Share

Bab 164

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2026-01-14 08:03:13
Arhan tidak memberi Ziana kesempatan untuk berbuat apa pun. Posisi Ziana yang terkurung dalam dekapannya membuat Arhan mudah merengkuh dan menahan tubuh itu.

Seolah digerakkan oleh dorongan yang sulit dijelaskan. Lengannya menguat, bukan lembut, lebih menyerupai kebutuhan untuk menguasai keadaan.

Wajah Arhan datar, dingin, namun rahangnya mengeras. Rasa kesal dan cemburu yang dipicu oleh Aris menekan kesadarannya, mengaburkan batas-batas yang biasanya dia jaga.

Arhan tidak ingin berpikir, apalagi mengalah. Melepaskan Ziana terasa seperti menyerah pada kegelisahan yang terus menekan dadanya, dan itu bukan pilihan.

Ziana menatapnya terkejut, polos dan berniat menyerahkan handuk, namun Arhan tidak memberi kesempatan. Tangannya meremas tubuh Ziana, menariknya mendekat dengan gerakan tegas. Lalu tanpa memberi isyarat apa pun, bibirnya menyergap bibir Ziana.

Ciuman itu panas dan menekan, penuh tuntutan yang lahir dari emosi yang tertahan. Bukan ungkapan rasa, melainkan luapan, seolah A
Ratu As

Terimakasih yang sudah membaca sampai bab ini. 😊 Cerita ini mengandung tema Gairah menantang cinta terlarang yang sedang mengikuti kontes. Jadi Author menyesuaikan alurnya. 🙏🙏😊

| 8
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Agung Susilo
Lanjut dong tor
goodnovel comment avatar
yara yulianti
tapi knpa harus dimiliki sblm nikah? sedih jg sih
goodnovel comment avatar
Mia
mohon lanjut kak ..apa terjadi dengan Sandra kesian dia ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 169

    Arhan tidak menyahut, namun dia tersenyum samar membungkukan badannya untuk mengeluarkan Ziana dan menggendongnya. "Ziana," Arhan tersentak ketika posisi yang Ziana inginkan bukan dengan dibopong melainkan digendong seperti anak koala yang kakinya melilit pinggang Arhan. "Tidak, masalah kan? Kamu bilang Sandra tidak di rumah hari ini?" Ziana berkata dengan manja, tanpa segan merangkul leher Arhan erat-erat dan menyenderkan kepalanya. "Baiklah, gadis manja. Kalau begini akan menghilangkan rasa takutmu yang tadi, aku bisa menggendongmu sampai ke lantai atas, kalau mau."Ziana terkekeh. "Aku tahu Pak Arhan kuat, bahkan untuk menggendongku naik-turun tangga," katanya menggoda sambil mengusap lengan Arhan yang berotot. Tubuh Ziana ramping, mudah bagi Arhan untuk memindahkannya. ***Arhan balik ke kamarnya setelah memastikan Ziana bisa beristirahat dan kembali mengumpulkan energinya yang terkuras. Sementara Arhan berendam di kamar mandi untuk merilekskan otot-ototnya yang teras pegal.

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 168

    "Beraninya kamu...." Raya mengangkat tangan ingin meraih rambut Ziana dan menjambaknya. Beruntung gadis itu punya reflek yang bagus untuk menghindar. "Kak Raya, apa yang ingin kamu lakukan?" tegur Arhan yang baru saja sampai dan melihat Raya yang hendak menganiaya Ziana. "Arhan, lihat! Dia berani menamparku!" adu Raya menunjukan pipinya yang memerah. Arhan jelas tidak langsung terhasut, dia berjalan dengan tenang dan berdiri di dekat mereka. Ziana menggeleng, dia tidak bicara tapi dari raut wajahnya Arhan mengerti apa yang gadis itu alami. "Kak Raya, Ziana tidak mungkin berani jika kamu tidak memulai lebih dulu. Atas dasar apa Kak Raya menampar Ziana?" Arhan lihat pipi Ziana yang juga merah, tak kalah menyedihkan. "Dia gadis jalang pembawa sial!" tuduh Raya kasar. Matanya memerah benci. "Pembawa sial? Kak Raya menyebut seseorang yang sudah menyelamatkan Aziel dengan sebutan pembawa sial?" Arhan mengerutkan keningnya. "Tidak salah, Kak Raya memang benar-benar gila.""Arhan!" Ra

