MasukArlo meraih ponselku dengan gerakan tenang. Jari jempolnya menggeser layar, membaca satu per satu fitnah yang disebar oleh Bella.
Tidak ada perubahan drastis di wajahnya, tetapi rahangnya yang menegang dan otot lehernya yang mengeras menjadi bukti nyata bahwa ia menahan amarah. "Ini perbuatan Bella," tegasku. Aku menundukkan kepala, sengaja memanipulasi nada suaraku agar terdengar putus asa. "Karena aku menggagalkan rencananya, dia sekarang mengincarku. Kak Arlo... Tolong aku. Aku nggak mau nilaiku turun karena stres mikirin rumor ini." Arlo mengembalikan ponselku. Senyum tipis, dingin namun menenangkan, terukir di bibirnya. "Oke. Ini permintaan pertamamu. Mana bisa aku menolak." Rasa lega memenuhi dadaku. Janji Arlo adalah jaminan mutlak. Dampaknya langsung terasa. Dalam hitungan hari, rumor tentangku menghilang tak berbekas dari semua forum kampus. Lebih dari itu, Universitas Bimsa terasa jauh lebih sunyi. Bella telah resmi dikeluarkan dan dipindahkan ke kampus kecil di kota terpencil. Kekuasaan Arlo sebagai kepala keluarga Herlan terbukti bukan sekadar isapan jempol. Siang itu, aku tengah duduk menyendiri di bangku taman kampus. Angin sepoi-sepoi menemani fokusku pada buku tebal tentang struktur bangunan. Namun, ketenangan itu pecah saat sebuah tangan dengan kuku berpoles merah menyambar bukuku secara paksa dan melemparnya jauh ke rerumputan. Aku mendongak. Bella berdiri di hadapanku. Penampilannya yang biasanya rapi dan elegan kini sedikit berantakan. Napasnya memburu, matanya memerah menahan kebencian yang meluap-luap. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan Bella melayang. Plak! Tamparan keras itu mendarat telak di pipiku. Tenaganya cukup kuat untuk membuatku kehilangan keseimbangan dan tersungkur dari bangku. Rasa perih menjalar cepat di kulit wajahku. Aku menyentuh sudut bibirku, lalu mendongak menatapnya nyalang. "Kamu pikir, setelah aku pergi, hidupmu di sini akan baik-baik saja?" jerit Bella. Tangan gadis itu melesat maju, menjambak rambut pendekku dengan kasar, memaksaku mendongak menatap matanya. Alih-alih membalas pukulannya, aku justru mengukir senyum lebar. Tamparan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan siksaan yang dialami ibuku. Aku mencengkeram pergelangan tangan Bella dan menyentaknya keras hingga cengkeramannya terlepas. Aku bangkit berdiri, menepis debu dari pakaianku dengan santai. "Kenapa, Bella? Ke mana Kak Arlo membuangmu?" ejekku telak. Wajah Bella memerah. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh. "Kamu berhasil bikin Kak Arlo nyingkirin aku. Pengaruhmu besar juga, dasar orang desa!" desisnya. Bella melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. "Tapi ingat ini, Kean. Karena kamu bisa mengendalikan Kak Arlo, sekarang kamu pasti sudah masuk radar tunangannya." Bella menepuk pundakku kasar, seolah membersihkan kotoran yang menempel. "Semoga kamu bisa menyelamatkan nyawamu sendiri. Saat aku kembali nanti, kamu pasti sudah tertanam di bawah tanah!" Setelah melontarkan ancaman itu, Bella berbalik dan pergi dengan langkah tergesa. Aku hanya mendecih pelan. Kuambil kembali bukuku di rerumputan. Saat aku menoleh ke seberang taman, pandanganku tak sengaja menangkap sosok yang berdiri di balik pohon ek besar. Sarah. Gadis itu berdiri di sana, mengamati pertengkaranku dengan Bella sejak tadi. Senyum sinis