LOGINAzalea langsung nengok cepat. “Hah?”
Carlos menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. “Tentang semalam.”
Bug!
Azalea langsung mukul lengan Carlos cukup keras.
“Tentu aja gue keberatan!” protesnya kesal. “Inget ya, kita nikah kontrak. Bukan berarti lo bisa nyentuh gue seenaknya kayak gitu!”
Carlos malah mendengus kecil seolah nggak merasa bersalah.
“Ya nggak apa-apa lah,” katanya santai. “Gue suami lo sekarang. Kita udah sah.”
Azalea langsung melotot.
Carlos lanjut ngomong tanpa dosa, “Lo hamil juga orang-orang nggak bakal ngomong aneh-aneh.”
“Gue belum mau hamil, Carlos!” Azalea langsung panik.
Carlos malah ketawa kecil sambil menahan tawa melihat muka Azalea yang langsung pucat.
“Tapi bikinnya mau kan?” godanya santai.
Azalea langsung nyubit lengan Carlos lagi. “Najis banget sih lo ngomongnya!”
Carlos terkekeh pelan. “Santai napa.”
Azalea langsung menyilangkan tangan di dada sambil buang muka kesal.
Namun Carlos justru terus memperhatikan Azalea dengan ekspresi jahil.
“Jadi cewek jangan pick me gitu lah,” katanya tiba-tiba.
Azalea langsung nengok. “Hah? Pick me apaan?”
Carlos mengangkat bahu santai. “Ya jangan sok dingin terus. Lo tuh harus belajar pelan-pelan.”
“Belajar apa?”
“Biar nggak kaku amat pas ketemu cowok yang lo suka.”
Azalea langsung mengernyit. “Maksudnya?”
Carlos menatap Azalea beberapa detik, “Lo pernah jatuh cinta nggak sih?”
Pertanyaan itu bikin Azalea langsung diam. Jantungnya refleks berdetak aneh. Karena masalahnya… Dia justru jatuh cinta sama orang yang lagi duduk di sampingnya sekarang.
Namun tentu aja Azalea nggak mungkin ngomong itu.
Akhirnya dia langsung geleng cepat. “Nggak.”
Carlos terlihat nggak percaya. “Serius?”
Azalea buru-buru mengangguk. “Lo tau sendiri gue lebih suka baca buku daripada pacaran.”
Carlos langsung ketawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
“Nah itu masalahnya.”
Azalea mendelik. “Apaan?”
“Itu yang bikin lo jomblo terus.”
Azalea langsung kesel. “Emang kenapa kalau jomblo?!”
Carlos malah makin santai. “Karena lo nggak ngerti cara nikmatin hubungan.”
Azalea langsung mendecih malas. “Nggak penting.”
“Penting.”
Azalea mengernyit kecil.
Carlos lalu menyender santai sambil melipat tangan di belakang kepala.
“Dengar ya,” katanya penuh percaya diri. “Mulai detik ini gue putusin bakal bikin lo lebih dewasa.”
Azalea langsung melotot. “Hah?!”
Carlos lanjut ngomong tanpa peduli protesnya.
“Lo terlalu polos. Terlalu kaku. Kalau nanti suka sama cowok beneran aja pasti gampang dibohongin.”
Azalea langsung kesal. “Gue nggak butuh diajarin!”
Carlos malah menunjuk dirinya sendiri sambil nyengir. “Makanya beruntung ada gue.”
“Gue nggak merasa beruntung sama sekali!”
Carlos ketawa puas melihat Azalea mulai emosi lagi.
“Pokoknya,” lanjutnya santai, “selama setahun ini, gue bakal ngajarin lo soal hubungan.”
Azalea langsung menatap Carlos nggak percaya.
“Dan suatu hari nanti,” Carlos mencondongkan tubuh sedikit sambil senyum jahil, “lo bakal makasih sama gue.”
Azalea langsung terdiam setelah mendengar ucapan Carlos barusan. Entah kenapa kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Carlos yang melihat Azalea mendadak diam malah tertawa kecil.
Puk.
Ia menepuk pelan kepala Azalea.
