Share

bab 7

Author: Noona_im
last update Last Updated: 2025-05-13 20:10:06

Juna memasuki kamar sang anak, ia langsung disambut kalimat tanya dan tatapan tajam sang istri. "Ngapain kamu ke sini?!"

Juna melangkah menghampiri anak dan istrinya yang berada di atas kasur, namun Liana lebih dulu beranjak dan mendekati suaminya, sehingga kini mereka berdiri ditengah-tengah ruangan.

"Bun, maafin Luna ya? Dia gak bermaksud bikin Senna mengabaikan panggilan kamu. Dia gak tahu kalau--"

"Bela aja terus istri muda kamu itu!" Sela Liana cepat.

"Ayah gak bela Luna, Bun. Ayah cuman--"

"Cuman apa, hah? Cuman gak terima dan gak suka kalau istri mudanya aku marahin?" ucap Liana dengan tatapan nyalang seraya melipat kedua tangannya di dada.

"Gak gitu Bunda..." Juna mencoba untuk menyentuh pundak Liana, namun dengan cepat wanita itu menepisnya.

"Susah payah aku ngedidik Senna dan menjauhkan dia dari handphone. Tapi malah dengan mudahnya istri muda kamu itu mempengaruhi anakku! Kamu tahu kan bahaya gadget untuk anak seusia Senna seperti apa? Dari awal punya anak, kita udah sepakat gak mau sampai anak kita mengenal gadget terlalu dini. Tapi kayanya sekarang kamu udah lupa ya?"

"Ayah gak lupa Bun. Tapi Luna kaya gitu karena dia emang gak tahu."

"Apa pun alasannya aku tetap gak terima atas kelakuan dia yang seenaknya!"

"Bun.. " Juna berujar lembut, ia mencoba untuk meredam kemarahan sang istri. Namun sepertinya sia-sia saja, sebab di detik itu juga Liana mendorong tubuh Juna agar ke luar dari kamar sang putri.

"Udah sana, pergi kamu!" Begitu tubuh Juna sudah di luar Liana dengan cepat mengunci kamar tersebut.

Juna menggedor-gedor pintunya. "Bun, buka pintunya. Jangan kaya gini. Ayah minta maaf." Tapi tidak ada sahutan dan pintunya tetap terkunci rapat.

Aluna yang melihat wajah frustasi suaminya lantas menghampiri. Ia menjalankan kursi rodanya dengan perlahan.

"Mas... " Panggilnya lembut. "Maafin aku. Karena aku, kalian jadi bertengkar."

Juna menghembus napas kasar. Ia lalu menjawab "Sudah jangan terlalu merasa bersalah begitu karena tidak sepenuhnya salah kamu. Liana memang terlalu sensitif jika menyangkut masalah anak."

"Tapi Mas, tetap saja se--"

"Sudahlah, jangan dipikirkan. Saya masih bisa menanganinya, yang penting lain kali kamu harus berhati-hati. Tanya dulu sebelum melakukan sesuatu."

"B-baik Mas."

"Ya sudah istirahat sana."

Aluna mengangguk, ia lalu menjalankan kursi rodanya memasuki ruang kamar tamu, yang sekarang menjadi kamarnya.

Sementara di dalam kamar, Sienna semakin terisak. Baru kali ini ia melihat bundanya begitu sangat marah pada sang ayah. "Hiks ... Bunda jangan marah sama Ayah. Maafin Senna. Senna janji gak akan nakal lagi. Tapi Bunda jangan marah sama Ayah."

Liana mendekat dan memeluk Sienna. "Cup, cup, cup. Udah jangan nangis sayang, Bunda gak marah sama Ayah kok." ucapnya mencoba menenangkan.

"Tapi kenapa tadi Bunda bicaranya keras-keras sama Ayah?"

"I-itu karena--"

Sienna semakin memeluk sang Bunda dengan erat. Ia belum menghentikan tangisnya. "Hiks.. Please Bunda jangan marahin Ayah. Senna gak mau Bunda sama Ayah marahan. Maafin Senna, Bun."

Liana mengusap-usap punggung anaknya. "Iya, Bunda gak marah sama Ayah. Tapi Senna harus nurut apa kata Bunda ya?"

Sienna mendongak menatap sang Bunda. "Iya Bunda, Senna mau nurut sama Bunda. Senna janji." Lalu sepasang ibu dan anak itu kembali saling berpelukan dengan erat.

bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 24

    Seketika suasana berubah awkward, ibu-ibu itu saling melirik tidak enak satu sama lain. Sebelum satu orang wanita yang biasa dipanggil Mami Willy bersuara seraya menepuk pundak Bu RT. Berusaha mengusir kecanggungan yang ada. "Ish. Bu RT nih kalo ngomong suka ngaco. Masa iya, itu istri mudanya Pak Juna." Disertai kekehan kering."Iya nih, Bu RT suka sembarangan aja ngomongnya, 'kan gak enak sama Bunda Senna." Timpal Rosa. Sebenarnya Bu RT tidak mempunyai maksud tertentu apalagi berniat buruk ketika melontarkan pertanyaan tersebut. Itu semua murni karena ia penasaran saja. Sudah menjadi sifat umum warga di negara ini 'kan? Yang memang memiliki tingkat kekepoan yang begitu tinggi. Bu RT lantas membela diri. "Loh, saya hanya bertanya. Habisnya beberapa hari lalu, waktu Bunda Senna tidak ada. Pak Juna datang ke rumah. Beliau melapor pada suami saya, katanya ada anggota baru di keluarganya. Waktu suami saya tanya hubungnya apa sama Pak Juna, beliau b

