LOGINPerlahan, Carlos mengusap atas dada Azalea. Menyentuhnya pelan-pelan, menelusuri lekuk tubuhnya. Tubuh Azalea menegang, saat jemari Carlos mulai memutari titik sensitifnya. Azaela bergetar. Air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja.
Suara isak terdengar dari bibir Azalea membuat Carlos langsung berhenti. Ia menatap Azalea yang menutupi matanya kedua tangannya. Gadis itu terlihat bingung, malu, sekaligus ketakutan dengan dirinya sendiri. Carlos menghela napas panjang pelan. Tangannya perlahan menjauh dari tubuh Azalea, lalu ia duduk di sisi ranjang sambil mengusap wajahnya kasar. Suasana kamar mendadak hening. Carlos melempar selimut untuk menutupi tubuh Azalea. Jemari Azalea gemetar saat memegang ujung selimut. Carlos meliriknya sekilas sebelum akhirnya berkata pelan, “Sorry.” Azalea tidak menjawab. “Gue nggak maksud maksa kok,” lanjut Carlos. Tidak ada nada menggoda atau permainan di sana. Carlos terdengar benar-benar serius. Azalea menggigit bibirnya menahan tangis. Carlos kembali menghela napas lalu berdiri dari ranjang. Ia mengambil jas hitamnya yang tadi dilempar sembarangan ke sofa. Tanpa banyak bicara lagi, Carlos langsung memakainya sambil berjalan menuju pintu kamar hotel. Pintu tertutup pelan. Dan kini hanya tersisa Azalea sendirian di kamar besar itu. Tangisnya akhirnya pecah. Azalea menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil meringkuk di atas ranjang. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti. Ia bingung. Kenapa dirinya jadi seperti ini? Sejak dulu Azalea selalu menjaga jarak dari laki-laki. Ia benci disentuh sembarangan. Bahkan pria yang mencoba mendekatinya saja selalu berhasil ia usir sebelum terlalu dekat. Tapi tadi… saat Carlos mencium dirinya, tubuhnya justru melemah. Ia bahkan membalas ciuman itu. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan membiarkan Carlos melepaskan pakaiannya dan menyentuh bagian tubuhnya yang sangat privasi. “Bodoh…” lirih Azalea pelan sambil menangis. Ia menarik napas gemetar lalu memakai pakaiannya lagi. Azalea tahu persis seperti apa Carlos. Playboy. Berpengalaman. Terbiasa membuat perempuan jatuh hati dengan mudah. Dan yang paling menyakitkan Azalea sadar dirinya terlalu menyukai Carlos. Perasaan yang ia simpan diam-diam sejak kecil membuat pertahanannya runtuh begitu saja hanya karena sedikit perhatian dan godaan dari pria itu. Carlos bahkan belum benar-benar serius. Tapi Azalea sudah hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia membenci kenyataan itu. “Menyebalkan…” gumamnya pelan dengan mata yang terus basah. Azalea menatap kosong ke arah pintu kamar yang tadi dilewati Carlos. Entah kenapa, bagian kecil dalam dirinya justru merasa kecewa saat Carlos pergi. Dan hal itu membuat Azalea semakin kesal pada dirinya sendiri. *** Lampu club malam itu berkelap-kelip memenuhi ruangan dengan suara musik keras yang memekakkan telinga. Carlos duduk di depan bar dengan wajah kusut sambil memutar botol bir di tangannya. Sekali teguk. Bir itu langsung habis. Carlos menghembuskan napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi tinggi. Kepalanya dipenuhi bayangan Azalea beberapa menit lalu. Wajahnya yang menangis. Tubuhnya yang gemetar. Dan bagaimana Azalea tetap membalas ciumannya meski terlihat takut. Carlos mengusap wajahnya frustrasi. “Kenapa gue malah berhenti?” gumamnya pelan. Ia mengacak rambutnya sendiri kasar. Harusnya itu gampang. Selama ini nggak pernah ada masalah buat dia. Perempuan datang dan pergi begitu saja. Nggak pernah ada yang bikin dia mikir dua kali. Tapi Azalea berbeda. Dan itu justru bikin Carlos kesal. “Hanya karena dia nangis?” Carlos tertawa kecil tanpa humor. “Gila.” Ia memesan bir lagi lalu langsung meminumnya cepat seolah mencoba membuang semua pikirannya. Carlos nggak mau terlalu memikirkan itu. Ini cuma efek karena mereka baru menikah. Karena Azalea terlalu lugu. Karena dia belum terbiasa disentuh pria. Cuma itu. “Nggak usah dibikin ribet,” gumamnya sendiri. Di saat itu, seorang wanita dengan dress hitam ketat mendekat lalu duduk di kursi sebelah Carlos. Aroma parfum manis langsung tercium samar. “Tumben sendirian?” tanyanya sambil tersenyum genit. Carlos melirik sekilas tanpa minat. Wanita itu tetap tersenyum lalu menyentuh pelan lengan Carlos. “Dari tadi keliatan kesal banget. Kenapa sayang?” Carlos diam beberapa detik. Lalu tanpa peringatan, ia menarik tengkuk wanita itu dan langsung mencium bibirnya. Wanita itu sempat terkejut kecil, tapi detik berikutnya langsung membalas ciuman Carlos dengan antusias. Tangan wanita itu naik memegang pundak Carlos, sementara musik club terus berdentum di sekitar mereka. Namun anehnya… Carlos tidak merasakan apa-apa. Tidak ada debar aneh seperti saat mencium Azalea. Tidak ada rasa gugup. Tidak ada perasaan hangat yang membuat pikirannya kacau. Semuanya terasa biasa. Carlos perlahan membuka matanya di tengah ciuman itu. Dan sialnya… Yang muncul di kepalanya justru wajah Azalea lagi. Carlos langsung menghentikan ciuman itu mendadak. Wanita di depannya terlihat bingung. “Hey, kenapa?” Carlos menghembuskan napas kasar lalu menjauh sedikit. “Nggak jadi,” gumamnya pendek. Ia mengambil dompetnya lalu melempar beberapa lembar uang ke meja bar. Wanita itu langsung meraih lengan Carlos saat pria itu hendak pergi. “Hey, jangan pergi gitu aja,” rengeknya sambil mencoba menarik tubuh Carlos kembali mendekat. Namun Carlos yang sudah setengah mabuk justru terlihat makin kesal. