ログインJuna memasuki kamar sang anak, ia langsung disambut kalimat tanya dan tatapan tajam sang istri. "Ngapain kamu ke sini?!"
Juna melangkah menghampiri anak dan istrinya yang berada di atas kasur, namun Liana lebih dulu beranjak dan mendekati suaminya, sehingga kini mereka berdiri ditengah-tengah ruangan. "Bun, maafin Luna ya? Dia gak bermaksud bikin Senna mengabaikan panggilan kamu. Dia gak tahu kalau--" "Bela aja terus istri muda kamu itu!" Sela Liana cepat. "Ayah gak bela Luna, Bun. Ayah cuman--" "Cuman apa, hah? Cuman gak terima dan gak suka kalau istri mudanya aku marahin?" ucap Liana dengan tatapan nyalang seraya melipat kedua tangannya di dada. "Gak gitu Bunda..." Juna mencoba untuk menyentuh pundak Liana, namun dengan cepat wanita itu menepisnya. "Susah payah aku ngedidik Senna dan menjauhkan dia dari handphone. Tapi malah dengan mudahnya istri muda kamu itu mempengaruhi anakku! Kamu tahu kan bahaya gadget untuk anak seusia Senna seperti apa? Dari awal punya anak, kita udah sepakat gak mau sampai anak kita mengenal gadget terlalu dini. Tapi kayanya sekarang kamu udah lupa ya?" "Ayah gak lupa Bun. Tapi Luna kaya gitu karena dia emang gak tahu." "Apa pun alasannya aku tetap gak terima atas kelakuan dia yang seenaknya!" "Bun.. " Juna berujar lembut, ia mencoba untuk meredam kemarahan sang istri. Namun sepertinya sia-sia saja, sebab di detik itu juga Liana mendorong tubuh Juna agar ke luar dari kamar sang putri. "Udah sana, pergi kamu!" Begitu tubuh Juna sudah di luar Liana dengan cepat mengunci kamar tersebut. Juna menggedor-gedor pintunya. "Bun, buka pintunya. Jangan kaya gini. Ayah minta maaf." Tapi tidak ada sahutan dan pintunya tetap terkunci rapat. Aluna yang melihat wajah frustasi suaminya lantas menghampiri. Ia menjalankan kursi rodanya dengan perlahan. "Mas... " Panggilnya lembut. "Maafin aku. Karena aku, kalian jadi bertengkar." Juna menghembus napas kasar. Ia lalu menjawab "Sudah jangan terlalu merasa bersalah begitu karena tidak sepenuhnya salah kamu. Liana memang terlalu sensitif jika menyangkut masalah anak." "Tapi Mas, tetap saja se--" "Sudahlah, jangan dipikirkan. Saya masih bisa menanganinya, yang penting lain kali kamu harus berhati-hati. Tanya dulu sebelum melakukan sesuatu." "B-baik Mas." "Ya sudah istirahat sana." Aluna mengangguk, ia lalu menjalankan kursi rodanya memasuki ruang kamar tamu, yang sekarang menjadi kamarnya. Sementara di dalam kamar, Sienna semakin terisak. Baru kali ini ia melihat bundanya begitu sangat marah pada sang ayah. "Hiks ... Bunda jangan marah sama Ayah. Maafin Senna. Senna janji gak akan nakal lagi. Tapi Bunda jangan marah sama Ayah." Liana mendekat dan memeluk Sienna. "Cup, cup, cup. Udah jangan nangis sayang, Bunda gak marah sama Ayah kok." ucapnya mencoba menenangkan. "Tapi kenapa tadi Bunda bicaranya keras-keras sama Ayah?" "I-itu karena--" Sienna semakin memeluk sang Bunda dengan erat. Ia belum menghentikan tangisnya. "Hiks.. Please Bunda jangan marahin Ayah. Senna gak mau Bunda sama Ayah marahan. Maafin Senna, Bun." Liana mengusap-usap punggung anaknya. "Iya, Bunda gak marah sama Ayah. Tapi Senna harus nurut apa kata Bunda ya?" Sienna mendongak menatap sang Bunda. "Iya Bunda, Senna mau nurut sama Bunda. Senna janji." Lalu sepasang ibu dan anak itu kembali saling berpelukan dengan erat. bersambungBodoh.Ya benar, Aluna memang bodoh. Sejak awal harusnya ia menyerah, atau bahkan harusnya tidak pernah mencoba untuk masuk ke dalam keluarga harmonis itu.Namun memang dasar Aluna yang