แชร์

Gadis Kesayangan si Raja Neraka
Gadis Kesayangan si Raja Neraka
ผู้แต่ง: Senjaaaaa

Malam Yang Menghancurkan

ผู้เขียน: Senjaaaaa
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-20 14:58:52

Jangan! Jangan!”

"Kalian gak bisa nyakitin aku.”

Suara gadis itu pecah di tengah bangunan terbengkalai. Nafasnya memburu. Tubuhnya gemetar saat dua belas pria mengurungnya rapat. Wajah-wajah bengis itu tersenyum tanpa empati, menyeramkan.

Salah satu dari mereka menirukan dengan suara cempreng.

“Jangan! Jangan! Kalian gak bisa nyakitin aku.”

Tawa meledak. Menggema di dinding beton.

Menakutkan dan menjijikkan.

“Kenapa gak bisa?” sahut yang lain. “Hah?”

Gadis itu menelan ludah. Matanya liar mencari jalan keluar, tapi tak ada.

“Kakakku…” suaranya bergetar. “Kakakku bakal bunuh kalian kalau berani sentuh aku.”

Tawa mereka makin keras.

“Kakakmu malaikat maut?” ejek seorang pria bertato di leher. “Atau cuma omong kosong?”

“Udah,” potong yang paling tua. “Kebanyakan bacot bikin kuping panas. Siapa duluan?”

“Gue.”

Seorang pria melangkah maju. Tatapannya menjijikkan. Bibirnya basah saat dijilat perlahan. Gadis itu mundur sampai punggungnya menyentuh dinding dingin,rasa takut dan jijik membuatnya refleks meludahi pria itu saat mencoba menyentuhnya.

CUIH

Ludah itu mendarat tepat diwajahnya.

"Jangan sentuh aku. Brengsek!"

Detik berikutnya tamparan keras menghantam pipinya. Tubuhnya terhuyung. Dunia berputar.

“Kurang ajar lo,” desis pria itu.

Tangan-tangan mulai bergerak. Suara langkah, tawa rendah, bisikan kotor yang tak ingin ia dengar. Gadis itu menjerit, tapi suara itu tenggelam oleh kegaduhan.

"Jangan!"

Gadis itu melirik sudut ruangan, seorang pria tergeletak di lantai berdebu.

Tubuhnya babak belur. Darah mengering di pelipis. Tangannya terikat, napasnya berat. Matanya terbuka menyaksikan semuanya.

"Aldo...tolong aku" mohon gadis itu.

Pria itu memejamkan mata.

Rahangnya mengeras. Wajahnya dingin, kosong, seolah tak ada apa pun yang menyentuh hatinya.

Semua ini karena kamu berani bersaing dengan Rania.

Suara itu bergema di kepala Revaldo.

Wanita yang aku perjuangkan kebahagiaannya.

Ia membuka mata lagi. Tatapannya kosong, tapi jari-jarinya bergetar.

Tawa di ruangan itu kembali pecah.

Sementara gadis itu hanya bisa merintih saat satu persatu pria itu bergiliran menyetubuhinya. Tangis tanpa suara menandakan betapa menderitanya ia malam itu. Air mata terus mengalir tanpa henti, sementara mulut sudah tak lagi mampu mengeluarkan suara.

**

Seorang pria bertubuh tinggi dengan mata setajam elang melangkah keluar dari bandara. Rahangnya tegas, ekspresinya datar, tapi auranya menekan. Di belakangnya, seorang pria berjas rapi menyeret dua koper besar.

Pria itu menghentikan langkahnya. Tangannya terangkat, ponsel sudah berada di telinga. Ia menekan nomor yang sama untuk ketiga kalinya.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

Ia menurunkan ponselnya perlahan. Alisnya mengerut.

“Ke mana dia?” gumamnya pelan.

Sejak turun dari pesawat, ia melihat belasan panggilan tak terjawab dari Anya Pricilla,gadis yang paling ia sayangi. Panggilan yang datang bertubi-tubi, seolah gadis itu panik. Tapi sekarang…

nomor itu justru mati.

“Tuan.”

Seorang sopir membukakan pintu mobil hitam berlapis kaca gelap. Pria itu masuk tanpa sepatah kata. Begitu pintu tertutup, hawa di dalam mobil seolah berubah.

Mobil mulai melaju pelan.

Pria itu bukan orang biasa. Dia,

Nares Maheswari.

Cucu pertama keluarga Mahesa.

Nama yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Muda Mahesa, si Raja Neraka.

Julukan itu lahir dari reputasi Nares yang tak pernah memberi ampun pada musuh. Sekali berani menyentuh wilayahnya, tak ada kata maaf. Tak ada kesempatan kedua. Tak ada pengampunan.

Langkahnya cepat, tepat dan kejam terhadap musuh-musuhnya.

