Home / Romansa / Gadis Tanpa Ingatan / 33. Ledakan Di Atas Lorong

Share

33. Ledakan Di Atas Lorong

Author: Alvarezmom
last update publish date: 2025-07-19 16:33:48

Setelah Salim menunjukkan mereka kamar kecil di belakang pondok untuk beristirahat, Amara duduk memandangi jendela yang retaknya membingkai langit. Di balik kaca itu, langit memerah seperti darah tua, dan suara burung malam terdengar seperti erangan hampa.

Pikirannya penuh.

Tentang Nadine. Tentang liontin. Tentang suara-suara yang semakin sering berbisik di kepalanya—suara-suara yang bukan miliknya sendiri.

Elvano datang diam-diam, membawa dua selimut tipis dan secangkir air hangat. Ia duduk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Tanpa Ingatan   90.

    Beberapa bulan setelah itu, sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia rencanakan mulai tumbuh: rasa ingin berbagi lebih luas, bukan dalam bentuk jabatan baru atau proyek ambisius, melainkan dalam bentuk percakapan-percakapan kecil yang jujur. Raina mulai mengadakan sesi diskusi terbuka setiap dua minggu sekali di kantornya. Bukan forum resmi, bukan pula rapat evaluasi. Hanya ruang tanpa agenda kaku, tempat siapa pun boleh datang dan berbicara tentang tantangan yang mereka hadapi—baik profesional maupun pribadi, selama masih relevan dengan kerja.Awalnya hanya lima orang yang hadir. Mereka duduk melingkar dengan secangkir kopi masing-masing. Ada jeda-jeda canggung, hingga akhirnya seseorang memberanikan diri bercerita tentang tekanan keluarga yang memengaruhi konsentrasinya di kantor. Orang lain menyusul, berbicara tentang rasa tidak percaya diri saat memimpin tim yang lebih senior.Raina tidak memposisikan diri sebagai pemberi solusi. Ia lebih banyak bertanya, mengajak mereka saling me

  • Gadis Tanpa Ingatan   89.

    Hari-hari setelah krisis itu tidak langsung menjadi ringan. Beberapa keputusan sulit tetap harus diambil—penyesuaian anggaran, pengurangan beberapa program yang belum menunjukkan dampak signifikan, serta percakapan jujur dengan mitra yang kecewa. Namun Raina menjalani semuanya dengan napas yang lebih teratur. Ia tidak lagi menghindari ketidaknyamanan. Ia duduk bersamanya, mendengarkannya, lalu melangkah.Suatu pagi, ia mengumpulkan tim inti dalam ruangan kecil tanpa layar presentasi. “Hari ini saya tidak membawa data baru,” katanya membuka pertemuan. “Saya ingin kita berbicara tentang arah.” Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya. “Jika sumber daya kita terbatas, nilai apa yang tidak boleh kita kompromikan?”Diskusi itu tidak cepat. Ada perdebatan, ada sudut pandang berbeda. Namun justru di situlah Raina melihat kedewasaan yang tumbuh. Mereka tidak lagi sekadar mempertahankan ide masing-masing. Mereka mencoba memahami alasan di baliknya. Pada akhirnya, mereka menyepakati tiga pr

  • Gadis Tanpa Ingatan   88.

    Musim kembali berganti tanpa banyak pengumuman. Raina menyadarinya dari cahaya pagi yang terasa berbeda—lebih lembut, lebih panjang. Ia bangun seperti biasa, menyiapkan teh, dan duduk di dekat jendela. Namun pagi itu ada sesuatu yang lain: sebuah keheningan yang tidak hanya tenang, tetapi juga penuh. Seolah hidup sedang menunggu langkah berikutnya, bukan dengan tuntutan, melainkan dengan kemungkinan.Di kantor, ia mulai mendelegasikan lebih banyak keputusan kecil kepada timnya. Bukan karena ia lelah, melainkan karena ia percaya. Dulu, ia sering merasa harus terlibat dalam setiap detail untuk memastikan semuanya berjalan sesuai standar. Kini, ia mengukur keberhasilan bukan dari seberapa banyak yang ia kendalikan, tetapi dari seberapa mandiri timnya bertumbuh.Suatu siang, salah satu pemimpin muda dalam program pendampingan datang dengan wajah cemas. “Saya membuat keputusan tanpa konsultasi cukup luas,” katanya. “Dan sekarang ada penolakan.”Raina tidak langsung memberi solusi. “Apa yan

  • Gadis Tanpa Ingatan   87.

