ログイン
Sienna duduk di kursi kecil berwarna merah di sudut kafe, menggoyang-goyangkan kakinya yang mungil sambil memandangi pintu masuk. Balon warna-warni tergantung di dinding, dan kue ulang tahun besar berbentuk unicorn berada di atas meja. Anak-anak lain sudah mulai menikmati permainan dan kudapan, tetapi mata Sienna tetap terpaku pada pintu.
Gadis kecil itu turun dari kursi, melangkah menghampiri bundanya yang tengah berdiri di luar area kafe. "Ayah mana Bunda, kok belum datang?" Liana menunduk, berjongkok agar sejajar dengan putrinya. Ia memasang senyum kecil meski hatinya diliputi resah karena sang suami belum juga tiba. "Sebentar ya, Bunda coba telepon Ayah lagi," ucapnya sambil mengelus lembut rambut Sienna. Sienna mengangguk, memandang ibunya dengan harapan besar. Sementara itu, Liana mengangkat ponselnya lagi, mencoba menghubungi sang suami--Juna, untuk kesekian kalinya. Namun, seperti sebelumnya, panggilan itu tidak juga dijawab. "Kenapa sih, Yah? Kok gak diangkat-angkat?" gumamnya lirih dengan nada kesal bercampur cemas. Perasaan gelisah kini mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Sudah lebih dari setengah jam sejak terakhir ia menghubungi Juna, tetapi kenapa suaminya itu tidak kunjung datang juga? Malah sekarang panggilannya tidak diangkat. Sienna, yang berdiri di sampingnya, menarik-narik ujung baju Liana. "Bunda, gimana? Ayah sudah sampai mana?" tanyanya dengan suara kecil namun penuh harap. Liana menelan ludah dan mencoba tetap tenang. "Sebentar ya, Sayang. Telepon Bunda belum diangkat Ayah." Ia mencoba menelepon lagi, tetapi hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Tidak lama kemudian, Raina, adik kandung Liana, melangkah mendekati mereka. "Kak, apa gak sebaiknya kita mulai saja acaranya? Anak-anak di dalam sudah mulai rewel," katanya dengan nada hati-hati. Liana mengalihkan pandangannya ke dalam kafe. Benar saja, keadaan di sana mulai tidak terkendali. Sebagian besar anak-anak yang datang sudah bosan menunggu, beberapa bahkan mulai menangis. "Iya, Dek, lebih baik kita mulai sekarang saja. Kasihan anak-anak sudah menunggu dari tadi," ujar Soraya, kakak tertua mereka, yang menyusul menghampiri. Liana menghela napas panjang, berusaha meredam kecewanya. Dengan berat hati, ia mengangguk. Tidak mungkin terus mengulur waktu sementara tamu-tamu kecil itu sudah mulai tidak sabar. Liana kembali berjongkok di depan Sienna. "Sayang, acaranya kita mulai dulu ya?" pintanya lembut. "Tapi Ayah 'kan belum datang, Bun," jawab Sienna dengan suara pelan. Liana menghela napas dan mencoba tersenyum. "Ayah sebentar lagi pasti datang, Sayang. Jadi, kita mulai dulu ya? Nanti kalau Ayah sampai, kita tiup lilin lagi, gimana?" "Tapi, Bunda... Sienna mau ada Ayah," balasnya, kali ini matanya mulai berkaca-kaca. Liana terdiam sesaat, memikirkan cara lain. Ia menunjuk ke arah teman-teman Sienna yang sudah berkumpul di tengah ruangan. "Sayang, coba lihat teman-teman Sienna. Mereka sudah menunggu lama, sampai ada yang nangis. Kasihan, 'kan?" Sienna menoleh, melihat teman-temannya yang mulai tampak bosan. Ia tidak ingin memulai ulang tahunnya tanpa Ayah, tapi ia juga merasa kasihan melihat mereka yang sudah lelah menunggu. Dengan hati berat, ia mengangguk kecil. Liana mengusap puncak kepala putrinya, mencoba memberikan semangat. "Anak Bunda baik sekali. Yuk, kita mulai acaranya," ucapnya lembut. Sienna melangkah menuju kerumunan anak-anak dengan kepala menunduk. Liana menatap putrinya dengan perasaan campur aduk. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya, 'Kamu di mana sih, Yah? Lihat anak kita, dia begitu kecewa karena kamu gak datang.' *** Pesta ulang tahun Sienna akhirnya selesai. Anak-anak yang hadir telah pulang dengan membawa hadiah kecil dan senyum ceria. Namun, di sudut kafe yang kini sepi, Liana duduk dengan Sienna tertidur di pangkuannya. Gadis kecil itu kelelahan setelah sepanjang hari menunggu ayahnya yang tak kunjung datang. Ponsel Liana berdering. Nama Juna muncul di layar. Akhirnya lelaki itu menghubunginya juga. Ada rasa lega, namun Liana tidak bisa mengenyahkan begitu saja rasa kecewanya. Lalu dengan perasaan campur aduk, ia menjawab panggilan itu. "Halo." Suaranya datar, tanpa emosi. "Bunda, Ayah minta maaf," suara Juna terdengar lelah di ujung telepon. "Ayah gak bisa datang. Ada pasien emergency. Kondisinya kritis, dan harus segera Ayah tangani." Liana memejamkan mata, berusaha menahan luapan emosi yang bercampur antara amarah dan kekecewaan. Sebagai seorang dokter, pekerjaan Juna sering kali membuatnya absen dalam acara keluarga atau terpaksa pergi di tengah acara karena panggilan darurat. Selama ini, Liana selalu berusaha memahami, tetapi kali ini, rasanya jauh lebih sulit. "Yah, kamu tahu hari ini penting. Hari ulang tahun Sienna. Kamu sendiri yang bilang akan datang, bahkan berjanji akan pulang lebih awal." "Ayah tahu, Bunda. Tapi situasinya darurat. Ayah benar-benar gak bisa tinggalin pasiennya," balas Juna, terdengar bersalah. Liana menggigit bibirnya, menahan rasa kecewa yang semakin mendalam. "Aku selalu mengerti, Yah. Selama ini, aku selalu memaklumi saat kamu sibuk atau harus tinggal lebih lama di rumah sakit. Tapi ini berbeda. Ini ulang tahun putri kita, dan dia sangat menantikan kamu." "Ayah benar-benar minta maaf, Bun. Ayah akan bicara dengan Sienna nanti. Ayah janji akan menjelaskan semuanya." Liana tertawa kecil, tapi ada kepahitan dalam suara itu. "Nanti? Kamu pikir itu cukup? Yah, dia hanya seorang anak kecil. Dia gak butuh penjelasan panjang. Yang dia butuhkan cuman kamu ada di sini, bersamanya." "Ayah akan menebusnya, Bun. Tapi Ayah gak bisa pulang sekarang. Bahkan kayanya untuk beberapa hari ke depan Ayah masih sibuk banget di rumah sakit. Ada banyak pasien yang membutuhkan." Kata-kata itu seperti petir di telinga Liana. Ia mencoba menahan emosinya, tapi amarah mulai mengambil alih. "Apa kamu bilang? Kamu bahkan gak bisa pulang? Sama sekali gak ada waktu buat jelasin langsung ke anak kita? Yah, apa kamu sadar seberapa kecewanya Senna hari ini?!" "Ayah tahu, Bun. Ayah tahu Ayah salah. Tapi Ayah gak bisa ninggalin tugas gitu aja. Ayah mohon pengertian Bunda kali ini." Liana menggeleng meski Juna tidak bisa melihatnya. "Pengertian? Selama ini aku selalu mengertiin kamu, Yah. Selalu. Tapi kali ini aku benar-benar kecewa. Bukan hanya karena kamu gak datang, tapi karena kamu bahkan gak mau meluangkan waktu untuk meminta maaf secara langsung sama Senna. Dia anak kita, Yah! Apa kamu gak lihat betapa pentingnya hari ini untuk Sienna?" Juna terdiam di ujung telepon. Ia tahu Liana marah, dan kali ini ia tidak bisa membantah. "Ayah akan bicara sama Senna, Bunda. Tapi gak bisa sekarang. Ayah benar-benar gak bisa pulang." Liana merasa dadanya sesak. Ia menatap wajah Sienna yang tertidur dengan gaun ulang tahunnya, wajah kecil itu terlihat damai, tetapi Liana tahu betapa kecewa putrinya tadi. "Yah," ucapnya pelan, tapi dengan nada tajam, "aku gak tahu harus bilang apa lagi. Tapi kalau kamu terus seperti ini, jangan salahkan aku kalau Sienna perlahan mulai merasa kamu gak ada buat dia." Sebelum Juna sempat menjawab, Liana memutus panggilan itu. Ia tidak ingin mendengar alasan lain lagi. Dengan tangan gemetar, ia mengusap lembut rambut Sienna. "Maaf ya, Sayang. Bunda tahu kamu mau Ayah ada di sini. Tapi sepertinya Ayah masih sibuk dengan pekerjaannya." Malam itu, di dalam kesunyian, Liana merasa kelelahan