Share

Anya Kritis

Author: Senjaaaaa
last update Last Updated: 2025-12-20 20:03:51

Gadis itu tergeletak tak bergerak. Rambutnya kusut menutupi sebagian wajahnya. Kulitnya pucat, penuh luka dan kotoran.

Bajunya putih.

Baju balet.

Dari pahanya mengalir darah segar, menodai kain putih itu.

Dan wajah itu...

“Kak?” suara itu keluar lirih. Hampir tak terdengar.

Dunia Nares berhenti.

Suara Jhon terdengar dari belakang, panik.

“Tuan…?”

Kotak beludru merah terlepas dari genggaman Nares, jatuh ke aspal dengan bunyi pelan. Ia tak peduli. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Dadanya sesak. Napasnya berat, seperti ada tangan yang menekan lehernya dari dalam.

Lampu mobil terus menyorot wajah gadis itu.

Wajah yang seharusnya berada di atas panggung.

Bukan di jalanan gelap.

Bukan dalam kondisi seperti ini.

Nares berlutut. Gerakannya cepat, tapi tangannya gemetar saat menyentuh tubuh itu.

“Anya…” suaranya pecah.

Ia mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Terlalu ringan. Terlalu dingin.

“Anya, sayang,” ucapnya tergesa. “Apa yang terjadi? Hah?”

Ia mencium kepala Anya berulang kali. Tangannya mencengkeram bahu gadis itu, seolah takut ia akan menghilang.

“Lihat kakak,” perintahnya lirih tapi tegas. “jangan tidur, Anya.”

Kelopak mata Anya bergetar. Lalu perlahan tertutup.

Tubuhnya terkulai.

“Tidak,” desis Nares. “Anya jangan tidur.”

Ia mengguncang tubuh itu sedikit.

“Anya. Bangun.”

Tak ada respons.

Nares berdiri cepat, menggendong Anya ke arah mobil. Gerakannya kasar, tapi pelukannya protektif. Jhon yang masih mematung tersadar dan langsung membuka pintu belakang.

Jhon sempat memungut kotak beludru merah yang tergeletak di aspal. Tangannya bergetar saat memasukkannya ke dalam saku jasnya.

“Cepat,” perintah Nares dingin, tapi matanya penuh kepanikan.

Jhon langsung melajukan mobil. Mesin meraung. Kecepatan meningkat tajam.

Di kursi belakang, Nares memangku tubuh Anya. Tangannya tak berhenti mengusap wajah gadis itu.

“Bangun, sayang,” ucapnya berulang. “Kakak di sini, Anya harus kuat.”

Ia menatap wajah yang penuh lebam. Bibir pecah. Tangan yang memar. Baju balet yang kotor dan sobek di beberapa bagian. Darah yang masih mengalir di kaki gadis itu.

Rahang Nares mengeras. Matanya menggelap.

Seharusnya kamu di panggung.

Menari.

Tersenyum.

Bukan seperti ini.

Siapa yang berani melakukan ini?…

Mereka sudah menggali kubur mereka sendiri.

Nares menunduk, menempelkan keningnya ke dahi Anya.

“Kakak janji,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan berbahaya.

“Semua yang bikin kamu seperti ini… akan mati.”

**

Nares memangku tubuh Anya keluar dari mobil. Wajahnya tegang, napasnya berat, ekspresi yang hampir tak pernah muncul pada pria sedingin dirinya. Langkahnya lebar dan cepat, seolah setiap detik adalah musuh.

“Cepat,” desisnya.

Jhon mengiringi di samping, rahangnya mengeras. Begitu melihat kondisi Anya, seorang perawat langsung berlari mendorong brankar.

“Dokter! Pasien gawat!” teriaknya.

Seorang pria berjas putih menghampiri. Tatapannya langsung berubah saat melihat tubuh Anya yang berlumur luka.

“Ares,” suaranya tajam. “Apa yang terjadi?”

Nares menatapnya dengan mata merah, suaranya serak namun menekan.

“Selamatkan Anya.”

Dokter Dirga menelan ludah. Ia tak perlu penjelasan panjang.

“IGD. Sekarang.”

Brankar melaju cepat diiringi Nares yang sudah kehilangan akal sehatnya. Kemeja putihnya penuh darah Anya, wajahnya kusut dia tak perduli. Pintu otomatis terbuka. Tubuh Anya dibawa masuk. Nares refleks hendak mengikuti, namun Dirga menahannya.

“Tunggu di luar,” ucap Dirga tegas. “Aku akan melakukan yang terbaik.”

Nares mengepalkan tangan. Urat di lehernya menegang.

“Selamatkan dia.”

Dirga mengangguk singkat. Pintu IGD menutup.

Sunyi menekan.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Nares berdiri tanpa bergerak, tatapannya tak lepas dari pintu itu. Dingin yang biasa menyelimutinya runtuh, digantikan gelisah yang menggerogoti dada.

Pintu terbuka.

Seorang perawat keluar dengan wajah serius. Nares langsung berdiri.

“Bagaimana keadaannya?”