“Dah,” katanya santai. “Sekarang kita pulang.”
Azalea langsung nengok. “Hah?”
Carlos menyalakan mesin mobil sambil mengusap rambutnya ke belakang. “Gue harus cepet ke kantor. Hari ini ada rapat penting.”
Azalea langsung mengerutkan dahi. “Lo masih harus kerja setelah nikah kemarin?”
“Iyalah.” Carlos mendengus kecil lalu mulai menjalankan mobil keluar dari area hotel. “Sekarang gue harus gantiin bokap gue. Mau nggak mau ya kerja.”
“Makanya, harusnya lo bersyukur,” lanjut Carlos sambil melirik Azalea sekilas.
Azalea langsung curiga. “Bersyukur apaan?”
Carlos nyengir kecil. “Di balik kesibukan gue yang segila ini, gue masih sempet mau bikin lo jadi wanita sesungguhnya.”
“CARLOS!”
Carlos langsung ngakak puas melihat Azalea panik sendiri. Sementara Azalea cuma bisa mendecih kesal sambil memalingkan wajahnya ke jendela.
Mobil itu pun melaju meninggalkan hotel, membawa mereka menuju kehidupan baru yang bahkan belum siap mereka jalani.
***
Mobil Carlos akhirnya berhenti di depan rumah besar keluarga Rigel. Pagar hitam tinggi terbuka otomatis, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang tertata rapi dan air mancur di tengahnya.
Azalea masih diam menatap rumah itu beberapa detik. Meski sudah sering datang sejak kecil, rasanya tetap berbeda sekarang. Karena kali ini… ia datang sebagai istri Carlos.
Carlos turun lebih dulu lalu berjalan santai masuk ke dalam rumah. Azalea mengikuti di belakang sambil menggenggam tas kecilnya gugup.
Begitu pintu utama terbuka, suasana hangat langsung terasa dari ruang keluarga.
Sisca duduk di sofa menemani Tommy yang masih berada di kursi roda. Selang oksigen masih terpasang di wajah Tommy, sementara infus tergantung di samping kursinya.
Namun begitu melihat Carlos dan Azalea masuk bersama, wajah keduanya langsung terlihat jauh lebih bahagia.
“Kalian pulang,” ucap Sisca tersenyum hangat.
Azalea langsung mendekat sopan. “Pagi, Tante… Om…”
“Eh.” Sisca langsung menggeleng kecil sambil tersenyum. “Sekarang nggak boleh panggil tante sama om lagi.”
Azalea langsung kaku.
“Panggil Papa sama Mama,” lanjut Sisca lembut.
Wajah Azalea langsung memanas sedikit. Namun akhirnya ia mengangguk pelan.
“Iya… Ma.”
Sisca langsung tersenyum senang mendengarnya.
Sementara itu, Carlos berjalan mendekati Tommy lalu jongkok sedikit di depan kursi roda ayahnya.
“Gimana keadaan Papa?” tanyanya pelan.
Tommy tersenyum tipis. “Udah lebih baik.”
“Bohong,” Carlos mendengus kecil sambil melirik selang oksigen dan infus di tangan Tommy.
Tommy malah tertawa pelan.
Sisca lalu ikut bicara, “Oh iya, semua barang dan baju Azalea udah pindahin semalam ke kamar Carlos oleh Rose.”
Azalea langsung membelalak kecil. “Apa?”
“Mulai sekarang kalian tinggal di sini,” lanjut Sisca santai.
Azalea langsung merasa nggak enak. “Maaf jadi merepotkan.”
Sisca langsung menggeleng cepat. “Nggak merepotkan sama sekali.”
Rose dan Bryan memang sudah pulang pagi tadi setelah memastikan kondisi Tommy membaik. Dan kini Azalea benar-benar harus mulai tinggal bersama keluarga Rigel.
“Pergilah ke kamar dan istirahat dulu ya,” ujar Sisca lembut sambil tersenyum penuh arti. “Kalian pasti capek sekali semalam.”
