Masuk"Jangan mendekat!"
"Sudah kubilang tidak boleh ada yang berani memerintahku!" tegas Evans. Mata biru gelapnya mengkilat.
Evans mencondongkan tubuhnya, membuat jarak wajahnya semakin dekat dengan wajah Ranira yang berkulit seputih kapas.
Dalam posisi sedekat ini. Tentu saja Ranira langsung pucat pasi jika berhadapan dengan Evander. Ranira menahan napas menatap mata biru yang menyorotnya tajam.
Sialnya pria ini tampan. Tapi ketampanannya hanya serupa jubah untuk menyembunyikan sisi kejamnya.
"Katamu aku tidak menarik, kan? Tapi kenapa kau repot-repot datang ke kamar ini, Tuan Evander Lukas?" ejek Ranira.
Evans tersenyum menyeringai. "Kau begitu percaya diri mengira aku akan sudi menyentuhmu? Perlu kau tahu kalau aku biasanya tak pernah menyentuh wanita yang sama lebih dari satu kali, kecuali wanita itu spesial bagiku," bisik Evans.
Ranira tersenyum. "Kalau begitu semoga aku tidak pernah menjadi yang spesial bagimu agar aku tak perlu lagi berurusan dengan pria berhati dingin sepertimu," balas Ranira yang seketika memadamkan raut wajah Evans.
Dari riak wajahnya yang redup, tampaknya Evans tak suka mendengar perkataan Ranira barusan.
"Tapi kau juga harus tahu satu hal ..." kali ini Evans berdiri menegakan tubuhnya. Kedua tangannya melipat di depan dada.
Mata Ranira ikut mendongkak menatap wajah lelaki itu.
"Biasanya setelah aku menikmati seorang gadis tawanan sebanyak satu kali, aku akan langsung melempar mereka pada bawahanku untuk dimainkan sesuka mereka. Kadang aku juga akan menjualnya ke tempat pelelangan jika gadis itu terlihat menarik," sinis Evans.
Terhenyak, Ranira sampai membulatkan matanya lebar-lebar.
Sementara Evans justru tampak puas dengan senyum bajingannya.
"Tidurlah yang nyenyak, Ranira Moseley! Besok aku akan tentukan nasib apa yang paling bagus untukmu. Antara memberikanmu pada para anggotaku atau menjualmu ke tempat pelelangan." Setelah mengatakan itu, Evans berbalik dan beranjak keluar dari kamar Ranira.
Ditutupnya kembali pintu kamar itu dengan rapat. Meninggalkan Ranira yang masih tercenung di atas ranjangnya.
"Dia akan melakukannya? Evans bukan orang yang bermain-main dengan kata-katanya. Apa dia akan benar-benar melakukan itu padaku?" tangan Ranira meremas pelan rambutnya sendiri. Merasa frustasi.
Sesak napas menghimpit dadanya.
Entah bagaimana nasibnya esok hari.
***
Pagi telah kembali menyambut. Semua orang pun terbangun dan mulai menjalankan aktivitas mereka masing-masing.
Namun, Ranira masih bergelung dalam selimut. Sejak semalam ia hanya berbaring dengan mata yang tetap terbuka.
Ya! Karena memikirkan ucapan Evans semalam, Ranira jadi tak bisa tidur hingga pagi ini.
"Hari ini Evans akan menentukan nasibku. Hhh … apa yang harus kulakukan? Sialan! Aku harus kabur dari sini. Pasti ada jalan keluar dari neraka ini."
Meskipun Ranira tak pernah tahu seperti apa suasana dan bentuk tempat pelelangan para wanita yang disebutkan Evans, namun Ranira tak sudi menjajakan tubuhnya di depan para lelaki konglomerat.
"Pagi ini pintunya tidak terkunci lagi. Apakah mereka membuka kunci pintu kamarku setiap pagi?" gumam Ranira senang setelah mendapati dirinya ternyata tak dikurung.
Dalam setiap ruangan di dalam mansion Evander yang begitu luas, kedua kaki langsing Ranira bergerak cepat melangkah mencari jalan keluar.
Ranira menuruni anak tangga dengan hati-hati agar tak terpleset dan menimbulkan kegaduhan. Ia pun akan bersembunyi ketika dirasa ada orang di sekitarnya.
Karena begitu luasnya mansion itu, Ranira merasa lelah mencari jalan keluar.
"Aku tak boleh menyerah. Aku hanya perlu berdoa agar tak bertemu dengan iblis sialan itu!" mempercepat langkahnya, Ranira tersenyum ketika melihat sebuah pintu yang seperti mengarah ke jalan keluar.
Ranira berkesimpulan begitu sebab ada cahaya matahari yang terlihat dari celah pintu tersebut.
Ranira pun bergegas masuk ke dalamnya.
Akan tetapi, keningnya berkerut setelah menyadari pintu itu malah membuatnya terjebak di dalam sebuah ruangan markas para anggota mafia itu berkumpul. Cahaya matahari yang ia lihat dari kejauhan hanyalah sebuah ilusi mata dari mewahnya ruangan di dalamnya.