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 167

    Sebuah mobil sport yang melaju cepat dihantam oleh sebuah truk dari samping hingga membuat mobil kecil itu terbentur keras dan terpelanting menabrak tiang jalan. Hantam yang sangat keras dari belakang hingga mobil sport itu ringsek dan memericikan api. Kecelakaan itu terjadi di depan mata Ziana, dia tidak asing dengan mobil sport itu. Tanpa berpikir apa pun Ziana berlari. "Awas! Jangan dekati mobil itu, bisa saja meledak!" Beberapa orang termasuk supir taksi memperingatkan Ziana. Namun gadis itu tidak gentar untuk terus berlari dan mendekat, dia berharap masih punya waktu untuk menolong di tengah kobaran api di bagian belakang mobil yang mulai membesar. "Ayo keluar!" Dengan susah payah Ziana membuka pintu mobil yang sedikit ringsek lalu menarik pemuda di dalamnya keluar. Aziel menyipitkan matanya dengan pengelihatan yang mulai kabur. Dia berguman minta tolong di saat darah dari kepalanya terus mengucur. Ziana menyeretnya sekuat tenaga hingga menjauh lalu beberapa orang mu

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 166

    Setelah dari makam ibunya, Sandra mengajak ayahnya ke vila. Dia ingin berjalan-jalan di taman dimana di sana dia sering kali merasakan kehadiran ibunya meski hanya lewat khayalan. "Ayah, masih saja begitu dingin pada wanita. Juga pada Ibu Ofi. Kenapa? Kalian kan akan segera menikah!" Sandra cemberut, dia sebal karena tidak melihat banyak perubahan sikap ayahnya untuk Ofi. "Harusnya, kalian lebih mesra lagi." Arhan berjalan tegap, dia memasukkan kedua tangannya ke saku sedangkan Sandra melendoti lengannya. "Seberapa ingin kamu menjadikan dia ibumu? Apa tidak bisa jika bukan dia?" Pertanyaan Arhan sedikit membuat Sandra kaget, karena sebelumnya Arhan tidak pernah menunjukan penolakan dalam bahasa apa pun. Sandra tersenyum. "Ayah ingat? Sejak Tante Ofi menolongku saat itu aku merasa jatuh hati padanya. Yah, aku hanya merasa dia baik....""Bagaimana jika dia tidak sebaik yang kamu pikirkan?" Sandra menghela napasnya, dia kembali merasa ayahnya yang tidak antusias. Tidak ada jawaba

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   165

    Karti mengangguk. "Sepertinya hari ini Non Sandra ke kampus, dan Pak Arhan mengantarnya. Apa Non Ziana mau sarapan?" Ziana terduduk, dia merasa badannya masih lemas dan pegal-pegal. "Bisakah Bi Karti buatkan aku susu hangat?" Ziana meminta tolong, biasanya dia selalu melakukan apa pun sendiri. Namun kali ini dia enggan banyak bergerak apalagi jalan karena inti tubuhnya masih terasa ngilu. Meski kondisi Ziana terasa sedikit buruk, namun suasana hatinya cukup baik. Senyum berseri menghiasi wajahnya. ***"Ayah," Sandra duduk di sebelah kemudi. Dia cukup tenang sejak tadi, tidak banyak bercerita. "Hm?" Arhan menoleh sekilas lalu kembali fokus ke jalan. "Kenapa? Kalau merasa belum baik, istirahat di rumah saja." Sandra menggeleng cepat. Dia mengusap sebelah tangan ayahnya. "Aku udah membaik, kok, Yah. Tapi hari ini pengen jalan-jalan sama Ayah. Boleh ya?" pinta Sandra penuh harap. "Kita udah lama banget enggak pernah pergi berdua."Arhan berdeham, sebenarnya dia akan selalu punya ba

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 164

    Arhan tidak memberi Ziana kesempatan untuk berbuat apa pun. Posisi Ziana yang terkurung dalam dekapannya membuat Arhan mudah merengkuh dan menahan tubuh itu. Seolah digerakkan oleh dorongan yang sulit dijelaskan. Lengannya menguat, bukan lembut, lebih menyerupai kebutuhan untuk menguasai keadaan. Wajah Arhan datar, dingin, namun rahangnya mengeras. Rasa kesal dan cemburu yang dipicu oleh Aris menekan kesadarannya, mengaburkan batas-batas yang biasanya dia jaga. Arhan tidak ingin berpikir, apalagi mengalah. Melepaskan Ziana terasa seperti menyerah pada kegelisahan yang terus menekan dadanya, dan itu bukan pilihan. Ziana menatapnya terkejut, polos dan berniat menyerahkan handuk, namun Arhan tidak memberi kesempatan. Tangannya meremas tubuh Ziana, menariknya mendekat dengan gerakan tegas. Lalu tanpa memberi isyarat apa pun, bibirnya menyergap bibir Ziana. Ciuman itu panas dan menekan, penuh tuntutan yang lahir dari emosi yang tertahan. Bukan ungkapan rasa, melainkan luapan, seolah A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status