LOGIN“Tidak! Lepaskan aku! Jangan bawa aku!”
Teriakan Ayyana melengking memecah keheningan lift. Ia meronta, menendang, mencakar lengan kokoh pria bertato naga yang menyeretnya. Namun, tenaganya tak sebanding. Cengkeraman pria itu menguat, menimbulkan nyeri yang menjalar dari pergelangan tangan hingga bahunya. Bau keringat dan alkohol dari tubuh pria itu menyesakkan, membuat Ayyana ingin muntah. Lift itu melesat naik, membawa mereka menjauh dari keramaian di lantai bawah. Ayyana menoleh ke arah ayahnya, yang menghilang ditelan kerumunan, meninggalkan dirinya seperti bangkai kapal karam. Hatinya mencelos, lebih sakit dari cengkeraman di lengannya. Pintu lift terbuka di lantai paling atas, menampakkan koridor panjang dengan dinding marmer gelap dan lukisan-lukisan abstrak mahal. Suasana di sini sunyi, kontras dengan kegaduhan di bawah. Sebuah pintu ganda mahoni menjulang di ujung koridor, dijaga dua pria berbadan tegap lainnya. Aura intimidasi itu begitu pekat, membuat Ayyana semakin ketakutan. Pria bertato naga itu mendorongnya masuk ke sebuah ruangan luas. Itu bukan kamar tidur. Lebih tepatnya, sebuah ruang kerja pribadi. Jendela raksasa menghadap langsung ke panorama kota Jakarta yang gemerlap, seolah Rafael Alvarez memiliki kendali atas setiap cahaya di bawah sana. Sebuah meja kerja besar dari kayu gelap mendominasi ruangan, di atasnya tergeletak tablet digital dan beberapa dokumen yang tidak Ayyana pahami. Pria bertato naga melepaskan cengkeramannya, membuat Ayyana terhuyung ke depan. “Tunggu di sini,” perintah pria itu dingin, lalu mundur, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi ‘klik’ yang mematikan. Ayyana menatap ngeri ke sekelilingnya, jantungnya berdegup kencang. Kehidupan apa yang akan ia jalani sekarang? Apakah ini neraka yang selama ini ia takutkan? Ia teringat pada adik kecilnya yang berusia 10 tahun, kini terbaring lemah di rumah sakit karena leukemia akut yang baru saja terdiagnosis enam bulan lalu. Biaya pengobatan mencapai miliaran—transfusi darah rutin, kemoterapi mahal, dan obat-obatan impor yang tak terjangkau. Itulah mengapa Wijaya terlilit utang judi yang kini menjerat Ayyana. Air mata mengalir deras di pipi Ayyana. ‘Ayah ... bagaimana bisa kau lakukan ini? Elena butuh kita berdua!’ Tapi kini, ia terkurung di sarang mafia, sementara adiknya bergantung pada infus dan harapan rapuh. Rafael Alvarez pasti tahu ini semua, mungkin itulah mengapa ia menerima jaminan ini dengan begitu mudah. Ayyana menyeka air matanya, mencoba menenangkan napas. Ia tidak boleh menyerah. Demi Elena. Ia harus bertahan, mencari cara untuk melindungi adiknya dari jauh. Ia ambruk ke lantai marmer dingin, tubuhnya terguncang isakan yang tak tertahankan. Neraka yang ia bayangkan ternyata lebih kejam dari sekadar kehilangan kebebasan, Ayyana kehilangan segalanya demi menyelamatkan adiknya. KREK! Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka. Ayyana tersentak, mengangkat wajahnya yang basah. Di ambang pintu berdiri seorang pria berbadan kekar, bahu lebar terbungkus jas hitam yang dipotong sempurna, menonjolkan otot-otot yang terlatih seperti patung Yunani. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, tapi yang paling mengerikan adalah matanya, mata elang yang tajam, gelap seperti jurang malam, memancarkan tatapan predator yang siap menerkam mangsanya kapan saja. Rafael Alvarez. Tubuh Ayyana bergetar hebat saat pria itu melangkah masuk, setiap dentuman sepatu kulitnya menggema seperti lonceng kematian. Aura dominasinya memenuhi ruangan, membuat udara terasa semakin pengap. Ia bukan sekadar mafia, ia adalah raja kegelapan, penguasa pelabuhan ilegal, kasino bawah tanah, dan jaringan yang tak terlihat mengendalikan setengah kota. Usianya baru 32, tapi reputasinya sudah menorehkan darah puluhan rival. Pria yang konon membunuh paman sendiri demi takhta. Rafael berhenti beberapa langkah di depannya, menatap Ayyana dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. “Kenapa kamu terlihat takut saat melihatku?” suaranya rendah, berat seperti beludru yang membungkus pisau. “Apa aku terlihat seperti setan di matamu?” Ayyana tersedak isakannya, mundur hingga punggungnya menempel dinding. “A ... aku mohon ... tolong lepaskan aku,” bisiknya, suaranya pecah. Rafael tertawa pelan. Ia berjongkok di depan Ayyana, wajahnya kini sejajar, begitu dekat hingga Ayyana bisa merasakan napas hangat pria itu di pipinya. “Ayahmu sudah menjualmu padaku. Bagaimana aku bisa melepaskanmu?” Jemarinya yang panjang dan kuat menyentuh dagu Ayyana, memaksa ia menatap mata elang itu. “Dua puluh miliar, Ayyana. Itu harga jiwamu sekarang. Patuhlah demi adikmu.” Ayyana bergidik, tapi tak bisa mengalihkan pandangan. Ada sesuatu di balik kekejaman itu, kilatan rasa ingin tahu, bahkan ... lapar? “Kau tahu tentang Elena?” tanyanya lirih. “Sudah tentu.” Rafael menyeringai tipis, jarinya bergerak menyusuri garis leher Ayyana, meninggalkan jejak panas yang membakar. “Leukemia akut tahap 3. Biaya pengobatan 1,5 miliar per bulan. Ayahmu berjudi untuk itu, tapi malah menambah utang. Sekarang kau yang bayar.” Air mata Ayyana tumpah lagi, tapi kali ini ada kemarahan. “Kau monster! Lepaskan kami!” Rafael menarik dagunya lebih keras, bibirnya nyaris menyentuh telinga Ayyana. “Monster? Mungkin. Tapi monster ini akan menyembuhkan adikmu.” Suaranya berubah jadi bisikan berbahaya. “Dengan syarat ... kau patuh padaku.” Ayyana menahan napas, jantungnya berdegup liar seperti burung yang terperangkap dalam sangkar besi. Tubuhnya bergetar hebat, ingin lari sejauh mungkin, tapi tatapan Rafael menahannya seperti rantai baja yang membelenggu jiwa. “Mulai malam ini,” bisik Rafael, bibirnya menyapu pipi basah Ayyana dengan sentuhan panas yang membakar, “kau belajar menjadi milikku sepenuhnya. Atau Elena yang bayar harganya.” Dengan kekuatan tak tertahankan, Rafael bangkit dan menarik Ayyana bersamanya. Tubuh mungilnya terseret, kakinya tersandung karpet tebal. “Lepaskan! LEPASKAN AKU!” jerit Ayyana, meronta-ronta, mencakar lengan Rafael yang keras seperti batu. Tapi usahanya sia-sia, ia seperti anak kucing melawan singa. “Jangan harap aku bisa melepaskanmu,” geram Rafael, suaranya rendah berbahaya. Dalam sekejap, ia menjatuhkan tubuh Ayyana ke sofa kulit hitam yang empuk. Ayyana terlonjak, napasnya tersengal, gaunnya tersingkap memperlihatkan paha mulusnya. Rafael menjulang di atasnya, lututnya menekan sofa di kedua sisi pinggul Ayyana. “Kamu mau ngapain?!” pekik Ayyana ketakutan, matanya melebar saat Rafael terus menatapnya dengan mata elang yang lapar. Tubuh kekar pria itu menindihnya, aroma maskulin campur tembakau menyengat hidungnya. Jarak mereka kini nol. Ayyana bisa merasakan panas tubuh Rafael, detak jantungnya yang kuat, dan ... sesuatu yang keras menekan perutnya. Rafael menyeringai predatoris, jemarinya merenggut dagu Ayyana memaksa agar menatapnya. “Ayahmu bilang kamu masih murni,” desahnya, bibirnya melayang hanya milimeter dari bibir Ayyana. “Aku hanya ingin membuktikannya.” Ayyana tersentak kaget. Dunia seolah berhenti berputar. “T-tidak ... jangan …” bisiknya, suaranya pecah. Tubuhnya membeku ketakutan, tapi anehnya ada getaran lain, adrenalin bercampur rasa terlarang yang membuat napasnya tersengal. Rafael mencondongkan wajahnya lebih dekat, bibirnya menyapu leher Ayyana, meninggalkan jejak basah panas yang membuat Ayyana menggigit bibir menahan erangan. Tangan Rafael merayap ke bawah, meremas paha Ayyana dengan posesif. “Kau milikku sekarang,” geramnya, giginya menggigit cuping telinga Ayyana. “Dan malam ini ... aku akan mengukir namaku di tubuhmu.” Ayyana memejamkan mata, air mata mengalir deras di pipinya. Tapi saat jemari Rafael hendak merobek gaunnya— DRRRRTT! Ponsel Rafael berdering tajam, memecah ketegangan mematikan itu. Rafael menggeram kesal, menarik diri sedikit. Layar