lelaki tua itu tak berkutik.

"Jangan berani menyentuhku atau peluru ini akan menembus batok kepalamu!" Evans mengancam sambil berdiri dari duduknya.

Ranira mencoba mengintip, lalu terhenyak melihat Evans yang menodongkan pistol pada lelaki tua pendek di depannya.

"Dasar iblis! Dia hanya berani pada orang yang lemah. Kakek-kakek setua itu, masih saja dia ancam dengan kejam," batin Ranira menggerutu.

"Jangan bunuh aku!" tubuh Jhon gemetaran.

Namun tak membuat Evans menurunkan pistolnya. "Akan kuhitung sampai tiga, kemudian akan kutarik pelatuknya. Satu!"

"Kumohon jangan!" Jhon menggeleng.

"Dua! Ti—"

"Jangaan!" sebelum Evans berhasil menarik pelatuknya, Ranira lebih dulu keluar dari tempat persembunyian dan berteriak keras.

Sontak saja teriakannya itu membuat semua orang yang ada di sana menoleh.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 88

    "Nyonya Ranira tertidur, Tuan?" Enny terkejut melihat Evans yang menggendong tubuh Ranira yang tertidur di dalam mobil."Ya. Tolong bawakan tasnya yang tertinggal di mobilku!" perintah Evans sambil terus berjalan dan membawa tubuh istrinya masuk ke dalam pintu utama mansion.Enny mengangguk patuh dan melakukan apa yang disuruh.Sementara itu, Evans terus melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai atas.Setelah lift itu tiba, Evans pun keluar dari dalamnya dan melangkah memasuki kamar."Aku bingung bagaimana caranya kau bisa tidur pulas di dalam mobil," gumam Evans tersenyum menatap wajah istrinya yang baru saja ia baringkan di atas ranjang mereka.Evans duduk di dekat kaki Ranira dan melepaskan sepatu wanita itu satu per satu.Selanjutnya Evans berdiri membungkuk sambil menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada.

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 87

    "Sepertinya Erick mengetahui sesuatu, Tuan. Karena rekanku bilang Erick mencari Anda dengan wajah emosi. Dia meneriaki Anda dengan sebutan penculik dan pembunuh. Mungkinkah Erick sudah tahu kalau kebakaran yang menewaskan kedua orang tua Tuan Evans adalah disebabkan oleh Anda?" salah satu bawahan Nathan berasumsi.Ranira yang masih berada di bawah kolong meja pun spontan membekap mulutnya dengan satu telapak tangan. Ia terkejut mendengar penuturan Nathan dan kedua bawahannya.Ternyata Nathan lah yang membakar rumah Evans dan membuat kedua orang tuanya tewas. Tapi apa tujuan Nathan melakukan semua itu?Kenapa tiba-tiba ia mengadopsi Evans? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam benak Ranira."Jika benar begitu, maka pamannya Evans itu harus segera dilenyapkan. Aku tidak mau nantinya dia akan menjadi ancaman besar untukku. Evans sudah menjadi milikku. Aku tidak mau kehilangan anak cerdas itu. Ka

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 86

    "Benar. Wah, ternyata kau masih mengingatku ya." Thomas tersenyum lebar. Lalu ia melihat kea rah Ranira dan berjabat tangan untuk berkenalan."Thomas, aku minta maaf, aku harus mengantar istriku ke toilet," ujar Evans."Kenapa harus diantar segala? Toiletnya tak jauh, kan? Istrimu tidak akan tersesat. Kau di sini saja. Kita baru saja bertemu. Masih ada beberapa hal penting yang perlu kubicarakan padamu." Thomas terus nyerocos dengan wajah santainya.Hal itu membuat Evans berdecak sebal. Karena tak tahan Evans pun menggenggam tangan kanan Ranira dan hendak pergi meninggalkan Thomas begitu saja.Namun Ranira menggeleng dan berkata. "Temani temanmu. Aku bisa pergi sendiri ke toilet. Tunjukan saja di mana arah toiletnya!""Ranira, aku yang akan mengantarmu.""Tunjukan saja, Evans! Temanmu itu sepertinya masih ingin bernostalgia denganmu."Sej