    Waktu bergerak dengan caranya sendiri—tidak tergesa, tidak pula berhenti. Raina mulai menyadari bahwa pertumbuhan yang ia rasakan bukanlah perubahan yang terlihat dari luar, melainkan penataan ulang di dalam dirinya. Ia tidak lagi bereaksi secepat dulu. Ia memberi jarak antara peristiwa dan tanggapan. Di ruang kecil itulah ia menemukan kebebasan.Suatu pagi, sebuah pesan masuk dari tim lama yang pernah ia pimpin bertahun-tahun lalu. Salah satu dari mereka kini memegang posisi strategis di tempat lain dan ingin meminta saran. Raina membaca pesan itu dengan senyum tipis. Dulu, ia mungkin merasa perlu memberi jawaban panjang dan komprehensif. Kini, ia membalas dengan undangan sederhana: “Mari bertemu dan bercerita.”Pertemuan itu berlangsung di sebuah kedai yang tidak terlalu ramai. Mantan anggota timnya, Damar, tampak gugup meski sudah berpengalaman. “Saya takut mengambil keputusan yang salah,” katanya pelan. “Takut mengecewakan banyak orang.”Raina mengangguk memahami. “Keputusan yang

  • Gadis Tanpa Ingatan   86.

    Beberapa minggu setelahnya, sebuah undangan datang dari universitas tempat Raina pernah menjadi pembicara. Mereka mengadakan forum kecil tentang kepemimpinan yang berkelanjutan—bukan tentang pencapaian, melainkan tentang daya tahan. Raina membaca email itu dua kali. Dulu, ia mungkin langsung menyusun presentasi penuh data dan grafik. Kini, ia menuliskan satu pertanyaan di buku catatannya: Apa yang benar-benar ingin kubagikan?Hari acara tiba dengan hujan tipis. Raina datang lebih awal, duduk di barisan belakang aula yang masih sepi. Ia memperhatikan kursi-kursi kosong, membayangkan wajah-wajah yang akan duduk di sana. Ketika forum dimulai, ia berjalan ke depan tanpa naskah panjang. “Saya tidak datang membawa rumus,” katanya pelan. “Saya datang membawa pengalaman—terutama tentang salah.”Ruangan hening, namun bukan hening yang canggung. Raina menceritakan bagaimana ia dulu mengukur diri dari kecepatan, dari seberapa banyak keputusan bisa diambil dalam sehari. Ia bercerita tentang malam

  • Gadis Tanpa Ingatan   85.

    Malam berlalu dengan tenang, dan pagi berikutnya datang membawa langit yang bersih. Raina terbangun dengan perasaan yang tidak dramatis—tidak euforia, tidak pula berat. Ia menyiapkan diri dengan gerak yang sudah ia kenal: air hangat di wajah, rambut diikat sederhana, pakaian yang nyaman. Di meja, secarik kertas kecil tergeletak—catatan belanja yang ia tulis semalam. Hal-hal sederhana itu menegaskan satu hal: hidupnya kini ditopang oleh rutinitas yang ia pilih, bukan yang memaksanya.Di luar, jalanan mulai ramai. Raina berjalan ke halte dengan langkah santai, memilih berdiri daripada duduk di kendaraan. Ia memperhatikan wajah-wajah yang lalu-lalang—beberapa tergesa, beberapa lelah, beberapa tenang. Dulu, ia selalu bertanya-tanya ke mana semua orang berlari. Kini, ia bertanya ke mana ia sendiri ingin berjalan. Pertanyaan itu tidak lagi membuatnya cemas.Di kantor, sebuah agenda baru menunggunya: diskusi lintas fungsi tentang transparansi pelaporan. Raina memulai dengan satu kalimat yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status