"Evans?!" secepatnya Ranira bersembunyi di balik buffet besar ketika melihat Evans yang duduk di kursi kejayaannya.
Di depannya ada puluhan bawahan yang berdiri sambil memperhatikan Evans yang sedang berbicara tegas pada seorang lelaki tua yang berlutut di hadapannya.
"Menyerahlah, Tuan Jhon! Dan berikan seluruh tanah itu kepadaku!" perintah Evans pada lelaki tua yang ternyata bernama Jhon.
Dengan tegas lelaki tua itu menggelengkan kepala. "Sampai mati pun aku tidak akan sudi memberikan tanah milik kakek buyutku pada kalian. Kau sengaja memalsukan dokumen kepemilikan tanah itu untuk mengakuisisi tanah milik mendiang kakek buyutku. Kau sangat licik!"
Evans menyeringai. "Kau sudah sangat fatal dengan mengikuti bawahanku sampai ke sini lalu menyelinap masuk ke dalam mansionku. Apa yang kau lakukan itu adalah sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Setidaknya, aku masih bisa berpikir untuk membiarkanmu tetap hidup asal kau setuju menyerahkan seluruh tanah itu padaku!"
"Dasar bengis! Kejam! Kau harusnya malu karena tiba-tiba membuat dokumen palsu dan mengakui tanah milik orang lain. Kau sudah sekaya ini, tapi kau menindas orang rendah seperti kami," sentak Jhon kesal.
Dengan santai Evans menaikan kaki kananannya ke kaki kiri, bersikap tenang dan santai di depan orang yang sedang ditindasnya.
"Aku akan pastikan aku memenangkan pengadilan untuk mendapatkan kembali tanah kakek buyutku!" lanjut Jhon dengan keras.
Tawa pelan berderai dari mulut Evans dan beberapa anggota mafia yang ada di ruangan itu. Termasuk Natthan—yang merupakan ayah Evans.
Natthan berdiri tegap dan menatap bangga pada Evans yang telah ia didik menjadi boss mafia yang bengis dan kejam. Hingga tidak ada organisasi mafia lain yang berani menyenggol seorang Evander.
"Jangan terlalu percaya diri, Tuan Jhon. Sebenarnya aku tidak tega mengatakannya. Tapi kau harus tahu bahwa kau tidak akan bisa memenangkan pengadilan. Sebab pihakku sudah menjalin kolusi dengan pihak aparat untuk memenangkan kepemilikan atas tanah itu." Seringaian Evans semakin lebar.
Mendengar para mafia kejam itu telah menjalin kerja sama dengan aparat, sontak saja bola mata Jhon membelalak lebar. Bahkan Ranira yang bersembunyi pun langsung membekap mulutnya mendengar kekejaman dan kelicikan Evander.
Sialan! Pantas saja beberapa pihak aparat terkesan membela Evans.
"Berengsek kau!" Jhon berteriak marah dan akan menyerang Evans.
Namun Evans lebih dulu mengacungkan pistolnya pada Jhon hingga membuat lelaki tua itu tak berkutik.
"Jangan berani menyentuhku atau peluru ini akan menembus batok kepalamu!" Evans mengancam sambil berdiri dari duduknya.
Ranira mencoba mengintip, lalu terhenyak melihat Evans yang menodongkan pistol pada lelaki tua pendek di depannya.
"Dasar iblis! Dia hanya berani pada orang yang lemah. Kakek-kakek setua itu, masih saja dia ancam dengan kejam," batin Ranira menggerutu.
"Jangan bunuh aku!" tubuh Jhon gemetaran.
Namun tak membuat Evans menurunkan pistolnya. "Akan kuhitung sampai tiga, kemudian akan kutarik pelatuknya. Satu!"
"Kumohon jangan!" Jhon menggeleng.
"Dua! Ti—"
"Jangaan!" sebelum Evans berhasil menarik pelatuknya, Ranira lebih dulu keluar dari tempat persembunyian dan berteriak keras.
Sontak saja teriakannya itu membuat semua orang yang ada di sana menoleh.