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya berubah dingin. “Lepas,” katanya rendah. Wanita itu masih mencoba tersenyum genit. “Kan tadi masih—” Carlos tiba-tiba mengangkat tangannya seolah ingin melayangkan pukulan ke wanita itu. Gerakannya membuat wanita tersebut langsung terkejut dan mundur refleks. “Aaa!” pekiknya ketakutan. Carlos berhenti tepat sebelum tangannya mengenai apa pun. Napasnya kasar. Tatapannya tajam penuh emosi yang bahkan ia sendiri tidak mengerti. “Jangan bikin gue kesel,” ucapnya dingin. Suasana di sekitar mereka langsung terasa canggung. Carlos mengusap wajahnya frustrasi lalu berjalan keluar dari club malam itu. *** Esok paginya, Azalea sama sekali tidak bisa tidur. Semalaman pikirannya kacau memikirkan kejadian tadi malam dan kepergian Carlos yang belum juga kembali. Dengan wajah lelah, Azalea akhirnya mengganti piyamanya dengan kaos oversize serta celana panjang santai. Ia berniat pulang ke rumah karena merasa sesak berada di hotel sendirian. Namun langkahnya langsung terhenti begitu sampai di depan lobby hotel. Mobil Carlos terparkir tidak jauh dari sana dalam keadaan pintu sedikit terbuka. Azalea mengernyit bingung lalu mendekat perlahan. Dan di sana… Carlos tertidur di kursi kemudi dengan kepala bersandar ke jendela. Kemejanya masih kusut seperti semalam, sementara wajahnya terlihat lelah. Begitu Azalea mendekat, aroma alkohol langsung tercium kuat. “Carlos…” Azalea mengetuk pelan kaca mobil. Carlos bergerak kecil lalu perlahan membuka matanya. Tatapannya masih kosong beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok Azalea di depannya. Carlos langsung terlihat terkejut. “Azalea?” suaranya serak karena baru bangun. Azalea menghela napas panjang, “Kenapa tidur di sini sih?” tanyanya pelan. Carlos mengusap wajahnya kasar lalu duduk lebih tegak. Rambutnya berantakan, sementara matanya masih terlihat lelah akibat alkohol semalam. “Ketiduran aja,” jawabnya singkat. Azalea menatap Carlos beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu samping lalu masuk ke kursi penumpang. Carlos langsung meliriknya bingung. Azalea akhirnya bicara tanpa menatap Carlos. “Sorry.” Carlos mengernyit kecil. “Harusnya gue nggak nangis cengeng kayak gitu semalam.” Carlos langsung menoleh penuh kebingungan. “Maksud lo?” tanyanya pelan. Azalea menggigit bibir bawahnya sebentar lalu menunduk. “Gue cuma… kaget aja.” Suaranya mengecil. “Lo pasti jadi ngerasa gue aneh.” Carlos diam memperhatikan wajah Azalea yang terlihat malu sendiri. “Jadi ... lo nggak keberatan?” tanya Carlos penasaran. Azalea menoleh menatap dengan mulut yang terbuka.Di dalam mobil, suasana langsung berubah sunyi. Carlos fokus menyetir, sementara Azalea duduk di sampingnya sambil memandang keluar jendela.Lampu-lampu jalan berlalu begitu saja. Hingga akhirnya Azalea mendengus pelan."Ngapain sih lo ke sana?"Carlos melirik sekilas."Jemput istri gue lah."Azalea langsung menoleh dengan wajah kesal."Istri? Bukannya lo lagi seneng-seneng sama cewek-cewek bule di Bali?"Carlos justru tersenyum kecil."Oh... Kirain lo nggak lihat semua foto dan video yang gue kirim."Azalea mendengus lagi."Gue sibuk. Jadi nggak sempat lihat semuanya. Kalau lo mau seneng-seneng ya seneng-seneng aja. Nggak usah nyepam kayak
Carlos berjalan santai menghampiri Mike yang masih berdiri. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya tetap tajam. Ia melirik ke sekeliling kebun yang mulai sepi lalu bertanya dengan nada santai,"Pestanya udah selesai?"Mike memasukkan kedua tangannya ke saku celana."Udah."Lalu ia balik bertanya,"Untuk apa lo ke sini?"Carlos tersenyum tipis."Kenapa? Gue nggak boleh datang?"Mike tidak menjawab. Carlos lalu menambahkan sambil mengangkat bahu,"Lagi pula Azalea itu anak teman nyokap gue. Nggak aneh kalau gue datang."Mike menatap Carlos beberapa detik. Tatapannya jelas tidak bersahabat."Cuma sayangnya.""Apa?""Azalea nggak bisa ketemu lo."Carlos mengangkat sebelah alis."Siapa lo ngatur-ngatur Azalea?"Nada suaranya berubah dingin. Mike langsung menatap balik."Gue cuma nggak mau Azalea terluka."Kalimat itu membuat Carlos tersenyum miring."