ponsel menyala menampilkan nama Armand di sana. “Apa?!” bentak Rafael menjawab. Suara Armand panik, “Tuan! Marco sudah tahu tentang gadis itu! Dia kirim pesan, ‘Serahkan permatamu dalam 1 jam, atau RS tempat adiknya dirawat akan meledak beserta bom C4!’” Rafael membeku. Matanya beralih ke Ayyana yang terkapar di sofa, napasnya tersengal ketakutan. Senyum dingin tersungging di bibirnya. “Pilihanmu sekarang, Sayang,” bisik Rafael, jarinya menyentuh bibir Ayyana yang gemetar. “Patuh padaku ... atau Elena mati malam ini.” Tubuh Ayyana sudah bergetar hebat. Apa yang akan ia pilih?Suara desingan peluru malam itu akhirnya digantikan oleh kesunyian pagi yang damai. Salju yang tadinya ternoda oleh darah, kini perlahan tertutup oleh lapisan es baru yang bersih, seolah alam pegunungan Zermatt ingin menghapus seluruh memori kelam tentang pertempuran malam itu. Lorenzo dan Marco Varella tidak pernah kembali ke Jakarta. Aliansi maut dari Bara, Arka, dan Gavin memastikan bahwa kedua bajingan itu mendapatkan hukuman mati yang setimpal atas dosa masa lalu mereka di tempat itu juga. Dendam atas kematian orang tua Rafael telah lunas terbayar di atas gunung es tersebut. Di dalam kamar utama chalet, Rafael terbaring dengan perban yang membungkus kepala dan dadanya. Meskipun tubuhnya penuh luka, mata elangnya perlahan terbuka saat merasakan kehangatan yang sangat familiar di punggung tangannya. Ayyana duduk di sisi ranjang, matanya sembap, namun senyumnya langsung merekah saat melihat suaminya sadar. Di belakangnya, Bi Martha sedang menggandeng Elena yang tampak jauh lebih
Badai salju mengamuk semakin liar di lereng Zermatt, namun bau mesiu dan anyir darah jauh lebih pekat menguasai udara. Suara rentetan senapan serbu bersahut-sautan, memecah kesunyian malam pegunungan Alpen menjadi neraka fana. Di tengah kepungan kabut es, Rafael berdiri bersandar pada reruntuhan dinding pembatas gerbang luar. Napasnya tersengal, meninggalkan uap putih yang pekat di udara dingin. Pasukan taktis yang dibawanya satu per satu tumbang di hadapan kombinasi brutal tentara bayaran Lorenzo dan Marco Varella. Jumlah mereka terlalu timpang. Ratusan laras senjata mengepung posisi Rafael yang kini hanya menyisakan kurang dari sepuluh pengawal yang masih mampu melepaskan tembakan balasan. DOR! DOR! Dua peluru menghantam beton tepat di atas kepala Rafael, melontarkan serpihan kerikil yang menyayat pipinya. Darah segar menetes, kontras dengan warna salju di bawah sepatunya. "Menyerahlah, Rafael! Kau sudah terkepung!" Suara tawa yang sangat familiar bergema, memecah deru angin b
Di ruang kerja yang hening, Rafael duduk tegak di balik meja kayu ek yang besar. Matanya menatap layar monitor yang menampilkan citra satelit dari perbatasan Swiss. Suasana yang tadinya terasa tenang kini berubah drastis menjadi mencekam. Pintu ruang kerja terbuka dengan kasar, memecah keheningan. Hans masuk dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. "Tuan, ada pergerakan besar di kaki bukit," lapor Hans, suaranya terdengar bergetar namun tegas. "Lorenzo telah mencapai lereng timur dengan tiga unit taktis berat. Dan ... bukan hanya dia." Rafael mendongak, matanya berkilat tajam. "Siapa lagi?" "Marco Varella, Tuan. Mereka telah bergabung. Mereka membawa pasukan gabungan dan telah mengepung jalur akses utama menuju Chalet." Rafael terdiam sejenak. Nama itu, Marco Varella, adalah musuh bebuyutan yang sudah lama ia incar. Jika Lorenzo dan Marco bersatu, ini bukan lagi sekadar upaya penculikan, ini adalah pernyataan perang total untuk meratakan seluruh aset Alvarez di Swiss. Raf
