Mag-log in"Kau mau ke mana?" tanya seorang pria tampan dengan lesung pipi, mata tajam dan dagu lancip membuatnya terlihat sempurna. Wanita pasti luluh saat menatapnya.
"Bukan urusanmu," jawab Dara, dia berjalan turun tangga dengan bertelanjang kaki, tidak peduli pada pria yang sedang mengkhawatirkannya. "Hati-hati." Dia langsung menangkap tubuh Dara saat tubuhnya masih terasa lemas akan terjatuh. Sejenak mata mereka saling menatap, Dara yang begitu dekat dengan pria yang membantunya itu bahkan bisa merasakan deru nafasnya. Namun, tak bertahan lama, dia segera mendorong tubuh pria itu dan berdiri dengan kakinya sendiri. "Sudah begitu malam. Tinggallah di sini, hujan juga belum reda," jelas pria yang tak lain Yudanta. "Kenapa kau membantuku?" tanya Dara ketus. "Kale yang membawamu kemari. Untuk malam ini diam lah di sini saja," jelas Yuda yang terus mencoba membujuk Dara untuk tetap tinggal.Dara menatap Yudanta yang sedang terpejam di tempat tidurnya. Beberapa saat lalu, dia mendapat perlakuan buruk dari kakeknya. Dan itu semua karena dirinya. Air mata menetes mengutuk kebodohan yang dia alami. Mungkin memang benar, jika Yudanta mengambil sesuatu yang berharga dari dirinya, namun dia menyesali hal itu dan mau bertanggung jawab. Siapa Yudanta, kenapa dia begitu peduli pada Darapuspita yang tidak pernah menatapnya. Apa yang Dara lihat dari Yudanta adalah keburukan, seseorang yang jahat karena merenggut keperawanannya."Apa kau akan terus menangis?" Suara lirih Yudanta terdengar dan membuatnya menatap ke arah pria yang sudah menatapnya itu."Maafkan aku." Entah sudah berapa kali Dara mengatakannya. Tapi dia memang menyesali apa yang dia lakukan. "Kau akan terus mengatakan kata maaf? Bukankah kau harus fokus pada kondisimu. Kau harus menghilangkan ketakutanmu itu, aku sudah katakan kalau aku menyukaimu, ini tidak ada artinya walau aku mati karen
PlakkkTamparan keras mendarat pada pipi Yudanta saat kakeknya berdiri di hadapannya. Bukan hanya itu, dengan kasar Kakek Yudanta memukul perut cucunya sangat keras.Yudanta tetap tidak ingin melepaskan genggamannya pada Dara. Dia hanya ingin membuktikan apa yang Dara mau."Kakek bisa menghajar ku sepuas Kakek mau. Asal tidak di hadapannya. Tidak hanya sekali Kakek ingin menghabisi ku, jadi percuma saja Kakek tetap akan gagal," ujar Yudanta."Jaga bicaramu itu. Kau itu sama seperti ayahmu. Pembangkang!" Tegas Kaito Ziman, pria keturunan Jepang itu adalah Kakek Yudanta."Benar juga. Ayah mati di tanganmu. Apa aku juga akan seperti itu? Tidak! Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan tanpa Kakek mengaturku. Ini hidupku, aku lakukan tugasku, Kakek berikan apa yang menjadi kemauanku. Akui dia bagian keluarga ini karena dia tunanganku. Mau ataupun tidak, aku tidak peduli. Dialah calon istriku, bukan wanita itu!" "Kau hanya akan
