FAZER LOGINSetelah puas melepas rindu, Kakek menyuruh kami beristirahat. Kami pun menurut tanpa membantah.
Aku ditempatkan di kamar termewah yang ada di mansion itu. Kamar tersebut dilengkapi berbagai fasilitas kelas atas, dengan pelayan yang selalu siap siaga untuk memenuhi segala kebutuhanku setiap saat.Begitu memasuki kamar, aku langsung menjatuhkan tubuh ke atas ranjang yang empuk. Kasur yang begitu nyaman seolah memelukku, membuatku ingin segera memejamkan mata dan menikmati istiDua minggu berlalu. Dokumen hasil tes DNA akhirnya tiba dan sampai ke tangan kakek. Beliau membacakan hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa aku benar-benar putri biologis Tuan David.Pernyataan itu sontak mengejutkan ayahku dan istrinya. Tubuh mereka berdua menegang, seakan hasil tes tersebut merupakan kabar yang sama sekali tidak mereka harapkan."Ayah, mayat yang katamu hangus terbakar itu siapa? Putri kandungmu masih hidup, dan duduk di hadapanmu," lontarku sambil tersenyum tipis."David, putri yang kamu sayangi telah kembali. Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat tidak senang?" sambung kakek, heran melihat sikap ayahku.Tuan David buru-buru menggelengkan kepala. Ia mengaku terlalu terkejut hingga tidak mampu memberikan reaksi yang tepat."Putriku, tentu aku senang kamu ternyata tidak meninggal. Aku... Sangat bersyukur," tutur ayahku, berusaha keras menunjukkan kebahagiaannya.Sayangnya, di mataku, ekspresi yang ditampilkan
Tiga tahun kemudian.Aku menyisir rambutku yang kini telah panjang, rambut yang selama tiga tahun terakhir kurawat dengan baik. Mahkota baruku.Aku menatap pantulan diriku di cermin, mengamati setiap detail penampilanku, lalu berkata, "Inilah diriku. Cantik dan feminim."Namun entah mengapa, setelah mengucapkan kalimat itu, air mataku justru mengalir. Aku masih sulit memercayai bahwa akhirnya aku bisa mengenakan pakaian yang kusukai dan berdandan menor layaknya remaja perempuan yang baru mengenal makeup.Kehidupan seperti ini bahkan tak pernah berani kubayangkan selama tujuh tahun penyamaranku. Kini, aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus menyembunyikan identitasku. Tinggal selangkah lagi, aku akan menuntaskan semuanya dan benar-benar bangkit.Nama baik ibuku telah pulih. Orang yang membunuhnya pun telah menerima ganjaran yang jauh lebih menyakitkan. Sekaeang, sudah waktunya pelaku utama diadili.Ayah... Aku datang.
Tuhan kali ini berpihak kepadaku. Kartel nomor dua melancarkan serangan terhadap markas kartel nomor satu tanpa mengirimkan surat peringatan terlebih dahulu. Keputusan yang diambil Tuan Ciko itu memicu peperangan terbuka antara kedua kartel, membuat mereka saling menyerang tanpa ampun.Kerusuhan yang merebak di berbagai kota di negara itu mulai menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia. Terutama di kalangan keluarga mafia yang menguasai kota-kota besar. Mereka khawatir peperangan tersebut akan meluas dan menyeret kartel mereka ke dalam konflik yang sama.Para petinggi keluarga mafia yang memegang kendali atas kartel nomor satu pun mulai merasa terancam. Kartel nomor dua sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Sebaliknya, mereka terus menghancurkan berbagai fasilitas penting milik kartel nomor satu. Bahkan, mereka nyaris berhasil membunuh pemimpin kartel tersebut.Dalam situasi yang semakin genting, kepala keluarga mafia dari kartel nomor satu seg
