LOGINLangkah tergesa terdengar di lorong rumah sakit.
Amanda datang hampir berlari, diikuti seorang pria tua dengan tongkat hitam di tangannya. Wajah Amanda pucat, napasnya tak teratur. Matanya langsung tertuju pada satu sosok di ujung lorong. Nares duduk di lantai. Punggungnya bersandar ke dinding. Rambutnya berantakan. Kemeja mahalnya berlumuran darah. Wajahnya sembab, matanya merah, kosong. “Nares…” suara Amanda bergetar. “Ya Tuhan…” Ia menghampiri cepat. Begitu berdiri di hadapan putranya, Amanda terdiam. Melihat kondisi Nares seperti itu membuat dadanya sesak. “Nares, apa yang terjadi?” tanyanya lirih. Nares mendongak. Tatapan kosong itu runtuh seketika. “Ma…” Ia bangkit setengah berlutut dan langsung memeluk Amanda. Tubuhnya bergetar. Untuk kali ini, ia tak peduli siapa yang melihat. Wibawanya sebagai si Raja Neraka yang kejam lenyap seketika. “Ma… Anya, Ma...” gumamnya terputus-putus. Air mata jatuh. Bahunya naik turun. Tangisnya tertahan, tapi nyata. Amanda memeluk kepalanya, menepuk punggung putranya pelan. “Tenang, Nak… tenang… Mama di sini.” “Apa yang terjadi dengan adikmu?” tanyanya lagi, suaranya berusaha stabil meski matanya basah. Nares menggeleng lemah. “Aku belum tahu, Ma… aku benar-benar belum tahu,” suaranya serak. “Tapi kondisinya… kondisinya sangat buruk…” Ia kembali terisak. Kepalan tangannya menekan lantai. Amanda memejamkan mata. Banyak pertanyaan memenuhi kepalanya, tapi ia menahannya. Saat ini, yang dibutuhkan Nares bukan interogasi, melainkan pegangan. Di sisi lain lorong, Kakek Dito berdiri di samping Jhon. Wajah pria tua itu keras. Tatapannya tajam meski usia telah menggerogoti tubuhnya. Ia bukan tak peduli. Justru karena sangat peduli, ia harus berdiri paling kuat, sebagai kepala keluarga. Melihat kondisi Nares, Dito tahu satu hal... sesuatu yang buruk benar-benar telah terjadi. “Jelaskan,” ucapnya singkat dan tegas. Nada suaranya rendah, tapi memerintah. Jhon menegakkan tubuh. “Tuan… Tuan Nares baru tiba dari New York. Kami hendak menuju acara Nona Anya.” Ia menarik napas. “Di jalan, ada seorang gadis yang menabrakkan diri ke mobil kami. Saat Tuan turun…” Jhon berhenti sejenak. “Itu Nona Anya.” Wajah Dito tak berubah, tapi tangannya mencengkeram tongkat lebih erat. “Wajah Nona penuh luka lebam,” lanjut Jhon. “Bibirnya pecah. Tangan dan kakinya memar. Bajunya kotor dan sobek. Dan… darah segar mengalir dari pahanya.” Dito memejamkan mata. Ia tak ingin menarik kesimpulan, tapi kemungkinan itu sudah terbentuk jelas di kepalanya. Dadanya terasa berat dan sesak, namun wajahnya tetap dingin. Saat matanya terbuka kembali, aura pemimpin itu kembali sepenuhnya. “Pergi,” perintahnya tegas. “Cari tahu apa yang terjadi.” Ia menatap Jhon lurus. “Jangan kembali sebelum mendapatkan informasi.” “Baik, Tuan,” jawab Jhon tanpa ragu. Dito melangkah mendekat ke arah Amanda dan Nares. Ia tidak berkata apa-apa. Namun tatapan matanya menyimpan satu janji... Siapa pun yang bertanggung jawab atas ini akan menghadapi akibatnya. Dan tidak ada satu pun yang akan selamat. ** Dua jam berlalu seperti hukuman. Lambat, sesak dan menegangkan. Pintu IGD akhirnya terbuka. Dokter Dirga keluar dengan langkah berat. Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras, seolah sedang menata kata-kata yang tak ingin ia ucapkan. Begitu melihatnya, Nares langsung bangkit dari duduknya. “Bagaimana?” tanyanya singkat. Dingin. Tapi matanya bergetar. Dirga berhenti di depan mereka. Tatapannya berpindah dari Amanda, ke Kakek Dito, lalu kembali ke Nares. Ada ragu yang tak bisa disembunyikan. “Katakan,” perintah Nares tegas. Ia melangkah maju dan mencengkeram kerah kemeja Dirga. Tarikannya keras. “Katakan sekarang.” “Ares!” Amanda memegang lengan putranya. “Tenang.” Dirga menghela napas panjang. “Ini… akan sulit diterima,” ucapnya perlahan. “Tapi kalian harus kuat. Demi Anya.” “Jangan bertele-tele, Dirga!” bentak Nares. Amarahnya pecah. “Aku mau kau katakan sekarang!” Amanda mengusap punggung Nares, berusaha menahannya. “Tenang dulu, Nak…” Dirga menegakkan bahu. Nada suaranya berubah profesional. “Kondisi Anya sangat serius,” katanya. “Hampir