secara emosional. Ia tahu Juna pria yang baik dan bertanggung jawab, tetapi kali ini ia telah mengecewakan keluarganya. Untuk pertama kalinya, Liana merasa kemarahan dan kekecewaannya sulit untuk diredam. Bersambung ...Bodoh.Ya benar, Aluna memang bodoh. Sejak awal harusnya ia menyerah, atau bahkan harusnya tidak pernah mencoba untuk masuk ke dalam keluarga harmonis itu.Namun memang dasar Aluna yang bodoh, ia malah sengaja menceburkan dan membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa sakit yang setiap harinya semakin parah.Diabaikan, tidak pernah dianggap, hal tersebut sama sekali tidak membuat Aluna jera. Nyatanya sampai saat ini gadis itu masih tetap mempertahankannya. Sebab Aluna menyakini hanya Juna yang mampu membuatnya semangat hidup.Aluna seolah tidak peduli walau rasa sakit di hati, juga mengakibatkan sakit pada fisiknya. Ingat, sejak awal Aluna memang tidak baik-baik saja. Gadis tersebut berbeda dengan gadis lainnya, ia memiliki penyakit yang sewaktu-waktu bisa saja kambuh bahkan fatalnya bisa membuatnya kehilangan nyawa.Namun seperti yang sudah dikatakan tadi, Aluna tidak peduli meski kondisinya semakin memburuk, ia justru malah menyembunyikan semua sakitnya itu sendirian, seolah-olah ia me
Setelah pintu kamarnya kembali ditutup dan dikunci. Aluna menjatuhkan bobot tubuhnya ke lantai, ia menangis tersedu. Merasakan betapa sakit hatinya saat ini. Lagi-lagi, ia memergoki sang suami dengan istri pertamanya yang sedang bermesraan.Hancur. Hatinya mungkin sudah tidak berbentuk lagi. Tapi untuk mengakhirinya Aluna tidak mampu. Ia sangat mencintai Juna, sangat.Ingatan Aluna kemudian melayang pada saat awal mengenal Juna.Saat itu, Aluna tengah duduk di sudut kamarnya yang temaram. Tirai tebal menutup rapat jendela, menghalangi sinar matahari yang mungkin bisa menghangatkan ruangan itu. Aroma obat-obatan menyatu dengan udara dingin yang selalu menyelimuti kamar rawat inap tersebut. Tubuhnya yang rapuh terbaring di atas ranjang, seakan menggambarkan betapa lemahnya ia melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya sejak lama. Sejak kecil, Luna selalu sakit-sakitan. Dunia luar terasa begitu asing baginya. Tidak memiliki teman, orang tua yang terlalu sibuk, dan kesehatan yang terus
Pernah mendengar tidak? Atau mungkin pernah mengalami, seperti yang tengah dirasakan oleh Liana saat ini, perihal gairah yang meningkat di trimester pertama menjelang trimester kedua.Semenjak mual-mualnya agak berkurang, sekarang Liana malah dihadapi dengan hasratnya yang meningkat pesat. Liana sering menginginkan untuk berhubungan. Dulu saat hamil Sienna juga begitu. Namun sekarang agaknya lebih ekstrim lagi, Liana menginginkan berhubungan dengan banyak gaya dan suasana yang baru. Seperti ingin mencari adrenalin.Daritadi Liana merasa gelisah. Ia terus menimbang, haruskah Liana menuruti keinginan ekstrimnya tersebut?Pasalnya yang diinginkan Liana adalah berhubungan di ruang yang ada di rumah ini. Jika sekarang hanya ada dirinya dan Juna sih tidak masalah. Tapi 'kan ada Aluna juga. Bagaimana kalau wanita itu tiba-tiba keluar kamar dan memergoki?Apa Aluna tidak akan sakit hati? Walau begini Liana juga wanita, ia tahu dan bisa merasakan bagaimana sakitnya jika berada diposisi tersebu