bodoh, ia malah sengaja menceburkan dan membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa sakit yang setiap harinya semakin parah.Diabaikan, tidak pernah dianggap, hal tersebut sama sekali tidak membuat Aluna jera. Nyatanya sampai saat ini gadis itu masih tetap mempertahankannya. Sebab Aluna menyakini hanya Juna yang mampu membuatnya semangat hidup.Aluna seolah tidak peduli walau rasa sakit di hati, juga mengakibatkan sakit pada fisiknya. Ingat, sejak awal Aluna memang tidak baik-baik saja. Gadis tersebut berbeda dengan gadis lainnya, ia memiliki penyakit yang sewaktu-waktu bisa saja kambuh bahkan fatalnya bisa membuatnya kehilangan nyawa.Namun seperti yang sudah dikatakan tadi, Aluna tidak peduli meski kondisinya semakin memburuk, ia justru malah menyembunyikan semua sakitnya itu sendirian, seolah-olah ia me
Setelah pintu kamarnya kembali ditutup dan dikunci. Aluna menjatuhkan bobot tubuhnya ke lantai, ia menangis tersedu. Merasakan betapa sakit hatinya saat ini. Lagi-lagi, ia memergoki sang suami dengan istri pertamanya yang sedang bermesraan.Hancur. Hatinya mungkin sudah tidak berbentuk lagi. Tapi untuk mengakhirinya Aluna tidak mampu. Ia sangat mencintai Juna, sangat.Ingatan Aluna kemudian melayang pada saat awal mengenal Juna.Saat itu, Aluna tengah duduk di sudut kamarnya yang temaram. Tirai tebal menutup rapat jendela, menghalangi sinar matahari yang mungkin bisa menghangatkan ruangan itu. Aroma obat-obatan menyatu dengan udara dingin yang selalu menyelimuti kamar rawat inap tersebut. Tubuhnya yang rapuh terbaring di atas ranjang, seakan menggambarkan betapa lemahnya ia melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya sejak lama. Sejak kecil, Luna selalu sakit-sakitan. Dunia luar terasa begitu asing baginya. Tidak memiliki teman, orang tua yang terlalu sibuk, dan kesehatan yang terus
Pernah mendengar tidak? Atau mungkin pernah mengalami, seperti yang tengah dirasakan oleh Liana saat ini, perihal gairah yang meningkat di trimester pertama menjelang trimester kedua.Semenjak mual-mualnya agak berkurang, sekarang Liana malah dihadapi dengan hasratnya yang meningkat pesat. Liana sering menginginkan untuk berhubungan. Dulu saat hamil Sienna juga begitu. Namun sekarang agaknya lebih ekstrim lagi, Liana menginginkan berhubungan dengan banyak gaya dan suasana yang baru. Seperti ingin mencari adrenalin.Daritadi Liana merasa gelisah. Ia terus menimbang, haruskah Liana menuruti keinginan ekstrimnya tersebut?Pasalnya yang diinginkan Liana adalah berhubungan di ruang yang ada di rumah ini. Jika sekarang hanya ada dirinya dan Juna sih tidak masalah. Tapi 'kan ada Aluna juga. Bagaimana kalau wanita itu tiba-tiba keluar kamar dan memergoki?Apa Aluna tidak akan sakit hati? Walau begini Liana juga wanita, ia tahu dan bisa merasakan bagaimana sakitnya jika berada diposisi tersebu
"Mama akan menginap di sini, kalau perlu untuk beberapa waktu ke depan. Agar Mama bisa memastikan bahwa ucapan laki-laki ini memang benar." Irene menunjuk presensi Juna menggunakan dagunya. Rupanya wanita itu masih belum puas."Tapi Ma, Mama mau tidur di mana? Di rumah ini hanya ada tiga kamar. Kamar utama, kamar tamu yang sekarang di tempati Luna, dan kamar Sienna yang sangat kecil." kata Liana.Irene terdiam, ia berpikir. Jika ia tidur bersama Liana, itu artinya bisa saja Juna mengambil kesempatan untuk tidur di kamar istri mudanya. Irene tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Liana mendapati Juna yang bermalam di kamar istri mudanya. Jika Irene memilih di kamar cucunya, benar kata Liana, kamar Sienna hanya terdiri dari ranjang kecil khusus anak-anak, bukan hanya akan membuat sempit, tapi juga akan membuat cucunya itu tidak nyaman jika ia bersikeras tidur di sana. Namun jika Irene memilih tidur di kamar tamu, sudah pasti ia tidak sudi jika harus satu ranjang dengan istri k
