Accueil / Mafia / Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam / BAB 7: DISANGKAR EMAS SANG PREDATOR

Partager

BAB 7: DISANGKAR EMAS SANG PREDATOR

Auteur: Vanilla_Nilla
last update Date de publication: 2026-03-30 19:07:51

Aroma antiseptik yang tajam perlahan luruh, dikalahkan oleh wangi maskulin dari kayu cendana yang berat dan pekat saat Rafael membantu Ayyana bangkit. Tubuh Ayyana terasa seperti porselen retak; rapuh, kaku, dan siap hancur kapan saja.

Meskipun dokter telah memberikan lampu hijau untuk pulang, kaki Ayyana masih terasa seperti jeli saat menyentuh lantai marmer rumah sakit yang dingin.

"Aku bisa jalan sendiri," bisik Ayyana, mencoba menarik lengannya.

Bukannya terlepas, jemari Rafael justru mengunci lebih dalam, menyentak tubuh Ayyana hingga menempel pada dada bidangnya yang sekeras karang. Ayyana bisa merasakan panas tubuh pria itu menembus kain pakaiannya.

"Jangan keras kepala. Kau masih pucat seperti mayat yang baru bangkit dari kubur," desis Rafael.

Tanpa aba-aba, Rafael meraup tubuh Ayyana ke dalam gendongannya. Ayyana memekik kecil, refleks mengalungkan tangan ke leher kokoh sang mafia.

Di koridor, barisan pria berjas hitam dengan earpiece langsung membelah kerumunan layaknya laut merah. Orang-orang di sekitar menunduk, tak ada yang berani menatap mata sang predator yang sedang membawa 'mangsanya' pulang ke sarang.

Perjalanan itu terasa seperti mimpi buruk yang dibalut kemewahan Rolls-Royce Phantom. Di dalam mobil, keheningan terasa mencekik, hanya interupsi suara hujan gerimis yang menghantam kaca film gelap.

Ayyana menatap keluar, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang perlahan menghilang, berganti menjadi barisan pohon pinus rimbun saat mobil mulai menanjak ke arah perbukitan elit yang terisolasi.

"Kita hampir sampai," ucap Rafael dingin, matanya tetap tertuju pada tablet di tangannya, meninjau laporan laboratorium Elena.

Mobil itu berhenti di depan gerbang besi raksasa setinggi empat meter dengan ukiran huruf 'A' yang dikelilingi lilitan rantai besi.

Begitu gerbang terbuka, jalan setapak panjang yang diapit lampu taman antik membawa mereka menuju sebuah bangunan yang lebih mirip benteng daripada rumah tinggal.

Mansion Alvarez berdiri megah di puncak bukit, didominasi marmer hitam dan kaca-kaca masif yang memantulkan cahaya rembulan dengan angkuh.

Di tengah halaman, air mancur raksasa dengan patung malaikat maut yang memegang pedang berdiri tegak—sebuah simbol bahwa di rumah ini, hukum yang berlaku hanyalah hukum milik Rafael.

Pintu jati berlapis emas terbuka lebar. Dua baris pelayan sudah berdiri rapi di aula utama yang langit-langitnya menjulang sepuluh meter. Lampu gantung kristal menjuntai seperti air terjun cahaya yang menyilaukan mata.

Di ujung barisan, berdiri seorang wanita paruh baya dengan sanggul yang ditarik sangat kencang hingga wajahnya tampak tanpa ekspresi. Ibu Martha, kepala pelayan yang telah mengabdi tiga generasi, sedikit tersentak saat melihat tangan Rafael menggenggam erat jemari gadis pucat di sampingnya.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda Rafael," suara Martha formal dan dingin. Matanya melirik tajam ke arah Ayyana. "Kami tidak mendapat kabar bahwa Anda akan membawa ... tamu."

Rafael berhenti, auranya yang dominan seketika membekukan udara di aula seluas lapangan bola itu.

"Dia bukan tamu, Martha," suara Rafael bergema, berat dan tak terbantahkan. "Namanya Ayyana. Mulai hari ini, dia adalah pemilik kedua rumah ini. Segala kebutuhannya adalah prioritas utama. Siapa pun yang membantahnya, berarti membantahku."