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 23

    Pukul enam pagi Liana ke luar dari kamar, wanita itu sudah tampak rapi dengan setelan olahraga yang dikenakannya. Celana legging hitam yang dipadukan dengan atasan croptop berwarna putih yang memamerkan sebagian perut ratanya. Tak lupa ia juga membalut kaki jenjangnya dengan sepatu sneakers. Sungguh tipikal mama-mama muda super kece. Hari ini merupakan akhir pekan dan Liana ingin mengikuti senam mingguan. Liana rutin mengikuti senam mingguan yang diadakan di kompleks tempat tinggalnya, selain itu ia juga memang didapuk sebagai instruktur. Tapi karena permasalahan rumah tangga yang tengah ia hadapi, hampir satu bulan ini Liana absen. Biasanya sih Liana akan pergi ke tempat senam pukul setengah tujuh pagi. Ia akan menyempatkan terlebih dulu membuatkan sarapan untuk anak dan suaminya. Tapi kali ini ia enggan melakukan itu, rasanya ia ingin cepat-cepat pergi saja dari rumah. Biark

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 22

    Rutinitas keluarga kecil itu kembali seperti sedia kala seolah tidak pernah terjadi apa pun di dalamnya. Juna yang bersiap untuk bekerja, Sienna yang bersiap untuk pergi ke sekolah dan Liana yang sibuk menyiapkan semua keperluan Juna dan Sienna--termasuk menyiapkan menu untuk sarapan mereka. Tapi bedanya sekarang keluarga kecil itu bertambah anggota baru. Anggota yang sangat tidak diharapkan kehadirannya oleh Liana. Semula Liana dan Juna memang mengharapkan bertambahnya anggota baru dikeluarga kecil mereka. Tapi yang Liana harapkan itu adalah seorang bayi yang akan lahir dari rahimnya untuk menjadi adik Sienna. Bukan malah seorang gadis muda yang menjadi adik madunya seperti ini! Namun sudahlah, mungkin ini memang sudah menjadi garis takdirnya. Meski begitu berat, perlahan-lahan Liana akan mencoba untuk menerimanya. Dan lagi-lagi semua itu, Liana lakukan untuk Sienna, untuk cintanya yang masih sangat besar pada Juna, juga d

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 21

    Karena rasa kesalnya pada Juna. Seusai makan malam dan menidurkan Sienna, Liana lantas pergi ke kamar dan menguncinya dengan rapat. Agaknya wanita itu memerlukan lebih banyak waktu untuk sendiri dulu. Bagaimanapun juga bukan hal yang mudah untuk menjalani pernikahan seperti ini. Mungkin karena terlalu lelah akibat menyetir selama tiga jam dari rumah orang tua menuju rumahnya, alhasil tak lama setelah itu, Liana pun tertidur. Namun kini, ketika waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Liana malah terbangun. Dan tiba-tiba saja rasa haus menyerang tenggorokannya. Wanita itu lantas meraih gelas yang terdapat di atas nakas. "Yah kosong lagi." Mau tak mau Liana beranjak dari tidurnya, ia melangkah menuju dapur. Setelah tenggorokannya kembali segar. Ia berniat kembali menuju kamar. Namun ketika hendak membuka pintu, netranya tak sengaja melihat ke arah ruang tamu yang

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    bab 20

    "Bunda... Senna mau pulang. Senna mau ketemu Ayah.""Kenapa Ayah gak jemput? Kenapa kita gak pulang-pulang?""Senna kangen Ayah. Senna juga kangen sekolah."Liana menghela napas dengan kasar, daritadi Sienna terus rewel meminta ingin pulang. Saat pagi, Liana masih bisa membujuknya dan mengalihkan perhatian Sienna pada hal lain. Namun malam hari, anaknya itu sudah tidak bisa dibujuk lagi dan berakhir dengan menangis kencang. Mungkin gadis kecil itu sudah kelewat rindu pada Ayah dan juga sekolah. "Iya nanti kita pulang ya," ucapnya lembut dan sabar. "Kapan? Bunda selalu bilang iya tapi kita gak pulang-pulang." Balas Sienna dengan air mata yang masih deras berjatuhan. "Bohong itu dosa, loh, Bunda."Liana bingung dan tidak tahu harus membujuk Sienna dengan cara apa lagi. Namun kini ingatannya berputar pada beberapa hari yang lalu ketika orang tua Juna datang menemuinya. "Nak, maafin Juna, ya? Kesalahan Juna memang sangat sulit untuk dimaafkan. Namun sebagai orang tua Juna, Ibu tidak in

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 19

    Pukul sebelas malam, Juna akhirnya tiba di rumah setelah menjalani hari yang begitu melelahkan. Biasanya, kehadiran Liana dan Sienna di rumah menjadi penyemangatnya. Suara tawa Sienna, perhatian lembut Liana, dan makanan hangat di meja makan—semua itu cukup untuk membuat lelahnya terobati. Namun sekarang berbeda. Beberapa hari ini rumahnya terasa sunyi, seolah kehilangan jiwa. Juna meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tamu sambil menghela napas berat. Saat ia hendak melangkah menuju kamarnya, sebuah suara lembut menyapanya. “Den, baru pulang?” Juna sedikit terkejut. Ia hampir lupa bahwa ada orang lain di rumah ini. Lastri, pembantu yang ditugaskan oleh orang tua Aluna, muncul dari kamar istri mudanya sambil membawa cangkir kosong. “Oh, Bik,” ucap Juna singkat, sedikit kaku. Dalam kepenatan dan kekacauan pikirannya, ia hampir lupa bahwa Aluna dan pembantunya masih ada di sini. Ia memaksakan senyum ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status