LOGIN"Kak Meli nggak mungkin gitu, dia tidak sepertimu," celetuk Lidia.
Perhatian Anya langsung beralih kepada Lidia. Dengan raut wajah yang seketika berubah sedih, ia membalas, "Lidia, apa salahku padamu? Kok kamu judesin aku terus.""Berhentilah berakting. Kita tidak sedang bermain film," timpal Lidia dengan nada mencibir.Merasa tak mampu membalas perkataan Lidia, Anya lantas menggoyang pelan lengan berotot Reno, seolah meminta pria berkulit pucat itu membelanya.Keesokan harinya, setelah sarapan bersama kakek, aku diajak Leon memancing di danau kediaman keluarga Varelian. Ia bercerita bahwa dahulu kami sering menghabiskan waktu untuk memancing bersama.Kenangan indah masa kecil yang hilang dari ingatanku. Kami duduk berdampingan di tepi danau, masing-masing memegang tongkat pancing sambil menunggu ikan menyambar umpan.Alih-alih memperhatikan permukaan air, perhatianku justru lebih banyak tertuju pada ponsel yang terus berdering.Aku asyik memeriksa beberapa pesan dari Arlo dan Reno, lalu membalasnya secara bergantian. Tanpa sadar, senyum tipis terus menghiasi bibirku setiap kali membaca pesan mereka.Tiba-tiba, Leon menegurku dan memberitahu bahwa tongkat pancingku sedang bergoyang. Aku sontak menoleh, lalu buru-buru meletakkan ponsel dan menarik tongkat pancingku dengan penuh semangat.Namun, bukannya mendapatkan ikan, aku malah mendapati Leon sedang menahan tawa. Rupanya, pria itu ha
Setelah puas memelukku, Reno melonggarkan rangkulannya. Pria itu kemudian menuntunku menuju sofa di sudut ruang kerjanya. Ia duduk, lalu menarikku ke dalam pangkuannya.Sebenarnya aku merasa risih karena asisten Reno masih berada di ruangan dan sesekali melirik ke arah kami. Meski begitu, aku menahan diri dan tidak melayangkan protes."Nggak perlu kenalan. Aku sudah mengenalmu," bisiknya.Reno menyibakkan rambut panjangku dari bahu, memperlihatkan sisi leherku. Gerakannya mendadak terhenti ketika pandangannya menangkap tanda kemerahan di kulitku. Ia berdecap, lalu menatapku dengan wajah masam."Kamu membiarkan Arlo meninggalkan bekas ciumannya. Qiqi, aku cemburu," tegasnya, mendengus kesal.Aku refleks menyentuh leherku sendiri. Setelah makan malam, Arlo mengajakku ke rumahnya, dan kami bercinta hingga fajar.Belum sempat aku memberikan tanggapan, Reno mendekatkan wajahnya ke leherku. Hembusan napasnya menyentuh kulitku sebelum b
Restoran VIP di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit tampak begitu memesona. Kemewahannya terpancar dari setiap sudut ruangan, mulai dari lampu kristal berkilauan yang menggantung anggun di langit-langit, lantai marmer yang memantulkan cahaya keemasan, hingga deretan meja eksklusif dengan dekorasi bunga segar dan peralatan makan berkelas.Dinding kaca yang membentang luas menyuguhkan panorama kota yang bermandikan cahaya. Gedung-gedung tinggi berdiri megah di kejauhan, sementara jalanan di bawah sana tampak seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti.Alunan piano mengisi ruangan dengan melodi lembut, berpadu dengan percakapan tenang para tamu yang berasal dari kalangan konglomerat dan keluarga elite. Di tempat semewah ini, setiap orang seolah memiliki dunia dan kekuasaannya sendiri.Di antara segala kemewahan yang tersaji, ada satu sosok yang jauh lebih menarik perhatianku. Dia adalah Arlo Ocean Herlan, tunanganku tercinta.Pria itu du
