LOGINAku sangat mengerti keinginan Arlo untuk melindungiku. Max memang harus mati. Kekuatan dan kekuasaannya digunakan untuk melindungi Sarah dan itu menyusahkanku. Namun, aku tidak ingin kematiannya terjadi sekarang."Kak Arlo, demi aku. Selamatkan Max. Belum saatnya ia meninggal," mohonku sambil menundukkan kepala.Untuk kesekian kalinya, Arlo menurutiku. Ia menghubungi asisten pribadinya lalu menyuruhnya membawa Max ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Arlo juga menegaskan agar pihak rumah sakit merawat Max secara maksimal."Kak Arlo, kamu juga harus ke rumah sakit. Obati tanganmu," tuturku lembut."Temani aku."Aku mengangguk sebagai jawaban.Sesampainya di rumah sakit, aku memperhatikan dokter yang mengobati jemari Arlo dengan teliti dan penuh kehati-hatian."Sebenarnya, apa yang anda pukul sampai jari anda patah?" tanya dokter, sedikit menggerutu."Dokter tahu, tengkorak manusia itu keras. Palu biasa tid
Setelah berhubungan intim berjam-jam di kamar mandi bersama Arlo, aku mengalami mual yang tak tertahankan akibat kekurangan oksigen.Daniel segera membuka semua jendela di kamar kami. Setelah itu, ia memandangi Arlo dengan tatapan sinis."Tuan Arlo, mulai sekarang kamu nggak boleh menggagahi adikku sebelum resmi menjadi suaminya!" tegas Daniel, berusaha melindungiku."Ayo kita menikah sekarang, Qiqi." Arlo langsung mengajakku. Ia benar-benar tidak membiarkanku tenang."Aku nggak mau nikah muda," tolakku."Jangan paksa adikku," sahut Daniel. "Apa yang terjadi pada adikku, kemalangan yang memimpanya, kamu tahu persis."Untuk pertama kalinya, aku melihat Arlo mengerjap akibat perkataan orang lain."Adikku diperkosa puluhan pria di rumah bordil. Sekarang sudah terbebas, malah harus melayanimu. Kamu juga mikir kalau adikku murahan?" Daniel melontarkan kalimat tuduhan yang begitu menyudutkan.Arlo mundur beberapa langkah. Dengan wataknya yang dingin dan malas berbicara, ia memilih keluar da
Hari H Penyerangan. Sesuai dugaan Arlo, kartel nomor satu tidak menanggapi secara serius surat penyerangan yang dikirim Tuan Ciko. Mereka terlalu meremehkan kekuatan kartel yang berada di bawah mereka.Hal tersebut justru menguntungkan pihak Tuan Ciko. Setidaknya, mereka tidak perlu mengerahkan terlalu banyak tentara untuk menyerbu pangkalan militer yang penjagaannya jauh lebih lemah dari perkiraan.Selama pertempuran berlangsung, puluhan utusan yang dikirim Presiden dan Godfather menyebar ke lima pangkalan militer. Mereka mengamati jalannya pertempuran tanpa henti. Dari gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi pangkalan, mereka merekam dan mencatat setiap kejadian yang berlangsung.Satu jam berlalu.Pasukan kartel nomor dua akhirnya berhasil sepenuhnya menguasai kelima pangkalan militer. Para jenderal musuh pun berhasil mereka sandera.Sehari kemudian, surat resmi dari Godfather dan Presiden diterbitkan, lalu disebarkan ke seluruh kartel. Di dalam surat tersebut dinyatakan ba
"Tidak ada syarat apa pun," sahut Arlo, setelah menatap Reno sekilas. "Berteman ya berteman saja," imbuhnya.Reno tertawa canggung. "Galak sekali. Padahal aku cuma mau menggoda," kilahnya.Tujuan kami datang ke sini adalah untuk menarik Tya, satu-satunya putri sah pemimpin kartel nomor dua.Menurut informasi dari anak buah Meli yang merupakan mata-mata andal, Tya bukanlah gadis remaja bau kencur dan polos seperti yang terlihat. Usianya sebenarnya sudah tiga puluh tahun.Aku tak mengerti apa alasannya berpenampilan tak sesuai dengan usianya. Mungkin untuk mengelabui lawan? Mengingat dirinya merupakan wanita paling berkuasa di kartelnya, penyamaran seperti itu tentu bisa menjadi salah satu cara untuk membuat orang lain lengah."Nggak masalah kalau Kak Reno mengajukan syarat. Aku akan berusaha memenuhi," tutur Tya, berkedip manja pada Reno.Reno tersenyum lebar. "Aku hanya bercanda."Tya lagi-lagi tersipu malu. Wanita itu s
