MasukZiana memaksakan senyumnya karena Arhan tidak merespon, lelaki itu hanya menatap Ziana dengan tatapan yang rumit.
"Kamu mengenalnya?" Jelas yang Arhan maksud adalah gadis tadi. "Mmm, dia temanku--" jawab Ziana cepat, dia pikir dengan mengakui Reyna sebagai teman agar Arhan tidak banyak tanya lagi. Sayangnya yang dipikirkan lelaki itu justru lain. Arhan punya pandangan liar soal Ziana yang lugu, tapi dibalik itu mungkin dia gadis yang cukup 'berani'. "Kamu punya banyak teman? Akan lebih baik kamu mengenal baik teman-temanmu, termasuk latar belakangnya," kata Arhan sebelum melangkah dan kembali melanjutkan niatnya ke toilet tanpa menunggu respon Ziana. Ziana tidak tahu maksud Arhan dengan jelas, namun sikap lelaki itu yang terasa dingin membuat Ziana tidak enak hati. *** Saat makan malam berlanjut, Arhan dengan gerakan yang tertata meraih piring Ofi, lalu membantu wanita itu memotong steak menjadi lebih kecil dan mudah dimakan. Sontak saja tindakannya membuat Sandra dan Ofi saling melempar tatapan penuh arti. "Ehem! Ayah, sweet banget sih--" goda Sandra yang tidak bisa menahan rasa senangnya karena ayahnya memberi perhatian lebih pada wanita pilihannya. "Terima kasih." Ofi juga tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang merekah saat Arhan menggeser piring ke hadapannya. Wanita yang beruntung! Ziana hanya bisa memaksakan senyumnya melihat momen romantis yang justru membuat perasaannya aneh. Dia lalu memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada piring di hadapannya. Ziana mematung, bingung mau memulai dari mana. Dia bahkan tidak terbiasa menggunakan garpu dan pisau secara bersamaan untuk memotong steak daging. Mirisnya, tidak ada yang membantunya, Sandra sibuk dengan makanannya dan usahanya membuat Arhan dan Ofi semakin dekat. Ofi tersenyum miring, berpikir bagimana ada seorang gadis muda yang terlihat sangat kampungan meski punya kecantikan yang menonjol. Yah, begitulah... mau secantik apa pun, kalau tidak punya latar belakang keluarga yang baik, tidak mungkin gadis itu bisa tumbuh menjadi perempuan yang berkelas dan elegan! "Mau kubantu?" Suara Ofi terdengar lembut dan ramah ketika menawarkan bantuan pada Ziana. Jelas-jelas wanita dewasa itu bersikap hati-hati dan berperilaku sangat sopan, tapi entah kenapa Ziana tidak nyaman, ada rasa aneh yang membuat Ziana tertekan. "Fokus saja pada makananmu," suara Arhan menarik perhatian Ofi. "Dia bisa belajar mandiri. Kalau tidak bisa pakai garpu dan pisau, masih bisa memakannya dengan digigit." Ucapan Arhan terdengar sedikit sarkas untuk Ziana yang tidak terbiasa. Namun Sandra menangkapnya sebagai lelucon. "Ayah, sungguh... kamu hanya perhatian pada Tante Ofi! Ayah pasti melihatku dan Zia hanya seperti kucing kecil penggigit daging!" Sandra terkekeh dengan menyenggol sikut Ziana. Ziana ikut tersenyum, pura-pura terhibur dengan lelucon itu, meski melihat tatapan Arhan yang terasa dingin dan tidak sedang bercanda untuknya. *** Ziana pulang sendiri dengan naik ojek online, sedangkan Sandra sudah lebih dulu pulang dengan Ofi memakai taksi karena hendak menginap. Arhan yang ada kepentingan mendadak pergi ke kantor untuk lembur. "Aku bisa melakukannya, Pak Adam, tenang saja," ucap Ziana yakin. Sebelum pulang ke tempat kost, Ziana mampir dulu ke sebuah motel di pinggiran kota. Ada yang menawarkan kerjaan untuknya malam ini--membersihkan sebuah kamar. "Ya, tolong ya, Zi. Kebetulan tukang