Malam harinya, kami makan malam bersama di paviliun utama kediaman. Kami duduk mengelilingi meja bundar yang dipenuhi berbagai hidangan. Suasananya begitu sunyi dan sedikit tegang, jauh dari kesan keluarga normal pada umumnya.Sarah menjadi orang pertama yang memecah keheningan dengan mencibir masakan koki yang tak satu pun sesuai dengan seleranya."Aku tidak suka daging babi. Kenapa semua menu terdapat daging babi?" sungut Sarah sambil mengerucutkan bibir."Karena aku menyukai daging babi," sahutku, tersenyum mengejek.Tanpa membuang waktu, aku justru memuji kepiawaian koki dalam mengolah daging babi. Sebagai bentuk apresiasi, aku menghadiahkan cincin berlian yang sedang kukenakan kepada koki tersebut."Qiqi, kamu cukup dermawan juga ya? Menyerahkan cincin seharga miliaran rupiah hanya untuk seorang koki." Sarah langsung menyindir tindakanku.Aku terkekeh. "Aku memang dermawan, baru tahu? Lihatlah dirimu, kamu pikir, dari mana k
Dua minggu berlalu. Dokumen hasil tes DNA akhirnya tiba dan sampai ke tangan kakek. Beliau membacakan hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa aku benar-benar putri biologis Tuan David.Pernyataan itu sontak mengejutkan ayahku dan istrinya. Tubuh mereka berdua menegang, seakan hasil tes tersebut merupakan kabar yang sama sekali tidak mereka harapkan."Ayah, mayat yang katamu hangus terbakar itu siapa? Putri kandungmu masih hidup, dan duduk di hadapanmu," lontarku sambil tersenyum tipis."David, putri yang kamu sayangi telah kembali. Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat tidak senang?" sambung kakek, heran melihat sikap ayahku.Tuan David buru-buru menggelengkan kepala. Ia mengaku terlalu terkejut hingga tidak mampu memberikan reaksi yang tepat."Putriku, tentu aku senang kamu ternyata tidak meninggal. Aku... Sangat bersyukur," tutur ayahku, berusaha keras menunjukkan kebahagiaannya.Sayangnya, di mataku, ekspresi yang ditampilkan
Tiga tahun kemudian.Aku menyisir rambutku yang kini telah panjang, rambut yang selama tiga tahun terakhir kurawat dengan baik. Mahkota baruku.Aku menatap pantulan diriku di cermin, mengamati setiap detail penampilanku, lalu berkata, "Inilah diriku. Cantik dan feminim."Namun entah mengapa, setelah mengucapkan kalimat itu, air mataku justru mengalir. Aku masih sulit memercayai bahwa akhirnya aku bisa mengenakan pakaian yang kusukai dan berdandan menor layaknya remaja perempuan yang baru mengenal makeup.Kehidupan seperti ini bahkan tak pernah berani kubayangkan selama tujuh tahun penyamaranku. Kini, aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus menyembunyikan identitasku. Tinggal selangkah lagi, aku akan menuntaskan semuanya dan benar-benar bangkit.Nama baik ibuku telah pulih. Orang yang membunuhnya pun telah menerima ganjaran yang jauh lebih menyakitkan. Sekaeang, sudah waktunya pelaku utama diadili.Ayah... Aku datang.
"Kalau mau bunuh orang, jangan di tempat terbuka. Dasar bodoh!" bentak Reno. Suara baritonnya menggema di lorong yang sepi. Otot-otot di lengan Reno menegang, rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, bersiap melayangkan tendangan ke perut Aldo yang masih meringkuk di lantai. Melihat situasi yang bi
Arlo meraih ponselku dengan gerakan tenang. Jari jempolnya menggeser layar, membaca satu per satu fitnah yang disebar oleh Bella.Tidak ada perubahan drastis di wajahnya, tetapi rahangnya yang menegang dan otot lehernya yang mengeras menjadi bukti nyata bahwa ia menahan amarah."Ini perbuatan Bella
Cahaya matahari pagi belum sepenuhnya menembus tirai kamar asrama, tetapi rentetan getaran dari ponselku sukses menghancurkan sisa tidurku.Dengan kelopak mata yang masih terasa berat, aku meraba nakas. Layar ponselku menyala terang, menampilkan puluhan notifikasi pesan masuk dari nomor-nomor tak d
Arlo langsung melesat ke depanku, tangannya meraih daguku dengan cepat. Matanya memancarkan kekhawatiran yang jarang terlihat. Jempolnya menekan lembut rahangku, memaksa mulutku terbuka untuk memeriksa lukanya. Darah segar merembes dari sela-sela gigiku. Di lantai, Reno memungut pecahan kue basah