seluruh tubuhnya mengalami luka dan memar akibat benturan keras dan kekerasan berulang.” Amanda menutup mulutnya. Napasnya tertahan. “Dua tulang rusuknya patah,” lanjut Dirga. “Tulang betis kiri mengalami remuk. Kami sudah melakukan tindakan darurat untuk menghentikan pendarahan internal.” Nares berdiri kaku. Tangannya perlahan melepas kerah Dirga, tapi tubuhnya justru semakin tegang. “Belum selesai,” ujar Dirga pelan. Ia menatap langsung ke mata Nares. “Ada luka serius pada area reproduksinya.” Amanda gemetar. “Apa maksudmu…?” suaranya hampir tak terdengar. Dirga menarik napas. “Ditemukan robekan dan trauma berat. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan temuan biologis di rahimnya…” Ia berhenti sejenak. “Ini menunjukkan adanya hubungan seksual yang dilakukan secara paksa.” Lorong itu seketika sunyi. “Kemungkinan,” lanjut Dirga dengan suara rendah, “bukan dilakukan oleh satu, dua orang.” Kata-kata itu jatuh seperti palu. Nares tak bergerak. Tak bersuara. Namun udara di sekitarnya berubah. Rahangnya mengeras hingga ototnya bergetar. Matanya menghitam. Tangannya mengepal, kuku menekan telapak hingga memerah. Amanda kehilangan kekuatan. Kakinya lemas. Ia hampir jatuh jika tidak ditopang oleh kursi di belakangnya. “Anya…” bisiknya pecah. Kakek Dito berdiri diam. Wajahnya tak berubah. Tapi mata pria tua itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah. Dirga melanjutkan, “Saat ini Anya masih tidak sadar. Kami menstabilkan kondisinya, tapi masa kritis belum sepenuhnya lewat.” Ia menatap Nares. “Dia masih hidup karena dia kuat. Tapi trauma fisik dan psikologisnya...” “Cukup,” potong Dito dingin. Satu kata itu membuat semua diam. Nares akhirnya bergerak. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Tidak ada air mata lagi. Tiba-tiba... BUK! Tinjunya menghantam dinding rumah sakit dengan keras. Suaranya menggema di lorong. Kulit tangannya langsung robek, darah mengalir, tapi Nares tak bereaksi. BUK! Satu pukulan lagi. “Brengsek!” teriaknya penuh frustrasi. Amanda tersentak. “Ares...!” Nares tak peduli. Dadanya naik turun. Napasnya berat, tak beraturan. “Siapa pun mereka,” ucapnya rendah, suaranya datar namun mengerikan, “akan aku habisi.” ***Di depan kelas, suasana mendadak hening. Alex berdiri di depan papan tulis dengan kepala tertunduk. Tangannya saling meremas, jelas tidak nyaman. Guru kelas berdiri di sampingnya. “Alex ingin menyampaikan sesuatu,” ujar sang guru. Alex menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Kiara. “Aku… aku minta maaf, Kiara,” katanya pelan. “Aku salah. Aku gak boleh ngomong jahat. Aku janji gak akan ngulangin lagi.” Kiara berdiri dari bangkunya. Wajahnya masih polos, matanya jernih. “Kiara maafin,” ucapnya lirih tapi tulus. “Asal kamu gak jahat lagi.” Alex mengangguk cepat. Namun sebelum suasana benar-benar reda, sebuah kursi bergeser kasar. Kyan berdiri. Matanya menatap Alex tajam. “Jadi kamu?” suaranya bergetar menahan marah. “Kamu yang bikin adikku sedih?” Alex menelan ludah. Kyan melangkah satu langkah ke depan. Tubuhnya kecil, tapi sorot matanya jauh dari kekanak-kanakan. “Kalau sekarang aku masih dianggap anak kecil, gak apa-apa,” katanya dingin. “Tapi kamu tunggu
Leon tidak langsung pergi setelah memastikan Kyan dan Kiara masuk kelas. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Ia berbelok menuju gedung administrasi dan berhenti tepat di depan pintu bertuliskan Ruang Kepala Sekolah. Tok tok tok. Tanpa menunggu jawaban, Leon masuk. Kepala sekolah yang tengah merapikan berkas mendongak. “Ah, selamat pagi, Pak…?” Leon langsung meletakkan ponselnya di atas meja, menyalakan layar. “Saya mau bicara soal ini.” Video CCTV diputar. Adegan Kiara dihadang, diejek, ditertawakan. Kata anak haram terdengar jelas. Wajah kepala sekolah berubah. Ia berdehem, berusaha tenang. “Anak-anak, Pak. Biasalah… bercanda.” Leon mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya dingin. “Bercanda yang membuat anak perempuan lima tahun menangis dan trauma?” Kepala sekolah tersenyum kaku. “Kita bisa selesaikan secara kekeluargaan. Lagipula… anak-anak itu kan hanya anak dari bu Anya. Tidak perlu dibesar-besarkan.” Leon terkekeh pelan. Bukan karena lucu melainkan marah. “Dan menu
