Udara pengap malam Jakarta menusuk paru-paru Ayyana Raline Wijaya. Tidak ada bau harum melati atau wangi kopi dari kedai langganannya, hanya aroma apek dari kain-kain usang yang menggantung di sudut pasar gelap. Jantungnya bergemuruh seperti drum yang dipukul bertalu-talu. Ayahnya, Wijaya, terus menyeret Ayyana seperti karung beras, langkahnya terseok-seok karena efek alkohol dan hutang yang mencekik. “Ayah, kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang.” Ayyana berbisik, suaranya tercekat. Tangannya yang dingin menggenggam erat lengan ayahnya, berharap bisa menarik pria itu keluar dari labirin kegelapan ini. Namun Wijaya tidak menjawab. Tubuhnya kurus, rambutnya acak-acakan, matanya merah sembab. Setelan jas yang dulu rapi kini kusut, persis seperti masa depan keluarga mereka. Selama berbulan-bulan, setiap pagi Ayyana terbangun dengan kecemasan, di mana kartu kredit yang ditagih, listrik yang diputus, ancaman-ancaman dari rentenir yang menempel di pintu. Namun, tidak pernah terlin
Last Updated : 2026-01-24 Read more