ログイン"Sebentar lagi makan," jawab Leon dengan senyuman.Tangan Leon mengusap-usap kepala Anya, dan Anya mengangguk tanpa banyak pertanyaan.Sesekali Nathan menatap Leon, Nathan yakin jika Leon sedang memikirkan kejadian tadi, tapi Nathan tidak ingin banyak bicara.Walaupun Leon tidak meminta Nathan untuk tutup mulut tentang kejadian tadi, tapi Nathan tidak mudah membicarakan apapun pada orang-orang. Nathan mampu menyembunyikan rahasia."Papa, terima kasih, makanannya enak sekali!" Sudah cukup banyak Nathalie mencicipi menu makan malam."Sama-sama." Leon tersenyum manis.Leon senang saat mengetahui Nathalie menyukai makanan yang ada di restoran tersebut. Leon pastinya akan memberikan makanan yang lezat dan bergizi untuk istri dan anak-anaknya.Handphone Leon berdering, ada panggilan masuk, dan Leon meminta izin untuk menjawab telepon itu.Anya mengizinkan. Leon bangun dari duduknya dan menjauh dari meja untuk menjawab panggilan itu, dan Anya tidak menaruh kecurigaan apapun pada Leon."Janga
Pukul 7 malam. Leon, Anya, Nathan, dan Nathalie makan malam di luar.Leon melakukan reservasi makan malam di restoran mewah yang ada di kotanya. Leon tentunya akan menuruti keinginan istri, dan anak-anaknya.Walaupun hari ini Leon pulang agak terlambat, tapi Leon sudah melakukan reservasi sebelum pulang ke rumah, dan pastinya Leon akan selalu mendapatkan apa yang diinginkan."Terima kasih, Papa!" Nathalie sangat senang."Sama-sama." Leon tersenyum.Leon mengusap-usap kepala Nathalie dengan lembut, dan Nathan sibuk dengan iPad, Nathan sedang bermain game.Leon sudah memilih menu makan malam untuk keluarganya, kini mereka hanya bisa menunggu hidangan disajikan di atas meja.Anya dan Leon saling menatap satu sama lain. Anya tersenyum lebar dan sangat bahagia, begitu pula dengan Leon.Setiap hari mereka merasakan kebahagiaan yang tiada henti. Namun, ada ketakutan yang Anya pendam.Anya takut apa? Entah, beberapa hari ini Anya mimpi buruk.Namun, Anya tidak cerita pada Leon. Anya takut jik
"Aku mau beli ramen, tadi katanya mau ramen.""Beli online aja." Anya tidak ingin ditinggal sendirian."Baiklah." Leon tidak memiliki pilihan lain.Anya tidak ingin ditinggal sendirian, dan Anya terlihat manja sekali."Selain ramen mau apa lagi?" Leon kembali bertanya dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya."Aku mau pilih sendiri."Anya merebut handphone Leon, dan Leon tidak keberatan dengan itu, lagi pula Leon tidak pernah menyembunyikan apapun dari Anya, jadi Leon tidak pernah takut jika Anya merebut ponselnya."Aku mau ini, ini, ini." Anya memilih banyak menu makanan.Leon tidak mempedulikan itu karena yang terpenting Anya makan banyak sebelum melakukan operasi, karena kondisi Anya juga harus stabil sebelum melakukan pengangkatan rahim.Sejujurnya Leon sedih dengan hal ini, tapi Leon mencoba kuat didepan Anya. Leon tidak ingin membuat Anya sedih.Leon yakin setelah ini tidak akan ada hal apapun lagi. Leon akan selalu membuat Anya bahagia, Leon sangat mencintai Anya. Anya ad
Anya tertawa kecil mendengar ucapan Nathan."Sudahlah, aku ke bawah dulu." Leon izin."Oke." Anya manggut-manggut dan mengizinkan.Leon keluar dari kamar untuk menemui Rehan di lantai bawah, dan Nathan masih menemani Anya."Ke mana Papa?" tanya Nathalie saat dirinya keluar dari kamar mandi."Ke bawah ketemu ...," jawab Anya yang belum selesai.Namun, Nathalie sudah berlari keluar kamar, tapi saat mendekati pintu kamar, Nathalie terjatuh.Nathalie tidak menangis. Ia segera bangun, dan berlari lagi menuju lantai bawah."Astaga, anak itu!" Anya geleng-geleng kepalanya.Anya tidak menyangka jika Nathalie sangat bersemangat bertemu dengan Rehan."Tuh, Mama liat sendiri, kan? Aku nggak bohong, dia genit banget kalau urusan Om Rehan," ucap Nathan dengan jujur.Anya tertawa lagi dan berkata. "Biarkan, mungkin Nathalie sudah menganggap Om Rehan sebagai kakak tertuanya.""Mana ada begitu." Suara Nathan sangat ketus, tentu ia tidak suka dengan sikap kembarannya yang genit.Anya hanya bisa tertaw