Follow dulu sebelum lanjut baca 😁Happy Reading.."Sebenarnya apa yang kalian sepakati?" tanya Dara pada mereka berdua. Dia merasa menjadi alat Juan untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau."Aku ... aku hanya menjadikanmu bahan taruhan saja," jawab Juan."Kau yakin dengan jawabanmu. Kau seperti lempar batu sembunyi tangan. Bukankan Bos sudah jelaskan apa niatnya," ucap orang yang berdiri di samping Brian. Orang itu memukul kepala Juan yang ada di bawahnya."Bos Yuda hanya ingin aku melepaskan mu, tidak lagi menyiksamu. Itu saja," jawab Juan dengan tangan mengusap kepalanya yang terkena pukulan."Lalu kau mengingkari janjimu," imbuhnya."Maafkan aku ... aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan bersikap baik pada adikku. Tidak lagi memukulnya," jelas Juan."Katakan maafmu itu pada adikmu yang semalam menjadi incaran temanmu. Kau tau dia hampir mati karena ulah temanmu itu. Minta maaf pada adikmu d
Dara menghentikan ciumannya pada bibir Yuda, dia tertunduk menahan rasa sesak di dadanya. Dia berusaha melawan rasa takut itu dengan mencium Yuda yang terkejut akan sikap Dara."Kau baik-baik saja?" tanya Yuda khawatir."Ya, aku baik-baik saja." Dara melepaskan tangannya dari leher pria yang ada di hadapannya. Tatapan khawatir terlihat di sorot mata Yuda."Kau hanya membuktikan apa yang kau katakan itu. Aku ingin rasa takut ini hilang dengan bantuanmu," imbuh Dara yang menatap Yuda dengan tangis yang sudah pecah."Sudah, tidak perlu menangis lagi. Aku akan buktikan saat itu memang kemauan mu. Apa kau ingin ke kamar mandi agar terasa segar? Biar pelayan yang menyiapkan pakaianmu," jelas Yuda."Maafkan aku sudah bersikap buruk padamu. Aku hanya bingung harus bersikap seperti apa saat hidupku hancur begitu kau mengambil sesuatu yang berharga milikku. Aku hanya memiliki hal itu, semua hancur setelah orang tuaku tiada."Bukannya menja
"Kau mau ke mana?" tanya seorang pria tampan dengan lesung pipi, mata tajam dan dagu lancip membuatnya terlihat sempurna. Wanita pasti luluh saat menatapnya. "Bukan urusanmu," jawab Dara, dia berjalan turun tangga dengan bertelanjang kaki, tidak peduli pada pria yang sedang mengkhawatirkannya. "Hati-hati." Dia langsung menangkap tubuh Dara saat tubuhnya masih terasa lemas akan terjatuh. Sejenak mata mereka saling menatap, Dara yang begitu dekat dengan pria yang membantunya itu bahkan bisa merasakan deru nafasnya. Namun, tak bertahan lama, dia segera mendorong tubuh pria itu dan berdiri dengan kakinya sendiri. "Sudah begitu malam. Tinggallah di sini, hujan juga belum reda," jelas pria yang tak lain Yudanta. "Kenapa kau membantuku?" tanya Dara ketus. "Kale yang membawamu kemari. Untuk malam ini diam lah di sini saja," jelas Yuda yang terus mencoba membujuk Dara untuk tetap tinggal.
Dara memilih pergi, dia mencoba hidup semestinya dia mau bersama Juan, kakaknya. Walau Juan masih ringan tangan padanya, dia tak ingin pergi darinya. Dia memiliki alasan untuk itu, karena hanya Juan keluarga satu-satunya. Dulu Juan kakak yang perhatian, sampai dia mengenal dunia hitam, dia menjadi kasar pada adiknya. Pyarrr Suara piring jatuh membuat Dara menutup telinganya, dia sangat takut dengan suara keras ataupun seseorang bersikap kasar padanya, luka hatinya menimpulkan trauma. Seseorang tak sengaja menjatuhkan piring, membuat Dara tampak ketakutan dengan suara itu. Dia sedang di tempat kerjanya, beberapa hari ini dia menyibukkan diri dengan bekerja. "Kau tidak apa-apa, Dar?" "Akhh!" Teriak Dara saat temannya itu coba untuk menanyakan kondisinya. Dia seperti ketakutan saat temannya hanya ingin bertanya. Dara menangis, dia menutup telinganya karena ketakutan. Bayangan di mana kakaknya ser