Bisikan halus menjalar di antara para pelayan muda. Pemilik kedua? Kedudukan gadis ini dianggap setara dengan sang raja mafia?

Martha mengerutkan kening. "Lalu, kamar mana yang harus saya siapkan? Di sayap tamu?"

Rafael menyeringai tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Ayyana berdiri.

"Tidak. Dia akan tidur di kamarku."

Ayyana tersentak, suaranya tercekat di tenggorokan. "Rafael, aku—"

"Jangan membantah di depan orang-orangku, Ayyana," potong Rafael tanpa menoleh, cengkeraman tangannya menguat, memberi peringatan fisik yang jelas.

Rafael menarik Ayyana menaiki tangga melingkar yang megah. Di sepanjang dinding, lukisan-lukisan klasik asli yang harganya sanggup memberi makan satu kota menatap Ayyana dengan bisu. Baginya, setiap kemewahan ini hanyalah jeruji emas yang lebih indah.

Sesampainya di depan pintu ganda berwarna obsidian, Rafael membukanya.

Kamar itu sangat luas, dengan ranjang king size bertiang empat dan jendela raksasa yang menyuguhkan pemandangan kerlap-kerlip Jakarta dari ketinggian.

"Ini kamarnya," ujar Rafael sambil melepaskan tangan Ayyana. "Lemari itu sudah diisi dengan pakaian terbaik. Jangan mencoba mencari jalan keluar lewat jendela, karena sensor laser akan mendeteksi setiap gerakanmu bahkan sebelum kakimu menyentuh rumput."

Ayyana berjalan gemetar menuju balkon, menatap ke bawah. Jaraknya sangat jauh ke tanah. Ia benar-benar terisolasi.

"Rafael, kita ... kita tidak mungkin tidur dalam satu kamar, kan? Maksudku, bisakah kita tidur terpisah sebelum kita resmi menikah?" tanya Ayyana dengan suara yang hampir hilang.

Rafael berjalan mendekat, langkahnya pelan namun penuh ancaman. Ia berhenti tepat di belakang Ayyana, hingga Ayyana bisa merasakan embusan napas hangat pria itu di tengkuknya.

Tangan Rafael perlahan merayap ke pinggang Ayyana, menariknya mundur hingga punggung gadis itu menempel sempurna pada tubuh kekarnya.

"Memangnya kenapa? Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi milikku sepenuhnya?" bisik Rafael, bibirnya menyentuh cuping telinga Ayyana.

"Tapi ... secara moral, ini tidak benar. Aku butuh ruang," protes Ayyana lirih.

Rafael memutar tubuh Ayyana dengan kasar hingga mereka berhadapan. Ia mengunci pandangan Ayyana dengan mata elangnya yang gelap.

"Kau bicara soal moral di rumah seorang pembunuh?" Rafael tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar berbahaya. "Dengar, Ayyana. Di rumah ini, satu-satunya ruang yang kau miliki adalah ruang yang aku izinkan. Aku tidak ingin kau berada di luar jangkauan pengawasanku. Jika aku ingin tidur denganmu malam ini pun, tak akan ada yang bisa menghentikanku."

Rafael menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa milimeter dari bibir Ayyana.

"Nanti juga kita akan tidur bersama tanpa sehelai benang pun, jadi kenapa harus membuang waktu di kamar terpisah sekarang?"

Ayyana menahan napas, jantungnya berdegup liar.

"Kau ... kau keterlaluan."

Rafael menyeringai lapar, jarinya mengusap bibir bawah Ayyana dengan posesif.

