Share

Bab 41 Acara Pertunangan

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2025-11-06 09:57:18

"Tentu saja!" Raya menyahut dengan nada geregetan.

Tangannya meremas. Yang ada dalam benak Raya sekarang jelas tentang putranya yang sangat pembangkang. Berani melawannya hanya demi gadis udik!

"Baiklah, itu bagus. Aku tunggu rencana Ibu akan sukses," sahut Yudis kemudian.

Dia berdiri tanpa mendebat ibunya lagi. Justru senyum menantang yang terus dia perlihatkan untuk memprovokasi ibunya.

***

Terakhir bertemu dengan Arhan, tidak ada kesan yang baik. Ziana enggan bertemu dengannya lagi karena tahu Arhan mungkin salah paham. Namun, Sandra terus mengajaknya untuk ikut pulang ke rumahnya.

"Ayolah, Zi, temani aku. Dua minggu ini aku tidak pulang ke rumah. Aku ingin mampir, sekalian memastikan Ayah sudah mempersiapkan pakaian untuk acara atau belum."

Sandra harusnya melihat keengganan di wajah Ziana, tapi tetap memaksa.

"Jam segini pasti di rumah sepi. Ayah paling ada di kantor, dia tidak pernah punya waktu libur. Ayolah--"

Sandra membujuk sambil menggoncang-goncangkan lengan Ziana se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 172

    Sandra melebarkan matanya saat mendengar penuturan Aziel yang terasa aneh di telinganya. Kok, tumben enggak nyolot? Kok, tumben Aziel peduli? Biasanya pemuda itu akan masa bodoh tentang kebaikan Ziana, malahan akan mencibir habis-habisan. "Gara-gara kecelakaan apa otakmu geser? Kak Aziel, kamu aneh!" "Aku serius! Aku ingin minta maaf pada Ziana," ucap Aziel tulus. Sandra memerhatikan Aziel yang begitu serius, tawa Sandra pecah. Dia merasa Aziel sangat konyol. "Lebih baik simpan saja niatmu itu Kak Aziel, tingkahmu selama ini sangat jahat dan menyebalkan. Mana mungkin Ziana mau memaafkanmu. Kecuali... kalau kamu benar-benar berubah dan mendekati dengan pelan-pelan." Aziel mengangguk, dia tidak marah dengan saran Sandra. "Baiklah, kalau nanti aku sudah membaik aku akan mendatanginya saja dan mengucapkan permintaan maaf dengan tulus!" Sandra kembali terkekeh, percaya tidak percaya, tapi mungkin saja Aziel memang ingin berubah. Melihat apa yang terjadi, akan sangat tida

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 171

    Ziana membalik badan, dia ingin menghindar, kalau perlu berlari. "Ziana, tunggu aku ingin bicara! Ahhh.... " Suara Aziel diiringin dengan erangan kesakitan. "Ahhh, kakiku sakit sekali!" keluh lelaki itu dengan menyedihkan. Langkah Ziana terhenti, dia menghentakkan kakinya. Kesal. Namun, rasa kemanusiaan membuatnya tidak bisa abai. Dia menoleh ke arah Aziel yang terjatuh dari kursi roda karena mencoba mengejarnya. Tanpa bicara Ziana menolong Aziel untuk duduk di kursi rodanya. Pemuda itu terus menatapnya dengan senyum haru. "Zi, sebenarnya kamu enggak usah repot-repot untuk diam-diam menjengukku," kata Aziel dengan binar senang saat melihat bawaan Ziana. Sementara Ziana mengernyitkan keningnya. "Ayo ke ruanganku, kamu bisa letakan buah dan makanannya di meja." "Apa maksudmu?" Ziana bicara sedikit ketus. "Siapa juga yang mau menjengukmu. Aziel, kamu mulai sinting ya? Untuk apa bersikap sok manis begini?" Ekspresi Ziana buruk, dia cemberut dan gemas. "Kamu ... bukankah ke ruma