terbentuk di bibirku. Anak haram. Akhirnya kamu menyadari keberadaanku. Aku sudah tidak sabar untuk bermain denganmu. *** Keesokan harinya, firasatku terbukti. Di ruang kelas yang belum terlalu ramai, Sarah melangkah anggun mendekati mejaku. Seragamnya tersetrika rapi, rambut hitamnya jatuh sempurna membingkai wajah cantiknya yang menyimpan kepalsuan. "Rajin sekali," tegur Sarah, suaranya mengalun lembut. "Kamu mahasiswa beasiswa yang peringkat satu itu, 'kan? Kita sekelas tapi belum sempat kenalan." Sarah mengulurkan tangannya yang putih mulus. "Namaku Sarah Varelian. Putri tunggal keluarga Varelian." Darahku mendidih mendengar klaimnya. Putri tunggal? Dasar pembohong lihai. Kamu hanyalah anak dari seorang gundik yang merebut segalanya dariku. Meski amarah bergejolak, aku menyambut uluran tangannya dengan senyum ramah yang tak kalah palsu. "Namaku Kean." Sarah menarik tangannya perlahan. Sepasang matanya menatap wajahku dengan intensitas yang mengganggu. "Kamu tahu, Kean? Wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang sudah lama mati." Senyum tipisnya berubah menjadi seringai mengejek. "Dia orang yang nggak penting. Nggak punya kebanggaan apa-apa selain wajahnya," imbuh Sarah. Sarah sengaja menghina identitas asliku, Qiqi. Dia mencoba memancing reaksiku. Aku terkekeh ringan, seolah leluconnya sangat murahan. "Omonganmu aneh banget, Sarah. Kamu beneran putri konglomerat? Cara bicaramu kok berantakan begitu?" balasku tajam. Guratan kekesalan melintas sejenak di wajah Sarah sebelum ia berhasil menutupinya dengan tawa kecil. "Aku menghampirimu karena kamu sekamar sama tunanganku. Kak Arlo itu tunanganku. Mungkin kita bisa jadi teman baik di masa depan." Aku membelalakkan mata, memasang raut terkejut yang sempurna. Padahal, aku sudah mengetahui rahasia pertunangan politik ini sejak lama. Sarah terlihat puas melihat reaksiku. Ia mengibaskan rambutnya pelan, lalu kembali ke bangkunya dengan dagu terangkat. *** Penderitaan hari ini belum berakhir. Saat aku berjalan pulang menyusuri lorong sepi, langkahku dihadang oleh Aldo, teman sekelasku yang selalu bergaya arogan. Pemuda itu memblokir jalanku dengan tangan disedekapkan di dada. "Ada apa, Aldo?" tanyaku datar. Aldo menatapku merendahkan. "Tuker asrama sama aku. Kamar di asrama langit itu seharusnya jadi milikku, bukan milik cowok tulang lunak pemegang beasiswa sepertimu." "Nggak mau. Ribet," jawabku ketus, bersiap melangkah ke samping untuk menghindarinya. Aldo menggeram marah. Ia menarik kerah kemejaku dengan kasar. "Kamu berani nolak?! Jangan bilang aku nggak memperingatkanmu!" Tangan kanan Aldo mengepal, bersiap meninjuku tepat di wajah. Aku sudah memasang kuda-kuda untuk menangkis serangannya. Namun, sebelum kepalan tangan Aldo menyentuh kulitku, sebuah tangan kokoh menyambar lengannya di udara. Reno berdiri menjulang di belakang Aldo. Tanpa membuang waktu, Reno menyentak tangan Aldo dan mendorong pemuda itu hingga terjungkal ke belakang, menabrak dinding lorong dengan suara keras. Bersambung... Hembusan angin pantai menerpa tubuh Nyonya Mayun yang tengah menunggu seseorang di depan sebuah kafe di pesisir pantai. Suara deburan ombak terdengar samar, berpadu dengan suasana siang yang cukup tenang.Tak berselang lama setelah ia duduk, Deria muncul seorang diri dengan membawa sebuah map plastik."Padahal kita tinggal serumah, ngapain