Mag-log inTiga hari telah berlalu sejak Juna terakhir kali menghubungi Liana. Selama itu pula, pria itu belum sekali pun pulang ke rumah. Meski begitu Juna terus mencoba menghubungi sang istri meski panggilannya tidak pernah dijawab.
Liana memilih untuk menonaktifkan ponselnya. Rasa kecewa dan kesal terhadap Juna yang lebih mementingkan pekerjaan membuatnya enggan mendengar alasan apa pun. Baginya, kata maaf melalui telepon tidak cukup. Ia dan Sienna tidak membutuhkan itu—mereka membutuhkan kehadiran Juna. Pagi itu, seperti biasa, Liana mencoba membangunkan Sienna. "Sayang, bangun yuk. Hari ini kamu harus sekolah," ucapnya lembut sambil mengetuk pintu kamar anaknya. Namun, tak ada jawaban dari dalam. Liana akhirnya masuk dan mendekati ranjang Sienna. Ia menggoyangkan tubuh putrinya pelan. Tapi begitu tangannya menyentuh lengan Sienna, ia langsung merasakan kehangatan yang tidak biasa. "Ya tuhan, badan kamu panas sekali, Nak." Liana dengan cepat menyentuh wajah Sienna, memastikan apa yang dirasakannya. Sienna menggumam pelan dalam tidurnya, "A-Ayah... Senna mau ketemu Ayah. Senna kangen Ayah..." Ucapan itu membuat hati Liana mencelos. Anak sekecil itu sudah harus menanggung rasa rindu yang begitu dalam kepada ayahnya, hingga tubuhnya jatuh sakit. "Apa segitu kangennya kamu sama Ayah, Nak, sampai-sampai kamu demam seperti ini," lirih Liana dengan mata berkaca-kaca. Meski rasa kesal dan kecewa pada Juna masih terasa kuat, Liana tahu ia tidak bisa membiarkan perasaan itu menghalangi dirinya dan lalu berdampak pada Sienna. Tanpa ragu, ia mengaktifkan ponselnya dan langsung menelepon Juna. Panggilan itu diangkat setelah beberapa detik. "Halo, Bunda? Ada apa, Bun?" suara Juna terdengar panik. "Sienna sakit. Cepat pulang!" Liana langsung menyampaikan inti masalahnya. wanita itu tidak ingin berbasa-basi "Sienna sakit? Sakit apa? Apa gejalanya?" tanya Juna cepat. "Badannya panas tinggi, dan dia terus memanggil-manggil kamu. Dia kangen sama kamu, Yah," jawab Liana, suaranya bergetar antara marah dan khawatir. Juna menghela napas panjang di ujung telepon. Dari gejala yang disebutkan, ia menyimpulkan bahwa Sienna hanya mengalami demam biasa. Nada suaranya menjadi lebih tenang. "Bun, itu demam. Kompres dengan air hangat dan kasih obat penurun panas. Gak akan lama, panasnya pasti turun. Maaf, Ayah belum bisa pulang. Masih banyak pasien yang—" "Mas!" suara Liana memotong tajam, sarat dengan emosi. "Anak kamu sakit gara-gara dia kangen sama kamu! Dalam keadaan kaya gini, kamu masih mentingin pasien-pasien kamu itu? Apa kamu bahkan gak peduli dengan keluarga kamu sendiri?" Juna terdiam. Sebelum ia sempat menjawab, Liana memutus panggilan dengan penuh amarah. Namun, tiba-tiba tubuh Sienna mulai kejang-kejang di tempat tidurnya. Melihat itu, Liana terserang kepanikan yang luar biasa. Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh tubuh anaknya yang tak terkendali. Ini merupakan kali pertama Sienna seperti ini. "Senna! Nak, kamu kenapa?! Ya Tuhan, kenapa anakku." Liana segera mengangkat tubuh Sienna dan membawanya ke mobil. Tanpa pikir panjang, ia melaju pergi ke rumah sakit dengan air mata bercucuran di pipinya. "Tolong anak saya! Dia demam tinggi dan tiba-tiba kejang!" seru Liana dengan napas tersengal begitu tiba di instalasi gawat darurat. Tim medis segera membawa Sienna ke ruang perawatan, meninggalkan Liana yang menunggu di luar dengan hati penuh kecemasan. Ia memejamkan matanya dan meremas tangannya yang dingin. Dalam hati, ia hanya bisa berdoa agar Sienna segera membaik. "Yah ... Kamu di mana? Anak kita butuh kamu sekarang..." *** Tak henti-hentinya bibir Liana terus melafalkan doa pada Sang Pemilik Kuasa, memohon kekuatan bagi putrinya dan agar tidak terjadi sesuatu yang buruk. Di dalam