"Jangan mendekat!""Sudah kubilang tidak boleh ada yang berani memerintahku!" tegas Evans. Mata biru gelapnya mengkilat.Evans mencondongkan tubuhnya, membuat jarak wajahnya semakin dekat dengan wajah Ranira yang berkulit seputih kapas.Dalam posisi sedekat ini. Tentu saja Ranira langsung pucat pasi jika berhadapan dengan Evander. Ranira menahan napas menatap mata biru yang menyorotnya tajam.Sialnya pria ini tampan. Tapi ketampanannya hanya serupa jubah untuk menyembunyikan sisi kejamnya."Katamu aku tidak menarik, kan? Tapi kenapa kau repot-repot datang ke kamar ini, Tuan Evander Lukas?" ejek Ranira.Evans tersenyum menyeringai. "Kau begitu percaya diri mengira aku akan sudi menyentuhmu? Perlu kau tahu kalau aku biasanya tak pernah menyentuh wanita yang sama lebih dari satu kali, kecuali wanita itu spesial bagiku," bisik Evans.Ranira tersenyum. "Kalau begitu semoga aku tidak pernah menjadi yang spesial bagimu agar aku tak perlu lagi berurusan dengan pria berhati dingin sepertimu,"
Sofia terkejut membekap mulutnya dengan telapak tangan kanan. Tak percaya jika ada wanita yang berani meludahi wajah seorang Evander Lukas."Aku lebih baik mati daripada berterima kasih pada iblis sepertimu," balas Ranira tegas."Tuan Evans." Sofia berdiri dan memberikan beberapa lembar tissue pada Evans. Tangan Evans menerimanya, lalu ia menegakan tubuh dan membersihkan wajahnya yang terkena ludah Ranira.Evans membuka matanya yang tajam. Kini mata setajam elang itu mengarah pada mata Ranira selayaknya anak panah yang bersiap melesat ke tujuan.Dengan rahang yang mengetat, kedua tangan Evans mengepal kuat. Giginya mengeletuk seiring dengan emosi yang makin meningkat kala melihat wajah angkuh Ranira."Jangan berikan dia makanan sampai besok! Kurung dia di kamar!" perintah Evans dengan nada tinggi sambil mengarahkan telunjuk kanannya pada Ranira yang terkejut."Baik Tuan." Para pelayan yang ada di sana mengangguk patuh.Evans mendengus kesal dan sempat melemparkan tatapan membunuhnya p
Ranira menoleh, lalu mengerutkan kening melihat seorang wanita muda yang usianya mungkin sedikit lebih tua darinya.Wanita berparas cantik dan berambut pirang itu menampilkan wajah sinis. Kedua tangannya melipat di depan dadanya yang membusung dan tampak seksi.Ranira meringis melihat pakaian wanita tersebut yang menurutnya sangat seksi.Dia adalah Sofia Lovita."Kau mau mencoba kabur dari mansion Evander?" tebak Sofia yang sialnya adalah benar."Enghh ..." Ranira menggigit bibir. Takut salah bicara. Bisa saja wanita cantik di hadapannya ini adalah mata-mata Evans yang diperintah untuk memantaunya."Percuma saja. Sekuat apa pun kau berusaha kabur dari mansion ini, kau tidak akan pernah bisa meloloskan diri. Karena semua wanita yang telah masuk ke dalam pintu mansion ini, seperti terjebak di dalamnya. Tidak ada yang dapat keluar, kecuali Evans sendiri yang membuang wanita tersebut," kata Sofia yang lantas membuat Ranira membulatkan mata."Kau tahu banyak tentang Evans dan tempat ini?"
Namun, kedua tangan Ranira mengepal kuat setelah ingat bahwa lelaki tampan di hadapannya ini adalah sosok manusia berhati iblis. Penjahat kelas kakap."Tutup pintunya!" Evans sedikit menoleh ke belakang, memerintah pada bawahannya yang langsung mengangguk patuh dan menutup rapat pintu kamar tersebut.Kini, Ranira terjebak bersama Evans di dalam kamar itu. Suasana di dalamnya, seketika terasa mencekam bagi Ranira."Bagus. Ternyata si penghianat itu sudah menyerahkan tebusannya padaku," ucap Evans, tersenyum miring sambil melangkah maju dan duduk di sofa yang ada di dekat Ranira."Namamu Ranira Moseley?" tanya Evans, menuangkan sampanye ke dalam gelas kosong, lalu meneguknya hingga tandas.Ranira mengerutkan kening.Sejak kapan nama belakangnya berubah menjadi Moseley? Nama lengkapnya adalah Ranira Zanina. Moseley adalah nama belakang keluarga Mike.Ah, sial. Tentu saja, di sini Ranira harus berpura-pura menjadi anak kandungnya Mike Moseley."Jawab pertanyaanku! Aku tahu kau tidak bisa,
"Sesuai janjiku, aku datang ke sini untuk menyerahkan putriku pada Tuan Evans," ujar Mike pada dua anggota mafia di depannya.Ranira yang mendengar itu, sontak mengangkat wajah dan menoleh pada Mike dengan mata yang membelalak terkejut.Pasalnya sebelum ke sini, Mike mengatakan padanya dia akan mendaftarkan Ranira di kampus tempat Cristie kuliah.Tentu saja Ranira begitu bersemangat. Sejak dulu dia ingin kuliah, tapi dia harus mengubur impiannya karena keterbatasan biaya. Dia dan ibunya hanya bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Mike Moseley.Tapi kini, Mike mengingkari ucapannya. Bukannya membawa Ranira ke kampus seperti yang dijanjikannya, Mike justru membawanya ke sebuah mansion mewah yang catnya didominasi warna hitam.Entah tempat apa itu. Tapi Ranira merasa ngeri melihat dua pria berperawakan tinggi besar dengan tato naga di lengan, yang memasang wajah sangar di depannya."Baik. Tuan Evans sedang pergi ke luar. Mungkin dia akan pulang nanti malam. Kami akan menyampaikan ka







