로그인Ruang analisis data di kapal induk Harapan Kita telah diubah menjadi sebuah ruang gelap yang dipenuhi oleh ribuan partikel cahaya mikroskopis. Teknologi proyeksi holistik milik yayasan menciptakan pemandangan yang fantastis.Struktur molekul Varian 4-B melayang-layang di udara, sebesar bola basket, dengan untaian DNA yang berpendar ungu seperti rasi bintang yang terjebak di dalam ruangan. Di tengah pusaran cahaya ini, Tri berdiri tanpa alas kaki, kedua tangannya bergerak di udara seolah-olah sedang menenun benang-benang cahaya yang tidak terlihat.Adrian berdiri di tepi ruangan, menyaksikan pemandangan itu dengan napas tertahan. Ia melihat Tri bukan lagi sebagai seorang dokter, melainkan sebagai seorang dirigen yang sedang memimpin orkestra genetika. Setiap gerakan tangan Tri mengubah susunan data spektral yang diekstraksi dari drive Arka-V. Rambutnya yang masih sedikit lembap berkilauan tertimpa cahaya ungu, dan matanya memancarkan fokus yang begitu tajam hingga t
Keheningan di ruang analisis data terasa begitu pekat hingga suara detak jantung Tri seolah menggema di dinding-dinding logam kapal induk. Cahaya dari layar monitor yang menampilkan dokumen kelahiran itu memantul di kornea mata Tri, memberikan efek pendar kebiruan yang dingin pada wajahnya yang kaku. Nama yang tertera di sana Saraswati harahap bukan sekadar deretan huruf bagi Adrian. Itu adalah nama bibinya, adik kandung ayahnya yang dikabarkan meninggal dalam kecelakaan pesawat tragis dua puluh tahun silam."Saraswati..." suara Adrian bergetar, nyaris seperti embusan angin. Ia melangkah mundur hingga punggungnya menghantam meja kontrol. "Dia... dia adalah adik ayahku. Dia seharusnya sudah tidak ada."Tri membalikkan tubuhnya perlahan, matanya yang tajam kini dipenuhi oleh kabut kebingungan dan kemarahan yang tertahan. "Jika dia ibuku, Adrian, maka eksperimen Batch 04 ini bukan sekadar proyek riset acak. Ini adalah pembersihan silsilah. Raihan tidak hanya
Lampu-lampu dek luar kapal induk Harapan Kita berpendar kuning temaram, membiaskan cahaya di atas permukaan laut yang kini tampak lebih tenang setelah menelan Arka-V. Di sudut area observasi medis yang terbuka, Tri duduk di sebuah kursi lipat baja, tubuhnya terbungkus selimut termal perak yang berisik setiap kali ia bergerak. Rambutnya masih lembap oleh air garam, dan wajahnya yang pucat tampak semakin kontras di bawah siraman cahaya bulan. Ia menatap kosong ke arah cakrawala, membiarkan angin malam menyapu sisa-sisa trauma dari paru-parunya.Suara langkah kaki yang teratur mendekat dari arah koridor dalam. Tri tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa itu. Adrian berjalan mendekat, membawa nampan kecil berisi dua cangkir logam yang mengepulkan uap panas. Ia sudah mengganti pakaian taktisnya yang basah dengan kemeja flanel gelap yang tampak terlalu santai untuk situasi genting ini, namun matanya masih menyimpan sisa-sisa kecemasan yang mendalam."Minumla
Suara derit logam yang terpuntir di bawah tekanan air laut terdengar seperti rintihan raksasa yang sedang sekarat di tengah samudera. Kapal Arka-V kini miring hampir empat puluh lima derajat, membuat lantai dek yang licin oleh tumpahan oli, darah, dan cairan ungu menjadi medan pertempuran yang sangat sulit untuk bertahan hidup. Tri mencengkeram erat pagar besi yang mulai terasa panas karena gesekan struktur baja yang saling beradu, sementara di bawah kakinya, air laut yang hitam dan dingin mulai meluap masuk dari palka bawah yang meledak hebat."Tri! Pegang tanganku! Jangan melihat ke bawah!" teriak Adrian, suaranya nyaris tenggelam oleh deru ombak yang menghantam lambung kapal dan suara ledakan pipa uap yang pecah di bagian mesin.Adrian berdiri di bagian dek yang lebih tinggi, kakinya mengunci kuat pada sebuah katup pipa besar yang masih kokoh tertanam di lantai. Ia menjulurkan tangannya dengan penuh keputusasaan, wajahnya yang biasanya tenang kini penu
Lampu darurat berwarna merah berputar di sepanjang koridor sempit dek bawah kapal Arka-V, menciptakan bayangan panjang yang tampak menari-nari di dinding logam yang lembap. Tri melangkah dengan hati-hati, memegang senter taktis di tangan kiri dan sebuah alat pendeteksi biometrik di tangan kanan. Di belakangnya, Adrian dan dua personel tim keamanan Yayasan Harapan Kita mengikuti dengan senjata siaga, moncong senapan mereka menyapu setiap sudut gelap yang mencurigakan. Suara tetesan air yang menghantam lantai besi bergema seperti detak jam yang sedang menghitung mundur menuju ledakan, menciptakan irama mencekam yang menekan dada. "Udara di sini mengandung konsentrasi sulfur yang sangat tinggi," bisik Tri, suaranya teredam oleh masker respirator yang melekat erat di wajahnya. "Bau ini... ini bukan sekadar limbah kimia. Mereka tidak hanya menyimpan bahan sisa, mereka melakukan proses inkubasi aktif di bawah sini. Sesuatu sedang ditumbuhkan."
Ruang kendali utama di kapal induk Harapan Kita adalah sebuah jantung teknologi yang berdenyut dalam ritme cahaya biru dan desis pendingin mesin yang konstan. Di tengah ruangan yang luas itu, Tri Ananda Putri berdiri tegak, jauh berbeda dengan sosok rapuh yang setahun lalu meringkuk di sudut bangsal rumah sakit. Ia mengenakan headset taktis yang melingkar di telinganya, sementara matanya yang tajam tidak lepas dari layar monitor sentral yang menampilkan koordinat radar kapal Arka-V. Kapal misterius itu kini terlihat melaju kencang di peta digital, membelah ombak dengan kecepatan tinggi, mencoba mencapai zona bebas di perbatasan perairan internasional agar bisa lolos dari yurisdiksi hukum. Di sampingnya, Adrian berdiri dalam diam yang penuh rasa hormat. Ia tidak mencoba mengambil alih, tidak pula memberikan instruksi yang tak perlu. Sebagai pemilik Yayasan Harapan Kita, Adrian telah menyerahkan seluruh otoritas operasional malam ini kepad







