Home / Romansa / Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku / 137. Aku Akan Menjadi Istrinya

Share

137. Aku Akan Menjadi Istrinya

Author: Nadia Styn
last update Last Updated: 2026-01-21 23:30:33

Mark membawaku ke Long Island, ke restoran tempat kami beberapa kali makan malam berdua.

Sepanjang perjalanan, kami tak berbicara apa-apa. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, dan kurasa Mark dapat memahaminya.

“Sebenarnya aku tidak lapar,” kataku saat kami sudah tiba di restoran, lalu duduk di meja kami—meja yang selalu sama tiap kali kami datang ke sini.

Kutunjuk salah satu gambar di buku menu, kemudian menoleh pada pelayan yang berdiri di samping meja, dan berkata, “Tolong bawakan teh hangat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Anna Marianna
diih.. anna,, cukup lah jgn suka mengalah,, paula udah bersama ayahmu n dimanja sejak kecil skrg giliranmu dimanja suami mu toh paula jg hamidun anak lelaki lain.. mana mau mark ayooo mark buka mata anna biar kalian bs bersama..
goodnovel comment avatar
Kenzien Yodha
pemikiran anna tidak salah,tapi itu membuatku gemes
goodnovel comment avatar
Miia
semoga Mark bisa meyakinkan Anna kalau dia gak harus merasa bersalah huhu, maksih Kak Nad sudah double up .. semoga besok double up lagi atau kalau enggak tripple up hehe
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   143. Please, Jadi Ibuku! (END)

    Aku sangat penasaran tentang ‘rahasia’ yang Mark sebut. Ini jelas sebuah pertanda kalau Mark akan memberikan kejutan untukku. Dia bilang, kami akan makan malam di luar bersama Lily. Namun nyatanya, setelah dari kafe tempat aku bertemu dengan Jane dan Steven, dia langsung membawaku pergi, tidak pulang dulu untuk menjemput Lily. Ketika aku bertanya tentang itu, jawabannya selalu sama, “Kau akan tahu nanti.” Sampai aku lelah bertanya dan memilih untuk menunggu saja hingga tiba di tempat dia ingin membawaku. Sebenarnya lokasinya tak jauh. Namun, dari yang sebelumnya langit masih cerah saat kami meninggalkan kafe, kami baru tiba di tempat tujuan ketika langit sudah mulai gelap. Mungkin pengaruh dari padatnya seluruh arteri New York petang ini. Mark membawaku ke sebuah restoran mewah di lantai paling atas gedung berlantai 75 di bilangan kota, yang mana kuketahui merupakan restoran yang sangat populer di New York dan selalu ramai pengunjung. Namun petang menjelang malam ini, restoran

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   142. Resmi Jadi Duda

    “Aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar akan menikah dengan Mark Lawrence.”“Itu keputusan yang bodoh. Sangat bodoh.”Aku mengerutkan kening ketika tiba-tiba Steven menimbrung dengan kalimat sarkas.“Kau akan selalu menyebut itu keputusan bodoh, karena kau cemburu, Steven. Padahal kau tahu, sekarang Mark Lawrence sudah resmi jadi duda. Dia dan Paula sudah bercerai!” sahut Jane ketus.Jane menyeruput kopi panasnya, lantas melirik sinis ke arah Steven yang duduk di sebelahnya, dan melanjutkan, “Kau masih berharap bisa mendapatkan Anna kembali, ‘kan? Kurasa itu akan jadi sebatas mimpi untukmu. Kau seharusnya tidak menyelingkuhinya agar ini tak terjadi.”Kerutan di keningku memudar, aku tersenyum setuju mendengar sindiran Jane pada Steven.Sementara itu, Steven memutar matanya dengan malas, lantas memalingkan wajah ke jendela di samping meja yang kami tempati.Sekarang pukul empat sore. Aku dan Jane memang sudah membuat janji untuk bertemu di kafe langganan kami. Tapi ternyata, S

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   141. Anak yang Tak Dianggap