Aku keluar dari kamar mandi sambil mengacak-acak rambutku menggunakan handuk kecil. Setelah itu, aku duduk di atas ranjang. Pandanganku tak sengaja jatuh pada pantulan diriku di cermin yang berada di hadapanku. Tanpa sadar, aku pun memperhatikan diriku sendiri.“Ayah, nggak aku sangka. Orang-orang di belakangmu luar biasa hebat. Tapi, aku juga punya,” ucapku sambil tersenyum lebar.Tak lama kemudian, Meli tiba-tiba muncul dari jendela. Aku sampai melongo melihatnya. Ternyata, Meli juga ikut ke tempat ini.“Ibu, aku diperintahkan ayah untuk menjagamu,” kata Meli, santai.“Berhentilah memanggilku ibu,” tegurku sambil cemberut.Meli tertawa kecil sembari berjalan mendekatiku.“Ibu, beneran mau tidur? Gimana kalau kita jalan-jalan? Di kota ini, akulah yang berkuasa!” ujar Meli dengan penuh semangat.Aku menggelengkan kepala, lalu menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang yang empuk dan hangat. Aku segera menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhku agar Meli menyingkir dari hadapanku. Namun,
Sore harinya, aku benar-benar dibawa ke sebuah penginapan di dekat dermaga, tempat Tuan Zilo menginap.Awalnya, pria itu menyambutku dengan ramah, mengingat bahwa aku adalah orang yang disayangi Arlo. Namun, begitu Reno memberitahu bahwa aku juga merupakan orang yang disayanginya, pria berumur yang masih terlihat tampan itu langsung menatapku sinis."Kean, sebagai seorang laki-laki sejati, masa depanmu secerah kulitmu. Dengan kemampuan otakmu, seharusnya kamu bisa sukses tanpa menggoda laki-laki berkuasa," tutur Tuan Zilo menasihatiku."Hati Tuan Arlo sangat rapuh semenjak kehilangan tunangan. Kebetulan, wajahmu sangat mirip dengan mendiang tunangannya. Wajar jika kamu menjadi kesayangan," lanjut Tuan Zilo.Aku melirik Reno yang hanya diam. Sialan, ia membiarkan ayahnya mengomeliku."Namamu... Kean, 'kan?" tanya Tuan Zilo, memastikan.Aku mengangguk sebagai jawaban."Apa tidak cukup menjadi kesayangan Tuan Arlo? Haruskah menggoda putraku juga? Kamu cukup serakah," lontarnya, sengaja m
Amarahku memuncak saat melihat Reno memejamkan mata. Dadaku mendadak menegang. Reno, apakah dia pingsan? Atau...Sial! Pikiran burukku langsung kupotong.Aku mengatur napas, lalu memasang posisi siap bertarung.Di depanku, Aldo tertawa. Tatapannya yang merendahkan, meni
Jantungku berdegup kencang saat tubuhku diseret mundur. Instingku langsung bekerja. Mataku bergerak cepat, menyapu setiap sudut gelap di gang sempit, mencari kemungkinan adanya rekan lain yang bersembunyi.Namun, kosong! Tidak ada siapa pun. Orang ini datang sendirian?Senyum tipis nyaris muncul. B
Ruang sidang diliputi keheningan yang menekan.Lampu kristal besar di langit-langit memantulkan cahaya putih dingin, menyinari setiap sudut ruangan tanpa ampun.Dinding marmer yang tinggi memantulkan gema napas para hadirin, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa pun enggan bergerak sembaranga
"Kalau mau bunuh orang, jangan di tempat terbuka. Dasar bodoh!" bentak Reno. Suara baritonnya menggema di lorong yang sepi. Otot-otot di lengan Reno menegang, rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, bersiap melayangkan tendangan ke perut Aldo yang masih meringkuk di lantai. Melihat situasi yang bi







