Mag-log in"Kau mau ke mana?" tanya seorang pria tampan dengan lesung pipi, mata tajam dan dagu lancip membuatnya terlihat sempurna. Wanita pasti luluh saat menatapnya.
"Bukan urusanmu," jawab Dara, dia berjalan turun tangga dengan bertelanjang kaki, tidak peduli pada pria yang sedang mengkhawatirkannya. "Hati-hati." Dia langsung menangkap tubuh Dara saat tubuhnya masih terasa lemas akan terjatuh. Sejenak mata mereka saling menatap, Dara yang begitu dekat den"Kau sudah bangun, Dar. Apa ada yang terasa sakit?" Suara seorang wanita yang sangat Dara kenal sedang bertanya khawatir padanya karena beberapa saat lalu pingsan di ruang ICU.Bukannya menjawab, Dara malah menangis dan langsung memeluk Anggun yang duduk di sampingnya. Dia meluapkan kesedihannya dengan menangis. Rasanya begitu sesak saat ingat kakak dan suaminya sedang terbaring lemah."Kau harus tenang. Ini semua sudah kehendak Tuhan. Kau harus relakan," tutur Anggun ragu. Namun, dia tetap ingin mengatakannya."Merelakan? Apa maksud Mbak?" Dara melepaskan pelukannya dan menatap Anggun yang langsung memegang kedua tangan teman dan juga adik untuknya itu."Maaf, tapi kau harus tau. Ini memang berat, namun—""Ada apa, Mbak? Apa terjadi sesuatu pada Mas Yuda? Ada apa, Mbak? Jangan buat aku takut," sahut Dara yang menyelai ucapan Anggun.Anggun sebenarnya enggan untuk mengatakannya, tapi Dara tetap harus tau. "Berjanjilah untuk tenan
Yudanta yang coba memutar setir mobil membuat Truk itu menghantam sisi kanan mobil, di mana Juan yang sedang mengemudi. Walau sama-sama terluka parah, tapi bisa dibilang Yudanta selamat karena dari sisi Juan yang terkena dari Truk itu.Sabuk pengaman yang Yudanta kenakan melindunginya dari benturan keras, meski begitu tubuhnya masih saja terpanting dan kepalanya terbentur hingga mengeluarkan darah segar dari pelipis kirinya. Di sisi Juan, dia terlihat tak sadarkan diri dengan kepala terkulai ke samping kiri. "Akh!" Rintihan lirih itu terdengar keluar dari mulut Yudanta. Dia berusaha untuk membuka sabuk pengaman dengan tangan kiri, karena tangan kanannya tak bisa digerakkan.Terlihat truk itu sudah terhenti dan asap mulai membumbung karena tabrakan itu. "Ju-an! Juan!!" Yudanta coba memanggil Juan yang sudah tak sadarkan diri. Tangan kirinya masih coba membuka sabuk pengaman itu hingga seseorang coba untuk memanggil Yudanta dari luar mobil.Perlaha
Sesampainya di rumah, Yudanta meluapkan kemarahannya pada beberapa orang penjaga rumah. Dara sebelumnya menyalahkan karena Alana diculik. Padahal ini bukan rencana Yudanta.Dengan kondisi tubuh yang tidak baik-baik saja, Yudanta memaksa untuk pergi dari rumah sakit. Rencana yang dia pikir akan berhasil, nyatanya dia kecolongan. Dia terlalu fokus dengan kondisi kesehatannya, sampai melupakan keamanan di rumah."Yuda sudahlah, lebih baik kita mencarinya." Kale menghentikan Yudanta yang terus meluapkan kekesalannya pada orang yang dia anggap bertanggung jawab di rumah."Akh!!" Teriak Yudanta.Tak peduli dengan ucapan Kale, Yudanta berjalan ke mana dia menyimpan senjatanya. Dia membawa beberapa senjata dan berjalan ke arah pintu. Langkahnya terhenti saat melihat Dara. Istrinya itu tampak hancur, dia terus saja menangis. Ada Anggun bersamanya, ada rasa bersalah pada diri Anggun. Karena keteledorannya, ini semua terjadi."Aku pergi bersamamu."
