Share

14. Gelang Pasien

Author: Nadia Styn
last update Last Updated: 2025-11-10 09:06:28

Hari terus berlalu. Sudah satu minggu lebih sejak aku mulai tidur satu kamar dengan Mark.

Tidak, tidak ada hal intim yang terjadi di antara kami, kecuali ketika dia tiba-tiba menyuruhku melepas baju dan bra malam itu.

Tiap hari saat waktunya tidur, kami benar-benar hanya tidur satu kasur, mengobrol pun tidak, seperti remaja asrama yang terpaksa tidur bersama karena kehabisan kamar.

“Paula.” Nama itu kerap menghantui isi kepalaku dengan rasa penasaran.

Apakah Paula masih hidup? Di mana dia berada sekarang?

Dan jika dia masih hidup, bagaimana jika dia tahu bahwa ada wanita lain yang tidur di samping suaminya tiap malam?

Atau dia justru tidak peduli?

Rasa penasaranku tentang Paula, ditambah rasa bersalahku sebagai sesama perempuan, mendorong keinginanku untuk mencari tahu tentang wanita itu.

Karena kini aku menempati kamar utama, yaitu kamar Mark, aku bisa lebih mudah untuk diam-diam mengakses apa pun yang ada di sekeliling ruangan—saat Mark sedang tak ada tentunya.

Aku membuka lemari, r
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   118. Tidur Bertiga

    “AYAH! IBU!”Suara Lily yang menggelegar, menjadi penyambut paling pertama atas kepulanganku dan Mark ke penthouse.Ketika kami bertemu dengannya, dapat kami lihat dengan jelas betapa murung wajah imut gadis kecil itu.Bibirnya terus mengerucut, kepalanya sedikit tertunduk, tatapannya sendu, dan dia berjalan mendekati kami dengan tangan yang memeluk boneka kelinci putih dan kaki yang agak menghentak-hentak.“Selamat malam, Cantik!” sapaku ceria.“Selamat malam, Ibu.” Dia merespons sambil cemberut. “Aku merajuk pada Ibu.”“Benarkah? Kenapa? Apakah Ibu membuatmu kesal?”Dia mengangguk dengan polosnya.Selepas berjongkok untuk menaruh bonekanya di dekat kaki, dia berdiri di hadapan kami sambil bertolak pinggang, lantas mendongak untuk menatap kami dan bertanya serius, “Ayah dan Ibu dari mana saja? Apakah Ayah dan Ibu tidak tahu sudah jam berapa sekarang?”Aku mengulum bibirku ke dalam, memaksa diriku untuk tidak tersenyum ataupun tertawa, sebab tak tahan melihat betapa menggemaskannya Li

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   117. Mengharapkan Sentuhannya Sepanjang Malam

    Sesuai bisikan instingku.Aku dan Mark melakukan ‘itu’.Kami masuk kembali ke gedung hotel, lalu menyewa salah satu kamar suite di hotel bintang lima itu.Dan sekarang, dia ada di atasku, berpacu dalam nafsu yang membakar sekujur tubuh kami, membiarkan sekeliling kamar dipenuhi oleh deru peraduan yang tak seharusnya terjadi—secara moral.“Mark... ahh, pelan... pelan-pelan saja.”Dia mendengarkanku. Jari-jemarinya bertautan denganku di samping bantal dalam genggaman yang dia perkuat, tetapi ritme dorongannya padaku berangsur menurun.Menit demi menit berlalu, begitu kami menemukan puncak yang kami incar, napas berat kami beradu di tengah suara lenguh yang tertahan.Mark hampir ambruk di atasku.Namun, karena sepertinya dia teringat bahwa aku sedang hamil, dia risau untuk menindihku, sehingga dia segera menjatuhkan tubuhnya ke samping kiriku, lantas menarik selimut untuk kami.Keheningan terjalin sejenak, bunyi penghangat ruangan yang seharusnya halus dan samar pun sampai terdengar di t

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   116. Dia Ingin Menguasai Tubuhku Malam Ini