Azalea langsung tersedak ludah sendiri. Wajahnya otomatis memanas mengingat kejadian semalam. Namun sebelum ia sempat menjawab, Carlos malah bersandar santai di sofa sambil nyengir kecil.
“Tenang aja, Ma,” katanya santai tanpa dosa. “Azalea sangat memuaskan.”
DEG.
Azalea langsung melotot shock.
“CARLOS!” desisnya panik.
Sisca langsung menutup mulut menahan tawa kecil, sementara Tommy terlihat terkekeh pelan meski masih lemah.
Carlos sendiri malah tertawa puas melihat wajah Azalea yang merah padam. Tanpa merasa bersalah sedikit pun, ia langsung berjalan santai menuju tangga.
“Gue mandi dulu,” katanya santai sambil naik ke lantai dua.
Azalea cuma bisa menunduk malu setengah mati.
Lalu buru-buru mengikuti langkah Carlos ke atas sambil berharap dirinya bisa menghilang saat itu juga.
Begitu pintu kamar Carlos tertutup, Azalea langsung berjalan cepat menghampirinya.
“Carlos, kenapa bilang gitu sih sama tan—eh, Mama!” protesnya kesal.
Carlos yang sedang membuka kancing kemejanya satu per satu cuma melirik santai. “Emang kenapa?”
“Maluuu tau!”
Carlos malah terkekeh kecil. Ia tiba-tiba mendekat. Refleks Azalea langsung diam. Carlos kini berdiri tepat di depannya dengan kemeja yang seluruh kancingnya sudah terbuka. Dada bidang dan tubuh sixpacknya terekspos jelas di depan mata Azalea.
Dan sialnya… Azalea malah jadi salah fokus lagi. Carlos menunduk sedikit mendekati wajah Azalea yang langsung membeku di tempat.
“Kenapa diem?” bisiknya pelan.
Azalea buru-buru memalingkan wajah. “Nggak ada.”
Carlos tersenyum miring lalu berbisik rendah di dekat telinganya. “Lo mau liat tubuh gue lagi?”
Hari mulai malam saat mereka akhirnya berkumpul di sebuah pendopo kayu yang berdiri di tengah area perkebunan.Angin sawah bertiup pelan membawa aroma tanah dan tanaman segar. Di atas meja panjang sederhana, berbagai makanan hangat sudah tersaji. Sayuran hasil kebun, bakwan jagung, nasi hangat, sampai buah-buahan segar yang baru dipetik tadi siang.Rose dan Azalea datang membawa beberapa piring tambahan.“Udah, makan dulu,” ujar Rose sambil menaruh mangkuk sop di meja.Bryan yang sejak tadi masih asyik ngobrol soal pertanian langsung tertawa kecil.“Nah ini baru serius ngobrolnya.”Mike ikut tersenyum lalu duduk di salah satu kursi kayu.“Maaf jadi ngerepotin,” katanya sopan. “Saya nggak nyangka bakal diajak makan juga.”Bryan langsung melambaikan tangan santai.“Nggak apa-apa.” Ia menunjuk makanan di meja. “Sekalian rasain hasil kebun di sini berkualitas
Azalea masih terpaku di depan pintu beberapa detik. Pemandangan Carlos bersama Sintia tadi benar-benar membuat dadanya terasa sesak.Sementara Sintia terlihat sangat panik.Gadis itu buru-buru membenarkan rok dan kemejanya yang sedikit berantakan lalu menunduk cepat pada Azalea.“Maaf…”Suaranya kecil dan gugup.“Aku permisi dulu, Pak Carlos.”Carlos hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa. Sintia pun segera pergi keluar dari ruangan itu dengan wajah merah menahan malu.Kini tinggal Azalea dan Carlos di dalam ruangan besar itu. Suasana mendadak terasa canggung. Azalea akhirnya berjalan masuk perlahan sambil masih menggenggam kotak bekalnya.Tatapannya melihat Carlos yang sedang membenarkan kancing kemejanya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.Azalea tersenyum kecil sinis.“Siapa?”Carlos meliriknya sekilas.“Hmm?”Azalea menat