Keesokan harinya, aku mengajak Meli, yang baru tiba tadi malam, untuk makan siang bersama kami di paviliun tepi laut. Bagiku, Meli bukan sekadar pengawal yang diutus Arlo untuk menjagaku, melainkan sosok kakak yang selalu ada setiap kali aku membutuhkannya.Setelah semua hidangan tertata rapi di atas meja, Arlo mengambil sepotong daging lobster, lalu meletakkannya di atas piring Reno.Reno menerimanya dengan senang hati sembari mengucapkan terima kasih atas perhatian Arlo.Sementara itu, aku dan Daniel hanya menyantap daging sapi panggang dan sayuran karena kami berdua alergi terhadap makanan laut."Kak Meli, makan yang banyak sampai kenyang," kataku sembari meletakkan sepotong daging ke piringnya."Terima kasih, Ibu," ucap Meli sambil tersenyum senang.Aku mendengus pelan. Kendati sudah sering mendengar Meli memanggilku begitu, aku tetap merasa risih dan belum terbiasa dengan panggilan tersebut."Ngomong-ngomong, aku ak
Setelah puas melepas rindu, Kakek menyuruh kami beristirahat. Kami pun menurut tanpa membantah.Aku ditempatkan di kamar termewah yang ada di mansion itu. Kamar tersebut dilengkapi berbagai fasilitas kelas atas, dengan pelayan yang selalu siap siaga untuk memenuhi segala kebutuhanku setiap saat.Begitu memasuki kamar, aku langsung menjatuhkan tubuh ke atas ranjang yang empuk. Kasur yang begitu nyaman seolah memelukku, membuatku ingin segera memejamkan mata dan menikmati istirahat yang sesungguhnya."Malam ini, aku mau tidur nyenyak!" seruku penuh semangat.***Keesokan harinya, aku mencoba berbagai gaun indah yang diberikan kakek, lengkap dengan perhiasan dan segala sesuatu yang berbau feminin. Sesuatu yang selama tujuh tahun terakhir aku tinggalkan.Setelah hampir dua jam memilah dan mencoba berbagai gaun, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah gaun sederhana berwarna putih. Renda tipis menghiasi beberapa bagiannya, sementara tabu
Malam itu, Reno menceritakan semua yang ia ketahui tentangku kepada ayahnya. Siapa sangka, selama ini Reno diam-diam menyelidiki kasus kematianku tujuh tahun lalu.Bukan hanya itu, Reno jugalah yang bergerak membungkam semua wartawan agar tidak menyiarkan berita apa pun mengenai terbongkarnya identitasku.Reno berusaha melindungiku dengan caranya sendiri, tanpa pernah memberitahuku tentang semua yang telah dilakukannya."Ayah mencintai ibunya, Nyonya Liana. Dan aku mencintai putrinya, Qiqiela. Jika kita bernasib sama, aku berharap bisa bertemu wanita seperti ibu dan melupakan Qiqi," tutur Reno setelah mencurahkan seluruh isi hatinya kepada sang ayah."Tapi, Ayah. Sebelum cintaku benar-benar bertepuk sebelah tangan. Aku ingin melindungi Qiqiela."Tuan Zilo tersenyum tipis mendengar pengakuan putranya. Ia bisa memahami perasaan Reno. "Kalau begitu, selesaikan kuliahmu tahun ini. Lalu pergi ke perusahaan. Biar pamanmu yang mengajar
Dengan sedikit bingung, aku memperkenalkan Qila kepada Arlo. Akan tetapi, respons Arlo tidak seperti yang kuharapkan. Ia menatapku dengan tatapan aneh. Alisnya sedikit berkerut, sorot matanya dipenuhi tanda tanya. Seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Amarahku memuncak saat melihat Reno memejamkan mata. Dadaku mendadak menegang. Reno, apakah dia pingsan? Atau...Sial! Pikiran burukku langsung kupotong.Aku mengatur napas, lalu memasang posisi siap bertarung.Di depanku, Aldo tertawa. Tatapannya yang merendahkan, meni
Jantungku berdegup kencang saat tubuhku diseret mundur. Instingku langsung bekerja. Mataku bergerak cepat, menyapu setiap sudut gelap di gang sempit, mencari kemungkinan adanya rekan lain yang bersembunyi.Namun, kosong! Tidak ada siapa pun. Orang ini datang sendirian?Senyum tipis nyaris muncul. B
Ruang sidang diliputi keheningan yang menekan.Lampu kristal besar di langit-langit memantulkan cahaya putih dingin, menyinari setiap sudut ruangan tanpa ampun.Dinding marmer yang tinggi memantulkan gema napas para hadirin, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa pun enggan bergerak sembaranga