    “Persetan. Aku bahkan tak yakin dia hamil. Kalaupun dia memang hamil, aku tak yakin itu anakku.”“A-apa?”Aku setengah tak percaya. Yang Mark ucapkan tentang istrinya sendiri, terdengar sangat tidak masuk akal.Namun tampaknya, Mark tidak main-main dengan ucapannya tersebut. Sayangnya, dia enggan membahas lebih jauh.Setelah kudapati rahangnya mengeras selama beberapa saat, dia kembali berkonsentrasi pada komputer dan berhenti menatapku. Aku pun tak berani berkutik, karena takut dianggap ikut campur.“Keluarlah dulu. Jangan ganggu aku sampai sudah waktunya kita pulang,” titah Mark.“Baik. Aku... permisi dulu,” jawabku seraya berbalik dan beranjak meninggalkan ruangan itu.Kulanjutkan pekerjaanku sembari terus memikirkan ucapan Mark mengenai kehamilan Paula.Kalau memang Mark benar bahwa Paula tak sungguhan hamil, apa alasan yang membuat Paula berbohong? Apakah karena dia tak mau Mark menceraikannya?Dan kalau ternyata dia hamil namun bukan anak Mark, lantas... anak siapa?Pertanyaan i

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   115. Aku Tak Yakin Itu Anakku

    Karyawan yang dipanggil oleh Mark untuk ke ruangannya, berjumlah lima orang. Mereka berasal dari dua departemen yang berbeda.Sejak tiga puluh menit yang lalu, kepala dari masing-masing departemen dan kepala HRD, menyusul ke dalam ruangan Mark setelah dipanggil juga.Aku tahu, lima karyawan itu akan... dipecat.Hal tersebut membuatku gundah.Aku tak tahu apa yang menjadi pertimbangan Mark untuk memecat mereka, tetapi jika alasan utamanya adalah karena mereka menghinaku, aku tidak tahu harus bagaimana selain merasa bersalah.Sebelum pukul empat sore, mereka semua keluar dari ruangan Mark. Dapat kulihat betapa sedih dan murungnya wajah mereka, mereka bahkan tak berani menatapku yang duduk di meja kubikalku.Seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala HRD, keluar paling belakang. Dia mendatangi mejaku, sementara yang lain sudah beranjak menuju lift.“Nona Walter?” panggil wanita itu.“Ada yang bisa aku bantu?” responsku seraya bangkit dari duduk.“Maaf atas keributan yang terjadi har

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   114. Menjadi Bahan Gosip Panas

    “Hati-hati kalau bicara! Mulutmu itu ternyata jauh lebih kotor daripada sampah! Pengkhianat dan tukang selingkuh seperti dirimu itulah yang justru wanita nakal!”“APA KAU BILANG?!”Aku tidak mengerti, Paula sepertinya bernafsu sekali ingin berbuat kasar dan main tangan terhadapku, sekalipun anaknya sedang ada di sini dan bisa menyaksikan perbuatannya.Tapi beruntung, sebelum tangannya yang sudah terangkat melakukan sesuatu kepadaku, Mark sudah lebih dulu menghalangi.Pria itu berdecak marah.Tak ingin pertengkaran terjadi di hadapan si mungil Lily, Mark langsung menarik tangan Paula, menyeretnya pergi dari dapur, persis seperti yang tadi dilakukan William Harold.Setelah mereka pergi, aku menopang tanganku pada pinggiran meja makan, lantas menghela napas berat, berupaya menenangkan diri dan meredakan emosiku.“Ibu...,” Lily merengek pelan.Menyadari tentang Lily yang masih di dekatku, aku segera tersadar dan berbalik lagi.“Ya, Sayang? Ayo, kembali ke kursimu dan habiskan buah potongm

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   113. Wanita Nakal

    Paula muncul di dapur.William langsung melepaskan pelukannya padaku, setelah menyadari bahwa teguran tegas barusan berasal dari putrinya yang seakan siap mengamuk.Aku pun segera mundur satu setengah langkah, menjauh dari ayahnya Paula tersebut.“Apa-apaan ini?!” tanya Paula.Dia mengambil langkah mendekat ke arahku dan William. Dengan wajahnya yang kaku oleh amarah, mendadak dia mendorongku kencang.Dorongannya itu membuatku mundur beberapa langkah dan nyaris hilang keseimbangan, tetapi untungnya ada counter dapur di sebelah kiriku, sehingga aku bisa segera menumpukan tanganku di sana untuk mempertahankan diri.“Apa kau sudah gila?!” bentak Paula. “Setelah menggoda suamiku, sekarang kau mengincar ayahku juga?!”Aku menggeleng cepat. “Aku tidak bermaksud.... Aku tidak melakukan apa-apa, Paula.”“KAU MEMANG JALANG MURAHAN!!”Paula mengangkat tangan kanannya untuk menamparku.Aku refleks memejamkan mata dan menundukkan kepala.Tapi untungnya, William langsung mencengkeram pergelangan t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status