"Oh jadi ini pelakornya? Cih biasa banget, gak ada menarik-nariknya. Dasar bodoh kamu Juna! Nikahin dia yang jauh di bawah anak saya."Semua yang ada di sana sontak saja terdiam dan suasana seketika menjadi canggung karena mendengar ucapan Irene yang seolah tengah membanding-bandingkan kedua istri Juna tersebut. Hanya dua anak kecil, Jisa dan Sienna--yang memang tidak mengerti apa-apa. Kedua bocah itu tidak terpengaruh oleh ucapan sang nenek dan malah dengan santainya melenggang masuk ke dalam rumah."Ma, jangan bicara begitu." Akhirnya Liana memberanikan diri untuk bersuara lebih dulu, setelah semuanya hanya diam saja. Liana hanya merasa ucapan yang dilontarkan oleh sang mama sudah terlalu kasar dan sangat menyinggung perasaan Aluna. Bukannya Liana peduli pada perasaan Aluna, hanya saja sebagai manusia, Liana masih mempunyai rasa kasihan pada sesama. Apalagi, di sana Aluna langsung menunduk dan matanya juga terlihat berkaca membuat Liana menjadi iba."Loh apa yang Mama bilang itu mem
"Barang-barangnya udah diberesin semua, Yah?"Siang ini, sesuai yang dikatakan oleh Jennifer kemarin, Liana sudah diizinkan untuk pulang. Yah, meski harus disertai dengan beberapa catatan; seperti, Liana tidak boleh banyak bergerak, dan harus bedrest selama satu bulan penuh.Agak jenuh juga sih, namun demi kebaikan bayi dalam kandungannya, kali ini Liana akan menurut, tanpa protes sedikitpun."Udah beres semua." balas Juna. Sengaja, hari ini ia meminta izin untuk tidak masuk kerja dulu.Juna menaruh tas yang berisi baju bekas ganti Liana ke atas ranjang, laki-laki tersebut lalu membantu sang istri untuk berdiri."Ayah ambilin kursi roda dulu, ya?""Gak usah, Yah. Jalan aja." tolak Liana."Bisa gitu? Emangnya gak sakit?""Ngilu aja, tapi gak apa-apa. Udah ayo pulang, aku udah gak betah di sini lama-lama."Juna mendengus, ia tidak mendebat istrinya lagi dan memilih untuk menuntunnya saja.Namun baru saja beberapa langkah berjalan, Juna dan Liana dikejutkan karena terbukanya pintu ruanga
Juna mengetuk pintu kamar Sienna. Waktu kini sudah menunjukkan pukul delapan, namun istri dan anaknya, sedari tadi belum kunjung ke luar juga.Juna khawatir, takut keduanya malah sakit akibat menahan lapar. "Bunda, Senna, makan dulu yuk, kalian 'kan belum makan apa-ap
Meski kesal dan dalam keadaan suasana hati yang kacau, tapi Liana tidak bisa mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu segitu saja. Maka dari itu, dipukul empat sore ini, seperti biasa ia berkutat di ruang dapur untuk menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya."Sayang bantuin Bund
Entahlah, Liana sendiri tidak tahu, apakah keputusannya untuk tetap bertahan bersama Juna adalah langkah yang benar atau justru kesalahan yang akan semakin menyakiti dirinya di kemudian hari.Namun, jujur saja, selain Sienna, ada alasan lain yang membuatnya masih bertahan di tengah badai yang mengh
Di dalam ruangan, Liana mendekati ranjang Sienna. Wajah putrinya terlihat pucat, dengan tubuh lemah terbaring di atas ranjang. "Bunda..." suara kecil Sienna menyambutnya. "Iya, Sayang? Apa yang sakit?" Liana berdiri di sisi ranjang, membelai lembut kepala putrinya. "Kepala Senna sakit, Bunda.