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 85

    "Tuan Evans, Nona Ranira sudah datang!" Frank melihat Ranira yang baru saja keluar dari pintu utama dan berdiri di teras depan mansion.Sementara Evans sendiri memunggungi Ranira sambil menelpon seseorang di dekat mobilnya.Ucapan Frank membuat mata Evans pun menoleh ke arah teras dan seketika itu Evans terperangah selama beberapa detik.Matanya mengerjap, merasa takjub pada penampilan Ranira yang begitu cantik dan menawan dengan balutan dress warna merah berkerah sabrina yang panjang roknya mencapai mata kaki.Sial! Evans tak dapat menyangkal jika malam ini Ranira terlihat begitu ... cantik."Aku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang?" ajak Ranira pada Evans.Evans tersadar dari lamunannya. Saking terpesona, Evans sampai tak menyadari tiba-tiba Ranira sudah berdiri di depannya."Eh, iya. Ayo kita berangkat!" Evans mengangguk, lalu memb

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 84

    Apakah Cristie tak takut Evans akan menghukumnya?Enny menganggukan kepala, membenarkan pernyataannya. "Benar, Nyonya. Bahkan saat ini Tuan Evans sedang memberikan hukuman pada Cristie di bawah. Semua pelayan menyaksikan hukuman itu, termasuk Lusia—ibunya."Mendengar hal tersebut, Ranira segera menaruh gelas kosongnya di atas meja kemudian ia berdiri dan bergegas keluar kamar untuk melihat hukuman apa kiranya yang sedang diberikan oleh Evans pada Cristie.Lift berdenting, Ranira pun sampai di lantai bawah dan kini kakinya melangkah keluar dari pintu lift dan terus berjalan menuju ruang tengah, tempat dimana Evans dan semua pelayan sedang berkumpul menyaksikan hukuman Cristie."Tuan Evans! Tolong hentikan! Tangan putriku sudah memerah. Tolong tuan ..." Lusia memohon sampai bersimpuh di depan kaki Evans agar tangan Cristie tak lagi dicambuk dengan menggunakan gesper berwarna hitam.

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 83

    Evans yang duduk di sampingnya pun mengerutkan dahi. Antara kaget dan bingung karena anjing milik istrinya itu selama ini terlihat sehat-sehat saja.Berbeda dengan mereka, Cristie justru tak memasang wajah terkejut sedikit pun. Yang ada sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. Ia merasa puas melihat Ranira yang panik mendengar kematian anjing kesayangannya."Benar, Nyonya. Aku baru saja mau melihat anjing Anda untuk memastikan dia makan dengan baik, tapi kulihat dia sudah kaku di kandangnya.""Evans, aku harus melihatnya sekarang!" mendorong kursinya ke belakang, Ranira lantas memegangi perutnya sambil berjalan cepat menuju ke halaman belakang mansion."Ranira!" Evans memanggil dan menyusul segera. Takut sekali Ranira yang panik itu tak berhati-hati saat berjalan dan jatuh karena wanita itu setengah berlari.Benar saja apa yang dikatakan oleh Enny.

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 17

    Kata-kata Ranira berhenti saat menyadari sorot mata Evans mulai menggelap. Tatapan itu terasa dingin."Aku akan menikah atau tidak, itu bukan urusanmu! Kau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku," kata Evans sambil berdesis di depan wajah Ranira.Selanj

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 14

    Ranira membeku di tempatnya. Alisnya mengernyit mendengar Natthan memanggilnya dengan cara yang sangat tidak sopan."Kau memanggilku?" tanya Ranira."Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan kau.""Namaku bukan gadis sialan. Aku punya nama!

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 15

    "Soal itu tidak perlu kau ingatkan. Evans memang selalu menginginkanku setiap waktu. Dia tidak bisa jauh dariku. Tapi ada hal penting yang ingin kuberitahukan padamu.""Benarkah? Sepenting apakah yang ingin kau katakan?" tanya Ranira melipat kedua tangannya di dada.&n

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 16

    "Apa? Jadi Evans akan mengajak gadis itu pergi bersamanya besok?" Natthan terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh Rey, bawahannya.Sambil duduk di kursinya, tangan kanan Nathan terkepal kuat."Sialan! Sepertinya Evans tahu kalau aku berniat menying

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status