Perawat itu menunduk.

“Maaf, Tuan. Kondisi pasien kritis. Kami butuh peralatan tambahan dan bantuan tenaga medis.”

Belum sempat Nares bicara, perawat itu berbalik. Dua dokter lain datang bersama beberapa perawat, mendorong alat masuk ke IGD.

Kritis.

Kata itu menghantam kepalanya.

Kenapa harus sebanyak ini?

Bagaimana kondisi Anya didalam sana?

Jhon berdiri di sampingnya, merasakan perubahan yang jarang terjadi, ketakutan yang tak bisa disembunyikan.

Ponsel Jhon berdering.

Nama di layar membuatnya menarik napas panjang.

Nyonya Besar.

“Halo?”

“Jhon!” suara Amanda panik. “Cari Anya. Dia menghilang. Dia bahkan meninggalakan perlombaan. Aku khawatir.”

Jhon memejamkan mata sesaat.

“Nyonya… Nona Anya bersama Tuan Nares.”

Helaan napas lega terdengar.

“Syukurlah…”

Namun Amanda terdiam sejenak. Belum sempat Jhon menjelaskan situasi yang sebenarnya, Amanda peka duluan.

“Tunggu. Ada apa? Kenapa dia bersama kalian? Kenapa meninggalkan panggung?”

Jhon memilih kata paling aman.

Namun setelah sejenak berpikir tak ada kata paling aman, untuk kondisi yang dialami Anya.

“Nyonya… kami di rumah sakit.”

“Hah?” suaranya meninggi. “Kenapa rumah sakit? Ada apa?”

“Nona Anya...”

“Putriku kenapa, Jhon?” suaranya bergetar.

“Nona Anya kritis.”

Sambungan langsung terputus.

Jhon menurunkan ponselnya perlahan. Napasnya berat. Ia menoleh ke Nares yang masih terpaku pada pintu IGD, rahang terkunci, mata gelap, tangan mengepal.

Siapa pun yang berani menyentuh Anya telah membuat kesalahan fatal.

Apa mereka belum tahu...

keluarga yang mereka usik adalah keluarga yang tak mengenal ampun.

Keluarga yang kejam, yang selalu memberikan harga tinggi atas semua kesalahan.

Tubuh Nares luruh ke lantai dingin, Jhon dapat melihat betapa Nares menahan Air matanya agar tak jatuh. Rahang pria itu mengeras, tangannya terus mengepal.

"Anya..."

Hanya itu yang terucap.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Kebenaran yang Baru Leon Tahu

    Di depan kelas, suasana mendadak hening. Alex berdiri di depan papan tulis dengan kepala tertunduk. Tangannya saling meremas, jelas tidak nyaman. Guru kelas berdiri di sampingnya. “Alex ingin menyampaikan sesuatu,” ujar sang guru. Alex menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Kiara. “Aku… aku minta maaf, Kiara,” katanya pelan. “Aku salah. Aku gak boleh ngomong jahat. Aku janji gak akan ngulangin lagi.” Kiara berdiri dari bangkunya. Wajahnya masih polos, matanya jernih. “Kiara maafin,” ucapnya lirih tapi tulus. “Asal kamu gak jahat lagi.” Alex mengangguk cepat. Namun sebelum suasana benar-benar reda, sebuah kursi bergeser kasar. Kyan berdiri. Matanya menatap Alex tajam. “Jadi kamu?” suaranya bergetar menahan marah. “Kamu yang bikin adikku sedih?” Alex menelan ludah. Kyan melangkah satu langkah ke depan. Tubuhnya kecil, tapi sorot matanya jauh dari kekanak-kanakan. “Kalau sekarang aku masih dianggap anak kecil, gak apa-apa,” katanya dingin. “Tapi kamu tunggu

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Mereka Anak Kita

    Leon tidak langsung pergi setelah memastikan Kyan dan Kiara masuk kelas. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Ia berbelok menuju gedung administrasi dan berhenti tepat di depan pintu bertuliskan Ruang Kepala Sekolah. Tok tok tok. Tanpa menunggu jawaban, Leon masuk. Kepala sekolah yang tengah merapikan berkas mendongak. “Ah, selamat pagi, Pak…?” Leon langsung meletakkan ponselnya di atas meja, menyalakan layar. “Saya mau bicara soal ini.” Video CCTV diputar. Adegan Kiara dihadang, diejek, ditertawakan. Kata anak haram terdengar jelas. Wajah kepala sekolah berubah. Ia berdehem, berusaha tenang. “Anak-anak, Pak. Biasalah… bercanda.” Leon mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya dingin. “Bercanda yang membuat anak perempuan lima tahun menangis dan trauma?” Kepala sekolah tersenyum kaku. “Kita bisa selesaikan secara kekeluargaan. Lagipula… anak-anak itu kan hanya anak dari bu Anya. Tidak perlu dibesar-besarkan.” Leon terkekeh pelan. Bukan karena lucu melainkan marah. “Dan menu

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Anak Haram?