Seperti yang Yudanta mau. Kale membuat laporan atas keterangan tentang Juan yang memberikan racun padanya. Tentang kondisi Yudanta sekarang, dia harus menjalani istirahat total seperti yang Dokter katakan. Memerlukan waktu 4-8 minggu untuk pemulihan kondisi Lambung nya."Aku sudah melakukan apa yang kau mau. Sebenarnya kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Kale."Aku hanya ingin membuat Galih mempertanggung jawabkan apa yang terjadi. Seperti kematian Kakek dan juga masalah yang lain. Aku dan Leo ingin membuatnya menjadi kambing hitam, dengan menunjuk dia sebagai dalang dari kejahatan yang sedang Polisi usut," jelas Yudanta. Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih. Beberapa alat medis ada ditubuhnya, bahkan dia menggunakan alat bantu nafas, namun mereka ingin mendengarkan penjelasan Yudanta. Kenapa dia bisa menelan racun itu, tanpa mereka tau rencananya."Lalu kapan kau meneguk racun itu?" tanya Kale."Saat aku tak sadarkan diri beberapa waktu lalu. I
"Ada apa?" tanya Yudanta ketika Kale dan Brian berhasil membuatnya bangun. Dengan suara serak dan mata yang berat untuk terbuka, Yudanta berjalan turun. Membiarkan Dara tidur bersama Alana."Apa kau sudah gila. Anak buah yang kau perintahkan tertangkap. Bukankah dengan jelas kau tau jika itu hanya jebakan saja. Pihak polisi mendatangi basecamp kita sekarang," jelas Brian yang memang mengetahui langsung apa yang terjadi di kediaman Kaito."Kenapa kalian tampak panik. Memangnya apa yang aku lakukan? Apa anak buah itu menyebutkan namaku?" Yudanta duduk dengan tenang. Menjawab apa yang Brian jelaskan juga dengan santai. Seakan berita yang Brian katakan tidaklah penting."Pastinya. Jika tidak, kenapa mereka ke rumah kakekmu," sahut Kale. Setelah mendengar penjelasan Brian apa yang terjadi, Kale ikut panik. Bagaimana jiks Yudanta benar tertangkap karena masuk dalam perangkap polisi."Kalian tau ini pukul berapa? Aku berusaha untuk tidur setelah Dara mem
Yudanta membiarkan Galih melakukan apa yang dia mau. Seperti membayar hutang pada Bandot yang harusnya menikah dengan Dilla. Dia merasa senang saat Yudanta hanya diam. Apalagi beberapa hari belakangan ini Galih mendengar Yudanta sedang sakit, mengharuskan dia tetap di rumah, tanpa tau apa yang Galih lakukan. Walau sebenarnya Yudanta tau apa yang dilakukan Galih saat ini. Seperti saat ini, dia sedang bicara dari sambungan telepon dengan seseorang yang dia suruh untuk memata-matai Galih. "Ya sudah, kau awasi dia. Aku tak bisa bicara lebih lama denganmu. Istriku terus menatapku sekarang, daripada ponsel ini hancur karena dia. Lebih baik kita bicarakan lagi nanti," ucap Yudanta dengan mata menatap Dara yang sudah bertolak pinggang di hadapannya. Setelah sambungan telepon di tutup, Yudanta melempar asal ponsel itu ke tempat tidurnya dan tersenyum pada Dara yang segera duduk di samping suaminya itu. "Bukankah baru 10 menit Mas t
"Dokter memintamu untuk tetap di tempat tidur, tidak melakukan apapun sampai perdarahannya berhenti. Aku mohon untuk mendengarkan aku kali ini agar kita bisa segera menikah setelah kau pulih. Pengajuan untuk pernikahan kita sudah aku dapatkan. Aku mau kau pulihkan kondisimu sebelum kita menikah,"
"Sayang--" Dara mengguncang tubuh Yudanta yang sedang tidur perlahan. Pria yang tidur di sampingnya itu begitu lelap dalam tidurnya."Sayang," panggil Dara lagi saat Yudanta tidak menyahuti."Hmm—" gumam Yudanta lirih, dia belum membuka matanya."Perutku terasa sakit,"
"Asem sekali," ucap Yudanta saat mencoba buah Jamblang yang baru dia beli. Untung saja penjual buahnya masih ada, mungkin kalau tidak ada mereka harus mencari lebih jauh lagi."Rasanya segar. Coba satu lagi." Dara menyuapkan satu buah Jamblang pada Yudanta yang menggeleng tidak mau.
FollowVote and Happy Reading.."Kenapa kau bisa tau jika aku hamil? Kau membuatku takut dengan tebakanmu," tutur Dara saat mereka sedang berdua di teras belakang rumah."Sebenarnya hanya terbesit dalam pikiran saja. Tapi, feeling ku benar. Aku malah takut saa







