로그인Plakkk
Tamparan keras mendarat pada pipi Yudanta saat kakeknya berdiri di hadapannya. Bukan hanya itu, dengan kasar Kakek Yudanta memukul perut cucunya sangat keras.Yudanta tetap tidak ingin melepaskan genggamannya pada Dara. Dia hanya ingin membuktikan apa yang Dara mau."Kakek bisa menghajar ku sepuas Kakek mau. Asal tidak di hadapannya. Tidak hanya sekali Kakek ingin menghabisi ku, jadi percuma saja Kakek tetap akan gagal," ujar Yudanta."Jaga bicaramu itu. Kau itu sama seperti ayahmu. Pembangkang!" Tegas Kaito Ziman, pria keturunan Jepang itu adalah Kakek Yudanta."Benar juga. Ayah mati di tanganmu. Apa aku juga akan seperti itu? Tidak! Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan tanpa Kakek mengaturku. Ini hidupku, aku lakukan tugasku, Kakek berikan apa yang menjadi kemauanku. Akui dia bagian keluarga ini karena dia tunanganku. Mau ataupun tidak, aku tidak peduli. Dialah calon istriku, bukan wanita itu!""Kau hanya akanDara tampak segar dengan gaya rambut blow out, dan warna rambut warm hazelnut. Anggun merubah Dara sesuai kemauannya, tapi hasilnya tidak gagal. Dara semakin cantik dengan gaya rambut seperti sekarang."Ada apa? Kau tampak cantik seperti ini, kenapa harus malu," tutur Anggun.Dara terlihat jelas jika dirinya sedang malu dengan dirinya yang sekarang. Sebelumnya dia hanya seorang gadis polos, namun sekarang dia tampil berbeda. Dengan dress selutut yang dia kenakan, membuat penampilannya berbeda. Dia sudah seperti seorang cinderela yang di sihir agar terlihat cantik."Sudahlah, santai saja. Kau itu kekasih Yudanta Wijaya, setidaknya kau harus berkelas seperti wajah cantikmu ini. Tidak perlu malu, kau harus terbiasa dengan kondisimu sekarang." Anggun benar-benar merubah penampilan Dara dan dia berhasil untuk itu."Benar juga, kau tampak cantik. Tidak perlu malu. Angkat wajahmu, dan lihat dari pantulan cermin. Gadis sebelumnya datang padaku berubah men
"Kau memerlukan sesuatu?" tanya Anggun yang sudah datang beberapa waktu lalu.Tentang foto tadi, mungkin saja Dara salah mengingatnya, karena itu sudah beberapa tahun yang lalu. Mobil yang membuat orang tuanya kecelakaan dan meninggal di tempat."Boleh aku bertanya?" tanyanya."Katakan saja, tapi jika kau bertanya ke mana Yudanta pergi, aku tidak tau," jawab Anggun. Padahal memang itu yang ingin dia tanyakan darinya. "Bagaimana kau tidak tau, bukankah kau bagian dari genk nya," sahut Dara."Asal kau tau. Tidak semua tau tentang apa yang Yudanta lakukan, apalagi jika itu berurusan dengan kakeknya. Dia menutup rapat hal itu, yang aku tau dia ketua genk motor, karena aku juga kenal Yudanta dari kekasihku, itu saja," jelas Anggun. Dia memang wanita satu-satunya yang Yudanta percayai, karena kekasihnya menjadi kaki tangannya."Siapa memangnya?" tanya Dara."Aku pikir kau banyak ingin tau sekarang," jawab Anggun."Ka
Dara menatap Yudanta yang sedang terpejam di tempat tidurnya. Beberapa saat lalu, dia mendapat perlakuan buruk dari kakeknya. Dan itu semua karena dirinya. Air mata menetes mengutuk kebodohan yang dia alami. Mungkin memang benar, jika Yudanta mengambil sesuatu yang berharga dari dirinya, namun dia menyesali hal itu dan mau bertanggung jawab. Siapa Yudanta, kenapa dia begitu peduli pada Darapuspita yang tidak pernah menatapnya. Apa yang Dara lihat dari Yudanta adalah keburukan, seseorang yang jahat karena merenggut keperawanannya."Apa kau akan terus menangis?" Suara lirih Yudanta terdengar dan membuatnya menatap ke arah pria yang sudah menatapnya itu."Maafkan aku." Entah sudah berapa kali Dara mengatakannya. Tapi dia memang menyesali apa yang dia lakukan. "Kau akan terus mengatakan kata maaf? Bukankah kau harus fokus pada kondisimu. Kau harus menghilangkan ketakutanmu itu, aku sudah katakan kalau aku menyukaimu, ini tidak ada artinya walau aku mati karen