Malam itu, lampu kamar Kiara masih menyala. Jam di dinding sudah melewati tengah malam, tapi anak kecil itu belum juga terlelap. Leon berdiri di ambang pintu sebentar, lalu melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. Kiara memeluk bantal kecilnya, matanya terbuka, menatap langit-langit. “Kenapa Kiara belum tidur?” tanya Leon pelan. Kiara menoleh. Suaranya kecil, hampir bergetar. “Ayah Leon… anak haram itu apa?” Leon mengernyit. Jantungnya berdetak lebih keras. “Kenapa Kiara nanya begitu?” Ia mencoba tetap tenang. Leon mengusap rambut Kiara. “Nggak ada yang namanya anak haram, Kiara.” Kiara menelan ludah. “Bukannya aku sama Kyan itu anak haram ya?” Tubuh Leon menegang seketika. Dadanya seperti diremas. “Siapa yang bilang begitu?” suaranya menurun, tertahan marah. “Kamu anak Mama. Kamu anak Ayah.” Kiara memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca. “Katanya… aku sama Kyan anak yang nggak diinginkan. Terus itu namanya anak haram.” Leon langsung memeluk Kiara erat. Ia menahan nap
Pagi itu Anya berjongkok di depan dua anak kembarnya. Kyan dan Kiara berdiri rapi dengan seragam sekolah, tas kecil menggantung di punggung mereka. Anya mengelus pipi keduanya bergantian, menahan rasa berat di dadanya. “Mama pergi beberapa hari ya,” ucapnya lembut. “Temani tante Delia,” tambahnya, mencoba tersenyum. Kiara langsung memeluk leher Anya. “Jangan lama-lama, Ma.” Kyan ikut merapat, memegang tangan ibunya erat. “Mama hati-hati.” Anya mencium kening mereka satu per satu. “Mama pasti cepat pulang.” Tiga tahun terakhir, Anya bekerja di perusahaan properti. Ia adalah sekretaris pribadi Delia, CEO tempat ia bekerja perempuan tegas yang mempercayainya sepenuh hati. Hari ini ia harus keluar kota, dan sebelumnya ia sudah menitipkan Kyan dan Kiara pada Juan dan Leon. Tak lama, Leon datang. Ia berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan kecil itu dengan dada menghangat. “Kamu berangkat sekarang?” tanya Leon. “Iya,” jawab Anya. “Nitip anak-anak ya.” Leon mengangguk
Lima tahun kemudian Anya menghela napas panjang ketika potongan sayuran yang sudah rapi di talenan tiba-tiba tumpah ke lantai. “Ups...” Kiara berdiri kaku. Tubuh kecilnya menegang, kepalanya tertunduk. Mata bulat itu langsung berkaca-kaca, jelas merasa bersalah. Anya baru saja pulang bekerja. Bahunya pegal, kepalanya sedikit berdenyut, dan lelahnya sedang di puncak. Tapi ia menahan diri. Ia tahu, lelah bukan alasan untuk melukai hati anak. Hidup tanpa orang tua, tumbuh bersama nenek, lalu diasuh oleh orang asing semua itu mengajarkannya satu hal, anak kecil tak butuh teriakan, mereka butuh rasa aman. “Kiara… minta maaflah,” bisik Kyan pelan dari belakang, mencoba membantu adiknya. Dapur mendadak hening. Padahal tadi dua anak kembar itu berlarian sambil tertawa. “Mama…” Suara lembut itu langsung meluruhkan pertahanan Anya. Kiara yang suka dikepang dua itu memeluk kaki Anya erat-erat, menengadah dengan wajah polosnya. “Mama yang cantik… maafin Kiara, hum?” Anya t
Pintu ruang bersalin terbuka. Juan melangkah keluar dengan mata sembab, wajah basah oleh air mata namun bibirnya justru tertarik ke atas. “Haha…” tawanya pecah, terdengar aneh, campuran lega, haru, dan nyaris gila. Leon yang berdiri mondar-mandir langsung menoleh. Melihat ekspresi Juan, darahnya seketika mendidih. Ia maju dan mencengkeram kerah kemeja Juan keras. “Harusnya aku,” geram Leon. “Aku yang di dalam. Aku yang nemenin Anya!” Juan tak melawan. Ia hanya menatap Leon dengan mata merah, lalu berkata pelan tapi mantap, “Anaknya lahir. Sehat. Dua-duanya.” Ia tersenyum lagi, air mata kembali jatuh. “Anya hebat. Dia berjuang… hidup dan mati.” Cengkeraman Leon melemah. Tangannya jatuh perlahan. Dadanya naik turun. “Anya…” gumamnya lirih. Tanpa kata lagi, Leon menarik Juan ke dalam pelukan. Keduanya berpelukan erat, dua pria yang selama berbulan-bulan memendam amarah, cemburu, dan takut yang sama. Mereka tertawa sambil menangis. “Kita ikut berjuang,” ucap Juan terengah.