Seminggu berlalu. Anya sudah sadar. Keluarganya bahagia melihat Anya sudah membuka matanya. Namun, Anya masih terlihat linglung."Mama!" Nathan dan Nathalie memeluk Anya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba saja air mata Anya menetes. Anya tahu saat ini dirinya ada di rumah sakit."Sayang!" Leon mengusap lengan Anya dan mengecup lengan itu berkali-kali.Dokter dan asistennya segera memeriksa keadaan Anya, dan akhirnya kondisi Anya sudah membaik. Namun, memang harus banyak istirahat karena baru bangun dari operasi.Anya masih belum membuka mulutnya, Anya belum berbicara sama sekali.Dinda, Luki, dan Tasya sedih yang bercampur bahagia melihat Anya sudah membuka matanya.***Beberapa hari setelah Anya sadar. Anya diizinkan pulang ke rumah, dan pastinya Leon langsung segera membawa Anya pulang ke rumah.Leon tahu jika Anya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Anya tidak mencium aroma rumah sakit yang memiliki khas tersendiri."Mama, aku buatkan teh hangat untuk mama
Dinda bertanya dengan pelan. Ia tidak ingin membuat Leon bersedih akibat kecelakaan yang menimpa Anya."Kepala Anya terbentur dan harus operasi," jawab Leon.Dinda mengangguk paham. "Sebaiknya kita serahkan semuanya pada Dokter."Leon mengangguk. Leon setuju, dan Leon berharap jika Anya segera sadar.Dokter mulai menyiapkan ruanh operasi untuk Anya. Anya mengalami benturan dan harus melakukan operasi dibagian kepalanya.Dinda dan Leon hanya bisa menurut saja pada Dokter. Leon akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Anya. Leon berharap Anya segera sadar.Saat ini yang berada di rumah sakit hanya Leon dan Dinda. Luki dan Rehan keluar dari rumah sakit.Luki harus menjemput Tasya, Nathan, dan Nathalie.Sedangkan Rehan akan menjalankan perintah dari Leon. Rehan akan mencaritahu penyebab kecelakaan yang menimpa Anya.Leon memiliki firasat buruk tentang kecelakaan ini. Leon yakin kecelakaan ini adalah rencana dari Varell atau Vera. Namun, Leon masih belum memiliki bukti.Oleh sebab itu Leon
Pukul 6 sore menjelang makan malam. Leon dan Rehan kembali ke mansion. Leon melangkah lebar dengan wajah yang penuh kekhawatiran."Ngapain kalian di sini?" tanya Leon saat melihat beberapa pelayan dan bodyguard ada didepan pintu kamar sang gadis.Semuanya mulai membungkuk sopan, mereka segera pergi
"Sebentar lagi kalian akan menikah." Dinda tersenyum manis pada calon menantunya, ia terlihat sangat menyukai gadis itu."Aku nggak sabar." Vera adalah gadis manis, tapi ia sebenarnya jahat dan memiliki banyak rencana buruk.Doni hanya menatap datar pada Vera, ia seolah-olah malas memiliki menantu
Pertanyaan Leon membuat detak jantung Anya berdetak sangat cepat, bahkan ia mulai mengalihkan pandangannya.Cinta? Apa yang sedang ada dipikiran Leon saat ini? Kenapa Leon membahas cinta dengan Anya?Apakah Leon benar-benar mencintai Anya? Apakah Leon bersedia menikahi Anya? Apakah Leon sangat meng
Pukul 7 malam. Leon dan Rehan sudah kembali ke mansion. Kini Leon bersama Anya sudah di ruang makan.Seperti biasa mereka akan selalu makan malam bersama. Anya terlihat lelah, dan Leon merasa bersalah."Mau makan di kamar aja?" Leon masih memandangi wajah cantik itu.Bi Ina yang sedang menuangkan a