PlakkkTamparan keras mendarat pada pipi Yudanta saat kakeknya berdiri di hadapannya. Bukan hanya itu, dengan kasar Kakek Yudanta memukul perut cucunya sangat keras.Yudanta tetap tidak ingin melepaskan genggamannya pada Dara. Dia hanya ingin membuktikan apa yang Dara mau."Kakek bisa menghajar ku sepuas Kakek mau. Asal tidak di hadapannya. Tidak hanya sekali Kakek ingin menghabisi ku, jadi percuma saja Kakek tetap akan gagal," ujar Yudanta."Jaga bicaramu itu. Kau itu sama seperti ayahmu. Pembangkang!" Tegas Kaito Ziman, pria keturunan Jepang itu adalah Kakek Yudanta."Benar juga. Ayah mati di tanganmu. Apa aku juga akan seperti itu? Tidak! Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan tanpa Kakek mengaturku. Ini hidupku, aku lakukan tugasku, Kakek berikan apa yang menjadi kemauanku. Akui dia bagian keluarga ini karena dia tunanganku. Mau ataupun tidak, aku tidak peduli. Dialah calon istriku, bukan wanita itu!" "Kau hanya akan
Follow dulu sebelum lanjut baca 😁Happy Reading.."Sebenarnya apa yang kalian sepakati?" tanya Dara pada mereka berdua. Dia merasa menjadi alat Juan untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau."Aku ... aku hanya menjadikanmu bahan taruhan saja," jawab Juan."Kau yakin dengan jawabanmu. Kau seperti lempar batu sembunyi tangan. Bukankan Bos sudah jelaskan apa niatnya," ucap orang yang berdiri di samping Brian. Orang itu memukul kepala Juan yang ada di bawahnya."Bos Yuda hanya ingin aku melepaskan mu, tidak lagi menyiksamu. Itu saja," jawab Juan dengan tangan mengusap kepalanya yang terkena pukulan."Lalu kau mengingkari janjimu," imbuhnya."Maafkan aku ... aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan bersikap baik pada adikku. Tidak lagi memukulnya," jelas Juan."Katakan maafmu itu pada adikmu yang semalam menjadi incaran temanmu. Kau tau dia hampir mati karena ulah temanmu itu. Minta maaf pada adikmu d
Dara menghentikan ciumannya pada bibir Yuda, dia tertunduk menahan rasa sesak di dadanya. Dia berusaha melawan rasa takut itu dengan mencium Yuda yang terkejut akan sikap Dara."Kau baik-baik saja?" tanya Yuda khawatir."Ya, aku baik-baik saja." Dara melepaskan tangannya dari leher pria yang ada di hadapannya. Tatapan khawatir terlihat di sorot mata Yuda."Kau hanya membuktikan apa yang kau katakan itu. Aku ingin rasa takut ini hilang dengan bantuanmu," imbuh Dara yang menatap Yuda dengan tangis yang sudah pecah."Sudah, tidak perlu menangis lagi. Aku akan buktikan saat itu memang kemauan mu. Apa kau ingin ke kamar mandi agar terasa segar? Biar pelayan yang menyiapkan pakaianmu," jelas Yuda."Maafkan aku sudah bersikap buruk padamu. Aku hanya bingung harus bersikap seperti apa saat hidupku hancur begitu kau mengambil sesuatu yang berharga milikku. Aku hanya memiliki hal itu, semua hancur setelah orang tuaku tiada."Bukannya menja