"Mama akan menginap di sini, kalau perlu untuk beberapa waktu ke depan. Agar Mama bisa memastikan bahwa ucapan laki-laki ini memang benar." Irene menunjuk presensi Juna menggunakan dagunya. Rupanya wanita itu masih belum puas."Tapi Ma, Mama mau tidur di mana? Di rumah ini hanya ada tiga kamar. Kamar utama, kamar tamu yang sekarang di tempati Luna, dan kamar Sienna yang sangat kecil." kata Liana.Irene terdiam, ia berpikir. Jika ia tidur bersama Liana, itu artinya bisa saja Juna mengambil kesempatan untuk tidur di kamar istri mudanya. Irene tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Liana mendapati Juna yang bermalam di kamar istri mudanya. Jika Irene memilih di kamar cucunya, benar kata Liana, kamar Sienna hanya terdiri dari ranjang kecil khusus anak-anak, bukan hanya akan membuat sempit, tapi juga akan membuat cucunya itu tidak nyaman jika ia bersikeras tidur di sana. Namun jika Irene memilih tidur di kamar tamu, sudah pasti ia tidak sudi jika harus satu ranjang dengan istri k
"Oh jadi ini pelakornya? Cih biasa banget, gak ada menarik-nariknya. Dasar bodoh kamu Juna! Nikahin dia yang jauh di bawah anak saya."Semua yang ada di sana sontak saja terdiam dan suasana seketika menjadi canggung karena mendengar ucapan Irene yang seolah tengah membanding-bandingkan kedua istri Juna tersebut. Hanya dua anak kecil, Jisa dan Sienna--yang memang tidak mengerti apa-apa. Kedua bocah itu tidak terpengaruh oleh ucapan sang nenek dan malah dengan santainya melenggang masuk ke dalam rumah."Ma, jangan bicara begitu." Akhirnya Liana memberanikan diri untuk bersuara lebih dulu, setelah semuanya hanya diam saja. Liana hanya merasa ucapan yang dilontarkan oleh sang mama sudah terlalu kasar dan sangat menyinggung perasaan Aluna. Bukannya Liana peduli pada perasaan Aluna, hanya saja sebagai manusia, Liana masih mempunyai rasa kasihan pada sesama. Apalagi, di sana Aluna langsung menunduk dan matanya juga terlihat berkaca membuat Liana menjadi iba."Loh apa yang Mama bilang itu mem
"Barang-barangnya udah diberesin semua, Yah?"Siang ini, sesuai yang dikatakan oleh Jennifer kemarin, Liana sudah diizinkan untuk pulang. Yah, meski harus disertai dengan beberapa catatan; seperti, Liana tidak boleh banyak bergerak, dan harus bedrest selama satu bulan penuh.Agak jenuh juga sih, namun demi kebaikan bayi dalam kandungannya, kali ini Liana akan menurut, tanpa protes sedikitpun."Udah beres semua." balas Juna. Sengaja, hari ini ia meminta izin untuk tidak masuk kerja dulu.Juna menaruh tas yang berisi baju bekas ganti Liana ke atas ranjang, laki-laki tersebut lalu membantu sang istri untuk berdiri."Ayah ambilin kursi roda dulu, ya?""Gak usah, Yah. Jalan aja." tolak Liana."Bisa gitu? Emangnya gak sakit?""Ngilu aja, tapi gak apa-apa. Udah ayo pulang, aku udah gak betah di sini lama-lama."Juna mendengus, ia tidak mendebat istrinya lagi dan memilih untuk menuntunnya saja.Namun baru saja beberapa langkah berjalan, Juna dan Liana dikejutkan karena terbukanya pintu ruanga
Juna mengetuk pintu kamar Sienna. Waktu kini sudah menunjukkan pukul delapan, namun istri dan anaknya, sedari tadi belum kunjung ke luar juga.Juna khawatir, takut keduanya malah sakit akibat menahan lapar. "Bunda, Senna, makan dulu yuk, kalian 'kan belum makan apa-ap
Juna memasuki kamar sang anak, ia langsung disambut kalimat tanya dan tatapan tajam sang istri. "Ngapain kamu ke sini?!"Juna melangkah menghampiri anak dan istrinya yang berada di atas kasur, namun Liana lebih dulu beranjak dan mendekati suaminya, sehingga kini mereka berdiri
Meski kesal dan dalam keadaan suasana hati yang kacau, tapi Liana tidak bisa mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu segitu saja. Maka dari itu, dipukul empat sore ini, seperti biasa ia berkutat di ruang dapur untuk menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya."Sayang bantuin Bund
Entahlah, Liana sendiri tidak tahu, apakah keputusannya untuk tetap bertahan bersama Juna adalah langkah yang benar atau justru kesalahan yang akan semakin menyakiti dirinya di kemudian hari.Namun, jujur saja, selain Sienna, ada alasan lain yang membuatnya masih bertahan di tengah badai yang mengh