    “Bayimu laki-laki? Ya ampun... lengkaplah formasi cucuku. Perempuan dan laki-laki.”Aku tersenyum melihat Inez sangat bersemangat setelah aku dan Mark memberitahu jenis kelamin janin di perutku.Morgan Lawrence yang sedang menikmati secangkir teh hangat di sofa, pun tak berhenti tersenyum lebar.Beberapa saat kemudian, Inez duduk di sebelah suaminya itu, lantas mengangkat Lily untuk duduk di pangkuannya.“Kau akan punya adik laki-laki, Sayangku,” ujar Inez sembari mencubit lembut pipi tembam Lily.“Aku berharap, semoga adik laki-laki mau bermain Barbie bersamaku,” ungkap Lily, tampak harap-harap cemas.Inez tertawa. “Jika nanti kalian sudah dewasa, adik laki-lakimu akan menjagamu dengan baik. Kau juga akan menjadi kakak perempuan yang hebat!”“Aku tidak sabar adikku lahir, Nenek.”“Tunggu beberapa bulan lagi. Dia akan lahir.”“Kalau adik sudah lahir, apakah ayah, ibu, kakek, dan Nenek tidak akan sayang lagi padaku?” Lily menundukkan kepalanya dan mengerucutkan bibir.“Apa? Mana mungki

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   140. Menantikan Perceraian

    “Kalau adik sudah lahir, apakah adik akan suka main Barbie sepertiku, Ibu?”“Hm... Ibu belum tahu. Kalau dia perempuan, mungkin dia akan suka, tapi mungkin juga tidak suka. Kalau dia laki-laki pun sama, bisa jadi tidak suka, bisa jadi suka.”Lily berhenti mewarnai hewan laut yang kugambarkan di kertas gambarnya, lalu mendongak menatapku dalam diam.Aku sedang duduk di sofa putih yang ada di kamar Lily, menemaninya bermain, sambil memakan buah potong.Ketika dia diam seperti itu, aku pun tersenyum lembut padanya dan bertanya, “Ada apa, Cantik?”“Berati, kalau adik lahir, belum tentu adik akan bermain denganku, ya?” tanyanya, terlihat sedih.“Bukan begitu, Cantik. Hanya kesukaannya saja yang mungkin berbeda darimu, karena tidak semua orang punya ketertarikan yang sama. Tapi kalau bermain denganmu, itu sudah pasti. Kalian, ‘kan, saudara,” jelasku.Aku bangkit dari duduk, berpindah ke dekat Lily yang duduk manis di karpet bulu yang lembut di tengah kamarnya.Setelah mengelus puncak kepala

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   139. Berkat Kehadiranmu

    Hari dilaksanakannya sidang perceraian Mark dan Paula semakin dekat. Sejak beberapa hari sebelum mediasi pertamanya dengan Mark, Paula sudah tak tinggal di penthouse lagi. Tapi itu hanya setengah dari masalah yang ada. Ketegangan tentang audit perusahaan untuk menyelidiki kasus lama Paula dengan Lawrence Company, telah menimbulkan getaran antara dua keluarga. Inez dan Morgan Lawrence mendukung penuh seluruh keputusan Mark. Tapi tentu, konflik dingin berujung terjadi antara mereka dengan William dan Patricia Harold. Dan aku... aku tak tahu harus bagaimana. Lagi pula, keberadaanku di tengah ketegangan ini, seakan tak terlihat. Permasalahan tentang diriku adalah anak yang terbuang dan diterlantarkan oleh ayah kandungku sendiri, itu pun dengan cepat terlupakan, tak terlalu dihiraukan, bahkan dianggap seperti bukan sesuatu yang serius. Tak apa. Aku terbiasa tak dipedulikan. Oleh ayah kandungku pun aku diterlantarkan. Aku menceritakan segalanya kepada ayah tiriku, dan dia mengatakan

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   138. Terancam Dipenjara

    “Jadi sebaiknya, kau tetap bersama Paula saja dan jangan pedulikan aku.”Mark tak langsung memberikan respons atas penuturanku. Dan itu membuatku cemas.Sementara dia mulai melahap sup jagung, aku yang tak bisa berhenti menatapnya selagi menantikan respons, ikut mulai melapah sup jagungku.“Sejak kapan kau merasa punya hak untuk mengatur keputusanku?”“A-aku... bukan begitu maksudku.”Pembicaraan kami kembali terhenti, sebab pelayan datang, membawakan makanan utama kami dan seluruh sisa pesanan kami.Sampai akhirnya pelayan pergi, dan hanya tinggal kami berdua lagi, Mark memandangiku lekat-lekat dan berujar, “Apa kau pikir aku menceraikan Paula hanya demi dirimu saja?”Aku bergeming, diam-diam kugigit kuat bagian dalam bibir bawahku.“Itu juga demi Lily, Anastasia. Dan demi diriku sendiri.”“Tapi dulu kau bilang... Paula tak akan tergantikan bagimu.”“Ya, sebelum aku memastikan dia selingkuh dengan rivalku sendiri, dan sebelum kau membuat mataku terbuka.”Aku bungkam.“Kau membuatku s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status