bersih-bersihnya lagi sakit--" ujar lelaki paruh baya pemilik motel itu. Ziana mengenalnya karena dia salah satu kerabat kepala panti. Ziana sering kali dihubungi jika butuh bantuan, entah itu kerjaan di motel atau di rumah yang kadang mengadakan acara. Motel itu hanya punya beberapa kamar saja, Adam mengelola dan merawatnya sendiri sebagai salah satu usaha kecil yang dia rintis. Ziana mengangguk dengan semangat. Tanpa menunggu, dia langsung masuk ke ruang kebersihan, mengambil peralatan untuk membersihkan beberapa kamar yang kosong. Masih pukul delapan, Ziana kira belum terlalu malam. Oleh karena itu dengan senang hati dia mau membantu Adam. *** Urusan Arhan selesai jam sepuluh, dia pun bergegas pulang. Laju mobilnya tidak terlalu kencang, Arhan berkendara sembari menikmati suasana malam. Jalanan masih cukup ramai, banyak kendaraan berlalu lalang. Langit tampak cerah dengan ribuan bintang. Saat musim kemarau di iklim tropis, keindahan malam itu semakin terasa berlipat lebih menawan. Arhan menepikan mobilnya di sebuah jembatan, niatnya untuk sekedar bersantai dan menyulut sebatang rokok. Dia terlihat seperti pria kesepian. Sosoknya yang tinggi jangkung bersandar di samping mobil, tidak tersorot lampu jalan, dia menikmati remang dan sepi itu. Namun, tatapannya menangkap sosok yang tak asing. Arhan memicingkan matanya, untuk memastikan dan melihat lebih jelas gadis muda yang keluar dari motel di seberang. Sudut bibir Arhan tertarik, membentuk senyum tipis yang remeh. Dia hanya sedang mencibir takdir karena belakangan ini selalu dipertemukan dengan gadis muda sahabat putrinya.Gadis itu diam-diam banyak tingkah! Sudah malam begini saja masih berkeliaran. Ternyata meski terlihat ringkih dan rapuh, Ziana punya segudang kenakalan.
Arhan menegapkan tubuhnya, dia membuang puntung rokok lalu menginjaknya sampai mati. Tatapannya masih tertuju pada Ziana yang berdiri di pinggir jalan sambil menatap ponsel, mungkin sedang memesan ojek online. Ziana kaget ketika melihat mobil milik ayah Sandra tiba-tiba mendekat, lalu berhenti di hadapannya. Kaca mobil itu perlahan terbuka. "Sudah malam, bukankah harusnya kamu sudah pulang?" Terlihat Arhan yang mengusap jam tangan mahalnya, kemudian tatapannya menoleh pada Ziana yang berdiri dengan latar belakang motel. "I--ini mau pulang Pak Arhan--" Ziana tersenyum sungkan. "Kenapa Pak Arhan ada di sini?" "Kebetulan lewat. Mari naik, saya antar kamu pulang." "Ti--tidak perlu, Pak Arhan. Aku sudah pesan ojek online." Ziana meringis kaku, berharap Arhan akan segera berlalu. "Cancel. Ikut saya, ada yang ingin saya bicarakan," kata Arhan lagi, raut wajahnya nyaris tanpa ekspresi membuat Ziana bingung menebak. Apalagi hal yang akan Arhan katakan? Ziana salah satu orang yang sulit menolak karena sungkan, jadi mau tak mau dia menuruti permintaan Arhan. "Zi, tunggu!" Dari arah motel Adam memanggil. Lelaki bertubuh tambun itu tergopoh menghampiri Ziana, menyelipkan amplop lalu berbisik, "Bapak lebihkan, buat nambah-nambah tabungan kamu. Bapak dengar kamu sedang mengumpulkan dana untuk Aries?" "Terima kasih, Pak Adam sangat baik." Ziana tersenyum cerah.Apa yang Adam bilang memang benar, Ziana sedang mengumpulkan uang untuk salah seorang anak panti yang menderita PJB (penyakit jantung bawaan). Dokter bilang ada kemungkinan anak itu harus dioperasi. Ziana tidak bisa tutup mata. Setiap anak-anak yang berada di panti, dia anggap adalah keluarganya.