kamu ngajak bertemu di sini?" sungut Nyonya Mayun, menyambut kedatangan Deria.Dengan senyum misterius yang menggoda, Deria menjawab, "Hari ini aku bawa hadiah spesial untukmu, Nyonya."Nyonya Mayun mengernyitkan dahi. Rasa penasaran mulai merasukinya.Deria segera mengeluarkan seluruh dokumen penting dari dalam map, lalu membentangkannya di hadapan Nyonya Mayun."Tolong Nyonya baca baik-baik. Semua dokumen ini berisi pengalihan saham Go Tekstil sebesar dua puluh persen," kata Deria sembari menunjuk beberapa lembar kertas.Nyonya Mayun memperhatikan Deria yang sedang menjelaskan isi do
"Jika wanita yang aku sukai adalah tunangan Tuan Herlan, bagaimana? Boleh kubawa dia pergi?" lontar Max, sengaja memancing reaksi Arlo.Arlo tetap memasang ekspresi datar. Berbeda dengannya, Tuan Zilo justru tersenyum sinis. Ia jelas tidak menyukai keberanian Max yang kurang ajar."Silakan. Kamu boleh membawanya pergi," balas Tuan Zilo dengan tenang. "Di negeri ini, banyak bangsawan, putri konglomerat yang ingin menjadi Nyonya Herlan," imbuhnya.Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi semakin meninggikan posisi Arlo yang sejak awal memang sudah berada di tempat yang terlalu tinggi untuk disentuh Max.Raut wajah Max berubah kesal. Setiap kali ia berusaha menyudutkan Arlo selalu ada Tuan Zilo yang membalas dengan kalimat tajam. Seakan Tuan Zilo sengaja memastikan tidak ada satu pun penghinaan Max yang berhasil mengenai Arlo.Dan yang paling membuat Max jengkel adalah Arlo yang sejak tadi diam dengan wajah yang tetap tenang, tatapan yang ding
Aku tersenyum geli. Sejak kapan aku memiliki anak yang usianya bahkan lebih tua dariku?Lagipula, setelah menggugurkan bayiku di usia muda, aku berencana membuang rahimku. Menurutku, wanita sepertiku tidak pantas melahirkan, apalagi menjadi seorang ibu.Sebuah toelan ringan di hidungku menarikku kembali dari lamunan.Meli menatapku sambil tersenyum. "Tuan putri mikirin apa? Ayo kita pulang. Tuan Arlo sudah menunggumu di kediaman keluarga Herlan."Meli menggenggam pergelangan tanganku dan hendak membawaku masuk ke dalam mobil. Namun, aku segera menahannya."Kenapa di kediaman keluarga Herlan? Tempat itu, tak sembarangan orang bisa masuk," kataku bingung."Kamu bukan orang sembarangan bagi Tuan Arlo. Jangan mengelak terus."Meli langsung memaksaku masuk ke dalam mobil sebelum aku sempat membantah lagi.Aku hanya bisa pasrah dan membiarkannya membawaku pergi.Sesampainya di salah satu mansion milik keluarga Herlan, aku langsung disambut oleh banyak pelayan. Mereka bahkan memanggilku tuan
Nyonya Mayun membuat laporan kepolisian. Ia ingin semua pelaku dihukum mati. Jika hukuman tersebut tidak memungkinkan, setidaknya mereka harus menerima hukuman seberat-beratnya, sama seperti putranya yang kini harus menanggung akibat dari eksperimen tersebut.Kasus itu akhirnya sampai ke telinga Sarah.Tanpa sepengetahuan siapa pun, Sarah mendatangi para pelaku yang sedang ditahan untuk menjalani penyelidikan lebih lanjut.Begitu melihat Sarah, mereka langsung memohon serta meminta Sarah mengeluarkan surat izin eksperimen agar mereka terbebas dari tuduhan melakukan praktik medis ilegal."Tenangkan diri kalian. Aku akan melakukannya. Tapi, sebelum surat izin keluar, jangan sampai kalian menyebut namaku. Mengerti?"Walau masih diliputi keraguan, mereka tetap menganggukkan kepala."Jika kalian berani menyebut namaku, tak hanya kehilangan nyawa, keluarga kalian pun akan aku kejar."Setelah melontarkan ancaman tersebut, Sarah berbalik dan pergi.Apakah Sarah benar-benar akan menyelamatkan