Senja mulai turun ketika pesta rakyat akhirnya selesai.Lampu-lampu gantung yang dipasang sejak pagi mulai menyala satu per satu, menerangi kebun yang kini perlahan kembali sepi.Anak-anak sudah pulang bersama orang tua mereka. Tenda-tenda mulai dibongkar. Beberapa warga masih membantu membereskan meja dan kursi.Sementara itu, Rose dan Bryan tampak sibuk membagikan hasil panen kepada warga yang masih mengantre.Bryan terlihat sangat bahagia."Ambil yang banyak ya! Tahun ini panen kita luar biasa!" serunya sambil tertawa.Rose ikut tersenyum melihat suaminya yang begitu bersemangat. Sedangkan di sisi lain, Azalea masih membantu membereskan sisa-sisa makanan bersama Mike.Namun sejak pagi tadi, tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Perutn
Carlos akhirnya tiba di kamar hotel saat matahari mulai tenggelam di ufuk Bali. Begitu pintu kamar terbuka, Sintia yang sejak tadi berjalan di belakangnya langsung ikut melangkah maju."Pak Carlos, kalau ada yang perlu saya bantu—""Nggak usah."Carlos langsung memotong.Sintia berhenti. "Tapi kita bisa berbagi kehangatan—""Lain kali aja."Carlos membuka pintu lebih lebar lalu menatap sekretarisnya."Gue mau istirahat."Sintia tampak kecewa. Ia sebenarnya berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua dengan Carlos, apalagi mereka sedang berada di luar kota.Namun tatapan dingin pria itu membuatnya tidak berani membantah."Baik, Pak."Carlos mengangguk singkat. Lalu menutup pintu.Klik.Kamar hotel yang luas itu langsung terasa sunyi. Carlos melemparkan kartu kamar ke atas meja. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang besar.Matanya menatap langit-langit.A
Matahari Bali bersinar terik ketika Carlos berdiri di depan bangunan resort yang masih setengah jadi.Debu konstruksi beterbangan tertiup angin.Beberapa pekerja masih terlihat mondar-mandir, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding laporan yang pernah ia terima beberapa bulan lalu.Carlos memasukkan kedua tangan ke saku celananya sambil memperhatikan area proyek yang terbengkalai itu.Semakin lama ia melihatnya, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal."Masih aneh," gumamnya.Sintia yang berdiri di sampingnya menoleh."Apa yang aneh, Pak?"Carlos menghela napas."Kalau klien memang mau menghentikan proyek, kenapa menunggu sampai pembangunan sejauh ini?"Sintia ikut memandang bangunan tersebut."Kemungkinan masalah dana?"Carlos menggeleng."Kalau masalah dana, mereka nggak mungkin berani mulai proyek sebesar ini."Ia menyipitkan mata."Ada sesuatu yang belum kita tah
Pagi itu langit masih berwarna abu-abu ketika Carlos sudah berada di terminal keberangkatan bandara. Matanya tampak lelah. Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.Kemeja yang sedikit kusut. Jas yang digantung asal di lengan. Dan aroma alkohol yang masih menempel samar di tubuhnya.Carlos duduk di ruang tunggu VIP sambil menatap landasan pacu di balik jendela besar. Sudah sejak dini hari ia berada di sana.Dan sejak semalam pula ia tidak kembali ke apartemen. Ponselnya tergeletak di meja. Layar gelap.Tidak ada satu pun pesan yang ia kirim. Tidak ada satu pun telepon yang ia lakukan. Beberapa saat kemudian langkah sepatu hak tinggi mendekat.Sintia datang sambil membawa koper kecil dan beberapa kantong pakaian. Begitu mendekat, wanita itu langsung mengernyit."Pak Carlos..."Carlos melirik sekilas."Hm?"Sintia meletakkan kantong pakaian di sampingnya."Bapak nggak pulang ke rumah?"Car
Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas. Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapa
Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya
Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih ke
Carlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-ak







