LOGIN"Kak Meli nggak mungkin gitu, dia tidak sepertimu," celetuk Lidia.
Perhatian Anya langsung beralih kepada Lidia. Dengan raut wajah yang seketika berubah sedih, ia membalas, "Lidia, apa salahku padamu? Kok kamu judesin aku terus.""Berhentilah berakting. Kita tidak sedang bermain film," timpal Lidia dengan nada mencibir.Merasa tak mampu membalas perkataan Lidia, Anya lantas menggoyang pelan lengan berotot Reno, seolah meminta pria berkulit pucat itu membelanya.Sarah tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia mengangkat tangan, lalu menamparku beberapa kali. Aku sengaja membiarkannya melakukan itu tanpa berusaha menghindar.Aku bisa memaklumi kemarahan Sarah. Bagaimanapun, wanita itu pasti merasa telah dipermainkan setelah mengetahui kebenaran yang kusembunyikan."Dasar wanita binatang!" maki Sarah dengan napas terengah-engah, seolah-olah baru saja menyelesaikan lari maraton.Sembari menyentuh pipiku yang memerah, aku menatap Sarah dengan pandangan sayu. Air mata menggenang di pelupuk mataku, membuatku tampak begitu terluka oleh perlakuannya."Kamu berani mengerjaiku? Menipuku! Mengaku-ngaku sebagai Kak Arlo!" teriaknya hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas.Dengan ekspresi watados, aku membalas, "Selama Kak Arlo mengizinkan, kenapa aku nggak berani?"Sarah seketika terdiam. Matanya membelalak, tak percaya mendengar jawabanku. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal erat.Ketika Sarah hendak menamparku lagi, aku langsung mencen
Perkataan Reno memang benar. Namun, percintaan bukanlah fokus utamaku. Soal siapa yang akan kupilih, memangnya aku pantas memilih? Pada akhirnya, aku merasa tidak layak untuk kalian berdua. Tentu saja, aku berharap kalian mendapatkan wanita yang baik. Bukan wanita buruk sepertiku.Aku turun dari tubuh Reno, kemudian duduk di tepi ranjangnya."Kak Reno, gimana hubunganmu sama Tya?" tanyaku, hanya ingin memastikan rencanaku berjalan atau tidak.Reno berdecap. "Dia terus mengirim pesan. Kepalaku pusing membacanya," keluhnya."Terima kasih, Kak. Berkatmu, kita mendapat dukungan dari Tya," ucapku, tersenyum senang."Lihat, 'kan? Nyatanya aku yang paling berguna. Untung aku ikut," katanya, menyombongkan dirinya sendiri.Aku mengacak rambut pirang Reno dengan gemas.Aku merasa lega karena hubungan kami kembali membaik. Kini, aku hanya perlu menunggu Max membongkar identitasku di depan umum.***Baru satu minggu berlalu, tetapi sepertinya Tya sudah merindukan Reno dan tak sabar ingin bertemu
Aku sangat mengerti keinginan Arlo untuk melindungiku. Max memang harus mati. Kekuatan dan kekuasaannya digunakan untuk melindungi Sarah dan itu menyusahkanku. Namun, aku tidak ingin kematiannya terjadi sekarang."Kak Arlo, demi aku. Selamatkan Max. Belum saatnya ia meninggal," mohonku sambil menundukkan kepala.Untuk kesekian kalinya, Arlo menurutiku. Ia menghubungi asisten pribadinya lalu menyuruhnya membawa Max ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Arlo juga menegaskan agar pihak rumah sakit merawat Max secara maksimal."Kak Arlo, kamu juga harus ke rumah sakit. Obati tanganmu," tuturku lembut."Temani aku."Aku mengangguk sebagai jawaban.Sesampainya di rumah sakit, aku memperhatikan dokter yang mengobati jemari Arlo dengan teliti dan penuh kehati-hatian."Sebenarnya, apa yang anda pukul sampai jari anda patah?" tanya dokter, sedikit menggerutu."Dokter tahu, tengkorak manusia itu keras. Palu biasa tid