hatinya, Liana merasa sangat hancur. Ia begitu kalut, terutama karena baru kali ini Sienna mengalami kondisi seperti ini. Yang membuatnya semakin terpukul adalah ia harus menghadapi semuanya sendirian. Tidak ada sosok Juna yang mendampinginya. Padahal, di saat-saat seperti ini, keberadaan lelaki itu sangatlah penting untuk menguatkannya. Namun kenyataannya, sang suami masih sibuk dengan pasien-pasiennya. Juna seolah lebih mementingkan pekerjaannya sebagai dokter daripada keluarganya sendiri. Dan itu, sungguh, membuat Liana merasa sangat kecewa. Setelah cukup lama mondar-mandir di depan ruang emergency, Liana akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi tunggu. Tubuhnya terasa lelah, baik secara fisik maupun mental. Ia menyeka air mata yang terus mengalir dari sudut matanya. “Aku harus kuat, demi anakku,” gumamnya lirih pada dirinya sendiri. Namun belum lama ia duduk, netranya tiba-tiba menangkap sosok yang sangat ia kenali. Liana tersentak kaget. Itu Juna. Juna, suaminya, berjalan melewati lorong rumah sakit. Tapi bukan keberadaannya yang mengejutkan Liana. Sebab rumah sakit ini memang tempat lelaki itu bekerja. Melainkan fakta bahwa Juna tampak mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang gadis muda. Perasaan kesal, kecewa, marah, dan berbagai rasa tidak mengenakkan lantas bercampur aduk dan menyerang Liana secara membabi buta. Mata Liana tak lepas mengamati bagaimana Juna tampak berbicara dengan gadis itu, dan yang membuatnya semakin kesal, suaminya terlihat begitu santai dan … bahagia. Gadis di kursi roda itu tersenyum lebar, dan Juna membalasnya dengan tawa kecil. Mereka tampak begitu dekat, lebih dari sekadar hubungan dokter dan pasien biasa. Liana mengepalkan tangan, berusaha menahan gejolak emosi yang mulai menguasai diri. Dalam pikirannya berkecamuk sebuah pertanyaan. 'Apa ada dokter dan pasien yang sedekat itu?' Bersambung ...Seketika suasana berubah awkward, ibu-ibu itu saling melirik tidak enak satu sama lain. Sebelum satu orang wanita yang biasa dipanggil Mami Willy bersuara seraya menepuk pundak Bu RT. Berusaha mengusir kecanggungan yang ada. "Ish. Bu RT nih kalo ngomong suka ngaco. Masa iya, itu istri mudanya Pak Juna." Disertai kekehan kering."Iya nih, Bu RT suka sembarangan aja ngomongnya, 'kan gak enak sama Bunda Senna." Timpal Rosa. Sebenarnya Bu RT tidak mempunyai maksud tertentu apalagi berniat buruk ketika melontarkan pertanyaan tersebut. Itu semua murni karena ia penasaran saja. Sudah menjadi sifat umum warga di negara ini 'kan? Yang memang memiliki tingkat kekepoan yang begitu tinggi. Bu RT lantas membela diri. "Loh, saya hanya bertanya. Habisnya beberapa hari lalu, waktu Bunda Senna tidak ada. Pak Juna datang ke rumah. Beliau melapor pada suami saya, katanya ada anggota baru di keluarganya. Waktu suami saya tanya hubungnya apa sama Pak Juna, beliau b
Pukul enam pagi Liana ke luar dari kamar, wanita itu sudah tampak rapi dengan setelan olahraga yang dikenakannya. Celana legging hitam yang dipadukan dengan atasan croptop berwarna putih yang memamerkan sebagian perut ratanya. Tak lupa ia juga membalut kaki jenjangnya dengan sepatu sneakers. Sungguh tipikal mama-mama muda super kece. Hari ini merupakan akhir pekan dan Liana ingin mengikuti senam mingguan. Liana rutin mengikuti senam mingguan yang diadakan di kompleks tempat tinggalnya, selain itu ia juga memang didapuk sebagai instruktur. Tapi karena permasalahan rumah tangga yang tengah ia hadapi, hampir satu bulan ini Liana absen. Biasanya sih Liana akan pergi ke tempat senam pukul setengah tujuh pagi. Ia akan menyempatkan terlebih dulu membuatkan sarapan untuk anak dan suaminya. Tapi kali ini ia enggan melakukan itu, rasanya ia ingin cepat-cepat pergi saja dari rumah. Biark
Rutinitas keluarga kecil itu kembali seperti sedia kala seolah tidak pernah terjadi apa pun di dalamnya. Juna yang bersiap untuk bekerja, Sienna yang bersiap untuk pergi ke sekolah dan Liana yang sibuk menyiapkan semua keperluan Juna dan Sienna--termasuk menyiapkan menu untuk sarapan mereka. Tapi bedanya sekarang keluarga kecil itu bertambah anggota baru. Anggota yang sangat tidak diharapkan kehadirannya oleh Liana. Semula Liana dan Juna memang mengharapkan bertambahnya anggota baru dikeluarga kecil mereka. Tapi yang Liana harapkan itu adalah seorang bayi yang akan lahir dari rahimnya untuk menjadi adik Sienna. Bukan malah seorang gadis muda yang menjadi adik madunya seperti ini! Namun sudahlah, mungkin ini memang sudah menjadi garis takdirnya. Meski begitu berat, perlahan-lahan Liana akan mencoba untuk menerimanya. Dan lagi-lagi semua itu, Liana lakukan untuk Sienna, untuk cintanya yang masih sangat besar pada Juna, juga d
Karena rasa kesalnya pada Juna. Seusai makan malam dan menidurkan Sienna, Liana lantas pergi ke kamar dan menguncinya dengan rapat. Agaknya wanita itu memerlukan lebih banyak waktu untuk sendiri dulu. Bagaimanapun juga bukan hal yang mudah untuk menjalani pernikahan seperti ini. Mungkin karena terlalu lelah akibat menyetir selama tiga jam dari rumah orang tua menuju rumahnya, alhasil tak lama setelah itu, Liana pun tertidur. Namun kini, ketika waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Liana malah terbangun. Dan tiba-tiba saja rasa haus menyerang tenggorokannya. Wanita itu lantas meraih gelas yang terdapat di atas nakas. "Yah kosong lagi." Mau tak mau Liana beranjak dari tidurnya, ia melangkah menuju dapur. Setelah tenggorokannya kembali segar. Ia berniat kembali menuju kamar. Namun ketika hendak membuka pintu, netranya tak sengaja melihat ke arah ruang tamu yang
"Bunda... Senna mau pulang. Senna mau ketemu Ayah.""Kenapa Ayah gak jemput? Kenapa kita gak pulang-pulang?""Senna kangen Ayah. Senna juga kangen sekolah."Liana menghela napas dengan kasar, daritadi Sienna terus rewel meminta ingin pulang. Saat pagi, Liana masih bisa membujuknya dan mengalihkan perhatian Sienna pada hal lain. Namun malam hari, anaknya itu sudah tidak bisa dibujuk lagi dan berakhir dengan menangis kencang. Mungkin gadis kecil itu sudah kelewat rindu pada Ayah dan juga sekolah. "Iya nanti kita pulang ya," ucapnya lembut dan sabar. "Kapan? Bunda selalu bilang iya tapi kita gak pulang-pulang." Balas Sienna dengan air mata yang masih deras berjatuhan. "Bohong itu dosa, loh, Bunda."Liana bingung dan tidak tahu harus membujuk Sienna dengan cara apa lagi. Namun kini ingatannya berputar pada beberapa hari yang lalu ketika orang tua Juna datang menemuinya. "Nak, maafin Juna, ya? Kesalahan Juna memang sangat sulit untuk dimaafkan. Namun sebagai orang tua Juna, Ibu tidak in
Pukul sebelas malam, Juna akhirnya tiba di rumah setelah menjalani hari yang begitu melelahkan. Biasanya, kehadiran Liana dan Sienna di rumah menjadi penyemangatnya. Suara tawa Sienna, perhatian lembut Liana, dan makanan hangat di meja makan—semua itu cukup untuk membuat lelahnya terobati. Namun sekarang berbeda. Beberapa hari ini rumahnya terasa sunyi, seolah kehilangan jiwa. Juna meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tamu sambil menghela napas berat. Saat ia hendak melangkah menuju kamarnya, sebuah suara lembut menyapanya. “Den, baru pulang?” Juna sedikit terkejut. Ia hampir lupa bahwa ada orang lain di rumah ini. Lastri, pembantu yang ditugaskan oleh orang tua Aluna, muncul dari kamar istri mudanya sambil membawa cangkir kosong. “Oh, Bik,” ucap Juna singkat, sedikit kaku. Dalam kepenatan dan kekacauan pikirannya, ia hampir lupa bahwa Aluna dan pembantunya masih ada di sini. Ia memaksakan senyum ke