    Malam itu, lampu kamar Kiara masih menyala. Jam di dinding sudah melewati tengah malam, tapi anak kecil itu belum juga terlelap. Leon berdiri di ambang pintu sebentar, lalu melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. Kiara memeluk bantal kecilnya, matanya terbuka, menatap langit-langit. “Kenapa Kiara belum tidur?” tanya Leon pelan. Kiara menoleh. Suaranya kecil, hampir bergetar. “Ayah Leon… anak haram itu apa?” Leon mengernyit. Jantungnya berdetak lebih keras. “Kenapa Kiara nanya begitu?” Ia mencoba tetap tenang. Leon mengusap rambut Kiara. “Nggak ada yang namanya anak haram, Kiara.” Kiara menelan ludah. “Bukannya aku sama Kyan itu anak haram ya?” Tubuh Leon menegang seketika. Dadanya seperti diremas. “Siapa yang bilang begitu?” suaranya menurun, tertahan marah. “Kamu anak Mama. Kamu anak Ayah.” Kiara memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca. “Katanya… aku sama Kyan anak yang nggak diinginkan. Terus itu namanya anak haram.” Leon langsung memeluk Kiara erat. Ia menahan nap

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Perundungan

    Pagi itu Anya berjongkok di depan dua anak kembarnya. Kyan dan Kiara berdiri rapi dengan seragam sekolah, tas kecil menggantung di punggung mereka. Anya mengelus pipi keduanya bergantian, menahan rasa berat di dadanya. “Mama pergi beberapa hari ya,” ucapnya lembut. “Temani tante Delia,” tambahnya, mencoba tersenyum. Kiara langsung memeluk leher Anya. “Jangan lama-lama, Ma.” Kyan ikut merapat, memegang tangan ibunya erat. “Mama hati-hati.” Anya mencium kening mereka satu per satu. “Mama pasti cepat pulang.” Tiga tahun terakhir, Anya bekerja di perusahaan properti. Ia adalah sekretaris pribadi Delia, CEO tempat ia bekerja perempuan tegas yang mempercayainya sepenuh hati. Hari ini ia harus keluar kota, dan sebelumnya ia sudah menitipkan Kyan dan Kiara pada Juan dan Leon. Tak lama, Leon datang. Ia berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan kecil itu dengan dada menghangat. “Kamu berangkat sekarang?” tanya Leon. “Iya,” jawab Anya. “Nitip anak-anak ya.” Leon mengangguk

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Kenersamaan

    Lima tahun kemudian Anya menghela napas panjang ketika potongan sayuran yang sudah rapi di talenan tiba-tiba tumpah ke lantai. “Ups...” Kiara berdiri kaku. Tubuh kecilnya menegang, kepalanya tertunduk. Mata bulat itu langsung berkaca-kaca, jelas merasa bersalah. Anya baru saja pulang bekerja. Bahunya pegal, kepalanya sedikit berdenyut, dan lelahnya sedang di puncak. Tapi ia menahan diri. Ia tahu, lelah bukan alasan untuk melukai hati anak. Hidup tanpa orang tua, tumbuh bersama nenek, lalu diasuh oleh orang asing semua itu mengajarkannya satu hal, anak kecil tak butuh teriakan, mereka butuh rasa aman. “Kiara… minta maaflah,” bisik Kyan pelan dari belakang, mencoba membantu adiknya. Dapur mendadak hening. Padahal tadi dua anak kembar itu berlarian sambil tertawa. “Mama…” Suara lembut itu langsung meluruhkan pertahanan Anya. Kiara yang suka dikepang dua itu memeluk kaki Anya erat-erat, menengadah dengan wajah polosnya. “Mama yang cantik… maafin Kiara, hum?” Anya t

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Dua Ayah yang Membingungkan

    Pintu ruang bersalin terbuka. Juan melangkah keluar dengan mata sembab, wajah basah oleh air mata namun bibirnya justru tertarik ke atas. “Haha…” tawanya pecah, terdengar aneh, campuran lega, haru, dan nyaris gila. Leon yang berdiri mondar-mandir langsung menoleh. Melihat ekspresi Juan, darahnya seketika mendidih. Ia maju dan mencengkeram kerah kemeja Juan keras. “Harusnya aku,” geram Leon. “Aku yang di dalam. Aku yang nemenin Anya!” Juan tak melawan. Ia hanya menatap Leon dengan mata merah, lalu berkata pelan tapi mantap, “Anaknya lahir. Sehat. Dua-duanya.” Ia tersenyum lagi, air mata kembali jatuh. “Anya hebat. Dia berjuang… hidup dan mati.” Cengkeraman Leon melemah. Tangannya jatuh perlahan. Dadanya naik turun. “Anya…” gumamnya lirih. Tanpa kata lagi, Leon menarik Juan ke dalam pelukan. Keduanya berpelukan erat, dua pria yang selama berbulan-bulan memendam amarah, cemburu, dan takut yang sama. Mereka tertawa sambil menangis. “Kita ikut berjuang,” ucap Juan terengah.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status