Di kursi depan, Jhonatan asisten pribadinya menoleh sedikit melalui spion.

“Tuan, kita langsung ke mansion atau...”

“Gedung pentas,” potong Nares dingin.

Jhon terdiam sepersekian detik.

“Baik, Tuan.”

Mobil berbelok tajam.

Nares melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul sembilan malam.

“Seharusnya belum selesai,” ucapnya lirih, lebih pada dirinya sendiri.

Ia baru pulang dari New York. Kepulangan yang sengaja ia rahasiakan. Tidak satu pun pesan. Tidak satu pun panggilan. Ia ingin membuat kejutan untuk adik angkatnya, gadis yang begitu ia lindungi.

Malam ini Anya tampil. Perlombaan balet yang sudah ia persiapkan berbulan-bulan.

Sejak kecil, Anya hidup di dunia itu. Gerakan kaki, putaran tubuh, latihan tanpa lelah. Balet adalah dunianya.

Sudut bibir Nares terangkat tipis.

“Wajah kagetnya pasti lucu,” gumamnya.

Jhon kembali melirik lewat spion. Ia menarik napas pelan, lalu menggeleng hampir tak terlihat.

Ia tahu.

Lebih dari siapa pun.

Rasa sayang Tuan muda Mahesa pada Anya bukan sekadar kasih seorang kakak. Itu terlalu dalam. Terlalu protektif. Terlalu ketara meski disangkal.

Nares mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari saku jasnya. Ia membukanya perlahan.

Di dalamnya terbaring sebuah kalung berlian dengan liontin ruby merah darah. Terlihat sederhana, elegan. Tidak mencolok. Tapi jelas mahal. Kalung itu ia dapatkan dari lelang elit, dengan harga yang hanya orang-orang tertentu sanggup membeli.

“Anya pasti cantik pakai ini, merah warna kesukaannya.” gumam Nares pelan.

Dalam benaknya, Anya tersenyum lebar. Mata gadis itu berbinar, lalu berjinjit mencium pipinya.

Makasih, Kak Ares.

Anya sayang kakak.

Nares terkekeh kecil, dengan khayalan yang ia karang sendiri.

Tiba-tiba...

BRAK!

Mobil berhenti mendadak. Tubuh Nares terdorong ke depan. Kotak beludru terlepas dari tangannya dan jatuh ke bawah kursi.

“Shit!” umpatan Jhon terdengar keras.

Rahang Nares langsung mengeras. Ia membungkuk, mengambil kembali kotak itu, memastikan kalung di dalamnya aman. Setelah itu ia mengangkat wajahnya, tatapannya tajam.

“Kenapa?,” tanyanya singkat.

Jhon menelan ludah.

“Tuan… ada seorang gadis. Dia menabrakkan dirinya ke mobil kita.”

Nares berdecak.

“Cih. Trik murahan.”

Ia sudah hafal modus murahan itu. Pura-pura tertabrak, lalu minta ganti rugi. Atau lebih buruk, jebakan.

“Abaikan,” perintahnya dingin.

“Tapi, Tuan…” suara Jhon ragu. “Dia tergeletak tepat di depan mobil.”

“Tabrak saja,” jawab Nares tanpa perubahan nada.

Keputusan itu keluar begitu saja.

Kejam. Seperti biasanya.

Namun entah kenapa, dadanya berdetak lebih cepat. Ada rasa tak nyaman yang muncul tiba-tiba. Tidak jelas. Tidak masuk akal.

Jhon menyalakan mesin kembali.

“Tunggu.”

Satu kata itu membuat Jhon langsung menginjak rem.

Nares membuka pintu mobil. Ia turun dengan langkah santai, seolah yang ada di depannya bukan apa-apa. Sepatu kulitnya menginjak aspal basah. Jalanan gelap. Sepi. Lampu mobil menjadi satu-satunya cahaya.

Ia mendekat.

Lampu depan menyorot tubuh gadis itu tepat diwajahnya.

Detik berikutnya, wajah Nares menegang.

Langkahnya terhenti.

Tubuhnya kaku, seolah seluruh tulangnya lenyap begitu saja. Napasnya tertahan. Darahnya seperti surut dalam satu waktu.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Perdebatan Dua Pria

    Leon melirik Nares sekilas, lalu tersenyum tipis, seolah menahan komentar. Anya ikut menggeleng kecil, lelah dengan ketegangan yang sudah ia kenal sejak kecil. Nares mulai membantu Anya turun dari kursi roda. Leon refleks ikut maju untuk membantu, namun tangan Nares langsung menepisnya. “Jangan sentuh dia,” ucap Nares tegas. Leon mengangkat kedua tangannya santai. “Hey, relax. You always act like that. She’s my sister too.” “Dia adikku,” balas Nares dingin. Leon mendengus kecil. “Sudah, sudah,” sela Amanda. “Kalian ini dari dulu selalu seperti ini.” Leon langsung bergelayut manja di lengan Amanda. “Tante, he’s so possessive. He wants Anya only for himself.” Nares melotot tajam.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Konseling kedua