Alih-alih membawa Beni ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, Arlo justru mengantarnya ke sebuah hotel mewah, tempat Sarah tinggal."Kamar presiden," kata Arlo, saat mobil berhenti di halaman hotel. "Masuklah sendiri. Aku akan menunggumu di sini.""Kenapa kamu nggak ikut? Nanti kalau Sarah macam-macam, gimana?" Beni tampak cemas."Sarah tidak akan berani. Katakan saja ada aku yang menunggumu," ucap Arlo, menenangkan Beni. "Kemarahanmu padanya, luapkan tanpa sisa. Maki dan marahi adikmu yang kurang ajar itu."Perkataan Arlo membuat Beni kembali percaya diri. Ia pun melangkah menuju kamar Sarah dengan amarah yang masih membara.Sesampainya di depan pintu, Beni langsung menggedornya dengan keras hingga pintu tersebut terbuka dan menampilkan sosok Sarah.Tanpa peringatan, Beni langsung mencekik leher Sarah menggunakan kedua tangannya, lalu mendorong adiknya masuk ke dalam kamar.Sarah yang luar biasa panik segera menendang perut Beni sekuat tenaga hingga cekikan lelaki itu terlepas d
Aku terbangun di tengah malam karena suara notifikasi dari ponsel Arlo yang kuletakkan di dekat bantal. Dengan separuh nyawa, aku meraih ponsel itu dan memeriksa layarnya. Mataku langsung terbuka lebar saat membaca pesan dari Beni.Aku bingung. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia sampai meminta tolong? Lantas, akun siapa yang dia gunakan untuk mengirim pesan?Rasa penasaranku mengalahkan rasa kantuk. Aku segera bangkit dari rebahan, lalu, membangunkan Arlo dengan menggoyang-goyangkan lengan kekarnya."Sayang...." Suaranya terdengar parau dan berat."Kak Arlo, aku mau minta tolong, boleh?" pintaku.Arlo mengulurkan sebelah tangannya. Ia menyentuh tengkukku, lalu menarikku mendekat hingga bibir kami bertemu dan saling menaut.Arlo mengakhiri ciumannya setelah puas membuat bibirku terasa bengkak dan lidahku sedikit perih."Kak Arlo, nanti kalau dilihat Kak Reno dan Kak Daniel, gimana?" Wajahku menghangat. Aku menyentuh bibirku sendiri.Arlo tersenyum lembut. "Kamu tidak perlu meminta ba
Dengan sedikit bingung, aku memperkenalkan Qila kepada Arlo. Akan tetapi, respons Arlo tidak seperti yang kuharapkan. Ia menatapku dengan tatapan aneh. Alisnya sedikit berkerut, sorot matanya dipenuhi tanda tanya. Seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Amarahku memuncak saat melihat Reno memejamkan mata. Dadaku mendadak menegang. Reno, apakah dia pingsan? Atau...Sial! Pikiran burukku langsung kupotong.Aku mengatur napas, lalu memasang posisi siap bertarung.Di depanku, Aldo tertawa. Tatapannya yang merendahkan, meni
Jantungku berdegup kencang saat tubuhku diseret mundur. Instingku langsung bekerja. Mataku bergerak cepat, menyapu setiap sudut gelap di gang sempit, mencari kemungkinan adanya rekan lain yang bersembunyi.Namun, kosong! Tidak ada siapa pun. Orang ini datang sendirian?Senyum tipis nyaris muncul. B
Ruang sidang diliputi keheningan yang menekan.Lampu kristal besar di langit-langit memantulkan cahaya putih dingin, menyinari setiap sudut ruangan tanpa ampun.Dinding marmer yang tinggi memantulkan gema napas para hadirin, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa pun enggan bergerak sembaranga