Azalea berjalan keluar dari kelas dengan langkah pelan sambil memeluk bukunya di dada. Tatapannya kosong.Bahkan sejak dosen selesai mengajar tadi, pikirannya sama sekali nggak fokus. Semua ucapan Carlos pagi tadi terus terulang di kepalanya.“Itu karena gue lagi gairah aja.”“Nggak lebih.”Azalea menggigit bibirnya pelan. Dadanya masih terasa sakit setiap kali mengingatnya.“Azalea!”Ia tetap berjalan.“Azalea!”Masih nggak merespon. Beberapa mahasiswa bahkan mulai melirik bingung. Dan akhirnya seseorang berjalan cepat mendekat dari belakang lalu menepuk pundaknya.“Azalea.”Azalea langsung terkejut dan menoleh cepat.“Hah?!”Mike berdiri di belakangnya sambil mengernyit bingung.“Lo kenapa?”Azalea langsung menarik napas kecil mencoba sadar.“Oh… Mike.”Mike memperhatik
Di kampus, suara hentakan kaki dan teriakan semangat memenuhi ruang latihan taekwondo sore itu.Azalea berdiri di tengah arena dengan napas memburu. Keringat membasahi pelipisnya, sementara tatapannya tetap fokus pada lawannya di depan.Mike, senior taekwondo yang terkenal kuat dan hampir selalu menang saat sparring.“Mulai!”Begitu aba-aba terdengar, Azalea langsung menyerang lebih dulu tanpa ragu. Mike sempat terkejut melihat serangan Azalea yang jauh lebih agresif dari biasanya.Brak!Mike berhasil menahan tendangan Azalea sambil tertawa kecil. “Woi, santai dikit!”Namun Azalea justru makin semangat menyerang. Beberapa mahasiswa di pinggir arena bahkan mulai bersorak heboh melihat pertarungan mereka.Azalea terus menyerang tanpa memberi celah sampai Mike akhirnya mundur sambil mengangkat tangan menyerah.“Oke oke, gue nyerah.”Azalea langsung berhenti dengan napas ngos-ngosan
Carlos menatap tubuh Azalea yang menegang, hingga dadanya membusung. Napasnya tersendat, sesuatu mengalir deras di bawah sana. Carlos tersenyum kecil karena akhirnya, ia berhasil membuat Azalea mendapatkan klimaks pertamanya.“Gimana?” tanya Carlos pelan setelah napas Azalea mulai beraturan. “Lo puas kan?”Azalea masih diam beberapa detik. Wajahnya memerah, sementara dadanya naik turun nggak karuan. Perlahan ia menatap Carlos, namun tanpa sadar air mata mulai mengalir di sudut matanya.Carlos langsung mengernyit.“Eh…”Azalea menggigit bibirnya sendiri sambil menahan isak kecil.“Lo… apain gue?” suaranya lirih dan gemetar. “Kenapa rasanya aneh banget.”Ia menunduk malu sekaligus bingung dengan reaksinya sendiri. Tubuhnya terasa hangat, jantungnya berdetak kacau, dan semua itu membuat Azalea merasa asing dengan dirinya sendiri.Carlos langsung menghela nap
Setelah selesai makan malam, Azalea masih sibuk dengan ponselnya. Carlos yang melihat itu malah menyandarkan tubuh santai di kursinya sambil memperhatikan Azalea.“Ayo tidur,” katanya santai.Azalea langsung menoleh curiga.“Lo nggak bakal apa-apain gue kan?”Carlos mengangkat alis kecil. “Menurut lo?”Azalea langsung mendecih kesal.“Gue serius.”Carlos menahan tawa kecil melihat wajah galak Azalea.Azalea lalu bangkit, mendekat ke arah Carlos dan berbisik pelan penuh penekanan.“Lo harus inget pernikahan ini… kontrak,” ucapnya menatap Carlos tajam.Carlos menghembuskan napas panjang sambil berdiri dari kursinya.“Gue nggak lupa kok.”Azalea masih menatap curiga.Carlos lalu berjalan mendekat sambil memasukkan tangan ke saku celananya.“Tapi gue kan baik sama lo.”Azalea mendelik. “B