"Baru dimulai, Sayang. Malam ini, kau akan belajar bahwa di tempat ini, kau tidak punya hak untuk mengatakan 'tidak'."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 90: FAJAR BARU DI ATAS ALPEN (TAMAT)

    Suara desingan peluru malam itu akhirnya digantikan oleh kesunyian pagi yang damai. Salju yang tadinya ternoda oleh darah, kini perlahan tertutup oleh lapisan es baru yang bersih, seolah alam pegunungan Zermatt ingin menghapus seluruh memori kelam tentang pertempuran malam itu. Lorenzo dan Marco Varella tidak pernah kembali ke Jakarta. Aliansi maut dari Bara, Arka, dan Gavin memastikan bahwa kedua bajingan itu mendapatkan hukuman mati yang setimpal atas dosa masa lalu mereka di tempat itu juga. Dendam atas kematian orang tua Rafael telah lunas terbayar di atas gunung es tersebut. Di dalam kamar utama chalet, Rafael terbaring dengan perban yang membungkus kepala dan dadanya. Meskipun tubuhnya penuh luka, mata elangnya perlahan terbuka saat merasakan kehangatan yang sangat familiar di punggung tangannya. Ayyana duduk di sisi ranjang, matanya sembap, namun senyumnya langsung merekah saat melihat suaminya sadar. Di belakangnya, Bi Martha sedang menggandeng Elena yang tampak jauh lebih

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 89: DARAH DI ATAS SALJU

    Badai salju mengamuk semakin liar di lereng Zermatt, namun bau mesiu dan anyir darah jauh lebih pekat menguasai udara. Suara rentetan senapan serbu bersahut-sautan, memecah kesunyian malam pegunungan Alpen menjadi neraka fana. Di tengah kepungan kabut es, Rafael berdiri bersandar pada reruntuhan dinding pembatas gerbang luar. Napasnya tersengal, meninggalkan uap putih yang pekat di udara dingin. Pasukan taktis yang dibawanya satu per satu tumbang di hadapan kombinasi brutal tentara bayaran Lorenzo dan Marco Varella. Jumlah mereka terlalu timpang. Ratusan laras senjata mengepung posisi Rafael yang kini hanya menyisakan kurang dari sepuluh pengawal yang masih mampu melepaskan tembakan balasan. DOR! DOR! Dua peluru menghantam beton tepat di atas kepala Rafael, melontarkan serpihan kerikil yang menyayat pipinya. Darah segar menetes, kontras dengan warna salju di bawah sepatunya. "Menyerahlah, Rafael! Kau sudah terkepung!" Suara tawa yang sangat familiar bergema, memecah deru angin b

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 88: BADAI YANG MENGAMUK

    Di ruang kerja yang hening, Rafael duduk tegak di balik meja kayu ek yang besar. Matanya menatap layar monitor yang menampilkan citra satelit dari perbatasan Swiss. Suasana yang tadinya terasa tenang kini berubah drastis menjadi mencekam. Pintu ruang kerja terbuka dengan kasar, memecah keheningan. Hans masuk dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. "Tuan, ada pergerakan besar di kaki bukit," lapor Hans, suaranya terdengar bergetar namun tegas. "Lorenzo telah mencapai lereng timur dengan tiga unit taktis berat. Dan ... bukan hanya dia." Rafael mendongak, matanya berkilat tajam. "Siapa lagi?" "Marco Varella, Tuan. Mereka telah bergabung. Mereka membawa pasukan gabungan dan telah mengepung jalur akses utama menuju Chalet." Rafael terdiam sejenak. Nama itu, Marco Varella, adalah musuh bebuyutan yang sudah lama ia incar. Jika Lorenzo dan Marco bersatu, ini bukan lagi sekadar upaya penculikan, ini adalah pernyataan perang total untuk meratakan seluruh aset Alvarez di Swiss. Raf

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 87: CAHAYA DI BALIK JENDELA ES

    Di tengah ketegangan yang menyelimuti lantai bawah Chalet, Ayyana memilih untuk menarik diri dari aura dingin Rafael. Langkah kakinya terburu-buru saat menyusuri lorong kayu menuju sayap kanan bangunan, tempat sebuah kamar medis khusus telah disiapkan untuk adik kecilnya.Begitu pintu terbuka, aroma antiseptik yang lembut—jauh lebih wangi daripada rumah sakit di Jakarta—menyambut indra penciumannya. Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menampakkan puncak-puncak Alpen yang putih. Di tengah ruangan, Elena terbaring di atas tempat tidur medis yang canggih.Tepat saat Ayyana duduk di kursi samping tempat tidur, kelopak mata kecil itu bergerak. Elena mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pegunungan yang masuk ke ruangan."Elena ..." bisik Ayyana lembut, jemarinya mengusap dahi adiknya dengan penuh kasih.Mata Elena terbuka sepenuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu pinus berwarna madu, sangat berbeda dengan la