Di tengah ketegangan yang menyelimuti lantai bawah Chalet, Ayyana memilih untuk menarik diri dari aura dingin Rafael. Langkah kakinya terburu-buru saat menyusuri lorong kayu menuju sayap kanan bangunan, tempat sebuah kamar medis khusus telah disiapkan untuk adik kecilnya.Begitu pintu terbuka, aroma antiseptik yang lembut—jauh lebih wangi daripada rumah sakit di Jakarta—menyambut indra penciumannya. Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menampakkan puncak-puncak Alpen yang putih. Di tengah ruangan, Elena terbaring di atas tempat tidur medis yang canggih.Tepat saat Ayyana duduk di kursi samping tempat tidur, kelopak mata kecil itu bergerak. Elena mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pegunungan yang masuk ke ruangan."Elena ..." bisik Ayyana lembut, jemarinya mengusap dahi adiknya dengan penuh kasih.Mata Elena terbuka sepenuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu pinus berwarna madu, sangat berbeda dengan la
Udara di ruang bawah tanah Chalet itu terasa beberapa derajat lebih dingin dibandingkan ruangan di atas. Bau kayu pinus yang hangat berganti dengan aroma lembap beton dan besi karat. Rafael duduk di sebuah kursi kulit besar yang diletakkan di tengah ruangan yang remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang berayun pelan.Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah korek api perak, memantik apinya lalu menutupnya kembali. Klik. Klik. Klik. Suara itu bergema, menciptakan ritme yang mencekam di tengah keheningan.Pintu besi di ujung ruangan terbuka dengan bunyi decit yang menyayat telinga. Armand melangkah masuk, menyeret seorang pria yang tangan dan kakinya terikat. Pria itu adalah Bram, salah satu tim logistik senior yang sudah ikut bersama Rafael sejak awal ia membangun kekuasaan di Jakarta. Wajah Bram babak belur, napasnya tersengal karena ketakutan yang luar biasa."Berlutut!" bentak Armand sambil menendang bagian belakang lutut Bram hingga ia tersungkur tepat di kaki Raf
Suasana di depan Chalet mewah itu mendadak mencekam. Salju turun lebih lebat, seolah ingin menyembunyikan ketegangan yang meledak di antara dua pria yang berdiri berhadapan di atas hamparan putih tersebut. Rafael melangkah keluar dengan mantel bulu panjang, tangannya tersembunyi di balik saku, ia siap mencabut senjata kapan saja jika Kevin mulai berulah.Di depannya, berdiri Kevin Sanjaya. Wajah pria itu tampak kuyu, dengan jaket tebal yang basah oleh salju dan mata yang menyiratkan kelelahan luar biasa setelah menempuh perjalanan darat dari London menembus perbatasan Swiss."Ada apa kamu ke sini?" suara Rafael memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti belati es. "Apa kau sengaja mengikutiku karena masih terobsesi ingin bertemu dengan istriku? Jika iya, kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Kevin Sanjaya. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melihat ujung rambutnya lagi."Kevin menarik napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. Ia mengangkat kedua tangannya perla
Deru mesin mobil mewah yang memasuki pelataran mansion Alvarez memecah kesunyian sore itu. Ayyana sudah berdiri di ambang pintu, menyambut suaminya dengan senyum yang tak pernah luntur. Namun, matanya tertuju pada satu benda: tas bekal biru muda yang masih bertengger manis di tangan kokoh Rafael.
Mansion Alvarez yang biasanya tenang sore ini mendadak gaduh oleh suara decitan ban mobil yang mengerem kasar di pelataran. Veronica keluar dari mobilnya dengan wajah merah padam. Tanpa memedulikan prosedur keamanan, ia menerobos masuk. Para pengawal sempat menghalanginya. Namun Veronica berteriak
Siska berjalan keluar dari ruangan Rafael dengan kaki yang masih terasa sedikit lemas. Wajahnya merah padam karena malu yang luar biasa setelah dibentak dengan begitu dingin oleh Rafael. Ia bersandar di meja sekretarisnya, mencoba menormalkan deru napasnya sendiri. "Istri? Tuan Rafael sudah menik
Malam telah jatuh menyelimuti Jakarta, namun di gedung pencakar langit Alvarez Group, lampu di ruangan kerja utama masih berpijar terang. Armand melangkah masuk dengan hati-hati, memecah keheningan yang sejak tadi mendominasi ruangan tersebut. Ia melihat tuannya masih terduduk di kursi kebesaranny