Arhan berdeham, menarik perhatian Ziana agar segera masuk dan tidak mengulur waktu dengan terus bicara pada lelaki paruh baya yang Arhan tebak ... mungkin salah satu pelanggan gadis itu? *** Ziana duduk anteng, sejak tadi merasa tidak tenang dan jantungnya berdegup kencang. Dia selalu merasa berdebar setiap kali bersinggungan dengan lelaki dewasa itu. Di mata Ziana, Arhan sangat baik dan bertanggung jawab sebagai seorang ayah, perhatian sebagai seorang lelaki, dan peduli pada sesama, termasuk pada Ziana yang hanya salah satu manusia yang sering tidak diperhatikan oleh dunia. "Ziana." "Iya, Pak Arhan?" Ziana tertegun ketika Arhan memanggil namanya di tengah perjalanan. Suara yang serak dan pelan terdengar jauh lebih lembut. Namun saat Ziana menoleh dan memerhatikan wajah Arhan dari samping, dia merasa lelaki itu sedikit tegang. "Kamu mengenal lelaki tadi?" Ziana mengernyit. Ini kedua kalinya Arhan selalu bertanya orang-orang yang Ziana temui. Apa maksud pertanyaan Arhan? Apa karena Arhan tahu jika Ziana seorang anak panti, dikira tidak kenal banyak orang? "Ya, aku mengenalnya. Kenapa, Pak Arhan?" Ziana berharap jawabannya tidak akan merubah Arhan menjadi dingin seperti sebelumnya. Namun yang tidak Ziana sangka, pertanyaan Arhan berikutnya justru membuatnya tercengang dan nyaris tersedak, "Berapa lelaki itu membayarmu?"Suara Wina bergetar saking emosinya. "Pak Polisi, cepat jebloskan mereka berdua ke penjara! Mereka berdua kriminal!" tunjuk Wina pada Ofi dan Yudis. "Nenek, tidak! Semua ini pasti hanya fitnah dan rekayasa Paman!" elak Yudis yang masih saja protes dan membela diri. Sementara Raya tidak lagi berkutik, apalagi ada Aziel yang menahannya. "Jika Ibu berusaha melindungi Kakak, Aziel tidak akan segan untuk membuat Paman ikut menyeret Ibu!" tegas Aziel. "Apanya yang rekayasa, Yudis? Apa kamu pikir selama ini aku idiot hingga bisa dengan mudah dibodohi oleh orang bodoh sepertimu dan Ofi? Sekarang saatnya kamu menebus semua perbuatanmu," kata Arhan tanpa belas kasih. Semua kehancuran itu terekam jelas di kamera. Lewat siaran langsung, semua orang tahu dan menjadi berita tranding. Yudis dan Ofi sudah benar-benar hancur, keduanya akan mendekam di penjara dengan waktu yang tidak sedikit. Ada pasal berlapis yang akan membuat hukuman mereka berat. "Ayah--" Sandra menatap ayahnya dengan mata
Semua persiapan untuk pesta pernikahan sudah siap 100%, bahkan kabar pernikahan Arhan dan Ofi sudah tersebar luas. Orang luar tahu jika pernikahan itu dilakukan mendadak dan lebih awal karena putri dari Arhan mengalami kecelakaan dan sakit. Hari ini, meski duduk di kursi roda namun Sandra sudah berdandan cantik dengan gaun pesta. Dia mendampingi ayahnya yang juga sudah rapi dengan memakai tuxedo hitam. Di acara itu, hanya keluarga saja yang diundang, namun banyak pers yang diundang secara pribadi oleh Arhan. Ofi tetap senang, dia yakin Arhan melakukan itu demi kenyamanan acara dan semua orang akan tetap tahu pernikahan mereka lewat siaran langsung. Ezhar melihat berita itu di televisi, bahkan di sosial media pun ramai. "Ziana, kamu sudah berkemas?" Lelaki paruh baya itu melihat putrinya di kamar, Ziana tampak sedang menata beberapa bajunya ke koper. "Ini sedang berkemas, Ayah." Ziana memaksakan senyumnya. Dia terlihat baik-baik saja meski hati dan pikirannya masih kacau, apalag