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 170

    Arhan mengusap lehernya dengan tidak nyaman, lalu menutup laptopnya dan berdiri. Ofi mendekat, tangannya lancang menyentuh leher Arhan. "Ini bekas gigitan kan?" tuduhnya penuh curiga. "Ofi," Arhan menepis tangan wanita itu. Terlihat jelas jika Arhan enggan menjelaskan. Dafa yang juga ada di sana jadi canggung, padahal ingin mengatakan jika rapat akan segera dimulai dan Arhan harus ke ruang rapat. "Kenapa? Aku tahu jelas bekas apa itu? Kenapa tidak jujur saja, kamu melakukannya dengan wanita bayaran... atau--""Ofi, aku tidak perlu membentakmu kan? Kamu tahu jelas bagaimana hubungan kita. Jangan melewati batas.... "Ziana! Tangan Ofi mengepal saat mengingat gadis itu, dia yakin jelas Arhan tidak mungkin tidur dengan sembarang wanita. "Tapi.... " Ofi ingin menahan Arhan saat lelaki itu menghampiri Dafa di pintu. "Rapat akan segera dimulai, Pak," ujar Dafa sungkan. Dia sedikit takut dengan ekspresi Arhan sekarang. Apalagi suasana penuh ketegangan seperti ini. Sial sekali Dafa har

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 169

    Arhan tidak menyahut, namun dia tersenyum samar membungkukan badannya untuk mengeluarkan Ziana dan menggendongnya. "Ziana," Arhan tersentak ketika posisi yang Ziana inginkan bukan dengan dibopong melainkan digendong seperti anak koala yang kakinya melilit pinggang Arhan. "Tidak, masalah kan? Kamu bilang Sandra tidak di rumah hari ini?" Ziana berkata dengan manja, tanpa segan merangkul leher Arhan erat-erat dan menyenderkan kepalanya. "Baiklah, gadis manja. Kalau begini akan menghilangkan rasa takutmu yang tadi, aku bisa menggendongmu sampai ke lantai atas, kalau mau."Ziana terkekeh. "Aku tahu Pak Arhan kuat, bahkan untuk menggendongku naik-turun tangga," katanya menggoda sambil mengusap lengan Arhan yang berotot. Tubuh Ziana ramping, mudah bagi Arhan untuk memindahkannya. ***Arhan balik ke kamarnya setelah memastikan Ziana bisa beristirahat dan kembali mengumpulkan energinya yang terkuras. Sementara Arhan berendam di kamar mandi untuk merilekskan otot-ototnya yang teras pegal.

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 168

    "Beraninya kamu...." Raya mengangkat tangan ingin meraih rambut Ziana dan menjambaknya. Beruntung gadis itu punya reflek yang bagus untuk menghindar. "Kak Raya, apa yang ingin kamu lakukan?" tegur Arhan yang baru saja sampai dan melihat Raya yang hendak menganiaya Ziana. "Arhan, lihat! Dia berani menamparku!" adu Raya menunjukan pipinya yang memerah. Arhan jelas tidak langsung terhasut, dia berjalan dengan tenang dan berdiri di dekat mereka. Ziana menggeleng, dia tidak bicara tapi dari raut wajahnya Arhan mengerti apa yang gadis itu alami. "Kak Raya, Ziana tidak mungkin berani jika kamu tidak memulai lebih dulu. Atas dasar apa Kak Raya menampar Ziana?" Arhan lihat pipi Ziana yang juga merah, tak kalah menyedihkan. "Dia gadis jalang pembawa sial!" tuduh Raya kasar. Matanya memerah benci. "Pembawa sial? Kak Raya menyebut seseorang yang sudah menyelamatkan Aziel dengan sebutan pembawa sial?" Arhan mengerutkan keningnya. "Tidak salah, Kak Raya memang benar-benar gila.""Arhan!" Ra

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 167

    Sebuah mobil sport yang melaju cepat dihantam oleh sebuah truk dari samping hingga membuat mobil kecil itu terbentur keras dan terpelanting menabrak tiang jalan. Hantam yang sangat keras dari belakang hingga mobil sport itu ringsek dan memericikan api. Kecelakaan itu terjadi di depan mata Ziana, dia tidak asing dengan mobil sport itu. Tanpa berpikir apa pun Ziana berlari. "Awas! Jangan dekati mobil itu, bisa saja meledak!" Beberapa orang termasuk supir taksi memperingatkan Ziana. Namun gadis itu tidak gentar untuk terus berlari dan mendekat, dia berharap masih punya waktu untuk menolong di tengah kobaran api di bagian belakang mobil yang mulai membesar. "Ayo keluar!" Dengan susah payah Ziana membuka pintu mobil yang sedikit ringsek lalu menarik pemuda di dalamnya keluar. Aziel menyipitkan matanya dengan pengelihatan yang mulai kabur. Dia berguman minta tolong di saat darah dari kepalanya terus mengucur. Ziana menyeretnya sekuat tenaga hingga menjauh lalu beberapa orang mu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status