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 86: DARAH DI ATAS SALJU

    Udara di ruang bawah tanah Chalet itu terasa beberapa derajat lebih dingin dibandingkan ruangan di atas. Bau kayu pinus yang hangat berganti dengan aroma lembap beton dan besi karat. Rafael duduk di sebuah kursi kulit besar yang diletakkan di tengah ruangan yang remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang berayun pelan.Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah korek api perak, memantik apinya lalu menutupnya kembali. Klik. Klik. Klik. Suara itu bergema, menciptakan ritme yang mencekam di tengah keheningan.Pintu besi di ujung ruangan terbuka dengan bunyi decit yang menyayat telinga. Armand melangkah masuk, menyeret seorang pria yang tangan dan kakinya terikat. Pria itu adalah Bram, salah satu tim logistik senior yang sudah ikut bersama Rafael sejak awal ia membangun kekuasaan di Jakarta. Wajah Bram babak belur, napasnya tersengal karena ketakutan yang luar biasa."Berlutut!" bentak Armand sambil menendang bagian belakang lutut Bram hingga ia tersungkur tepat di kaki Raf

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 85: UTUSAN DARI MASA LALU

    Suasana di depan Chalet mewah itu mendadak mencekam. Salju turun lebih lebat, seolah ingin menyembunyikan ketegangan yang meledak di antara dua pria yang berdiri berhadapan di atas hamparan putih tersebut. Rafael melangkah keluar dengan mantel bulu panjang, tangannya tersembunyi di balik saku, ia siap mencabut senjata kapan saja jika Kevin mulai berulah.Di depannya, berdiri Kevin Sanjaya. Wajah pria itu tampak kuyu, dengan jaket tebal yang basah oleh salju dan mata yang menyiratkan kelelahan luar biasa setelah menempuh perjalanan darat dari London menembus perbatasan Swiss."Ada apa kamu ke sini?" suara Rafael memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti belati es. "Apa kau sengaja mengikutiku karena masih terobsesi ingin bertemu dengan istriku? Jika iya, kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Kevin Sanjaya. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melihat ujung rambutnya lagi."Kevin menarik napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. Ia mengangkat kedua tangannya perla

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 81: PELARIAN DI TENGAH BADAI

    Deru mesin mobil mewah yang memasuki pelataran mansion Alvarez memecah kesunyian sore itu. Ayyana sudah berdiri di ambang pintu, menyambut suaminya dengan senyum yang tak pernah luntur. Namun, matanya tertuju pada satu benda: tas bekal biru muda yang masih bertengger manis di tangan kokoh Rafael.

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 69: KERAGUAN YANG MERACUNI

    Atmosfer di dalam kamar utama yang megah itu mendadak berubah menjadi padang es yang membeku. Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca besar seolah tak mampu mencairkan ketegangan yang menyelimuti pasangan itu. Ayyana, dengan gerakan telaten, sedang menata jam tangan Rolex perak, dasi sutra,

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 65: PERPISAHAN DI BALIK GERIMIS HATI

    Mobil Rolls-Royce Phantom hitam mengilat itu berhenti dengan anggun tepat di depan lobi apartemen Rara. Kilauan bodinya memantulkan lampu-lampu jalanan, memberikan kesan kuasa yang tak terbantahkan di area tersebut. Armand, dengan sigap dan gerakan yang sangat terlatih, turun dari kursi kemudi lal

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 58: IKATAN YANG TAK TERPUTUS

    Suasana di dalam apartemen terasa begitu hening, hanya suara detak jam dinding yang seolah berpacu dengan debaran jantung Rara. Sudah hampir tiga puluh menit Ayyana mengurung diri di dalam kamar mandi. Tidak ada suara kucuran air, tidak ada suara isakan, hanya keheningan yang mencekik. Rara tidak

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status