Setelah menelpon Ofi, Arhan juga menelpon asistennya. Cukup lama. "Saya ingin semuanya selesai secepatnya. Adakan acara pernikahan itu di hotel bintang lima. Tidak perlu mengundang banyak orang, cukup undang pers. Pastikan di acara nanti semua bisa melakukan siaran langsung.""Baik, Pak Arhan, saya mengerti," jawab Dafa dari telepon. "Untuk pihak keamanan, jangan lupa untuk memanggil petugas kepolisian. Kalau perlu kamu buat laporan dari sekarang-- kamu mengerti apa yang saya inginkan kan?" "Saya mengerti, Pak. Saya usahakan semuanya berjalan sesuai rencana yang jauh hari sudah pernah kita bahas sebelumnya." Arhan menutup telepon, dia kembali ke ruang rawat Sandra. Di sana sudah ada Ofi yang duduk menemani Sandra dengan wajah cerah. "Pak Arhan, aku lihat jemari Sandra bergerak. Sepertinya dia akan sadar--"Arhan mendekat. "Sayang, kamu dengar Ayah?" Kening Sandra berkerut, tak lama kelopak matanya berkedip dan mengerjap. "Sandra.... " "A--yah," bibir Sandra pucat, dia menatap
Mobil Sandra melaju cepat dijalanan, seolah hanya ada dia sendirian hingga tidak mempedulikan kendaraan lain. Di belakang Arhan terus membuntut dengan perasaan campur aduk, cemas dan khawatir. Dia lihat beberapa kali mobil putrinya yang oleng dan banting stir namun tetap melaju. "Sandra...," Arhan ingin berteriak keras untuk menghentikan putrinya, namun tidak mungkin, beberapa kali dia menelpon pun tidak diangkat gadis itu sengaja lari. Braaaaaak! Dengan mata kepala sendiri, Arhan melihat mobil yang Sandra kendarai menabrak pembatas jalan lalu terpental dan terguling hingga ringsek. "Sandraaaaa!" Histeris Arhan, dia berhenti mendadak, dengan cepat keluar dari mobilnya dan berlari ke arah Sandra yang masih terjebak dalam mobil. "Sandra," Arhan bergumam, dia tidak berpikir apa pun selain mengeluarkan tubuh Sandra yang lemas dengan darah bercucuran. Orang-orang di sekitar sigap memanggil ambulans. "Sandra, bertahan, jangan buat ayah khawatir." Arhan membopong tubuh itu masuk ke a
Sandra berjalan mendekat dengan mata nyalang dan penuh kekecewaan. Dia terus menatap pada Ziana. "Aku sudah sangat baik padamu selama ini, ternyata begini balasanmu?"Plaaak! Tanpa basa-basi Sandra mengayunkan tangannya. "Aku sudah menduganya sejak kemarin, namun aku tidak menyangka akan memergoki tingkah menjijikan kalian malam ini.""Sandra," Arhan ingin menenangkan putrinya, namun Sandra justru makin berontak. "Lepas, Ayah! Kamu sangat mengecewakan saat ini!" teriak Sandra dengan nada frustasi. "Bisa-bisanya Ayah tergoda dengan gadis seusiaku!!" Kekecewaan itu terlihat jelas di wajah Sandra, hingga Arhan dan Ziana tidak bisa berkutik. "Sandra, maaf aku--" "Kenapaa harus ayahku, sih, Zi? Kenapaaa? Ada banyak lelaki lain, kenapa harus ayahku! Yang sebentar lagi akan menikah!"Sandra menggoncang-goncangkan pundak Ziana. "Dia ini ayahku Zi! Ayah sahabatmu! Kenapa kamu tega merusak semua mimpiku!" teriak Sandra dengan histeris sampai suaranya serak. "Sandra cukup!" Arhan menarik
Arhan berdeham, dia juga merasa sejak tadi putrinya bicara begitu dingin dan tajam. Arhan perhatikan ekspresi Ziana yang berubah kalem dan terlihat terluka. "Sudah malam, mari kita mulai saja makan malamnya. Ziana sudah mempersiapkan semuanya, spesial untuk menyambut keluarganya, juga untuk reuni Ibu dan Bu Lisa. Jadi jangan sungkan-sungkan." Arhan angkat suara, menacairkan suasana yang sempat tegang. Lisa terkekeh, dia lebih fokus pada Wina. Keduanya sesekali asyik bernostalgia.Makan malam berjalan cukup lancar. Meski ada sedikit yang mengganjal karena kehadiran Sandra yang membuat acara itu jadi tidak nyaman untuk Ziana. "Ziana, ini untukmu." Setelah makan malam selesai, sebelum pulang istri Ezhar memberikan kado untuk Ziana. "Terima kasih--" ucap Ziana canggung. "Mama. Panggil saja aku Mama, mau bagaimana pun aku kan istri ayahmu," ujar Anna dengan senyum hangat. Ziana sudah tahu tentang keluarganya setelah beberapa hari ini selalu berkirim kabar dengan Dylan. Ziana mengang





![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