Setelah berhubungan intim berjam-jam di kamar mandi bersama Arlo, aku mengalami mual yang tak tertahankan akibat kekurangan oksigen.Daniel segera membuka semua jendela di kamar kami. Setelah itu, ia memandangi Arlo dengan tatapan sinis."Tuan Arlo, mulai sekarang kamu nggak boleh menggagahi adikku sebelum resmi menjadi suaminya!" tegas Daniel, berusaha melindungiku."Ayo kita menikah sekarang, Qiqi." Arlo langsung mengajakku. Ia benar-benar tidak membiarkanku tenang."Aku nggak mau nikah muda," tolakku."Jangan paksa adikku," sahut Daniel. "Apa yang terjadi pada adikku, kemalangan yang memimpanya, kamu tahu persis."Untuk pertama kalinya, aku melihat Arlo mengerjap akibat perkataan orang lain."Adikku diperkosa puluhan pria di rumah bordil. Sekarang sudah terbebas, malah harus melayanimu. Kamu juga mikir kalau adikku murahan?" Daniel melontarkan kalimat tuduhan yang begitu menyudutkan.Arlo mundur beberapa langkah. Dengan wataknya yang dingin dan malas berbicara, ia memilih keluar da
Hari H Penyerangan. Sesuai dugaan Arlo, kartel nomor satu tidak menanggapi secara serius surat penyerangan yang dikirim Tuan Ciko. Mereka terlalu meremehkan kekuatan kartel yang berada di bawah mereka.Hal tersebut justru menguntungkan pihak Tuan Ciko. Setidaknya, mereka tidak perlu mengerahkan terlalu banyak tentara untuk menyerbu pangkalan militer yang penjagaannya jauh lebih lemah dari perkiraan.Selama pertempuran berlangsung, puluhan utusan yang dikirim Presiden dan Godfather menyebar ke lima pangkalan militer. Mereka mengamati jalannya pertempuran tanpa henti. Dari gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi pangkalan, mereka merekam dan mencatat setiap kejadian yang berlangsung.Satu jam berlalu.Pasukan kartel nomor dua akhirnya berhasil sepenuhnya menguasai kelima pangkalan militer. Para jenderal musuh pun berhasil mereka sandera.Sehari kemudian, surat resmi dari Godfather dan Presiden diterbitkan, lalu disebarkan ke seluruh kartel. Di dalam surat tersebut dinyatakan ba
"Tidak ada syarat apa pun," sahut Arlo, setelah menatap Reno sekilas. "Berteman ya berteman saja," imbuhnya.Reno tertawa canggung. "Galak sekali. Padahal aku cuma mau menggoda," kilahnya.Tujuan kami datang ke sini adalah untuk menarik Tya, satu-satunya putri sah pemimpin kartel nomor dua.Menurut informasi dari anak buah Meli yang merupakan mata-mata andal, Tya bukanlah gadis remaja bau kencur dan polos seperti yang terlihat. Usianya sebenarnya sudah tiga puluh tahun.Aku tak mengerti apa alasannya berpenampilan tak sesuai dengan usianya. Mungkin untuk mengelabui lawan? Mengingat dirinya merupakan wanita paling berkuasa di kartelnya, penyamaran seperti itu tentu bisa menjadi salah satu cara untuk membuat orang lain lengah."Nggak masalah kalau Kak Reno mengajukan syarat. Aku akan berusaha memenuhi," tutur Tya, berkedip manja pada Reno.Reno tersenyum lebar. "Aku hanya bercanda."Tya lagi-lagi tersipu malu. Wanita itu s
Dengan sedikit bingung, aku memperkenalkan Qila kepada Arlo. Akan tetapi, respons Arlo tidak seperti yang kuharapkan. Ia menatapku dengan tatapan aneh. Alisnya sedikit berkerut, sorot matanya dipenuhi tanda tanya. Seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Amarahku memuncak saat melihat Reno memejamkan mata. Dadaku mendadak menegang. Reno, apakah dia pingsan? Atau...Sial! Pikiran burukku langsung kupotong.Aku mengatur napas, lalu memasang posisi siap bertarung.Di depanku, Aldo tertawa. Tatapannya yang merendahkan, meni
Jantungku berdegup kencang saat tubuhku diseret mundur. Instingku langsung bekerja. Mataku bergerak cepat, menyapu setiap sudut gelap di gang sempit, mencari kemungkinan adanya rekan lain yang bersembunyi.Namun, kosong! Tidak ada siapa pun. Orang ini datang sendirian?Senyum tipis nyaris muncul. B
Ruang sidang diliputi keheningan yang menekan.Lampu kristal besar di langit-langit memantulkan cahaya putih dingin, menyinari setiap sudut ruangan tanpa ampun.Dinding marmer yang tinggi memantulkan gema napas para hadirin, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa pun enggan bergerak sembaranga