    Anya duduk berhadapan dengan dr. Melita. Tangannya saling menggenggam, jemarinya sesekali bergetar, namun kali ini punggungnya tegak. Tidak lagi menunduk seperti pertemuan pertama. Dr. Melita memperhatikannya dengan saksama. “Kamu berbeda hari ini, Anya,” ucapnya lembut. “Nada suaramu lebih terstruktur. Kamu masih menangis, tapi kamu tidak lagi terputus-putus.” Anya mengangguk pelan. “Aku… masih marah, Dok. Masih sakit. Tapi sekarang aku bisa menjelaskan apa yang terjadi tanpa takut.” Dr. Melita tersenyum tipis. “Itu tanda penting. Artinya, otakmu mulai memisahkan ingatan dan kejadian saat ini. Trauma masih ada, tapi kamu tidak sepenuhnya terseret ke dalamnya.” Anya menelan ludah.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Hukuman Untuk Musuh

    "Kamu dokter,” Nares mendesis. “Kamu harusnya menyembuhkan, bukan memberi cap.” “Justru karena aku dokter,” jawab Dirga tegas, “aku melihat risiko yang tidak kamu lihat. Trauma berat bisa membuat seseorang kehilangan kendali. Aku takut suatu hari dia melukai dirinya lagi. Atau orang lain.” Nares mendorong Dirga menjauh. “Itu bukan solusi,” ucapnya dingin. “Itu pengkhianatan.” Dirga mengusap sudut bibirnya yang memar. “Aku tahu kamu marah. Tapi aku lebih takut kehilangan pasienku.” Nares menatapnya lama, penuh tekanan. “Tidak ada yang akan menyentuh Anya,” katanya pelan tapi mematikan. “Terutama dengan label gila.” Ia berbalik menuju pintu.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Anya Tidak Gila

    Mobil melaju di jalanan gelap. Hujan masih turun, memukul kaca dengan suara ritmis yang menekan. Di kursi belakang, Nares duduk diam. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Tangannya bertumpu di paha, jari-jarinya perlahan mengepal. Amarahnya setelah bertemu para bajingan itu masih menumpuk. Apalagi menghadapi fakta bahwa tiga dari mereka masih bebas berkeliaran. Jhon yang duduk di depan akhirnya memecah keheningan. “Tuan,” ucapnya hati-hati, “hari ini… Juan datang ke rumah tua.” Nares tak langsung menoleh. “Dia mencari Nona Anya. Dia terlihat sangat mencemaskan nona.” Kalimat itu membuat tarikan napas Nares terdengar lebih berat. Mobil terus melaju, tapi hawa di dalamnya terasa makin dingin. “Sejauh apa sebenarnya hubungan mereka?” tanya Nares datar. Jh

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Saksi Bisu Kekejaman

    Nares kembali masuk ke dalam ruangan. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Tatapannya langsung tertuju pada Anya. Gadis itu terbaring tenang, tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Napasnya teratur, wajahnya pucat namun terlihat lebih damai dibanding beberapa jam lalu. Nares menghembuskan napas lega. Ia duduk di sisi ranjang, mengusap rambut Anya dengan gerakan lembut, seolah takut sentuhan sedikit saja akan membangunkannya. “Tidur yang nyenyak ya,” ucapnya pelan. Tangannya masih berada di kepala Anya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Jhon. 'Tuan, sudah siap.' Nares menatap layar itu beberapa detik, lalu kembali menatap Anya. Wajah yang membuatnya rela menjadi apa pun pelindung, pisau, bahkan monster.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Penyelamat Palsu

    Anya tertidur di pelukan Nares. Napasnya teratur, wajahnya pucat namun jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu. Nares bersandar di sandaran ranjang, satu lengannya menopang tubuh Anya, tangannya yang lain mengusap rambut gadis itu dengan gerakan lambat dan penuh kehati-hatian. Lengannya sudah mati rasa, tapi ia tak peduli. Selama Anya tenang, ia akan diam di posisi itu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. “Kalian..!” Suara itu membuat udara di ruangan mendadak menegang. Rosa berdiri di ambang pintu. Matanya membelalak saat melihat pemandangan di hadapannya Anya tertidur dalam pelukan Nares, kepala gadis itu bersandar di dada pria itu, tangan Nares melingkar protektif di sekelilingnya. Nares melirik sekilas. Hanya sekilas. Setelah itu, tatapannya kembali pada Anya, tangannya tetap mengusap rambut gadis itu seolah Rosa tak ada di sana. “Ares!” suara Rosa meninggi. “Kamu jan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status