ANMELDEN“Carlos…”
“Kenapa lo selalu beda?” suara Carlos kali ini lebih rendah. Hampir seperti retakan. “Kenapa cuma lo yang bikin gue… puas?”
Azalea mencoba mendorongnya.
“Gue bilang lepasin.”
Tapi Carlos justru menahan lebih erat. Azalea mendongak, dan di saat itu ia melihatnya. Mata Carlos. Tidak seperti biasanya.
Ada sesuatu yang basah di sana sesuatu yang hampir jat
Carlos sedang duduk di restoran hotel mewah, jasnya rapi, ekspresinya tenang seperti biasa saat membahas bisnis dengan klien di depannya.Di sampingnya, Sintia duduk sebagai sekretaris yang setia mendampingi. Ia sesekali mencatat, sesekali tersenyum profesional setiap kali Carlos berbicara.Obrolan bisnis itu berlangsung lancar, sampai akhirnya klien mereka berdiri dan berjabat tangan.“Kerja sama ini saya rasa akan sangat menguntungkan,” ucap klien itu.Carlos mengangguk singkat. “Saya juga.”Tak lama, klien itu pun pergi meninggalkan meja mereka. Suasana langsung lebih santai. Sintia menoleh pada Carlos dengan senyum tipis.“Jadi… kita langsung pulang?” tanyanya pelan, lalu menambahkan dengan nada sedikit menggoda, “atau mau bermalam di sini?”Carlos tidak langsung menjawab.Tatapannya malah kosong sesaat, pikirannya melayang jauh.Sintia memperhatikan perubahan ek
Di sebuah mall yang cukup ramai, Azalea berdiri di dekat salah satu pintu masuk area kafe sambil sesekali melihat sekeliling.Tangannya menggenggam tali tas, matanya agak gelisah menunggu seseorang. Tidak lama kemudian, Mike muncul dari kejauhan.Di tangannya ada sebuah rangkaian bunga kecil yang sederhana, tapi rapi. Azalea langsung terdiam saat melihatnya.“Lo beneran bawa bunga?” tanyanya kaget begitu Mike mendekat.Mike mengangkat bunga itu sedikit, lalu tersenyum santai.“Kenapa? Berlebihan ya?”Azalea langsung menggeleng cepat. “Bukan… cuma… gue nggak nyangka aja.”Mike tertawa kecil, lalu menyerahkan bunga itu ke Azalea.Azalea menerimanya dengan ragu, lalu menatapnya sebentar. “Terima kasih…”Mike memasukkan tangan ke saku jaketnya.“Jadi, sekarang kita mau ke mana?”Azalea berpikir sebentar. “Ada tempat yang peng
“Carlos…”“Kenapa lo selalu beda?” suara Carlos kali ini lebih rendah. Hampir seperti retakan. “Kenapa cuma lo yang bikin gue… puas?”Azalea mencoba mendorongnya.“Gue bilang lepasin.”Tapi Carlos justru menahan lebih erat. Azalea mendongak, dan di saat itu ia melihatnya. Mata Carlos. Tidak seperti biasanya.Ada sesuatu yang basah di sana sesuatu yang hampir jatuh tapi ditahan sekuat mungkin. Dan itu membuat tangan Azalea berhenti.Seluruh kekuatannya seperti hilang begitu saja. Carlos menunduk sedikit, suaranya lebih pelan.“Jangan pergi lagi tanpa bilang gue.”Azalea terdiam.Tangannya yang tadi mendorong perlahan jatuh di sisi tubuhnya. Tatapan mereka saling bertemu, lalu Carlos pun langsung mencium bibir Azalea tanpa ijin. Tangannya meremas lengan Azalea dengan erat seolah takut kehilangan.Azalea tak
Pagi itu cahaya matahari masuk dari celah tirai apartemen Carlos, jatuh langsung ke wajahnya yang masih setengah tertidur.Namun yang pertama ia rasakan bukan ketenangan. Tapi rasa tidak nyaman. Karena di sampingnya, Angel masih berada dalam pelukannya.Carlos membuka mata perlahan, lalu langsung menarik tangannya dari tubuh perempuan itu. Tatapannya berubah dingin dalam sekejap.Angel yang masih setengah tertidur langsung terbangun.“Carlos?” suaranya pelan, bingung.Carlos duduk di tepi ranjang, tanpa menoleh lama.“Lo bohong sama gue,” katanya datar.Angel langsung menegang. “Apa maksud kamu?”Carlos akhirnya menatapnya. Tatapannya tajam, seperti sudah membaca semuanya tanpa perlu penjelasan.“Gue tau mana yang masih virgin dan mana yang nggak,” ucapnya dingin. “Gue udah tidur sama ribuan wanita. Jangan pikir lo bisa mainin gue.”Wajah Angel langsung p
Azalea berjalan sendirian di trotoar yang sepi, langkahnya pelan tanpa arah jelas. Lampu jalan memantulkan bayangan panjang di aspal, tapi tidak ada satu pun yang terasa nyata baginya.Ia tidak tahu harus ke mana.Apartemen itu… terlalu sesak.Dan di saat yang sama, terlalu penuh untuk ditinggali lagi.Azalea berhenti di pinggir jalan, menatap mobil-mobil yang lewat. Beberapa detik kemudian ia mengangkat tangan dan menghentikan sebuah taksi yang melaju perlahan.“Ke pusat kota,” katanya singkat.Sopir hanya mengangguk dan mobil pun melaju.Sepanjang perjalanan, Azalea hanya menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi, lampu neon, dan orang-orang yang masih berlalu-lalang di malam hari semuanya terlihat seperti dunia yang berjalan normal.Sementara dirinya… terasa terlepas dari semuanya. Setelah cukup lama, taksi berhenti di depan pusat kota.“Sudah sampai, Nona.”Azalea menga
Azalea duduk di sofa apartemen dengan lampu ruang tamu yang hanya menyala setengah terang. Jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam.Carlos belum pulang. Ia menatap layar ponselnya beberapa kali, lalu menghela napas pelan.“Pasti lembur lagi…”Azalea berdiri, berjalan pelan ke dapur untuk mengambil air minum. Saat membuka lemari kecil di samping dispenser, ia baru teringat sesuatu.“Ah…”Ia membuka laci kecil dan mengambil sebuah strip obat.Pil KB.Tanpa banyak pikir, ia membuka satu butir dan hendak meminumnya, tapi tiba-tiba terdengar suara pintu apartemen terbuka.Klik.Azalea menoleh sedikit.“Carlos?”Azalea langsung menaruh obat pil itu lagi dan lupa untuk meminumnya, ia segera berjalan keluar dapur, hendak menyambutnya.Namun langkahnya terhenti. Di ruang tamu. Carlos berdiri di sana bersama seorang wanita.Angel.Mereka sedang
Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih ke
Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa. Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukan
Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas. Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapa
Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya







